
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
“Sekarang saran saya, beri dia bisikan manis setiap kalian sempat. Dan kalau bisa datangkan Wiwien. Satu sosok yang bisa membuat dia merasa nyaman. Saya dengar rekaman terbaru itu saya yakin dia sangat menyukai sosok Wiwien ini,” dokter Abadi menyarankan Wiwien memberi rangsangan pada Seroja agar alam bawah sadarnya terusik,” barusan dokter Abadi mendengar semua rekaman yang Wiwien buat. Dia juga melihat interaksi Wiwien dan bu Seroja melalui foto dan video yang Wiwien buat.
***
“Sepertinya untuk minta bantuan Wiwien kita enggak sopan bila melalui telepon Mbak. Harus nemuin dia secara langsung lalu kita beritahu apa yang dokter Abadi beritahu,” Tonny dan Sashi sedang makan malam setelah mereka salat Maghrib dan keluar dari ruang konsultasi dokter Abadi tadi.
“Bener. Kapan kita mau kesana? Mbak juga mau kenal dia. Biar lebih enak kita minta tolongnya,” Sashi tak keberatan mereka mendatangi Wiwien.
“Besok sehabis dokter visite pagi gimana? Aku jemput Mbak dirumah aja sekalian nukar baju kotorku dengan baju bersih,” Tonny memberi usulan pada Sashi.
“Oke. Kalau kamu bersiap berangkat dari rumah sakit, kamu kasih tau aku. Biar aku siap-siap. Jadi kamu enggak kelamaan nungguin,” sahut Sashi. Sashi bersiap kembali ke rumah. Tak mungkin dia menginap di rumah sakit karena dua putrinya berada di rumah.
Mereka kembali ke ruang rawat. Sebelum pulang Sashi ingin pamit dulu pada Seroja. Dia akan terus berbisik pada mamanya seperti saran dokter Abadi sore tadi.
***
Wiwien cukup senang. Proses pendaftaran kuliah yang telah dia lakukan tadi berjalan baik. Besok siang jam satu dia harus kembali untuk melengkapi berkasnya. Dia segera meninggalkan kampusnya dan bersiap belanja bahan kebutuhan laundry sambil melihat-lihat apa lagi yang sekiranya dia butuhkan.
“Wiwien?” sapa suatu yang tak terlalu asing ditelinga Wiwien. Dia angkat wajahnya dari makanan yang sedang dia nikmati sebelum belanja.
“Selamat siang Pak,” sapa Wiwien pada Herman Firmansyah yang dia kenal sebagai sahabat sekaligus atasan Bayu Indratama mantan suaminya.
“Sen … eh boleh saya duduk disini?” tanya Herman yang hampir saja salah ucap menanyakan apakan Wiwien sendirian.
“Silakan Pak,” sahut Wiwien sambil mengambil map berkas pendaftaran kuliah yang tadi dia letakkan di meja. Sekarang map itu dia pindah ke kursi kosong disebelahnya. Herman segera duduk di kursi seberang Wiwien.
“Baru legalisir?” tanya Herman basa basi. Sekilas dia melihat map berlogo universitas tempat Wiwien kuliah dulu.
__ADS_1
“Enggak Pak, habis daftar. Mau lanjut S1,” sahut Wiwien setelah sebelumnya menelan makanan yang ada dalam mulutnya. Mereka sedang di sebuah rumah makan Sunda.
‘Harusnya tadi berkas ini aku masukkan di bawah jok motor, jadi enggak repot,’ Wiwien baru ingat akan kesalahannya.
‘Lelaki ini pasti tahu status permikahanku. Semoga dia enggak membuka percakapan tentang mantanku.’ Wiwien tidak nyaman bila harus membahas tentang Bayu.
“Aku lihat postingan di media sosialmu. Selamat ya atas usaha Laundry nya. Semoga sukses,” Herman terus saja bicara. Dia memang berniat mendekati Wiwien karena sekarang Bayu bukan halangan baginya.
“Terima kasih Pak, hanya usaha rumahan penyambung hidup,” Wiwien merendah. Dia tentu tahu Herman bisa melihat postingannya. Dia ingat saat itu saja Bayu langsung memberi ucapan selamat di messengernya.
“Sejak dulu aku minta kamu tu jangan formal karena kamu bukan karyawanku. Terlebih sekarang di luar kantor dan Bayu juga sudah bukan suamimu,” Herman tak suka sejak dulu Wiwien selalu saja menjaga jarak dengannya.
“Kenalkan,” Herman mengulurkan tangan untuk bersalaman dan Wiwien hanya dia memandang tangan itu.
Dengan gemas Herman mengambil tangan kanan Wiwien dan dia ayunkan seperti sedang bersalaman. “Saya Herman. Bukan pak Herman.”
“Eh …,” Wiwien jadi tak enak. Dia bergegas menghabiskan makanannya dan hendak segera membayar lalu pergi dari rumah makan ini.
“Kenapa malah sudah dibayari?” Wiwien memang segera menghampiri Herman ketika kasir menjawab makanan yang dia makan sudah dibayar oleh Herman.
“Enggak apa-apa, cuma sekalian aja,” jawab Herman santai memasukkan suapan terakhirnya.
“Baiklah, terima kasih banyak,” Wiwien langsung berlalu dari hadapan Herman. Tadinya dia berniat meninggalkan uang di meja. Tapi dia takut menyinggung lelaki itu.
***
Wiwien meneliti jenis produk yang ada. Dia sedang di sebuah toko khusus alat dan bahan laundry. Dia perhatika satu demi satu, memikirkan akan membeli apa lagi selain bahan yang rutin laundrynya dia butuhkan.
“Tumben kamu kesini sendiri,” tegur seorang lelaki manis berkulit putih dengan kaca minus yang menambah kesan menggemaskan. Kumis tipisnya sangat kontras dengan warna bibir dan pipinya.
“Eh kang Oche, ya enggak apa-apa lag sesekali kesini, biar enggak ketinggalan info,” sahut Wiwien pada lelaki cute itu. Wiwien tak mengerti mengapa lelaki ini dipanggil OCHE sedang nama lengkap di kartu namanya adalah Loka Aksara.
__ADS_1
Sejak datang survey, lalu datang kedua membeli sample pewangi pakaian, dan terahir membeli untuk memulai usaha, memang Wiwien selanjutnya lebih suka belanja online saja. Karena toko milik Oche ini memang melayani jasa antar pesanan untuk wilayah yang terjangkau. Di luar wilayah ada beban biaya bensin.
“Kebetulan kamu kesini, kamu besok malam ada acara enggak Wien?” tanya Oche.
“Enggak Kang. Saya free,” sahut Wiwien.
“Besok salah satu konsumen saya akan buka laundy besar yang ketiga, selain itu dia punya empat laundry kecil. Kamu mau datang enggak? Disana kamu akan bertemu dengan banyak pengusaha laundry dari yang pemula seperti kamu sampai yang sudah besar seperti yang punya acara,” Oche memberitahu kalau nanti Wiwien bisa menimba ilmu dari para pengusaha yang lainnya.
“Serius? Mau lah. Jadi bisa tukar pikiran dan menjaring ilmu sebanyak-banyaknya,” sahut Wiwien.
“Ya sudah, jam setengah tujuh saya jemput ya,” sahut Oche lalu dia tinggal Wiwien dan dia melayani pembeli lainnya.
Setelah itu baru Wiwien pulang. Itulah keuntungaan dia pergi, jadi tahu akan ada pembukaan laundry besar dan besok berkesempatan berkenalan dengan beberapa orang pengusaha laundry lainnya.
***
“Tadi Awan rewel enggak waktu Bunda pergi?” tanya Wiwien pada putranya saat jagoannya sedang meminum ASI. Dia tadi langsung mandi agar sudah bersih ketika menggendong Awan.
Wiwien menciumi wajah Awan dengan dengan gemas. Dia bersyukur Awan tidak sampai terlalu lama diasuh Ririn. Tak tahu apa jadinya dia dan Awan kalau tak ada CCTV. Mungkin lama kelamaan dia lah yang diberi obat tidur agar setiap malam Ririn dan Bayu bisa leluasa bergulat tanpa penghalang.
\===========================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL TELL LAURA I LOVE HER YOK!
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
__ADS_1
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta