
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
Tonny ingat, ketika dia pertama melihat wajah manis istrinya. Hari itu dia janjian dengan tiga calon klien seperti biasa. Nanti kalau dia sudah memilah memberi poin untuk memenangkan perkara, dia minta stafnya menangani kasus yang dia terima.
'*Selamat siang Pak. Saya sudah di lokasi*,’ ada pesan masuk dari nomor yang Tonny save dengan nama adiknya Slamet.
Tonny memperhatikan pintu masuk lokasi itu, dia lihat ada seorang "gadis" bersama seorang pemuda. Dia mengenakan padanan yang manis yaitu warna atasan orange dengan celana kain berwarna coklat.
Tonny langsung menghubungi nomor itu untuk memastikan.
“Iya Assalamu’alaykum Pak,” terdengar suara merdu itu lagi. Dan Tonny sambil memperhatikan sosok mana yang sedang menerima panggilan dari dirinya.
“Apa kamu yang pakai baju orange dan celana cokelat?” tanya Tonny.
“Benar Pak,”jawab pemilik suara merdu.
“Kamu lihat meja di arah kiri kamu, saya lambaikan tangan,” Tonny melambai pada gadis itu. Tonny tahu calon kliennya sudah punya seorang anak. Tapi dia lebih suka menyebut perempuan itu dengan kata "gadis".
“Selamat siang,” lelaki muda yang menyertai berkenalan lebih dulu lebih dulu dengan Tonny.
“Arno.”
“Tonny.”
“Wienarti.”
“Tonny.”
“Silakan, mau pesan apa?” tanya Tonny pada kedua kenalan barunya itu.
“Biar saya aja yang pesan,” Arno pergi untuk membeli minuman dan roti gerai khusus roti itu.
__ADS_1
Di gerai ini roti dan minuman langsung dipesan dan bayar lalu dibawa ke meja kita, jadi tak mungkin kita memanggil pegawai gerai untuk memesan.
\*\*\*
“Pak Tonny maaf. Sebelum kita bicara tentang kasus yang barusan Bapak tanya, saya tanya biaya pengurusan terlebih dahulu. Karena saya ingin jelas didepan,” Tonny mendengar gadis didepannya menanyakan biaya penanganan kasusnya.
Biasanya pada siapa pun Tonny belum pernah memberikan free. Tapi ada gadis ini rasanya dia tak mau menerima pembayaran apa pun.
Malah maunya dia yang memberi! Memberi nafkah pastinya. Tonny langsung ingin memliki gadis ini. Walau dia belum tahu sifatnya baik atau buruk.
“Soal biaya, ini daftar resminya. Saya beri kamu banyak diskon karena kamu adiknya Slamet. Jadi kamu hanya perlu membayar ini, ini dan ini saja,” Tonny menunjuk biaya-biaya pengadilan saja, biaya lainnya tak perlu dibayar dengan kata lain GRATIS. Karena biaya pengadilan siapa pun harus membayar di kasir pengadilan.
“Lho koq begitu Pak. Bapak bukan bekerja kalau begitu,” gadis itu menolak beban biaya yang Tonny berikan.
“Ini jawaban yang kamu tanya. Dan saya minta jangan panggil Pak. Umur saya dua tahun dibawah Slamet. Dia senior saya saat karate,” jawab Tonny santai.
“Baik. Terima kasih Pak eh … apa ya?” Tonny jadi gemas melihat gadis itu bingung.
\*\*\*
Gadis itu lalu mulai bercerita awal dia mengetahui perselingkuhan suaminya hingga saat dia membuka semuanya di depan kedua orang tua dan mertuanya. Gadis itu memberitahu tentang status harta gono gini berupa mobil yang dia tak terlalu berharap untuk dibagi.
Gadis bernama Wiwien itu memanggil Tonny dengan sebutan KAK walau enggak terlalu familiar, Tonny masih menerima daripada dipanggil Pak!
“Kalau kamu tidak pernah datang untuk mediasi dan segala macamnya, tak sampai dua bulan surat cerai bisa kamu dapatkan. Tapi kalau kamu masih mau berpikir ulang, memaafkan dan mencoba merajut rumah tangga lagi, saya juga bisa lakukan itu."
"Kalian tinggal ucap ijab lagi tanpa perlu menikah secara negara. Karena secara negara kalian masih suami istri yang sah,” Tonny tetepa berupayakan merujukkan dulu pasangan yang minta bantuan padanya .
“Tak akan pernah ada kata maaf. Gelas yang pecah tak mungkin bisa kembali utuh. Saya juga tak ingin menyusun pecahan itu kembali,” dengan tegas Wiwien mengatakan tak ingin kembali rujuk dengan mantan suaminya.
“Saya bahkan inginnya talak tiga. Tak akan pernah lagi ingin berhubungan dengan sampah seperti dia,” dengan geram Wiwien menyuarakan isi hatinya.
“Baik. Jadi ini alamat kantor suamimu? Dan jabatannya sebagai wakil manager produksi?” tanya Tonny.
“Benar.”
__ADS_1
“Saya akan antar sendiri surat panggilan dari Pengadilan Agama padanya di kantor, karena kita tak tahu alamat domisilinya sekarang. Besok saya akan mendaftarkan kasus kamu ya. Semoga esok pagi berkasmu bisa saya siapkan,” Tonny memperhatikan semua kelengkapan data yang Wiwien serahkan.
Saat itu tanpa pikir panjang Tonny ingin dia sendiri yang mengurus proses perceraian itu. Bahkan dia ingin mengantarkan sendiri surat dari pengadilan untuk lelaki brengsek yang melukai hati perempuan di depannya.
Biasanya tugas mengamtar surat tentu dilakukan oleh potter di kantornya. Bahkan tugas mudah seperti itu saja ingin Tonny lakukan sendiri demi gadis ini.
“Tuntutanmu selain hak asuh tidak ada? Karena sebenarnya hak asuh tak perlu dicantumkan. Anak seusia anakmu otomatis hak asuh ditangan ibunya kecuali sang ibu yang bermasalah."
"Misal si ibu cacat mental, atau si ibu yang ‘nakal’ dan hal lain yang membuat banyak pertimbangan bila si anak dididik oleh ibu tak benar tersebut."
"Bahkan ibu tak bekerja tetap punya hak asuh anak bila dia bersih. Dan mantan suami wajib memberi nafkah pada anaknya selama si anak belum 18 tahun.” Tonny menanyakan apa lagi yang ingin Wiwien tuntut.
“Enggak ingin nuntut apa pun. Termasuk nafkah anak. Saya akan berupaya berdiri sendiri."
Tonny kagum melihat tekad gadis itu yang tak bitih dinafkahi. Perempuan lain selalu minta pengadilan memutuskan mantan suami menafkahi anaknya walau nanti di lapangan banyak yang tak melaksanakan keputusan itu.
"Saya cuma minta dia enggak ganggu kehidupan saya dan anak saya. Saya enggak ingin anak saya menginap dengannya karena bisa dia cekoki info tak benar."
" Dia boleh melihat anaknya tanpa pernah touch sama sekali. Karena dia dan kekasihnya telah meracun anak saya!” dengan sedikit terisak gadis itu mengatakan hal itu.
“Oke, saya akan giring argumen kalau dia mengetahui perbuatan teman selingkuhnya untuk memberi obat pada putra anda. Sehingga pengadilan akan memutuskan dia sama sekali tak boleh mendekati putra anda,” Tonny berjanji akan membantu Wiwien.
“Kak, saya pamit ya. Saya tunggu perkembangannya,” gadis itu lamit ketika Tonny sudah ada janji dengan klien berikutnya.
“Ya, silakan. Nanti langsung saya kabari begitu pendaftaran kasus sudah saya ajukan,” Tonny menyambut tangan Arno dan Wiwien.
***Ditunggu komen manisnya ya***.
***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.
***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.
Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul WANT TO MARRY YOU ya.

__ADS_1
Dan sekali lagi yanktie ingetin jangan lupa subscribe cerita dengan judul WANT TO MARRY YOU itu ya.