UNCOMPLETED STORY

UNCOMPLETED STORY
BIDIKAN WIWIEN TERBARU


__ADS_3

DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI


\~\~\~\~\~


“Terima kasih Kak,” Wiwien mengucapkan terima kasih karena Tonny mengantarkannya ke tempat kursus.


“Sama-sama. Assalamu’alaykum,” Tonny langsung melajukan mobilnya. Dia akan sedikit terlambat. Tapi dia memang ingin tahu apakah Wiwien benar punya tujuan lain atau menghindar darinya.


‘Gimana mau punya pacar, nembak orang aja enggak romantis,’ batin Wiwien mengingat bagaimana Tonny yang menembaknya tanpa aba-aba did alam mobil hanya karena Wiwien menggodanya agar menikah biar segera punya anak.


Sehabis kursus sesuai rencana Wiwien belanja keperluan rumah tangganya yang memang hampir habis. Sekalian dia melihat-lihat apa lagi yang harus dia tambahkan atau apa lagi yang ingin dia buat.


‘Usaha roti itu sepertinya menjanjikan juga. Apa aku daftar wara labanya ya?’ Wiwien melihat sebuah gerai kecil yang cukup ramai pemesannya.


‘Kios enggak perlu besar karena tak ada yang duduk makan disana. Hanya butuh beberapa kursi untuk yang menunggu pesanan siap dibawa pulang saja,’ Wiwien terus duduk didepan gerai roti itu. Dia sengaja makan ayam dan kentang goreng agar bisa leluasa mengamati apa saja yang dia butuhkan. Semua dia catat di ponselnya.


‘Yang pertama, harus cari lokasi strategis dulu. Beda dengan lokasi laundry yang pangsa pasarnya adalah rumah tangga,’ Wiwien terus menela’ah semua yang berhubungan dengan usaha wara laba roti itu.


***


Tak ada yang istimewa sore ini di rumah sakit. Wiwien tak bertemu dengan Sashi dan Tonny.  Sashi datang bersama Rahmad. Tadi dia lama menunggu di ruang praktik Rahmad sehingga mereka datang setelah Wiwien pamit pulang. Sedang Tonny memang pulang ke rumah dulu untuk mengganti semua baju kerja kotor yang dia bawa di mobil. Dia pun sampai ke rumah sakit ketika Wiwien sudah pulang.


‘Besok pagi aku jemput, jangan berangkat sendiri,’ Tonny mengirim pesan untuk Wiwien.


‘Maaf Kak. Besok aku bawa motor. Karena sehabis dari rumah sakit aku kursus dan sesudahnya aku akan berkeliling karena ada sesuatu yang harus aku cari. Aku tak bisa naik taksi saat mencari karena akan repot bila bolak balik turun ganti taksi,’ Wiwien segera membalas pesan Tonny. Besok sehabis kursus mengendarai mobil memang dia ingin cari lokasi gerai wara labanya.


‘Jangan membantah. Aku akan jemput. Lalu antar kamu kursus dan juga antar kamu keliling,’ Tonny tak mau kalah. Kebetulan besok dia meliburkan jadwal konsultasi klien baru karena niatnya mau mengajak Awan jalan-jalan.


“Koq galakan dia,” desis Wiwien yang sedang menyusui Awan.


Baru saja melepas mulut Awan dari pu--tingnya, ada panggilan masuk.


“Asslamu’alaykum Pak,” Wiwien memberi salam pada dosen muda yang beberapa kali selalu menghampirinyaa ketika dia membaca buku saat menanti jam pergantian mata kuliah.


“Besok pagi ada acara Wien?” tanya Kusumo Indrajit.


“Setiap pagi saya ke rumah sakit menjenguk tante saya Pak. Lalu siang kalau libur pasti saya gunakan waktu saya untuk mengurus putra saya,” sahut Wiwien tanpa pernah menyembunyikan status kalau dirinya sudah punya seorang anak.

__ADS_1


“Ada tantemu yang sakit? Dimana?” tanya Kusumo.


“Iya Pak, diruang Anggrek rumah sakit Fatmawati,” sahut Wiwien tanpa sadar memberitahu lokasi kamar rawat bu Seroja.


“Baiklah,” Kusumo pun menutup telepon setelah memberi salam pada Wiwien.


***


Pagi ini Wiwien membuat bubur ayam lengkap dengan sate usus, sate ati rempela, cakwe dan ayam tentunya. Ayamnya tidak disuir seperti bubur ayam yang biasa dijual. Wiwien memasukan potongan ayam yang dia potong dadu kedalam bubur sehingga rasa ayamnya benar-benar terasa.


Seperti biasa kuah serta sambal Wiwien pisah. Untuk Awan ayamnya Wiwien haluskan dulu. Terpaksa dia memilah-milah ayam dan menghaluskannya dengan sendok.


“Wah anak Papa lagi maem ya?” Wiwien mendengar suara Tonny menyapa Awan dari belakang tubuhnya.


‘Papa? Iiih kepedean. Lagian jodohnya bunda kan ayah bukan papa,’ Wiwien hanya diam. Nanti saja dia protes di mobil.


“Aku boleh suapin Awan enggak?” pinta Tonny yang telah berada disisi Wiwien.


“Silakan aja,” Wiwien bergeser sedikit agar Tonny berdiri tepat didepan Awan agar mudah menyuapi putranya.


“Wah pinter ya kamu,” Tonny senang karena suapannya selalu diterima Awan dengan antusias.


“Iya ini maem. Ayok suap terakhirmu,” Tonny memberikan suapan terakhir. Memang tadi waktu dia gantikan menyuapi, sisa makanan di mangkuk Awan sekitar lima suap saja.


“Mum dulu,” Wiwien memberikan gelas pada Awan dan lelaki kecilnya memegang gelas dengan kedua tangannya dan memasukkan lubang gelas kedalam mulutnya.


“Wah kamu sudah bisa pegang gelas minummu sendiri,” Tonny baru tahu kalau Awan bisa memegang gelas dan memasukkan sendiri kedalam mulutnya.


Setelah selesai mengurus sarapan Awan, Wiwien pun berangkat menuju rumah sakit.


“Memang kamu mau cari apa setelah pulang kursus nanti?” tanya Tonny ketika mereka sedang on the way menuju rumah sakit.


“Enggak jadi. Aku akan langsung pulang aja,” jawab Wiwien. Semalam dia memutuskan mencari lokasi setelah dia pulang kuliah saja. Dia tak suka kalau urusannya ketahuan orang lain.


“Kamu menghindar,” tanya Tonny.


“Enggak Kak. Aku emang rubah rencana aja. Aku ‘kan hari Jumat, Sabtu dan Minggu harusnya libur full untuk Awan. Tapi selama aku kursus kan waktu Awan kepotong. Jadi aku ingin langsung pulang aja,” sahut Wiwien.

__ADS_1


‘Heemmmm …, jadi besok dia juga kursus,’ batin Tonny sambil mengambil tas makanan berisi lima porsi bubur ayam buatan Wiwien.


***


Wiwien sedang menyuapi Seroja ketika ponselnya berdering. Tentu saja Seroja sudah mandi dan fresh.


“Iya, assalamu’alaykum Pak,” sahut Wiwien ketika melihat siapa yang menghubunginya.


“Saya sudah di lobby paviliun Anggrek. Kamu ada di ruang berapa” Kusumo bertanya dimana Wiwien. Tentu saja Wiwien kaget tak percaya kalau sang dosen malah menghampirinya.


“Nanti saja saya keluar kalau saya sudah selesai menyuapi tante saya,” Wiwien langsung memutus sambungan telepon dari Kusumo.


Tonny hanya mendengar dari luar. Selama Wiwien berada di dalam ruang memang Tonny dan bu Waode selalu menjauh agar bu Seroja bisa bebas bicara.


“Siapa Wien?” tanya Seroja.


“Dosen Wien Tante. Dia ada disini,” sahut Wiwien jadi serba salah.


“Dia pasti menyukaimu. Karena mengejarmu  saat jam libur kuliah seperti ini,” sahut Seroja.


‘Menyukai? Siapa dia?’ Tonny mendengar perkataan mamanya. Dan itu menjadi pokok persoalan yang mengganjal pikirannya saat ini.


“Semalam dia ngajak jalan. Wien bilang Wien mau kesini. Tapi Wien enggak nyangka aja dia malah nyamperin Wien disini,” sahut Wiwien jujur.


‘Ngajak jalan? Dosen kalau enggak naksir, enggak bakal ngajak jalan mahasiswinya,’ Tonny makin galau mendengar jawaban Wiwien pada mamanya.


\===========================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL  KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR  YOK!



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya

__ADS_1


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta


__ADS_2