
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
Seperti biasa kegiatan habis Subuh Wiwien dan mbok Ranti adalah belanja sayuran. “Hari ini kita beli buah aja sedikit Mbok, sayuran enggak perlu nyetok seperti dulu karena setiap pagi mudah dapat sayuran. Paling kita harus bikin makan siap saji sendiri. Misal kita bikin ayam ungkep, atau jenis lain jadi kalau ada tamu dadakan bisa siap matenginnya.”
“Iya, bikin ayam ungkep, ayam bakar bumbu kemiri ( dibakar bila hendak dihidangkan ), semur daging, rendang aja Mbak,” balas mbok Ranti.
“Kalau ayam banyak yang bawa Mbok. Tapi daging sepertinya harus pesan. Tukang sayur hanya bawa tetelan aja. Bikin rendang nek cuma sedikit sayang buang waktu dan gas,” Wiwien minta simbok memesan daging pada tukang sayur.
“Pagi ini jadi masak opor lontong aja? Atau mau pakai tambahan lagi?” tanya simbok sebelum turun. Simbok tahu berarti masak rendangnya besok saja. Dia sekalian membeli kentang kecil untuk kombinasi di rendang nanti.
“Kalau ada bunga pepaya boleh deh Mbok. Sama belikan tongkol. Kalau bunga pepaya enggak ada ya tongkol e ra usah dituku. Jangan lupa rawit yang banyak dan daun jeruk,” jawab Wiwien. Dia lalu memindahkan Awan ke kasur yang digelar di lantai ruang tengah agar leluasa beberes kamarnya. [ tongkol e ra usah dituku= tongkolnya tidak usah dibeli ].
***
Wiwien dan Awan sudah rapi ketika jam delapan pagi Tonny sudah datang bersama bu Seroja. Dia mendorong kursi roda mamanya untuk masuk ke ruko yang ditinggali Wiwien.
‘Berangkat jam berapa koq hari gini sudah sampai sini? Apa karena dia ada janji jam sembilan ya. Biasanya kan begitu,’ Wiwien hanya berpikir jam berapa Tonny mengurus ibunya sejak ‘memandikan’ mengganti pakaiannya hingga bisa rapi.
“Assalamu’alaykum,” Tonny mengucap salam.
“Wa’alaykum salam,” Wiwien menyaambut tamunya sambil menggendong Awan.
“Silakan masuk. Maaf tempat saya hanya begini. Karena laundry belum operasional kita nanti bisa gelaran di ruang depan sini,” Wiwien menjelaskan kondisinya. Andai bu Seroja bisa ke ruang atas tentu lebih nyaman.
“Atau, kalau kak Tonny bisa membawa Tante ke ruang atas, lebih enak gelarannya. Kan hari ini kita enggak mau coba masak. Tapi kalau mau sambil masak ya dibawah aja. Enaknya gimana?” tanya Wiwien.
“Untuk sekarang dibawah dulu saja. Mama biar terbiasa denganmu dulu. Sebelum sakit Mama suka masak dan anak kecil seperti Awan ini. Anakmu sangat ganteng dan menggemaskan Wien,” Tonny memutuskan dibawah saja. Karena dia tahu Seroja ingin ngobrol soal masakan dengan Wiwien.
“Sarapan dulu sebelum berangkat kerja Kak. Ada lontong opor,” Wiwien meletakkan Awan di box dan mengajak tamunya ke ruang belakang.
“Ayok Kak. Maaf enggak pakai meja makan karena bikin sempit ruang kecil ini. Kita makan lesehan ya?” ajak Wiwien.
__ADS_1
Tonny membantu mamanya duduk di karpet. Kaki kiri mamanya dia bantu luruskan, karena sulit ditekuk sejak stroke.
“Saya ngerepotin pagi-pagi,” Tonny berbasa basi. Tonny tak menyangka ditawari sarapan.
“Kakak ambil makan sendiri saja, nanti terlambat. Biar nanti saya yang ambilkan tante,” Wiwien menyuruh Tonny segera makan dan berangkat. Dia ingin makan berdua sambil ngobrol dengan bu Seroja.
“Tante boleh makan pedas enggak Kak?” tanya Wiwien.
“Mama penyuka pedas dan enggak pantangan pedas. Kenapa?” tanya Tonny.
“Mau masak bunga pepaya agak pedas buat makan siang nanti,” sahut Wiwien.
“Wah, tumis bunga pepaya sayur kesukaan saya. Ini opor kamu bikin sendiri?” tanya Tonny.
“Enggak enak ya? Iya ini saya yang masak tadi pagi. Kalau lontongnya beli jadi,” sahut Wiwien. Wiwien memang sejak dulu lebih suka masak sendiri. Mbok Ranti hanya bantu-bantu.
Mengurus Awan pun begitu. Selama Wiwien ada dirumah, sejak dulu dia yang full mengurus Awan.
Kalau soal beberes rumah dan cuci setrika memang dia jarang pegang karena tidak suka dengan pekerjaan itu.
“Ma, Onny berangkat yaa. Cuma dua jam koq. Jam sebelas pertemuan terakhir dengan klien. Maksimal tiga jam lah. Mama makan dengan Wiwien ya,” Tonny mencium tangan Seroja juga kedua pipi perempuan itu.
“Sebentar Tante, Wien antar kak Tonny kedepan dulu,” Wiwien berdiri dan beranjak kedepan untuk menerima ponsel buat merekam percakapan dengan Seroja nanti.
Wiwien langsung meletakkan ponsel dengan perekam yang sudah on dan volume maksimal di kolong meja lesehan.
“Ayok tante kita sarapan. Lontongnya segini atau mau tambah lagi?” tanya Wiwien.
“Segitu cukup Nak. Nanti kalau kurang Tante akan ambil lagi,” sahut Seroja.
“Mbok, ayok kita makan bareng,” ajak Wiwien pada mbok Ranti yang sedang membersihkan bunga pepaya.
“Tanggung Mbak, habis ini rampung baru saya makan. Mbak dan Ibu dahar duluan saja,” jawab simbok. Memang Wiwien sejak SMA selalu mengajak dia makan bareng. Tak membedakan statusnya sebagai pembantu rumah tangga. Bukan karena sekarang Wiwien hanya berdua dengan dirinya.
__ADS_1
“Saya makan duluan ya Mbok. Jangan lupa kembang pepayanya langsung di rebus,” sahut Wiwien dan dia makan bersama bu Seroja.
“Wah benar Tonny. Opor ini enak. Padahal kamu pakai ayam negeri kan?” tanya bu Seroja.
“Iya, ayam digoreng setengah matang dulu agar tidak hancur seperti ayam negeri pada umumnya. Baru dimasukkan di bumbu opor yang sudah ditumis matang,” sahut Wiwien.
“Iya, rasanya jadi seperti ayam kampung. Walau tetap beda. Tapi emang jadi lebih enak, ayamnya enggak anyep,” sahut Seroja.
“Mungkin karena saat ayam panas langsung dimasukkan ke bumbu opor yang sudah di tumis Tante. Jadi ayam meresap bumbunya,” sahut Wiwien.
“Kapan-kapan kita harus masak bareng Nak,” timpal Seroja.
“Ayok Tante, biar bisa segera masak, Tante harus semangat biar bisa berdiri lebih lama. Paling tidak bisa pakai kruk, jadi enak masaknya,” pancing Wiwien.
“Sebelum bertemu denganmu, Tante malas usaha. Malas sembuh. Tante sangat terluka melihat Tonny ditikam orang,” sahut Seroja sambil menerawang.
“Kak Tonny ditikam kliennya kah? Atau musuh kliennya? Apa sampai sangat parah sehingga Tante malah yang terluka?” tanya Wiwien lagi.
“Bukan ditikam seperti itu. Dia dikhianati tunangannya. Padahal mereka sudah bersiap menikah. Tante benci diri Tante yang mendekatkan mereka dan menyetujui rengekan ular itu agar Tonny melamarnya dan mereka tunangan,” Seroja geram mengingat dia sangat menurut bila Vita mengeluarkan kata-kata manis nan lembut.
“Lupakan masalah itu Tante. Sekarang kita berpikir untuk Tante segera sembuh ya. Masih mau nambah lagi?” tanya Wiwien.
“Cukup Wien. Sebentar lagi aja makanan lain,” sahut Seroja.
\===========================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL CINTA KECILNYA MAZ YOK!
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.
__ADS_1
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta