UNCOMPLETED STORY

UNCOMPLETED STORY
PERJODOHAN TERSELUBUNG


__ADS_3

Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA




"Belikan ini ya. Saya sudah kasih kamu catatan, bukan lisan. Kalau penjualnya kasih pesanan saya salah lagi warungnya akan saya bakar!" Kata Herman pada office boy yang dipanggilnya siang ini.



"Kalau saya bicara kamu bisa lupa dan si penjual bisa salah lagi seperti itu. Bilang dia kerja yang benar!" 



"Baik Pak," office boy sudah tahu perihal Khairunnisa yang salah dikasih menu oleh uda penjual. Maka dia akan mengamati apa yang diberilan untuknya nanti.



"Ke ruangan saya sekarang!" Panggil Herman memanggil pada Nisa dan Bayu melalui telepon meja kerja mereka.



"Baik Pak," jawab Nisa patuh.



Bayu dan Nisa datang bersamaan dari arah yang berbeda ke ruangan Herman. Mereka berpandangan di depan pintu ruang Herman.



"Silakan Bapak lebih dulu," kata Nisa lirih. Dia  tak enak pada atasannya itu.



"Ya udah kamu aja, saya sih santai," balas Bayu.



Akhirnya Nisa mengetuk pintu ruang Herman pelan.



"Masuk," suara dari dalam menjawab.



"Iya Pak. Ada apa?" kata Nisa.



'*Udah mau jam makan siang malah dipanggil Bos*,' dalam hati Nisa ngedumel karena dia kan lapar.



"Nisa, ini saya ingin kamu bahas berkas administrasi promosi. Kalian tolong rapikan kamu sama Bayu. Ini di revisi pemberkasan administrasinya." Perintah Herman.



"Permisi Pak," pintu masih terbuka sehingga office boy hanya bilang permisi tanpa mengetuk pintu.



"Itu makan udah datang kita makan siang dulu. 



'*Wah kok sudah dibelikan makanan, enggak ke kantin dong hari ini. Enggak bisa lihat di ganteng dari bagian produksi*,' batin Nisa.



"Hari ini saya pesan pakai tulisan ya. Kalau sampai salah lagi saya hajar tuh rumah makan." Herman masih saja dendam karena kesalahan dua minggu lalu.



Sejak kasus salah menu oleh Nisa sekarang Herman selalu memesan makanan dengan tulisan. 



Mereka makan bersama. Nisa tentu saja rikuh makan sendirian di antara dua lelaki bosnya itu.


__ADS_1


"Kamu santai aja nggak usah bingung begitu makan antara kami," kata Herman.



"Iya Pak," jawab Nisa dengan tersipu malu.



"Kamu tinggal di mana?" tanya Herman.



"Di panti asuhan KASIH BUNDA," jawab Nisa tanpa malu.



"Sejak kapan kamu di sana?" tanya Herman lagi. Persis seperti wartawan tabloid sedang cari berita.



"Sejak lahir mungkin Pak. Saat saya bisa saya udah di sana," jawab Nisa.



"Kalau di panti asuhan itu, bukannya setelah tamat SMP atau SMA itu harus keluar?" kata Bayu.



"Iya Pak. Tergantung pantinya. Kalau di tempat kami itu sejak SMP sudah mulai transisi. Sebenarnya jarang sih yang sampai ABG."



"Biasanya orang tua asuh akan mengambil bayi sampai balita. Jarang orang tua asuh mau adopsi anak yang sudah bisa ingat dia berasal dari mana. Orang tua asuh lebih sering menyembunyikan status anak pungutnya" jelas Nisa. 



"Kenapa kamu tidak diadopsi?" kata Herman.



"Pemilik panti itu memang sengaja tidak membolehkan saya diadopsi Pak. Sejak kecil saya dirawat sebagai anak sendiri tapi tidak diadopsi resmi oleh pemiliknya." 



"Pemilik panti tidak punya anak jadi saya tetap tinggal sampai saya selesai kuliah. Tapi sejak SMA saya kerja sepulang sekolah Pak."




"Kamu tinggal di panti kamu makan di panti lalu buat apa kamu kerja?" tanya Bayu.



"75% uang penghasilan itu saya belanjakan untuk keperluan panti Pak. Untuk beli bahan makanan mau pun ya kebutuhan sabun dan segala macam karena kalau saya berikan uang ibu dan bapak saya tidak mau menerima."



"Sisanya 25%  saya pakai untuk kebutuhan pribadi. Termasuk biaya sekolah dan kuliah saya."



"Sekarang saya bisa bekerja di sini karena punya ijazah D3 administrasi. Penghasilan saya lebih besar. Maka uang yang masuk ke panti juga jadi lebih besar. Alhamdulillah."



"Apakah dua orang tua angkatmu masih ada? Maksudku pemilik panti itu masih ada?" tanya Herman.



"Mereka berdua masih ada. Alhamdulillah Bapak dan ibu sehat,"  jawab Nisa. 



"Mereka memang tidak punya anak sehingga membuka panti asuhan,"



"Berapa penghuni panti saat ini?" tanya Bayu.



"Apa besar sekali biaya operasionalnya?" tanya Bayu lagi.

__ADS_1



"Sekarang kami ada 27 orang. 20 masih balita termasuk  bayi. 7 yang diatas balita satunya saya.  Yang 6 masih SD Pak."



"Biasanya kalau sudah SD ini susah diadopsi. Kecil harapan mereka akan diadopsi, karena biasanya orang lebih senang yang masih di bawah lima tahun sehingga ingatan mereka masih belum terlalu kuat bahwa mereka nanti adalah anak adopsi."



"Untuk itu sekarang saya menyisihkan gaji saya untuk anak-anak yang sudah besar ini. Sekarang  prosentase gaji saya, saya ubah pembagiannya. 50% untuk kebutuhan panti 25% untuk tabungan kalau nanti adik-adik saya itu tak ada yang ngadopsi 25% untuk kebutuhan pribadi," kata Nisa.



"Kalau nanti adik-adikmu tidak tahu diri mereka malah tak berterima kasih atau nakal atau melupakanmu?" Tanya Herman.



"Itu sudah jalan yang mereka pilih. Enggak apa-apa yang penting saya siapkan tabungan itu nanti untuk siapa pun.  Kita kan nggak tahu siapa yang akan nanti ditanggung saya. Pokoknya 25% saya alokasikan untuk tabungan persiapan kalau ada yang membutuhkan," kata Nisa tanpa beban.



Setelah makan mereka pun akhirnya mulai bekerja. 



"Kayaknya kalian berdua bisa deh kerja di tempat lo sendiri.  Gua masih mau ada perlu yang lain," kata Herman.



"Oke," kata Bayu.



"Jadi ini aja yang perlu direvisi Pak?"



"Ya itu aja. Dan kamu mulai saat ini saya minta pindahkan ke ruang Bayu aja. Saya akan minta HRD untuk memindahkan kamu menjadi asisten pribadinya Bayu," potong Herman.



"Baik Pak," kata Nisa tanpa protes.



'*Gue tahu maksud Bro*,' batin Bayu. Dia ingin ngomel pada Herman tapi tak mungkin.



Herman langsung menghubungi HRD saat Bayu dan Khairunnisa masih di situ.



"Ke ruangan saya sekarang," perintah Herman.



"Baik Pak," kata HRD.



"Kalian langsung aja ke sana nanti HRD yang akan pindahkan kamu. Nisa barang-barangmu mulai besok aja kamu pindahin sekalian disiapkan meja kerjamu disana. HRD yang akan menyuruh orang bagian perlengkapan untuk menyiapkan mejamu," kata Herman.



"Baik Pak,"  jawab Khairunnisa. Di langsung keluar dari ruangan Herman.



***Ditunggu komen manisnya ya***.


***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.


***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.



Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul UNREQUITED LOVE ya.



![](contribute/fiction/6030990/markdown/10636434/1676090072447.jpg)

__ADS_1



Dan sekali lagi yanktie ingetin jangan lupa subscribe cerita dengan judul UNREQUITED LOVE itu ya.


__ADS_2