
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
“Ini masih kosong?” Wiwien mendengar suara seorang lelaki. Dia mengangkat wajah dari buku yang dia baca.
“Kosong,” jawab Wiwien, lalu dia kembali membaca bukunya kembali. Saat pergantian mata kuliah ada jeda dua puluh menit, waktu itu dimanfaatkan Wiwien membaca materi yang dia dapat sebelumnya.
Wiwien memang sulit berbaur dengan kawan sekelasnya karena merasa cukup tua dibanding anak-anak yang kuliah bareng dengannya itu.
Wiwien sudah tiga tahun lalu lulus D3. Mayoritas mahasiswi S1 sekarang adalah mahasiswi yang memang sejak SMA langsung mengambil jenjang S1. tidak seperti dirinya.
Dan Wiwien tak mau sama sekali berkenalan dengan mahasiswa. Terlebih dirinya sudah menjadi janda. Itu sebabnya saat jeda seperti ini dia memilih duduk membaca seorang diri.
‘Wien, Mama sadar. Dan sepertinya dia mencari dirimu. Tapi tetap tak mau bicara. Aku sedang on the way ke rumah sakit,’ pesan dari Tonny baru masuk saat Wiwien baru duduk dikelas untuk menerima kuliah terakhir siang ini.
‘Aku dikampus Kak. Dua jam lagi baru bisa meluncur ke rumah sakit,’ jawab Wiwien. Dia tak mau membolos kuliah. Toch kondisi bu Seroja membaik. Bukan kritis.
***
Wiwien membeli jeruk santhang. Jeruk berwarna kuning cerah dan berukuran kecil-kecil. Karena dia bukan dari rumah maka tak bisa membawa makanan hasil olahannya sendiri.
“Assalamu’alaykum,” sapa Wiwien. Dia meletakkan tas kuliahnya juga jeruk yang dia bawa di meja. Lalu dia masuk toilet dikamar itu untuk pipis dan mencuci tangan dengan sabun.
Tonny memberi kode pada bu Waode agar keluar. Tonny tahu mamanya pasti langsung akan bercerita bila dengan Wiwien.
“Hallo Tante. Assalamu’alaykum,” Wiwien memberi salim pada bu Seroja. Tonny dan bu Waode sudah tak ada di ruangan itu.
“Wa’alaykum salam Wien,” bu Seroja mengusap lembut pipi Wiwien.
“Semangat ya. Biar cepat sehat lagi. Wien kangen sarapan bareng ama Tante,” Wiwien memompa semangat untuk bu Seroja.
“Bagaimana Awan?” tanya Seroja.
“Dia makin enduth. Dia sekarang sudah makan bubur saring kasar. Kalau Wien pulang kuliah dia ngambeg enggak mau digendong dulu. Akhirnya Wien balas cueqin. Eh dia langsung merangkak dekati Wien dan minta gendong,” Wiwien dan Seroja tertawa membayangkan tingkah lucu Awan.
“Wien sudah mulai kuliah?” tanya Seroja.
“Iya. Hari Senin sampai hari Kamis Wien kuliah Tante,” sahut Wiwien. Seroja tersenyum manis mendengar gadis itu mulai menuntut ilmu kembali. Mereka memang sering membahas hal ini ketika ngobrol di ruko.
__ADS_1
***
Setelah ngobrol cukup lama Wiwien mohon pamit. Dia berjanji besok akan kembali pagi seperti biasa.
Ternyata sejak tadi Sashi yang dikabari sang mama sadar juga langsung meluncur ke rumah sakit Fatmawati. Tapi didepan ruang rawat dia ditahan oleh Tonny dan Rahmad. Mereka sedang memperhatikan Seroja yang sedang tertawa dengan Wiwien. Kalau mereka ganggu, Seroja tentu sedih. Jadi Rahmad meminta istrinya bersabar hingga Wiwien pulang.
“Eh, koq enggak masuk Mbak?” Wiwien kaget ketika di luar ruangan bertemu dengan Sashi, mas Rahmad dan Tonny.
“Mas larang dia masuk. Biar mama puas dulu ngobrol denganmu,” sahut Rahmad yang sejak dia datang memang sudah berkenalan dengan Wiwien.
“Maaf kalau Wien enggak tahu. Jadi Wien asyik ngobrol. Wien pamit dulu. Assalamu’alaykum,” Wiwien pamit dan tak lupa mencium Sashi.
“Bareng yok, aku mau ke depan. Biar mas Rahmad dan mbak Sashi yang masuk,” Tonny berkata dia ingin ke depan. Entah kemana.
***
“Besok kamu libur kuliah ‘kan?” tanya Tonny saat mereka berjalan beriringan ke tempat parkir.
“Iya Kak,” sahut Wiwien.
“Besok ke rumah sakitnya aku jemput ya? Aku kangen Awan. Nanti pulangnya aku antar lagi sekalian aku berangkat kerja,” pinta Tonny.
“Sebentar Kak. Ada telepon,” Wiwien melihat siapa yang menghubunginya.
“Iya, assalamu’alaykum kang Oche,” Wiwien memberi salam pada orang yang menghubunginya.
“Wah maaf Kang. Saya memang kosong tak pergi kemana pun. Tapi saya tidak bisa menemani Akang ke acara itu. Akang cari teman lain saja,” Wiwien menolak ajakan Oche menemaninya datang keacara komunitas pemilik Laundry.
Di group WA Wiwien sudah tahu hal itu. Dia awalnya ingin datang. Tapi kalau harus datang bersama Oche tentu dia tak mau. Wiwien tak ingin ada rumors tentang hubungannya dengan Oche.
“Kak, saya langsung ya,” Wiwien pamit pada Tonny untuk langsung menuju lokasi motornya di parkir.
“Oke. See you tomorrow,” sahut Tonny.
***
Wiwien belanja bahan kering. Dia membeli tepung beras, gula merah juga barang lainnya. Rencanannya besok dia mau buat bubur sumsum untuk sarapan di rumah sakit. Sekarang dia membeli sterofoam berbentuk mangkok bulat yang bertutup dan banyak plastik untuk tempat kuah agar tak tumpah.
Wiwien juga mampir ke warung sayur untuk membeli daun pandan. Kalau beli besok pagi takut tidak keburu dihaluskan untuk diambil sarinya.
__ADS_1
***
“Mbok, buburnya siapkan lima tempat yo. Takutnya siang bu Seroja pengen lagi. Dan gulanya bungkus dengan plastik aja biar enggak berantakan,” seperti biasa Wiwien menyerahkan bagian packing pada mbok Ranti karena dia akan mandi.
“Bunda sudah rapi. Ayok kita sarapan sambil nunggu pakde Tonny. Kamu pagi ini coba sarapan bubur sumsum ya,” Wiwien mengangkat Awan yang juga sudah rapi untuk dia bawa kelantai bawah.
“Duduk sini dulu. Bunda akan ambilkan bubur untukmu,” Wiwien mendudukkan putranya di haigh chair seperti biasa. Dia pasang celemek makan dileher Awan saat mendengar ada salam dari Tonny.
“Wa’alaykum salam. Masuk Kak,” Wiwien mempersilakan Tonny masuk.
“Wah jagoan pakde sudah siap makan ya,” Tonny menghampiri Awan dan mencium puncak kepala bocah gembul itu. Dia ciumi pula kedua pipi Awan yang menggemaskan.
“Enggak keburu-buru kan Kak?” tanya Wiwien.
“Aku emang sengaja cepet datang. Kan aku kangen sama Awan, bukan cuma ngejemput bundanya aja,” sahut Tonny.
Wiwien pun mulai menyuapi Awan. Untuk awal dia oleskan kuah gula di mulut si kecil. Tentu saja Awan suka. Selanjutnya satu mangkuk bubur sumsum ludes tanpa sisa.
“Gimana enggak gembil pipimu kalau kamu gembul gitu makannya?” Tonny menggoda Awan yang mulut dan pipinya sudah dibersihkan Wiwien. Dia angkat lelaki kecil itu dari high chair dan dia bawa keluar.
***
“Mbok, sehabis kursus, aku pergi belanja ya. Jadi agak siangan pulangnya. Makan siang dan buah simbok aja yang kasih,” Wiwien berbisik pada mbok Ranti. Dia tak mau Tonny mendengar. Semua yang Wiwien lakukan hanya simbok yang tahu.
“Injih. Perlengkapan Awan banyak yang hampir habis,” balas simbok.
“Iya, sudah aku catat. Kalau nanti bahan laundry datang terima aja. Bahan laundry sudah aku beli online,” jawab Wiwien bersiap berangkat.
\===========================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL TELL LAURA I LOVE HER YOK!
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
__ADS_1
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta