
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
Wiwien membawakan Seroja setengah dari hasil kreasi mereka sore tadi. Tentu saja Seroja dan Tonny tak menolak karena mereka suka dengan clapper tart made in Wiiwien itu.
‘Andai Onny jatuh cinta pada Wiwien, aku tak keberatan walau dia sudah janda anak satu,’ batin Seroja. Tapi Seroja yakin Wiwien akan sulit membuka hati untuk seorang lelaki setelah dia dikhianati suaminya.
***
“Jangan lupa pesan daun pisang untuk alas tampah Mbok.” Wiwien rencananya mau membuat sendiri tumpengnya. Dia mau bikin ekstra kecil saja buat ‘syarat’ potong tumpeng sebagai pembukaan usahanya. Untuk makan yang datang ya sama dengan yang dia bikin sebagai tumpeng itu. Tapi Wiwien memesan beberapa kotak ayam ingkung utuh tanpa nasi untuk dia bagikan ke beberapa tetangganya di ruko ini.
“Enggak usah pesan, biasa tiap hari ada aja koq yang bawa,” sahut simbok.
“Padahal butuhnya sedikit banget yo Mbok. Tapi penampilan tumpeng jadi enggak cantik kalau enggak pakai alas daun pisang,” Wiwien membayangkan bila alas tumpeng menggunakan kertas nasi yang warna coklat itu.
“Elek nek ora nganggo godong,” sahut simbok. [ Elek nek ora nganggo godong = jelek bila tak pakai daun, ~maksudnya untuk alas tumpeng~ ].
“Mangkane, nek enggak ada daun pisang, harus pesan biar besok pagi dibawakan. Jangan lupa cabe merah besar buat hiasan tumpeng,” kembali Wiwien mengingatkan simbok. Bukan dia malas berbelanja. Tapi dia meminimalisir jadi omongan orang karena statusnya janda. Lebih baik dia selalu didalam rumah saja.
***
Hari Senin pagi, Wiwien sejak dini hari sibuk mempersiapkan tumpeng kecil yang dia masak sendiri. Nasinya dia buat nasi gurih tidak dengan santan, melainkan menggunakan kaldu ayam asli. Ayam goreng yang dia ungkep, airnya diberi agak banyak sebelum dia beri bumbu. Ditambah dia membeli banyak ceker dan sayap untuk mendapat kaldu ayam kental.
Nasi gurih berteman ayam goreng serta lauk lainnya dia dia masak sendiri semua.
Jam sembilan ada kejutan, mantan ayah mertuanya memberi ucapan dengan papan karangan bunga. Joko Susetyo mantan ayah mertua menuliskan nama mini market yang dia miliki sehingga kesannya usaha laundry yang Wiwien lakukan adalah mitra usaha mini market itu. Belum selesai kekagetan Wiwien, ternyata datang karangan bunga yang sama besar dengan nama pengirim kepala cabang bank ABC jalan Sangaji.
Wiwien tentu bingung mengapa bank ABC bisa tahu dia membuka usaha laundry yang akan dimulai hari ini?
Tapi semua karangan bunga itu tidak salah karena tertulis nama AWAN LAUNDRY disana.
__ADS_1
Wiwien melanjutkan masak setelah menandatangani kertas penerimaan karangan bunga. Tinggal menunggu ayam digoreng maka selesai tugasnya masak kali ini. Sesudah itu dia akan merias tumpeng. Wiwien membuat tiga tumpeng kecil agar nanti makan tak bingung. Satu tumpeng nanti bisa tiga empat orang tanpa perlu berdesakan karena tampahnya super kecil. Hanya sedikit lebih besar dari piring makan saja.
“Mbak, ada karangan bunga lagi.” Munirah atau Ira Istri Suli memberi tahu ada kiriman lagi.
Wiwien keluar dan melihat karangan bunga dari FIRMA HUKUM WALUYOJATI, tentu Wiwien tahu siapa pengirimnya. Dia segera mengirim pesan karena bila ingin mengucapkan secara langsung takut mengganggu kerjaan Tonny.
‘Bukan mau tidak sopan karena memberitahu via pesan tertulis bukan menelepon. Saya takut mengganggu pekerjaan Kakak. Terima kasih, karangan bunga sudah sampai.’
Wiwien tak lagi peduli pada ponselnya, dia melanjutkan merias tumpeng mungilnya lalu dia unggah di media sosialnya dengan caption : ‘Bismillah, mengawali langkah baru. AWAN LAUNDRY’
Bayu melihat postingan itu, dia mengirim pesan di inbox. ‘Selamat dan sukses atas usaha barunya ya Bund’
Tak berapa lama semua media sosial Wiwien tak bisa dilihat oleh Bayu. Dia di BLOKIR! Bayu baru sadar, rupanya selama ini Wiwien lupa memblokir media sosial miliknya. Tapi memang Wiwien tak pernah meng-unggah apa pun tentang kehidupan rumah tangga mereka jadi Bayu jarang melihat ada unggahan baru.
Baru hari ini Bayu melihatnya. ‘Aku harus bikin akun baru agar bisa melihat Wiwien. Bo-doh tadi aku langsung mengirim pesan. Harusnya aku menjadi silent reader saja.’
‘Usaha rumah tangga saja dia bisa dapat karangan bunga dari sebuah bank. Ada hubungan apa dia dengan bank itu? Apa dia meminjam dana untuk modal usahanya ke bank itu?’ Bayu melihat dua karangan bunga lainnya bukan hal yang aneh. Satu dari mini market milik ayahnya dan satu dia yakin dari kantor pengacara yang dia yakin adalah pengacara perceraian Wiwien.
‘Sebuah bank kan enggak mungkin kirim attensi seperti itu ke semua nasabah yang pinjam dana usaha. Apa dia akrab dengan pimpinan bank itu sehingga dapat perhatian khusus?’ tentu saja Bayu penasaran dengan karangan bunga yang Wiwien posting itu.
***
Ibu dan bapak Wiwien datang bersamaan. Sejak tadi Wiwien hanya dibantu Ira dan mas Suli karena mbok Ranti khusus menjaga Awan. Pagi tadi Ira dia suruh membuat es buah dari bahan labu siam, bangkoang dan pepaya yang direndam dengan air kapur sirih.
“Mbak Ira, kalau sudah dingin masukkan kulkas aja, biar enak diminumnya,” Wiwien meminta Ira memasukkan panci es buah langsung ke kulkas. Hari ini Wiwien tak membuat puding karena ada es buah.
“Ini tadi Ibu enggak tahu apa yang kurang disini, jadi cuma beli mangga aja,” Iin memberikan bungkusan mangga yang dia bawa.
“Matur nuwun Bu,” Wiwien menerima bawaan Iin dengan rasa syukur.
__ADS_1
“Monggo Tante, masuk Bu,” Wiwien mempersilakan Seroja dan perawatnya masuk.
“Aku telat yo Dek,” mbak Asih dan kedua putrinya masuk.
“Nek bu guru telat hukumane di strap yo Mbak,” goda Wiwien
Dan yang terakhir datang adalah bu Iis dan pak Joko. Mereka ragu mau datang. Pastinya mereka malu. Tapi tak datang lebih malu lagi.
“Ibu, Ayah, terima kasih karangan bunganya,” Wiwien tak lupa menyampaikan terima kasih pada Joko dan Iis mantan mertuanya.
“Sukses buat usahamu ya Nak,” dengan tulus Joko memeluk mantan menantunya itu.
“Aamiiiiiin,” jawab Wiwien.
“Assalamu’alaykum Ibu, Bapak, Ayah, Tante dan Mbak. Saya tidak mengundang siapa-siapa di pembukaan usaha pertama saya ini. Saya menghaturkan terima kasih atas kebesaran hati Bapak, Ibu, Ayah, Tante dan Mbak meluaangkan waktu dan hati untuk datang diundangan saya kali ini,” Wiwien berhenti sejenak karena saat itu dia lihat Arno masuk.
“Saya mohon doa restunya agar usaha yang akan saya jalankan ini membawa berkah buat saya dan semua yang terlibat dalam usaha ini,” Wiwien mengangguk pada Slamet yang datang bersamaan dengan Tonny.
\===========================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL UNREQUITED LOVE YOK!
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta
__ADS_1