
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
“Bagaimana kesehatan Tari sekarang Pak?” tanya Tonny.
“Kemarin dia demam lagi, saya takut dia kembali kena DB, sehingga langsung saya minta rawat inap daripada kecolongan seperti sebelumnya,” sahut Pangestu Hudaya.
“Baik sampai ketemu hari Rabu Pak, kami hendak pulang,” Tonny pamit pada Pangestu.
“Iya Pak Tonny. Sampai hari Rabu pagi,” sahut Pangestu.
***
Bayu memperhatikan kios roti milik Wiwien dan Awan yang disingkat menjadi Wienda. Cukup ramai. Walau kecil tapi pembeli tak pernah sepi. Dan pegawainya pun sangat cekatan dan murah senyum.
‘Wiwien mempekerjakan lelaki, dia mungkin masih trauma dengan pegawai perempuan muda. Aku yang membuat dia trauma seperti itu,’ sesal Bayu. Sepulang kerja sore ini dia memang ingin tahu kios roti milik mantan istrinya.
Saat Bayu mau menjalankan mobilnya, dia lihat Wiwien turun dari mobil. Dan Wiwien turun dari kursi depan sebelah kanan. Artinya dia nyetir sendiri.
‘Kamu melesat sangat pesat Bund. Kamu hebat. Bahkan sangat hebat,” batin Bayu melihat perkembangan Wiwien yang seakan ingin menunjukkan pada dunia kalau wanita itu tidak terpuruk akibat pengkhianatan yang dilakukan pria breng-sek seperti dirinya.
‘Sungguh bodoh aku bisa tergoda sampah. Bahkan sekarang Herman sering mengejekku dengan kata-kata : percuma menceritakan kalau mawar itu indah dan harum pada seekor lalat. Karena lalat lebih tertarik pada bau sampah!’ Bayu makin keqi mengingat ucapan Herman siang tadi.
Bayu segera pergi meninggalkan kios kecil beromset besar milik mantan istrinya.
***
“Tolonglah Pak. Mereka sudah sama-sama dewasa. Kalau mereka berbuat seperti itu ya wajar. Mungkin menantu Bapak dan Ibu yang tidak bisa membahagiakan suaminya sehingga anak Bapak dan Ibu lebih menyukai anak kami,” Joko Susetyo dan Iswarni geram ketika orang tua Ririn menghampiri mereka dan minta tolong agar anaknya dibebaskan.
“Tolong bantu agar Ririn bisa kembali bebas,” rengek ibu Ririn tanpa malu. Oran tua Ririn memang hanya tahu alamat Iswarni, karena dulu yang bawa Ririn juga Iswarni.
“Saya baru tahu kalau sikap Ririn menurun dari ibunya. Anak zina koq dibela. Saya tidak membela anak kandung saya. Walau bila benar dia tak puas dengan istrinya, tidak seharusnya dia selingkuh. Harusnya ceraikan dulu istrinya, baru cari yang bisa memuaskan seperti yang anda bilang,” sahut Joko.
“Tapi Ririn dipenjara bukan karena dia menjadi selingkuhan anak saya. Tapi karena dia memberi racun pada cucu saya. Kalian cari saja pengacara hebat yang bisa membantu membebaskan kriminal seperti anak kalian itu,” sahut Joko.
“Tidak … tak mungkin Ririn seperti itu,” ibunya Ririn tak percaya. Karena yang dia dengar dari Ririn adalah dia dipenjara karena nyonya nya cemburu, sebab tuannya sangat mencintai Ririn.
__ADS_1
“Terserah. Yang pasti itu kenyataannya. Makanya jangan cuma percaya pada mulut anakmu. Tapi datang ke persidangan biar tahu faktanya,” Iswarni akhirnya buka suara.
***
Tak puas atas respon Iswarni, orang tua Ririn mencari alamat rumah Bayu, ternyata rumah sudah di jual. Dan mereka lanjut mencari info berikutnya. Mereka mencari alamat kantor kekasih putrinya. Orang tua Ririn tahunya Batu adalah kekasih putrinya seperti yang diceritakan Ririn.
“Kami mau bertemu dengan Bayu Indratama, wakil manager produksi,” demikian ayahnya Ririn memberi keterangan pada resepsionis yang menanyakan apa keperluan mereka dan apakah sudah punya janji atau belum.
“Kalau belum punya janji, sulit bertemu pak Bayu. Bapak dan ibu bisa tunggu jam istirahat saja. Nanti bila beliau turun untuk istirahat bisa temui beliau bila beliau bersedia,” resepsionis memberi keterangan pada kedua orang tuan Ririn.
“Tapi kami belum tahu orangnya, bagaimana bisa bertemu dia?” tanya ibunya Ririn.
“Ada pesan untuk saya?” tanya Herman pada resepsionis yang sedang menghadapi orang tua Ririn.
“Tidak ada Pak, tapi saya bisa minta tolong?” tanya resepsionis dengan ragu.
“Ada apa?” Herman memandang pegawainya.
“Kedua orang ini belum punya janji dengan pak Bayu dan mereka ingin bertemu. Kalau Bapak ketemu tolong beritahu jam makan siang agar temui dua orang ini. Karena saya tidak bisa hubungi ponselnya dan telepon dimejanya tidak diangkat,” sahut resepsionis.
“Ada yang bisa saya bantu?” tanya Herman ramah.
“Kami ingin bertemu dengan Bayu,” jawab perempuan yang jadi taamu tanpa menyebut Pak atau Mas untuk Bayu.
“Silakan Bapak dan Ibu duduk disana, saya teman sebentar,” Herman menunjuk sofa di lobby.
“Maaf, Bapak dan Ibu siapa dan dari mana. Ada perlu apa dengan pak Bayu?” tanya Herman.
“Kami orang tua kekasihnya Bayu. Kami ingin membicarakan tentang hubungan mereka,” sahut si ibu dengan pongahnya.
“Kekasih Bayu? Yang mana eh maksud saya siapa?” tanya Herman.
“Marini atau biasa dipanggil Ririn atau Rin. Dia kekasih Bayu, tapi istrinya cemburu lalu dilaporkan ke polisi sehingga sekarang Ririn dipenjara,” sahut sang ibu dengan penuh percaya diri.
“Oh …, anda orang tua Ririn? Baik akan segera saya panggilkan Bayu. Dengan catatan bicara disini dan harus ada saya,” Herman lalu memanggil resepsionis.
“Hubungi Hafni staff bagian pemotretan dan bilang Hafni suruh katakan pada Bayu agar menemui saya di lobby sekarang juga” perintah Herman pada resepsionis.
__ADS_1
“Baik Pak,” sahut resepsionis cepat.
“Sekalian bikinkan minum ya,” pinta Herman.
***
Wiwien sedang puyeng menghadapi soal ujian. Dia bertekad cepat selesai, tapi dengan nilai terbaik. Bukan hanya asal-asalan. Maka dia konsentrasi penuh untuk bisa menjabarkan jawaban esay dengan baik.
“Yeeaay, akhirnya selesai,” desis Wiwien. Dia bereskan semua alat tulisnya dan dia masukkaan ke tas, dia serahkan lembar jawaban ujiannya.
“Bagaimana perkiraan hasil ujianmu?” tanya Kusumo saat bertemu dengan Wiwien di luar kelas.
“Kalau dosennya enggak sentimen rasanya nilai B+ ditangan,” jawab Wiwien dengan senyum tulus. Wiwien tahu Kusumo tak akan mencampur aduk urusan personal dengan nilai mata kuliahnya.
“Nanti aku katakan pada dosenmu agar dia bersikap objektif,” Kusumo menggoda Wiwien.
“Wah terima kasih Pak,” jawab Wiwien sambil tersenyum. Karena dosen yang mereka maksud adalah Kusumo sendiri.
“Mengapa hanya B+, bukan A- atau bahkan A?” tanya Kusumo.
“Tadi ada beberapa yang ragu. Jadi tidak yakin apakah itu betul atau benar,” Wiwien malah lanjut menggoda.
“Kalau bukan betul atau benar berarti tidak salah,” Kusumo juga ahli bermain kata. Sehingga dia tak kalau bersilat lidah dengan para mahasiswanya. Dosen muda yang gagah ini memang sangat disukai para mahasiswanya, terutama mahasiswi yang masih jomlo. Tapi dia malah mengejar cinta Wiwien yang sudah janda anak satu.
\===========================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL THE BLESSING OF PICKPOCKETING YOK!
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta
__ADS_1