
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
Dan Bayu juga sadar perkataan ayahnya 1000% benar! Bukan 100%. Karena mungkin mantan mertuanya hanya cerita ke kakak kandungnya. Lalu kakak kandung mertuanya ( bude kandung Wiwien ) cerita ke suaminya dan anaknya. Anaknya atau sepupu Wiwien bercerita hanya pada pasangannya.
Bayu berpikir bila pasangan sepupu Wiwien bercerita pada sepupunya yang lain. Akhirnya BOOM! Seluruh keluarga besar Wiwien dari jalur ibunya akan tahu semua.
Begitu pun dari jalur bapaknya Wiwien. Belum lagi dari keluarga iparnya atau mas Slamet. Dan akhirnya semua kenalannya akan tahu kelakuan nista yang dia lakukan. Itu artinya dia memang telah melempar kotoran ke wajah ibu dan ayahnya.
‘Mengapa aku begitu bo-doh tergoda oleh Ririn yang aku kira polos itu?’ sesal Bayu lagi dan lagi. Dia sedang berjalan menuju mobilnya setelah tak mendapat solusi untuk bisa meminta maaf pada kedua orang tuanya.
‘Mengapa aku mengira dia polos, sedang dia yang pertama kali meremas tanganku? Dia juga yang sangat berani memegang meriamku sebelum aku merabanya. Bagaimana aku bisa berpikir dia polos?’ Bayu baru bisa berpikir sekarang karena awalnya dia tergoda bisikan se-tan ketika mulai melahap bibir Ririn dan mendapat balasan yang berani.
‘Dia masih terikat pernikahan sah saja telah ko-tor seperti itu. Terlebih sekarang. Dia akan bebas membuang spermanya kesemua perempuan yang bersedia membuka pa-ha untuknya. Dia tak perlu lagi menyiapkan pil KB. Asal **** kemana pun dia bebas!’ terngiang jelas kata-kata ‘makian’ ayahnya yang telah menistakan dirinya ke titik terendah.
Tentu saja pemikiran itu tidak salah. Karena jelas-jelas masih terikat dengan Wiwien saja dirinya telah menodai pernikahan mereka. Terlebih saat ini dia sudah bebas kan? Pasti itu pikiran semua orang pada dirinya saat ini.
‘Kalian tidak tahu aku sudah trauma untuk melakukan hal itu. Bahkan membayangkannya saja aku tak mampu. Aku selalu teringat wajah Wiwien dan ibu yang sangat terluka!’ jerit Bayu dalam hatinya.
Bayu memasuki mobilnya dengan lesu. Entah kemana arah hidup selanjutnya.
***
“Assalamu’alaykum Tante,” tadi sore Wiwien datang ke ruang rawat bu Seroja. Dia membawa hand phone milik Tonny yang full betere dan sudah dalam posisi on record. Tas yang sudah dia buka berisi hand phone dia letakkan di brankar. Volume sudah diatur maksimal oleh Tonny.
Saat sebelum sampai, Tonny sudah mengatur perawat keluar saat Wiwien akan masuk, sehingga ketika Wiwien masuk bu Seroja sedang sendirian.
“Wa’alaykum salam Wien,” balas bu Seroja pelan. Wiwien mengecup pipi bu Seroja setelah memberi salim.
__ADS_1
“Bagaimana keadaan Tante hari ini?” tanya Wiwien.
“Sudah lebih baik. Semoga besok boleh pulang. Tak enak berbaring di sini,” jawab Seroja.
“Harusnya Tante semangat agar bisa kembali sehat. Nanti kita jalan-jalan keluar. Paling tidak kalau Tante sehat, Wien bisa bawa Tante keluar rumah walau pakai kursi roda. Bagus lagi kalau Tante sudah kembali bisa jalan,” bujuk Wiwien.
“Tante juga kangen bisa aktivitas lagi. Tante jenuh. Tapi tante merasa tak ada lagi gunanya hidup karena Om sudah tidak ada dan anak bungsu Tante terluka. Rasanya percuma Tante bertahan,” keluh Seroja.
“Memang mengapa anak Tante terluka. Eh maaf … maaf Tante, bukan maksud Wien mengorek duka. Maaf,” Wiwien memang tak bermaksud menanyakan hal yang membuat bu Seroja terpuruk.
“Tante juga ingin melupakan penyebab dia terluka. Tante hanya merasa ikut andil akan lukanya. Itu yang menyebabkan Tante sedih dan merasa tak berguna,” jawab Seroja.
“Udah Tante, sekarang kita ngemil yok. Tadi Wien bikin clapper tart. Semoga Tante suka,” Wiwien membuka satu buah kotak kecil alumunium foil, dan dia mengambil sendok kecil lalu langsung menyuapkan kue buatannya.
“Wah enak banget Wien. Ini buatanmu?” tanya bu Seroja.
“Iya Tante, kalau iseng emang Wien suka coba-coba memodifikasi resep biar sesuai ama lidah dan selera Wien Tante. Karena kalau ikutin resep yang ada kadang rasanya suka enggak pas ama selera Wien,” balas Wiwien menjelaskan hobbynya.
“Wah Wien enggak enak ama kak Tonny. Kami tidak kenal dekat, baru dua kali ketemu. Tentu enggak enak kalau Wien main ke rumah Tante. Wien takut pandangan orang melihat Wien terlalu rendah. Terlebih status Wien janda cerai Tante,” Wiwien mulai memagari dirinya. Dia tak mau ada tambahan omongan orang karena dia mendatangi rumah seorang lelaki.
“Nanti bulan depan Wien sudah tinggal sendiri di ruko yang Wien sewa untuk usaha. Kalau Tante berkenan Tante bisa kesana dan kita masak bareng di tempat yang ala kadarnya itu,” Wiwien memberi solusi untuk Seroja.
“Padahal kamu ke rumah ‘kan untuk bertemu dengan Tante, bukan dengan Tonny, Wien,” keluh Seroja.
“Pandangan orang tetap saja salah Tante. Pasti semua menilai saya mendekati Tante agar dekat dengan kak Tonny. Saya tak mau itu terjadi. Lagian kalau ke ruko saya kan itu memacu Tante biar cepet sehat jadi bisa main keluar rumah,” sahut Wiwien.
‘Tentu bu Seroja harus bicara kalau ingin minta keluar rumah bertemu denganku,’ batin Wiwen.
“Baiklah, nanti kamu tinggalkan nomor teleponmu ya. Berikan ke Tante langsung. Biar bisa minta alamat rukomu itu,” bu Seroja pun terpaksa setuju dengan usulan Wiwien. Perempuan muda yang sejak dia datang membuatnya jatuh hati. Seroja menangkap kejujuran dan ketulusan dari sapaan Wiwien kemarin saat dia baru bangun dari tidur.
__ADS_1
“Mengapa kamu konsultasi pada Tonny?” tanya Seroja.
“Suami berselingkuh dengan pembantu. Saya tiap hari melihat melalui CCTV. Lalu Wien minta kakak ipar mencarikan pengacara agar Wien tak perlu bertemu dengan mantan. Nah kakak ipar Wien teman kak Tonny. Kami baru pertama kali bertemu saat memberi berkas. Lalu kedua kemarin saat tanda tangan berkas di kantor kak Tonny, dilanjut kesini.” Wiwien menjawab jujur.
“Serius kalian baru dua kali bertemu? Tante merasa koq sikap Tonny padamu seakan sudah sangat mengenal akrab,” Seroja melihat attensi putranya pada Wiwien memang bukan seperti pada orang baru kenal.
“Serius Tante memang seperti itu kenyataannya,” kali ini tentu Wiwien berbohong. Karena dia sudah tiga kali bertemu Tonny. Yang ketiga adalah pertemuan hari ini di rumahnya.
“Asslamu’alaykum,” Tonny masuk ke ruangan.
“Wa’alaykum salam,” jawab Wiwien. Dan bu Seroja kembali diam tak mau lagi bersuara.
“Hallo Ma, sehat ‘kan? Semoga boleh cepat pulang ya,” Tonny memberi salim pada perempuan yang menjadi perantaranya ada dibumi itu. Dia kecup kedua pipi sang mama.
“Sudah lama Wien?” tanya Tonny menutup kekakuan yang ada.
“Baru Kak,” sahut Wiwien yang pindah kursi agar Tonny dekat dengan sang mama. Dia ambil sling bag miliknya. Dia matikan tombol rekam.
Tonny memperhatikan jumlah obat sang mama, saat itu perawat yang bekerja untuknya masuk. Tadi sang perawat izin pada bu Seroja untuk membeli pembalut.
\===========================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL UNREQQUITED LOVE YOK!
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
__ADS_1
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta