
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
Semua telah siap pagi ini, para pegawai telah siap di rumah Wiwien sejak pagi.
Sesuai dengan rencana semula mbok Ranti dan mbok Ipah membuat sayur asem dengan sambal terasi, ikan asin, lalapan dan lauk tambahan lainnya.
Mbak Ira memperkenalkan pasangan yang akan tinggal di ruko. Mereka pasangan suami istri dengan anak usia empat tahun. Anak sulung mereka telah kelas dua SD tinggal di desa.
Mbak Dwi dan mas Kwatno. Dia sepupu jauh mas Suli. Kwatno biasa jadi kuli serabutan dan Dwi biasa jadi buruh cuci.
"Kerja dengan saya kuncinya JUJUR. Saya bisa sangat baik pada siapa pun tapi bisa sangat kejam tak ada ampun bagi yang mencubit saya.
"Injih Bu," sahut Kwatno yang telah diberi gambaran siapa Wiwien. Dan bagaimana baiknya dia serta tak perhitungan bila kita rajin dan jujur.
Kwatno juga tahu kalau suami bu Wiwien seorang pengvara.
\*\*\*
Satu persatu semua kerabat yang diundang Wiwien datang. Seroja menginap sejak semalam.
Semua akrab berbincang.
'*Alhamdulillah. Semoga tak hanya lebih banyak harta yang Tonny miliki. Tapi juga lebih banyak cinta untuk Wiwien*,' Teguh memarkir mobilnya. Dia melihat rumah Wiwien kali ini dua kali lebih luas dari yang diberikan orang tua Bayu. Padahal ini Tonny beli sendiri, bukan dari orang tuanya.
"Makan yok Ma. Udah datang semua deh. Udah lapar juga nih," ajak Wiwien. Semalam Tonny habis mencangkul sangat dalam dan berulang-ulang karena kebun sudah siap tanam. Tentu saja membuat Wiwien kelaparan sejak tadi karena sarapan tadi dia malas makan banyak.
"Ibu, Mbak semua makan yok. Habis itu baru kita bahas persiapan resepsi yang tinggal menghitung hari. Enggak sampai dua minggu," Wiwien mengajak semua untuk makan siang.
"Mas, Bapak, Ayah. Ayok makan," ajak Wiwien yang mencari dua jagoannya.
"Kenapa Yah?" Wiwien melihat Tonny baru keluar dari kamar Awan.
"Habis pup. Trus belum basuh main nyemplung *bathtub*. Ya Ayah mandiin dulu sebadan. Kan kotor air mandinya," jawab Tonny sambil tersenyum.
"*Anake sopo jal*?" Bisik Wiwien.
"*Anak Ayah pastine*," jawab Tonny tanpa ragu.
__ADS_1
"Nak Yayah," jawab Awan membuat bunda dan ayahnya terbahak.
Enak dan anak buat Awan akan dibilang NAK.
"Luar biasa Dek. Sayur asem itu makanan mewah waktu aku di KBRI. Karena menu ini akan kita dapati saat pesta besar saat semua kangen pada tanah air." Sashi memberitahu nasib perantauan seperti dirinya dulu.
"Sambel e juga enak nih De, mas Slamet memuji sambel terasi mentah dan mas Rahmad menyetujui pujian mas Slamet.

"Eh Tonny mana?" Tanya mbak Asih.
"Paling urus anaknya," jawab Wiwien tanpa beban. Karena pastinya seperti itu.
Awan pasti rewel minta makan dengan Tonny agar perhatian ayahnya, tak terpecah pada siapa pun.
"Awan itu kalau rame dia enggak mau ayahnya berbagi. Jadi mas Tonny harus sama dia full," Wiwien menjelaskan apa yang dia maksud. Iin mendengar bagaimana tingkah cucunya laku dia mencari dimana Awan.
Benar terlihat Awan sedang makan disuapi Tonny. Kadang dilihat Tonny menciumi Awan
"Nah gitu dong dari tadi," sahut Tonny.
"Sebenernya Bunda yang lapar berat habis nanam tadi malam. Tapi dari tadi mau maem duluan malu," bisik Wiwien. Kegiatan bercocok tanam dan mencangkul malam memang sangat melelahkan dan bikin lapar.
"Ha ha ha, kirain Ayah aja yang udah kelaperan dari tadi. Padahal sarapan Ayah makan porsi double lho," jawab Tonny.
Sehabis makan siang Wiwien mengajak semuanya untuk membahas finishing persiaan resepsi pernikahannya.
"Kayaknya hal ini harus dirubah eh bukan harus maksudku gimana kalau ini kita rubah seperti ini." kata Sashi sambil menunjuk bagian mana yang ingin dia ubah dan diperlihatan konsep penggantinya.
"Mbak kalau dirubah, waktunya udah mepet. Yo aku sih nyatet yang kemarin ini sesuai dengan omongan kita waktu di Citos dan konsepnya itu kan Mama udah bilang dan itu sesuai dengan seleranya mas Tonny."
"Kalau mau dirubah sudah mepet banget waktunya. Keburu nggak Mbak?" Wiwien malah melempar pertanyaan balik pada Sashi.
"Iya jangan di rubah deh," kata Iis.
"Nanti kita harus rubah semuanya loh. Enggak keburu. Sudah ikut yang kemarin aja, kalau ada revisi sedikit oke. Tapi kalau rubah jangan," jawab Iis lagi.
__ADS_1
"Ya udah itu aja berarti ya. Apa kita modif sedikit aja di sini nih di konsep yang ini Dek," kata Sashi.
"Aku sih cuma nyatet loh Mbak, aku manut aja. Aku tergantung mas Tonny sama mama aja." jawab Wiwin. Kesepakatannya resepsi memang wewenang Seroja. Bukan Iis lagi.
"Jadi kita tinggal dua hari lagi ya kerjanya nggak usah diubah-ubah lagi kan?" kata Sashii
"Iya Mbak udah selesai semua kok kalau menurut catatan. Aku nggak tahu tuh ibu sama Mama kan suka tiba-tiba ada usulan apa gitu. Kita kan ikut aja," kata Wiwien menggoda Iis dan Seroja.
Kedua ibu yang digoda dengan sindiran itu terkekeh geli.
"Pindah tempat yok," ajak Wiwien setelah membereskan berkas persiapan resepsi pernikahannya.
"Kita makan yuk, untuk makan malamnya masak sendiri-sendiri ya. Ehnggak masak sendiri sih bakar sendiri doang," ralat Wiwien.
"Wah asyik tuh bebakaran," kata Slamet dan Rahmat hampir barengan.
Di halaman belakang sudah siap alat bebakaran dan bahan yang akan dibakar masing-masing serta aneka bumbu dan saos sesuai selera.
"Ya udah sekarang kita salat dulu semuanya Yuk Arno, kita beresin kosongin tempat ini" Teguh meminta Arno untuk membereskan ruang tengah. Mereka menggelar karpet untuk meakukan salat berjamaah di ruang tengah dengan imam pak Teguh.
Sesudah salat Maghrib berjamaah, Slamet dan Rahmat langsung menuju ke teras belakang. Dengan trampilnya kedua lelaki muda dibantu Arno mengolah hidangan bebakaran itu.
Satu lelaki muda yang tak bisa ikut full disana. Dia harus nyambi menggendong putranya yang sedang ngambeg karena tak mau digendong oleh Sashi yang hobby menggoda keponakannya itu.
Semuanya suka dengan menu yang Wiwien sediakan malam itu. Juga suasana kebersamaan yang tercipta.
Iin sadar ternyata dia terlalu jauh dengan anak kandungnya sendiri tapi mau ngomong apa? Memang dia sejak dulu tak suka pada Wiwien.
Bukan tak suka dan tak sayang pada anak kandungnya itu, maksudnya tingkah laku Wiwien menurut Iin selalu saja bikin kesel. selalu saja tak sesuai dengan nya. Beda sekali dengan Asih yang selalu menurut apa pun yang dia katakan. Jadi jangan salahkan Iin juga kalau menurut Iin, Wiwien itu nyebelin sebab selalu membantah dan tak menurut apa maunya. Itulah manusia, nggak sama kemauan dan pola pikirnya walaupun ibu dan anak. Ya enggak?.
***Ditunggu komen manisnya ya***.
***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.
***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.
Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul WANT TO MARRY YOU ya.

Dan sekali lagi yanktie ingetin jangan lupa subscribe cerita dengan judul WANT TO MARRY YOU itu ya.
__ADS_1