
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
Tentu nanti nasi goreng itu akan dia bawa pulang. Kedua anaknya sangat suka nasi goreng buatan Wiwien. Tidak seperti bikinannya yang tanpa isi atau kalau beli di tukang dorong pun hanya ada kocokan telur kadang sedikit bakso. Nasi goreng Wiwien kan selalu ada isi ayam atau udangnya.
“Mbok, sepertinya Awang lebih senang diatas karena dia dibebaskan keliling ya,” Wiwien memang tak membolehkan Awan diletakkan dilantai bila di lantai bawah. Banyak barang berbahaya terutama saklar listrik.
“Iyo Mbak. Kemaren juga pas Mbak ke kampus simbok diatas aja kalau Awan melek,” sahut simbok. Usia Awan sekarang sudah delapan bulan. Dia sudah lancar merangkak. Dan di ruang tengah lantai atas tak ada barang lain selain kasur dan karpet tebal.
“Sekarang kita maem buah dulu sebelom bobo ya,” Wiwien meletakkan Awan di high chair. Hari ini menu buah masih melon kuning. Minimal empat hari baru Wiwien akan mengganti dengan buah lain.
Sambil menyuapi Awan, Wiwien sedang merebus tetelan. Dia ingin membuat sayur asem yang akan ditemani ikan asin dan lalapan serta tentu sambal terasi. Nanti Awan selesai makan buah di tinggal eksekusi mematangkan sayur asem.
“Nah mulai pinter ya. Udah mulai kenal?” Wiwien memuji Awan yang sudah berkurang menyemburnya.
“Enak kan sayank?” akhirnya porsi buah yang Wiwien sediakan habis dilahap Awan. Wiwien membawa Awan kelantai atas dan membuka seluruh pakaiannya. Dia basuh jagoannya dan segera dia keloni di kasur lantai.
***
“Kalau enggak lihat sendiri, Mbak enggak percaya,” Sashi melihat dua video yang dibuat Tonny. Satu saat Wiwien berbisik pada bu Seroja dan satu dirinya, putri kandung Seroja yang juga berbisik seperti Wiwien.
Saat dibisiki Sashi, tak ada pergerakan kelopak mata Seroja. Sashi meneteskan air mata melihat hal itu. Sebegitu dalam luka yang ada dalam hati mamanya sehingga tak ingin bereaksi dengan Tonny dan dirinya.
“Besok siang aku harus bertemu klien Mbak. Aku tinggal sebentar ya,” Tonny berupaya mengalihkan topik agar Sashi tak makin sedih.
“Nanti sore Wiwien mau ketemu sama Mbak. Pengen ngobrol katanya. Tadi dia bawain aku nasi goreng seafood,” Tonny bercerita. Saat ini mereka sedang makan siang di cafetaria rumah sakit.
“Dia datang aja udah sangat ngebantu. Kenapa dia harus repot bawain kamu sarapan?” tanya Sashi.
“Itulah sikapnya pada setiap orang. Dia bilang kalau dilarang bawa makanan dia enggak akan datang lagi. Jadi jangan sekali-kali Mbak komplain sama bawaannya. Kalau mama sadar dia akan selalu bawain mama snack yang dia bikin sendiri. Bukan beli,” sahut Tonny. Dia tak ingin Sashi salah ucap pada Wiwien.
__ADS_1
“Astaga, dia emang berjiwa malaikat,” bisik Sashi. ‘Aku pikir dia hanya manis di wajah saja.’
“Ayok, kita harus gantian sama nurse. Aku kasihan kalau dia kita belikan makanan. Dia jadi seperti dipenjara. Kalau dia dibiarkan makan diluar, kan dia bisa refreshing,” Tonny mengajak Sashi kembali ke ruang rawat mama mereka.
***
“Assalamu’alaykum Mbak, Kak,” Wiwien memberi salam pada Tonny dan Sashi yang ada di ruangan itu. Bu Waode sudah bertemu dengannya di teras kamar.
“Wa’alaykum salam,” jawab Sashi dan Tonny bersamaan. Wiwien menyalami Sashi dan mereka bercipika cipiki.
“Aku memberi salam tante dulu ya Mbak,” Wiwien minta izin pada Sashi. Sashi yang penasaran langsung mengikuti Wiwien. Dia ingin melihat reaksi Seroja secara langsung.
“Assalamu’alaykum Tante. Wien datang sesuai janji. Wien enggak bohong kan?” bisik Wiwien. Dan Sashi melihat kelopak mata Seraja sedikit bergerak.
“Sebenarnya Wien malas datang kesini kalau Tante enggak mau buka mata. Besok-besok kalau Wien kesini Tante udah buka mata ya?” bisik Wien lagi.
Dia lalu bercerita kalau Awan sudah lancar merangkak. Wiwien juga bercerita tadi dia masak sayur asem dengan bumbu belimbing wuluh.
‘Dia bercerita seakan mama mendengarkan ceritanya. Dan dia tak malu menceritakan kesehariannya. Sayur asem dan ikan asin saja dia ceritakan. Bukan steak atau makanan mahal lainnya,’ Sashi tak percaya melihat semua polah Wiwien.
“Bo … boleh koq,” jawab Sashi. Dia yang basicnya orang kesehatan dan anak kandung Seroja malah blank tak terpikirkan hal itu. Sashi segera mengambil wash lap yang tersedia. Dia mengambilkan air di baskom dan dia berikan pada Wiwien yang membuka kemeja Seroja. Tirai sudah Wiwien tutup agar Seroja ‘tak malu’.
“Kita basuh badan biar seger ya Tante,” pelan dan lembut Wiwien mulai membasuh wajah Seroja lebih dulu lalu dia lanjut ke badan dan anggota badan lainnya.
“Yeeeay, Tante sudah segar, harum dan cantik seperti biasa,” Wiwien memuji Seroja yang sudah selesai dia gantikan bajunya.
Sashi tersenyum tulus melihat apa yang diperbuat perempuan muda itu. ‘Cantik, lembut, welas asih. Mengapa nasibnya buruk seperti itu?’
Sashi tahu mengapa Tonny bisa mengenal Wiwien. Dia juga tak menyangka nasib buruk perempuan baik hati ini di selingkuhi suaminya dengan pembantu rumah tangga yang wajahnya jauh dibawah kecantikan Wiwien.
“Sekarang Wien pulang dulu ya. Besok pagi Wien kesini lagi. Tante tidur yang nyenyak. Enggak usah mikirin yang enggak-enggak.” Wiwien mencium pipi Seroja.
__ADS_1
“Assalamu’alaykum Tante,” Wiwien memberi salam ketika mencium punggung tangan Seroja.
***
Wiwien menarik tangan Sashi untuk duduk di teras kamar rawat. Dia tak ingin obrolan mereka didengar Seroja. Sejak datang dia belum ngobrol dengan Sashi karena langsung menyapa dan mengurusi Seroja.
Mereka ngobrol jati diri masing-masing sebagai bahan obrolan pertama setelah kedatangan Sashi ke ruko kemarin.
“Nanti Mbak kerja dimana Mbak?” tanya Wiwien.
“Mas Rahmad akan bertugas disini. Aku di rumah sakit Pertamina yang di Kebayoran Baru,” sahut Sashi.
“Trus Mbak tinggal sama tante Seroja kan?” tanya Wiwien. Wiwien berharap Seroja ada yang menemani selain Tonny.
“Sementara begitu. Sampai rumah kami yang sedang dikontrak orang habis masa sewanya. Aku punya rumah di daerah Prapanca. Jadi saat awal ini Kia sekolah jauh. Tapi kalau dia harus dua kali pindah sekolah, kasihan. Jadi kami sepakat sejak awal nanti dia sekolah di daerah Prapanca saja,” Sashi menjelaskan dia sejak dulu sudah hidup terpisah dengan Seroja dan Tonny.
“Lagian yang nanti nemani mama kan memang Onny dan anak istrinya. Masa ada dua rumah tangga dalam satu rumah,” jelas Sashi.
“Iya sih Mbak. Aku aja enggak mau rumah tanggaku yang walau enggak ada suami, tetap satu rumah dengan ibu,” jawab Wiwien.
“Semoga nanti Onny mendapat istri yang bisa merawat mama dengan tulus,” ucap Sashi. ‘Seperti dirimu,’ lanjutnya dalam batin.
\===========================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL TELL LAURA I LOVE HER YOK!
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.
__ADS_1
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta