
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
“Pasien atas nama ibu Seroja Murniati ada dimana ya Pak?” tanya Tonny pada seorang petugas di meja customer servise rumah sakit.
“Sebentar ya Pak, saya cek dulu,” jawab petugas dengan ramah.
“Baru saja mendapat ruang di VIP 3 Pak, karena tidak ada kamar VVIP sesuai permintaan. Nanti bisa dipindah bila ruangan tersedia,” petugas memberi tahu letak ruang VIP 3 dimana mama Tonny dirawat.
“Kamu capek?” tanya Tonny.
“Enggak Kak, santai aja,” Wiwien tentu tidak cape. Dia biasa bekerja satu hari full. Mereka menuju ruang rawat VIP 3.
Di dalam ruang ada seorang perawat dengan baju bebas bukan seragam rumah sakit, ada dua orang perawat dengan baju seragam dan seorang dokter terlihat dari snelli yang dia gunakan.
“Tumben cepet sampai Tonn,” dokter setengah tua itu menyapa Tonny dengan akrab.
“Tadi pas makan siang dengan klien dekat sini, jadi langsung aja on the way,” sahut Tonny. Memang beberapa kali dia datang agak lama karena waktu tempuhnya terlalu jauh dari rumah sakit ini.
“Gimana kondisi Mama? Kenapa bisa pingsan?” tanya Tonny.
“Sepertinya tadi dengar ada yang nyebut nama Novita di TV tuan, terus aja nyonya gelisah dan pingsan,” sang perawat memberitahu kemungkinan yang menyebabkan nonyanya pingsan.
“Emosinya tinggi. Jadi dia seperti ini. Barusan sudah saya beri suntikan. Mungkin sebentar lagi dia bangun. Ajak bicara dan hibur dia agar dia selalu bahagia,” sahut dokter dengan name tag Abadi Firdaus itu.
“Baiklah, saya akan hibur dia,” sahut Tonny, sebelum dokter dan dua perawat yanag menyertainya meninggalkan ruang rawat itu.
“Sus, beli kebutuhan mama di ruangan ini seperti tissue, tissue basah dan ambil pakaian ganti untuk mama dan suster di rumah. Saya tunggu sini sebentar karena saya masih ada kerjaan,” Tonny meminta suster kembalai ke rumahnya. Dia berikan uang untuk belanja. Tak butuh uang taksi karena suster ke rumah sakit menggunakan mobil dan sopir di rumah.
Saat suster yang dari rumah baru saja pulang, masuk suster rumah sakit. “Maaf Pak, ini resep obat mohon segera ditebus untuk disuntikkan ke ibu melalui infusnya.”
“Baik Sus, akan saya tebus dan antar ke ruang perawat,” Tonny menerima resep itu.
__ADS_1
“Permisi Pak,” suster pamit keluar.
“Wien, saya titip mama saya sebentar bisa? Saya harus beli obat ini,” Tonny jadi tidak enak karena terpaksa meninggalkan Wiwien sendirian. Kalau tahu harus ada obat yang mesti segera ditebus, dia tak akan menyuruh suster yang dia pekerjakan di rumah untuk mengambil keperluan mamanya di rumah.
“Iya Kak, pergi aja, saya akan menjaga mama Kakak,” sahut Wiwien.
Wiwien langsung mengabari ibunya kalau dia masih belum selesai dan belum bisa pulang. Dia minta Awan diperhatikan makan sore dan juice buah siangnya.
***
Tonny baru tahu, stock obat suntik yang dia butuhkan di apotik rumah sakit ini sedang kosong, makanya dia diberi resep untuk mencari diluar. Karena biasanya semua obat tak pernah diberikan resep, nanti langsung dihiting dipembayaran saja. Dia segera keluar rumah sakit menggunakan ojek yang mangkal mencari apotik terdekat.
Hampir satu jam Tonny baru kembali ke rumah sakit, untung ojeknya mau menunggu jadi dia tidak kerepotan mencari ojek untuk kembali ke rumah sakit.
Tonny langsung memberikan obat ke ruang perawat agar perawat bisa segera menyuntikkannya.
“Baik Pak, saya catat dulu, sebentar lagi saya akan suntikkan pada ibu Seroja,” perawat yang menerima obat itu langsung berjanji akan mengeksekusi obat itu. Tonny bergegas menuju ruang rawat ibunya.
‘Kenapa pintu tidak tertutup rapat?’ Tonny mendorong pelan.
Lalu Wiwien mengelap bibir mamanya dengan tissue yang dia ambil dari tasnya. “Ibu istirahat lagi ya, sebentar lagi kak Tonny pasti kembali,” dengan lembut Wiwien membantu agar mamanya kembaali berbaring.
‘Mengapa dengan Wiwien dia mau bicara? Bahkan dengan aku yang anak kandungnya dia diam seribu bahasa?’ Tonny masuk ke ruangan seakan tidak mengetahui kejadian barusan.
“Kelamaan ya Wien?” tanya Tonny.
“Enggak Kak. Biasa aja. Ini Tante baru bangun,” Wiwien memberi tahu kalau ibunya Tonny sudah sadar.
“Aku beli obatnya jauh, dan naik ojek,” tak sadar Tonny menggunakan aku bukan saya.
“Assalamu’alaykum Ma. Sehat terus ya? Onny sayang Mama,” Tonny memberi salam pada sang mama. Dia cium kedua tangan sang mama dan juga pipi perempuan yang dia cintai dan hormati itu.
Suster rumah sakit masuk dia membawa nampan super kecil berisi peralatan suntik dan ampul obat suntik. “Wah sudah bangun ya Bu, kita suntik obat dulu ya biar ibu cepat pulih.”
__ADS_1
Obat suntik diberikan di alat infus. Tak lama suster kembali keluar.
“Ibu, ini teh dan snack sorenya ya,” seorang petugas dapur mengantarkan jatah snack sore bagi pasien.
Wiwien mengambil macaroni schotel dalam alumunium foil kotak kecil yang diberikan. Dia juga mengambil sendok kecil yang disiapkan. “Tante, kita makan snack sore ya. Wien bantu suapin.”
Dan ajaib, Tonny melihat sang mama mengangguk. Padahal di rumah dengan suster yang merawatnya satu tahun hal itu tak pernah dilakukan. Sang mama akan tetap menutup mulut bila menolak dan akan membuka mulut bila setuju.
Tonny menaikkan bagian kepala bed agar lebih tinggi sehingga mamanya mudah makan, tak perlu duduk.
“Terima kasih Tante mau makan dengan cepat, Wien lap dulu baru minum tehnya biar perut Tante hangat. Kalau Tante banyak makan tante akan cepat pulih,” tanpa jeda Wiwien langsung mengelap bibir mamanya Tonny dan memberikan teh hangat dengan sedotan.
Mungkin karena ada Tonny, sang mama kembali tak mau bicara, hanya matanya melihat wajah Wiwien dan dia tersenyum tipis.
‘Apa yang salah pada kami sehingga selama ini Mama enggak mau bicara bahkan pada mbak Sashi dan mas Rahmad yang jarang bertemu?’ memikirkan tentang Sashi dan Rahmad, Tonny baru sadar dia belum memberitahu sang kakak di Malaysia.
Tonny keluar ruangan karena hendak menghubungi sang kakak, saat bersamaan perawat yang dia pekerjakan di rumah masuk membawa dua tas pakaian serta dua tas plastik besar.
Wiwien mundur agar perawat bisa mendekati bed dan mulai mengurus mamanya Tonny. Dia hendak pamit saja. Dari rumah sakit Fatmawati ke rumahnya di jalan Gaharu 1 Cipete sangat dekat.
Wiwien keluar ruangan, dia melihat Tonny masih bicara dalam telepon. Dia menunggu hingga Tonny selesai bicara. Tonny yang posisinya memang melihat pintu ruang rawat tentu melihat Wiwien keluar mencari dirinya. Dia pun menyudahi pembicaraannya.
\===========================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL UNREQUITED LOVE YOK!
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
__ADS_1
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta