
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
“Lho? Ibu yang dikursi roda itu di ICU Bu?” tanya Ira. Dia tahu bu Seroja dan bu Waode karena saat pemotongan tumpeng pembukaan laundry mereka bertemu.
“Iya, itu tamu barusan adalah kedua anak bu Seroja. Mereka minta tolong saya karena dokter menyuruh saya rutin datang menengok beliau,” jawab Wiwien.
‘Mbak Wiwien ini persis bapake, enggak bisa ndengar orang sedih. Langsung aja mau nolong. Nek ibuke lembut, tapi kalau buat nolong enggak sregep. Dan sering menilai orang dengan penilaiannya sendiri. Maka mbak Wiwien enggak betah suruh tinggal di rumah orang tuanya. Karena terkekang oleh ibunya,’ simbok langsung menilai kalau Wiwien selalu sigap menolong siapa pun.
***
Wiwien sedang bersiap untuk pergi ke pembukaan laundry seorang pengusaha yang tadi kemarin diberitahu kang Oche. Dia sekalian ingin membeli sterofoam yang sekalian dengan tutup untuk setiap pagi membawa sarapan ke rumah sakit.
“Kecepetan ya?” tanya Oche yang datang lima belas menit sebelum jam tujuh malam.
“Enggak. Malah bersyukur banget karena mau mampir sebentar di toko plastik atau bahan kue buat beli kemasan sterofoam,” sahut Wiwien yang memang telah siap.
“Oke. Aku inget ada koq toko plastik besar yang kita lewatin,” sahut Oche. Setelah pamit pelan-pelang pada simbok yang sedang ngeloni Awan, Wiwien berangkat. Dia membawa kunci cadangan takut simbok sudah tidur di atas jadi tak mendengar ketika dia ketok rolling door kecil.
“Nah gitu dong bawa pasangan,” pemilik hajat menggoda Oche yang datang bersama Wiwien.
“Ha ha ha, bisa aja,” Oche tidak membantah kalau Wiwien bukan pasangannya. Dia malah seakan membenarkan hal itu.
‘Jadi ini yang dia bilang sudah ada janji malam ini,’ batin seseorang yang melihat Wiwien dan Oche dari jauh.
Wiwien agak tak enak, tapi rasanya tak elok bila dia protes disitu. Dia pun sengaja menjauh dari Oche dan mencoba berbincang dengan sesama perempuan agar bisa bertemu dengan sesama pengusaha pemula seperti dirinya. Wiwien ingin menimba ilmu.
“Kamu masih baru terjun?” tanya kenalan baru Wiwien.
“Iya Bu,” sahut Wiwien. Dia memang cari aman ngobrol dengan para ibu saja. Bukan para perempuan muda yang mungkin akan julid padanya. Wiwien sadari diri dengaan status janda yang dia emban.
“Kamu masuk saja ke group chat kita. Untuk sharing atau bertanya apa pun,” sang ibu dengan ramah malah mengajak Wiwien masuk komunitas kecilnya.
__ADS_1
“Wah kalau boleh, saya tentu senang sekali Bu,” sahut Wiwien.
Ibu baik hati itu langsung meminta nomor ponsel Wiwien dan memasukkannya kedalam group. Dan sang ibu baik hati juga mengenalkan Wiwien pada anggota lainnya.
Cukup malam Oche baru mengajak pulang. Sejak bergabung dengan para ibu memang Wiwien.
Wiwien tak ingin ada pendapat kalau dia dan Oche berhubungan dekat. Padahal dia baru saja kenal satu bulan saja.
“Kamu sudah makan Wien?” tanya Oche menyela pembicaraan Wiwien dan kenalan barunya.
“Alhamdulillah sudah Kang,” sahut Wiwien.
“Kalau begitu kita pamit pulang yok,” ajak Oche. Dia memegang tangan Wiwien erat mendatangi pemilik hajat. Beberapa kali Wiwien berupaya menarik tangannya secara pelan agar tak terlihat orang lain kalau dia menolak genggaman itu. Tapi Oche malah mempererat genggamannya.
“Wah yang baru jadian pengennya berduaan terus ya, makanya mau cepet pulang aja,” kembali Oche tak menyanggah godaan itu.
Wiwien makin yakin Oche memang sengaja membawanya ke pesta ini sebagai pasangannya terlebih saat datang dan pamit Oche sengaja bersikap ‘mesra’ dalam tindakan walau tak mengucap kata-kata ‘manis’ seperti pada pasangannya.
‘Tau begini tadi aku ke rumah sakit aja nengok tante Seroja,’ sesal Wiwien dalam batinnya.
***
“Terima kasih ya Kang. Sudah diajak ke pertemuan itu,” Wiwien segera turun dari mobil Oche membawa sterofoam yang dia beli sebelum berangkat tadi.
“Saya yang harusnya berterima kasih padamu karena kamu mau datang ke acara itu,” sahut Oche kalem. Dia memang menyukai janda beranak satu itu sejak perempuan itu datang ke tokonya untuk bertanya-tanya seluk beluk laundry yang waktu itu baru akan dia rintis.
Wiwien segera keluar dan langsung membuka rolling door kecil rukonya dan segera masuk tanpa peduli lagi pada Oche.
Sebelum naik ke lantai dua Wiwien mengecek sisa nasi di majic jar. Ternyata tak ada nasi sama sekali.
“Alhamdulillah tak ada makanan terbuang,” Wiwien langsung mencuci beras dan memasak nasi untuk esok hari. Dia ingin bikin nasi goreng seafood saja. Besok beli udang, baso ikan juga sedikit cumi-cumi.
Wiwien juga ingin membuat sedikit acar untuk teman makan nasi goreng esok. Lalu dia naik ke lantai dua. Membersihkan diri lalu tidur setelah menggantikan diapers Awan.
__ADS_1
***
“Mbok, beli rawit hijau yang kecil-kecil. Satu wortel dan satu timun untuk bikin acar ya. Terus beli udang, cumi dan baso ikan. Aku mau bikin nasi goreng seafood aja Mbok. Pakai acar dan peyek. Aku berangkat jam enam aja Mbok. Biar bisa dimakan sarapannya,” Wiwien meminta simbok belanja apa yang diperlukan.
“Kalau tiap pagi berangkat jam segitu, harus dipikirkan menu sarapan yang mau dibawa besok apa? Jadi enggak grabak grubuk kalau habis subuh,” saran simbok.
“Wah bener Mbok. Besok bikin bihun goreng aja. Tapi pakai ayam jangan sea food. Jadi beli ati rempela dan baso daging atau ayam fillet aja. Kan acarnya masih ada sisa hari ini,” sahut Wiwien.
Awan bangun dan Wiwien langsung memberinya ASI. Setelah itu Wiwien kembali menggantikan diapers Awan yang kembali terlelap setelah kenyang ASI.
Wiwien turun untuk membuat makanan Awan satu hari ini. Dia ambil lima piring nasi untuk dibuat nasi goreng pagi ini.
Saat simbok masuk dia segera membersihkan cumi dan merebusnya sebentar sambil dia membersihkan udang. Dan simbok langsung membuat acar. Ternyata di tukang sayur ada nanas yang sudah dikupas, sehingga simbok menambahkan irisan nanas dalam acar buatannya.
“Mbok, rampung. Aku mandi dulu. Nasi tempatin tiga sterofoam ya. Acarnya masukin di plastik klip aja. Tadi aku sudah tempatin peyek di tupperware,” Wiwien pamit ke atas untuk mandi dan bersiap ke rumah sakit.
“Mbok, bubur Awan sudah siap. Aku sudah pisahin yang buat sarapannya. Aku berharap jam Awan makan buah aku sudah di rumah,” Wiwien mengambil tas yang sudah disiapkan oleh mbok Ranti.
“Eh, sendoknya sudah dimasukkan ‘kan Mbok?” Wiwien takut simbok melupakan sendok yang semalam juga sudah dia beli.
\===========================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL WANT TO MARRY YOU YOK!
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta
__ADS_1