UNCOMPLETED STORY

UNCOMPLETED STORY
KAPAN AKU BISA MELAMARMU?


__ADS_3

DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI. JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA


\~\~\~\~\~


“Kamu sendiri, berapa mantanmu?” tanya Tonny pada Wiwien dengan menatap lekat mata perempuan itu.


“Sayangnya aku hanya punya satu mantan pacar yang sekalian mantan suami.” sahut Wiwien. Sejak kecil memang dia tak pernah pacaran dengan siapa pun selain dengan Bayu.


“Lalu, sampai kapan aku bisa melamarmu?” tanya Tonny. Dia bukan ingin main-main dalam menjalin hubungan dengan Wiwien.


“Kalau mamamu sudah bisa bicara lancar denganmu dan berjalan lagi. Aku ingin kita menikah ketika kesehatan beliau sudah prima. Sehingga pernikahan kita tak menjadi beban bagi pikirannya,” sahut Wiwien.


Perempuan ini tahu, dengan motivasi seperti ini, Tonny dan Seroja akan berkolaborasi menggapai target pencapaian maksimal agar pernikahan mereka segera terwujud.


“Tapi, selama proses itu, kamu serius tidak akan berpaling kan?” tanya Tonny tak yakin.


“Mas ingat mengapa aku bercerai?” pancing Wiwien.


“Perselingkuhan,” balas Tonny.


“Sejak dulu, aku paling benci perselingkuhan. Apalagi diselingkuhi. Jadi apa pun alasannya, perselingkuhan tak akan pernah aku maafkan. Aku tak mau diselingkuhi, jadi aku pun tak akan pernah mau berselingkuh,” jelas Wiwien pasti.


“Sama saja, bila tak ingin sakit dicubit orang, kamu jangan pernah mencubit. Sekali lagi aku tekankan, begitu Mas ada indikasi selingkuh, saat itu juga kita putus dan tak akan pernah bisa ada maaf dariku,” Wiwien memberitahu garis demarkasi yang dia tetapkan.


“Sebelum Mas serius, Mas berpikir dulu, agar aku enggak akan tersakiti dua kali,” sahut Wiwien.


“Mas serius padamu dan enggak akan pernah selingkuh,” dengan yakin Tonny berjanji pada Wiwien.


***


Selanjutnya semua berjalan sesuai alur. Setiap hari Sabtu pagi bu Seroja akan main ke ruko, mereka bercengkerama, masak hingga bertukar resep sehabis makan siang bersama maka Tonny akan membawa Seroja pulang.


Malamnya Tonny akan datang lagi. Kadang pergi berdua dengan Wiwien. Kadang hanya di rumah saja bercanda dengan Awan.

__ADS_1


Hari Minggu kadang Tonny membawa Awan dan Wiwien keluar, kadang mereka ke rumah Sashi atau Asih. Kadang juga ke rumah Seroja. Tapi belum pernah satu kali pun kerumah orang tua Wiwien.


“Mengapa kamu selalu menolak bila Mas minta kerumah ibu?” Selalu Tonny bertanya setiap Wiwien menolaknya.


“Aku malas berdebat Mas. Please ngertiin aku. Ibu itu lembut, tapi aku enggak suka pola pikirnya. Sejak aku kecil aku enggak suka tekanan yang dia lakukan untukku. Sejak kecil Ibu maunya aku manis seperti mbak Asih. Walau enggak pintar tapi mbak Asih lembut,”


“Sedang aku selalu ingin explore, aku suka pramuka, PMR dan pecinta alam. Aku suka tantangan. Walau aku selalu berprestasi tapi ibu tak menghargai itu. Dia ingin perempuan itu duduk manis dan lembut.”


“Semua yang aku lakukan selalu salah dimata Ibu. Itu sebabnya aku buka laundry, aku buka kios roti dan aku kuliah semua aku putuskan diam-diam. Aku belajar nyetir mobil dan bahkan aku menyusun rencana jebakan buat Bayu semua aku lakukan sendiri,”


“Kalau Ibu tahu semua pasti dicela. Buat apa kuliah? Apa ijazahmu akan berguna untuk usahamu? Buat apa sewa ruko, mengapa tidak beli rumah saja. Apa tidak cukup usaha laundrymu sehingga kamu buka usaha lain? Mengapa tidak fokus dalam satu usaha saja?”


“Begitu selalu sikap Ibu. Sekarang aku baru bercerai, lalu kita datang bersama. Ibu akan bilang apa enggak kapok diselingkuhi? Apa enggak mikir apa pendapat orang kalau seorang janda itu keluar dengan laki-laki? Dan banyak pernyataan nyinyir yang akan dia keluarkan.”


“Bahkan saat Mas datang sebagai pengacaraku saja Ibu sudah tak mau menemui Mas ketika kita akan keluar ke rumah sakit sore itu. Mas ngerti ‘kan kenapa aku malas kesana?” Wiwien berkata panjang lebar mengenai alasannya malas kerumah Iin dan Teguh.


“Maaf sweet heart. Maaf, Mas enggak ngerti kalau masalahnya seperti itu. Karena Mas lihat ibu sangat lembut,” Tonny tak percaya Wiwien mendapat tekanan seperti itu dari ibunya.


“Beliau memang sangat lembut , tapi kata-katanya sering menikam. Bapak dan Arno sangat hafal hal itu. Dan mbak Asih tak pernah merasakan karena ibu tak pernah diperlakukan dia  seperti yang diperlakukannya padaku.” sahut Wiwien.


***


“Iyaaah…,” Awan meminta gendong Tonny, mereka sedang di arena permainan anak. Sengaja Tonny membawa Awan ke arena mandi bola. Dia jaga Awan sendirian, karena Wiwien sengaja menggunakan kesempatan itu untuk membeli diapers dan kebutuhan Awan lainnya.


“Sudah selesai mainnya? Ayah enggak pergi, Ayah disini nungguin kamu,” dengan sabar Tonny menjaga Awan.


“Nda au,” jawab Awan tetap minta diangkat oleh Tonny.


“Baiklah, ayok,” Tonny pun mengangkat bocah dengan pipi gembil nan menggemaskan itu.


“Lho, koq sudah mainnya?” Wiwien yang sudah kembali bertanya karena Awan sudah dalam gendongan Tonny.


“Udah capek atau ngantuk kali Yank,” jawab Tonny.

__ADS_1


“Kamu koq cepet belanjanya?” tanya Tonny lagi.


“Aku baru beli diapers dan kebutuhan Awan aja Mas. Belum belanja lainnya. Nanti aja lah habis kita makan,” sahut Wiwien.


“Tonny …,” terdengar seseorang memanggil Tonny dari sisi kiri lelaki itu.


“Tante,” balas Tonny pada Tria Aryani, mamanya Vita.


“Apa khabar kamu? Dan apa khabar mamamu? Tante kangen pada mamamu,” perempuan cantik itu mendekat pada Tonny dan Wiwien.


“Saya baik Tante. Hanya saya enggak tahu apa yang mama ketahui tentang Vita, dia langsung stroke selama satu tahun ini. Dan kemarin putri Tante kembali datang ke rumah saya, bikin mama saya kembali anfal dan dirawat dua bulan karena koma.”


“Jadi saya minta Tante atau anak Tante jangan pernah lagi menyapa saya atau mama saya dimana pun kami berada. Apalagi sampai mendatangi rumah saya. Bila itu terjadi lagi, saya akan buat kalian membusuk seperti yang saya lakukan pada Bian,” sahut Tonny dengan ketus.


Tria Aryani tahu, saat persidangan Bian, memang Tonny adalah pengacara lawan dari putranya itu. Tapi perempuan itu sadar, memang putranya sangat salah. Jadi dia tak marah pada Tonny.


“Tante pasti tahu kan alasan mama memutuskan pertunangan saya dengan Vita?” desak Tonny. Tak mungkin mamanya memutus pertunangannya tanpa memberitahu alasannya pada sahabatnya.


Logikanya kalau tante Tria Aryani tak tahu alasannya, dia pasti akan mendesak pihak Tonny dan ngotot agar pertunangan tidak diputus secara sepihak. Ini kan tidak. Pihak Vita tidak merengek minta keterangan apalagi merengek agar pertunangan terus dilanjutkan.


\===========================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL THE BLESSING OF PICKPOCKETING  YOK!


DAN SEKALI LAGI YANKTIE INGETINI JANGAN LUPA SUBSCRIBE CERITA DENGAN JUDUL  THE BLESSING OF PICKPOCKETING  ITU YA.



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya

__ADS_1


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta


__ADS_2