UNCOMPLETED STORY

UNCOMPLETED STORY
PERTEMUAN KONSULTASI PERTAMA


__ADS_3

DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI


\~\~\~\~\~


Enam hari sudah sejak tragedi laptop di rumah Wiwien terjadi. Sekarang hari Sabtu. Wiwien berjanji akan bertemu dengan Tonny. Dia ditemani Arno yang tidak ada kegiatan siang ini.


“Kalian enggak pakai mobil Bapak aja? Ini sudah mendung,” Teguh sang bapak menyuruh kedua anaknya menggunakan mobil. Sedang sejak tadi Arno lebih senang bila menggunakan motornya saja. Motor Arno adalah motor lelaki yang pakai kopling, bukan motor matic seperti milik Wiwien.


“Aku terserah Ade wae Pak,” jawab Wiwien. Dia tak mau Arno jadi kesal karena diatur-atur.


“Kalian itu mau bertemu orang, dan bawa berkas. Jadi menurut ibu ya mending pakai mobil wae,” Indarwati atau Iin memberi saran pada Arno.


“Yo, manut,” sahut Arno. Dia pun mengambil kunci mobil dan bersiap mengantar kakak keduanya.


Wiwien tersenyum melihat adiknya yang pasrah atas desakan kedua orang tua mereka. Dia pun pamit pada panutannya itu, mencium tangan kedua dan masuk ke mobil membawa map berisi berkas yang sekiranya dibutuhkan untuk mengurus perceraian dengan Bayu.


‘Selamat siang Pak. Saya sudah di lokasi,’ Wiwien mengirim pesan di whats app pengacaranya. Yang pertama akan dia tanyakan adalah biaya bantuan pengacara. Agar dia bisa menyiapkan uang itu.


Telepon Wiwien langsung bergetar karena ada telepon masuk.


“Iya Assalamu’alaykum Pak,” sahut Wiwien.


“Apa kamu yang pakai baju orange dan celana cokelat?” tanya orang itu.


“Benar Pak,” sahut Wiwien.


“Kamu lihat meja di arah kiri kamu, saya lambaikan tangan,” sahut orang itu.


Wiwien melihat di ujung ada seorang lelaki muda yang melambaikan tangan padanya. ‘Kesana De,” Wiwien mengajak Arno ke arah meja itu.


“Selamat siang,” Arno lebih dulu berjabat tangan dengan pria itu.


“Arno.”


“Tonny.”


“Wienarti.”


“Tonny.”


“Silakan, mau pesan apa?” tanya Tonny pada kedua kenalan barunya itu.


“Biar saya aja yang pesan,” Arno pergi untuk membeli minuman dan roti gerai khusus roti itu. Dia sengaja agak lama agar kakaknya bisa menanyakan soal biaya terlebih dahulu. Dia tahu mungkin Wiwien malu bila hal itu dia ketahui.


Di gerai ini roti dan minuman langsung dipesan dan bayar lalu dibawa ke meja kita, jadi tak mungkin kita memanggil pegawai gerai untuk memesan.

__ADS_1


***


“Pak Tonny maaf. Sebelum kita bicara tentang kasus yang barusan Bapak tanya, saya tanya biaya pengurusan terlebih dahulu. Karena saya ingin jelas didepan,” Wiwien tak menjawab soal Bayu yang Tonny tanyakan. Dia malah lebih dulu tanya biaya.


“Soal biaya, ini daftar resminya. Saya beri kamu banyak diskon karena kamu adiknya Slamet. Jadi kamu hanya perlu membayar ini, ini dan ini saja,” Tonny menunjuk biaya-biaya pengadilan saja, biaya lainnya tak perlu dibayar dengan kata lain GRATIS. Karena biaya pengadilan siapa pun harus membayar di kasir pengadilan.


“Lho koq begitu Pak. Bapak bukan bekerja kalau begitu,” Wiwien jadi tak enak.


“Ini jawaban yang kamu tanya. Dan saya minta jangan panggil Pak. Umur saya dua tahun dibawah Slamet. Dia senior saya saat karate,” jawab Tonny santai.


“Baik. Terima kasih Pak eh … apa ya?” Wiwien jadi bingung haru memanggil apa pada teman kakak iparnya ini.


Arno datang membawa satu hot choco milk untuk Wiwien dan capuchino untuk dirinya juga beberapa snack kecil juga roti kecil karena kakaknya tak suka dengan roti besar.


***


Wiwien lalu mulai bercerita awal dia mengetahui perselingkuhan suaminya hingga saat dia membuka semuanya di depan kedua orang tua dan mertuanya. Dia memberitahu tentang status harta gono gini berupa mobil yang dia tak terlalu berharap untuk dibagi.


“Yang penting saya hanya ingin segera resmi cerai saja Kak,” pinta Wiwien pada Tonny.


“Kalau kamu tidak pernah datang untuk mediasi dan segala macamnya, tak sampai dua bulan surat cerai bisa kamu dapatkan. Tapi kalau kamu masih mau berpikir ulang, memaafkan dan mencoba merajut rumah tangga lagi, saya juga bisa lakukan itu. Kalian tinggal ucap ijab lagi tanpa perlu menikah secara negara. Karena secara negara kalian masih suami istri yang sah,” sahut Tonny.


“Tak akan pernah ada kata maaf. Gelas yang pecah tak mungkin bisa kembali utuh. Saya juga tak ingin menyusun pecahan itu kembali,” dengan tegas Wiwien mengatakan tak ingin kembali rujuk dengan Bayu.


‘Aku tahu rasa yang ada. walau aku belum pernah merasakan  hal yang sama,’ batin Tonny sendu.


“Baik. Jadi ini alamat kantor suamimu? Dan jabatannya sebagai wakil manager produksi?” tanya Tonny.


“Benar.”


“Saya akan antar sendiri surat panggilan dari Pengadilan Agama padanya di kantor, karena kita tak tahu alamat domisilinya sekarang. Besok saya akan mendaftarkan kasus kamu ya. Semoga esok pagi berkasmu bisa saya siapkan,” Tonny memperhatikan semua kelengkapan data yang Wiwien serahkan.


“Tuntutanmu selain hak asuh tidak ada? Karena sebenarnya hak asuh tak perlu dicantumkan. Anak seusia anakmu otomatis hak asuh ditangan ibunya kecuali sang ibu yang bermasalah. Misal si ibu cacat mental, atau si ibu yang ‘nakal’ dan hal lain yang membuat banyak pertimbangan bila si anak dididik oleh ibu tak benar tersebut. Bahkan ibu tak bekerja tetap punya hak asuh anak bila dia bersih. Dan mantan suami wajib memberi nafkah pada anaknya selama si anak belum 18 tahun.” Tonny menanyakan apa lagi yang ingin Wiwien tuntut.


“Enggak ingin nuntut apa pun. Termasuk nafkah anak. Saya akan berupaya berdiri sendiri. Saya cuma minta dia enggak ganggu kehidupan saya dan anak saya. Saya enggak ingin anak saya menginap dengannya karena bisa dia cekoki info tak benar. Dia boleh melihat anaknya tanpa pernah touch sama sekali. Karena dia dan kekasihnya telah meracun anak saya!” dengan sedikit terisak Wiwien mengatakan hal itu. Kalau sudah bicara tentang Awan, dia langsung sedih.


Arno cepat memberikan tissue pada kakaknya, dia mengusap punggung Wiwien dengan lembut.


“Oke, saya akan giring argumen kalau dia mengetahui perbuatan teman selingkuhnya untuk memberi obat pada putra anda. Sehingga pengadilan akan memutuskan dia sama sekali tak boleh mendekati putra anda,” Tonny berjanji akan membantu Wiwien.


“Maaf, saya angkat telepon dulu,” Tonny minta izin mengangkat telepon dari klien berikutnya.


“Mas ada dimana? Apa yang pakai kaos putih menggunakan topi baretta?” tanya Tonny sambil memandang pintu masuk.


“Saya lambaikan tangan ya,” seperti dengan Wiwien tadi, Tonny melambaikan tangan pada tiga orang yang sedang menuju mejanya.

__ADS_1


“Kak, saya pamit ya. Saya tunggu perkembangannya,” Wiwien sadar, Tonny sudah ada janji dengan klien berikutnya.


“Ya, silakan. Nanti langsung saya kabari begitu pendaftaran kasus sudah saya ajukan,” Tonny menyambut tangan Arno dan Wiwien. Dia menyimpan berkas milik Wiwien dan bersiap menerima klien ketiga hari ini. Karena Wiwien adalah klien kedua.


Begitu memang ritme kerja Tonny di hari Sabtu. Tiga atau empat klien sejak pagi. Sesudah itu mulai siang hari dia off hingga hari Senin pagi. Nanti mulai hari Senin hingga hari Jumat sore dia sibuk di kantor dan lapangan.


Klien baru, diterima pada hari Sabtu. Hari Senin hingga hari Jumat, dia mengurus kasus. Jadi tidak mau ada kasus baru di hari kerja agar tak bertumpuk. Hari Sabtu siang hingga hari Senin subuh telepon kerjanya off. Bahkan sekretarisnya di kantor tak boleh menghubungi hari liburnya itu.


Dan di hari kerja, Tonny tak mau bicara dengan klien sesudah jam lima sore, karena sudah lewat waktu kerja. Ini memang dia atur sedemikian rupa untuk menjadi kebiasaan. Agar bila dia berumah tangga keluarga tidak terganggu dengan urusan pekerjaannya.


Tonny sudah kapok bekerja tak mengenal waktu, sehingga cintanya kandas karena hal itu.


***


“Bu, Pak tadi pagi aku sudah berkenalan dengan pengacara yang mau bantu proses perceraianku dengan Bayu. Dan mulai besok Senin juga aku sudah resmi berhenti bekerja. Jadi aku mau kasih tahu ke Ibu dan Bapak, kalau mulai hari Senin aku akan cari rumah buat aku tinggalin. Bukan enggak mau tinggal disini. Tapi aku ingin hidup mandiri,” Wiwien memberitahu kedua orang tuanya saat mereka sedang makan malam. Di meja juga ada Arno adiknya.


“Kamu sudah ada uang untuk beli rumah?” tanya Ibu dengan lembut. Dia tak melarang bila putrinya tak ingin tinggal dibawah perlindungannya.


“Kalau hanya rumah KPR type 36 standart cukuplah Bu, uang dari kantor dan tabunganku ada. Kalau buat cari rumah bukan KPR memang enggak cukup,” jawab Wiwien.


“Lalu untuk hidup? Kamu kan harus ada usaha kalau tak mau bekerja. Itu juga butuh modal kan?” tanya Iin atau Indarwati pada putri keduanya itu.


“Aku akan gadai surat rumahku untuk modal usaha Bu,” jawab Wiwien cepat.


“Kalau menurut Bapak, kamu sabar sebentar. Kamu bisa beli rumah, lalu tak perlu kamu gadai sertifikat rumahmu itu. Kamu gunakan tabungan bapak dan ibu, anggap kamu gadai ke kami. Jadi kamu mengangsur ke kami saja. Hanya jumlahnya memang tak terlalu banyak sebesar kalau kamu ajukan ke bank,” sang bapak memberi pandangan untuk Wiwien.


“Nah itu lebih bagus Mbak lebih aman,” Arno pun memberi pendapat bagi kakaknya.


“Kamu jangan kemrungsung cari rumahnya, santai aja. Bapak dan Ibu tidak malu anaknya jadi janda, kami tetap akan mendukungmu,” Teguh Susilo memberi dukungan penuh pada putrinya yang mulai dicibir tetangga karena menjadi janda.


“Iya Mbak, kalau mau lihat rumah nunggu aku bisa temani ya,” pinta Arno. Dia akan selalu mendampingi kakaknya menghadapi situasi sulit saat ini. Dia tahu betul mbak Wiwien memikul beban berat karena pandangan masyarakat sekitar pada seorang janda sangat buruk.


\===========================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI\, KITA MAMPIR KE CERITA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL  **WANT TO MARRY YOU  **YOK!



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta

__ADS_1


__ADS_2