
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
Tonny memeluk dan menciumi pipi Seroja sambil terisak. Dia tak percaya Wiwien bisa ‘mengembalikan’ mamanya yang telah satu tahun ‘mati’.
“Ada apa?” tanya Sashi karena Tonny meneleponnya saat jam kerja Memang begitu keluar dari ruang rawat Seroja, Tonny langsung menghubungi Sashi.
“Hei, Mama kenapa?” Sashi panik karena dia hanya mendengar isak tertahan Tonny.
“Mama mengangguk saat aku pamit,” balas Tonny. Buat orang lain yang tidak merasakan bagaimana Tonny kehilangan sang mama selama satu tahun lebih, mungkin apa yang Tonny rasakan saat ini over lebay. Tapi bagi Tonny hal ini seperti kejatuhan bintang. Dia sangat bahagia tak terhingga.
“Alhamdulillah. Mama bener-bener berubah. Aku yakin sebentar lagi Wiwien akan menekan agar dia bicara pada kita,’ Sashi menduga suatu hal yang pastinya bisa Wiwien lakukan.
“Bener Mbak, aku juga yakin itu akan terjadi. Alhamdulillah. Aku berangkat kerja sik yo,” Tonny memberi salam dan memutus pembicaraan mereka.
***
“Mengapa kamu terus menghindar Wien?” tanya Kusumo setelah Wiwien selesai ujian. Tentu dia tak mau mengganggu Wiwien sebelum selesai perkuliahan.
“Berapa kali saya bilang Pak. Saya belum ingin merajut kisah baru dengan seorang lelaki. Dan kalau suatu saat saya siap menerima seseorang, saya pastikan itu bukan Bapak,” sahut Wiwien.
Wiwien tak ingin beradaptasi dengan keluarga Kusumo yang belum tentu mau menerima menantu seorang janda beranak satu. Itu yang tak mau dia lakukan. Cukup dia terluka, jangan ditambah lagi harus berjuang untuk cinta baru.
Kusumo terdiam, dia tak menyalahkan Wiwien yang terluka oleh kelakuan kaumnya. Dia sangat tahu itu, karena ibunya juga dilukai sang ayah dan sejak dikhianati hingga saat ini sang ibu tak pernah mau menerima lamaran beberapa pria yang serius padanya.
Kusumo juga sangat paham ibunya sangat membenci sosok janda, karena ayahnya main gila dengan tetangga mereka yang seorang janda. Itulah dunia. Tak semua janda itu nakal, tapi tetap saja image mereka selalu buruk karena perbuatan beberapa gelintir oknum.
***
Wiwien mulai memberi instruksi mas Suli dan mas Opik. Kali ini mas Bangun tak bisa membantu Suli. Diam-diam Wiwien sudah mendaftar wara laba roti yang sedang hits. Dia juga sudah menyewa kios keci di pinggir jalan dekat dengan sebuah super market dan di lingkungan super rame.
Sewa kios kecil ini sangat mahal. Luas kios hanya seperempat lantai bawah ruko tapi harganya sama dengan harga sewa ruko yang Wiwien tempati. Tapi lokasinya memang menjanjikan sehingga Wiwien berani menyewanya.
__ADS_1
“Kursi dan peralatan sudah datang semua ya mas Suli?” tanya Wiwien yang datang setelah selesai kuliah. Wiwien meminta mas Suli dan mas Opik serta tentu saja mbak Ira tutup mulut tentang usaha baru yang akan Wiwien buka besok lusa.
“Sudah. Apa mau diatur sekarang?” tanya mas Opik.
“Jangan, lusa kita gelaran dulu buat pembukaan. Habis itu baru kita atur peralatan,” sahut Wiwien.
“Baiklah,” sahut Opik. Wiwien memperhatikan semua perlengkapan. Lusa usia Awan satu tahun, lelaki kecilnya itu sudah bisa jalan. Dia akan mengundang kerabatnya merayakan ulang tahun Awan. Sekalian dia memberitahu tentang usaha barunya ini.
Malamnya Wiwien mengundang mbak Sashi, Arno, bapak dan ibunya, ayah dan ibu mantan mertuanya. Sashi dan Rahmad, Tonny dan Seroja, Asih dan Slamet untuk datang di cara ulang tahun pertama Awan yang dia buat di alamat yang dia tuliskan.
‘Koq bukan di rukomu?’ tanya Asih dan Arno.
‘Ini lokasinya dimana?’ tanya Tonny.
‘Datang aja jam sepuluh pagi hari Sabtu besok dialamat itu. Sabtu jam delapan akan aku share lock,’ balas Wiwien pada semua yang tanya mengapa dia tak membuat ulang tahun Awan di ruko.
Sejak tiga hari lalu Wiwien sudah memberi pengumuman kalau hari Sabtu besok laundry tutup. Jadi tak ada alasan mbak Ira dan anak-anaknya tak ikut hadir di acara itu.
***
“Onny pergi dulu ya. Mama harus istirahat, karena besok kita mau ke ulang tahun Awan yang pertama,” Tonny pamit. Dia ingin cari kado buat Awan.
Setelah bingung dengan aneka mainan yang Tonny pikir belum waktunya untuk anak seusia Awan, pilihan Tonny jatuh pada sepeda roda tiga yang ada tangkai doronganya. Sehingga bisa digunakan Awan jalan-jalan sore.
Seperti biasa Wiwien memasak sendiri semua yang akan dihidangkan bagi para tamu. Bedanya kali ini yang akan menjadi oleh-oleh bukan ayam ingkung seperti saat pembukaan laundry, melainkan satu kotak roti yang dia jual. Semua tak terkecuali nanti akan dia bekali itu ketika pulang. Sekaligus promo bagi usahanya.
Di ulang tahun Awan Wiwien tak membuat tumpeng di tampah kecil. Sekarang dia lebih ribet yaitu membuat tumpeng di setiap piring. Tumpeng merah putih kecil untuk setiap orang yang hadir,
Biar lebih repot, tapi Wiwien merasakan kepuasan tersendiri. Dia pikir toh jumlah tumpeng kecil yang harus dia sediakan tak sampai lima puluh piring. Jadi dia masih bisa handle semua. Ada mbak Ira juga yang membantunya, sedang nanti simbok menjaga Awan.
***
Hari yang dinanti tiba. Jam tujuh Wiwien dan simbok serta Awan sudah berangkat menuju lokasi. Barusan mas Suli dan mas Opik juga sudah meluncur membawa semua keperluan yang dibutuhkan.
__ADS_1
Mbak Ira dan anak-anaknya langsung ke lokasi dengan motor karena mas Suli membawa mobil bak yang sengaja Wiwien sewa.
Papan nama usaha masih ditutup kain. Nanti baru akan dibuka saat selesai membaca doa.
Wiwien langsung mencetak tumpeng yang dia bikin merah putih dan mbak Ira langsung meletakkan semua lauk disekeliling tumpeng itu.
Pegawai toko roti seorang pemuda yang baru lulus SMA. Wiwien masih trauma menerima pegawai perempuan muda.
Tak ada karangan bunga karena tak ada yang tahu kalau Wiwien buka usaha baru. Semua tahunya sekarang adalah ulang tahun Awan.
Tonny datang paling dulu. Tak lama setelah Wiwien tiba. “Ini tempat apa? Mengapa dibelakang banyak peralatan yang belum diatur?”
“Sabar ya Pak. Bapak sebagai tamu duduk manis saja atau main sama Awan,” sahut Wiwien dengan senyum misteriusnya.
Satu persatu akhirnya semua datang. Tak ada yang terlambat. Mas Slamet dan mas Rahmad juga hadir. Termasuk mantan mertua Wiwien.
“Assalamu’alaykum semua. Matur nuwun sudah menyempatkan diri datang keundangan yang mendadak kali ini. Kemarin saat saya mengirim pesan agar datang ke lokasi ini banyak yang bertanya, mengapa saya tak membuat ulang tahun Awan di ruko saja. Maka agar tidak penasaran, mari kita lihat apa maunya Awan mengundang pakde, bude, Om dan para eyang kesini,” Wiwien menggendong Awan keluar dan menarik tali yang memang telah dipersiapkan mas Opik.
“Masya Allah …..
“Subhanallah ….
\===========================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL CINTA KECILNYA MAZ YOK!
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.
__ADS_1
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta