UNCOMPLETED STORY

UNCOMPLETED STORY
APA HUBUNGAN ANAK ADOPSI DENGAN PEMUTUSAN PERTUNANGAN?


__ADS_3

DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA


\~\~\~\~\~


“Sweet heart, aku dapat info akurat kalau ternyata Vita dan Bian itu bukan saudara kandung,” Tonny memberitahu Wiwien. Malam minggu, mereka hanya keluar jalan kaki menyebrangi jalan utama dan nongkrong berdua di kedai empek-empek. Tempat pertama kali Wiwien melihat tulisan ruko di kontrakan. Mereka keluar setelah Awan tidur.


“Yang anak kandung bu Tria siapa?” tanya Wiwien.


“Bian. Aku menemukan surat adopsi atas nama Novita Putri,” sahut Tonny.


‘Aku baru tahu, mengapa kejadian yang bu Seroja ceritakan bisa terjadi,’ batin Wiwien.


“Apa ini ya alasan mama minta aku memutuskan pertunangan dengan Vita?” tanya Tonny seakan tak yakin.


“Apa mamamu sepicik itu? Atau, kalau dia anak konglomerat apakah karena dia anak adopsi dia tak akan dapat harta warisan sehingga kamu tak akan dapat kecipratan harta Vita?” pancing Wiwien.


“Iya sih, enggak mungkin karena alasan dia anak adopsi mama marah dan meminta putus hubungan,” sahut Tonny sambil memakan empek-empek yang baru saja diantar pegawai kedai.


“Mama kapan pulang ke rumah?” tanya Wiwien.


“Kayaknya hari Senin. Sekalian mama therapy bareng mas Rahmad. Nanti sopir jemput di rumah sakit,” sahut Tonny.


“Lalu selain hal itu, apa tak ada info lain?” tanya Wiwien penasaran.


“Belum. Adon baru dapat info itu. Bahkan info tentang Pricilla masih blank. Belum dapat apa pun,” jawab Tonny. Mereka memang mulai membiasakan menceritakan semua hal agar tak ada rahasia antara mereka.


Tonny dan Wiwien berjalan kaki menuju ruko, tak ada beban hanya jajan di kios kecil dan jalan kaki. Buat mereka itu sudah sangat manis.


“Besok aku kesini dari pagi ya? Aku sarapan disini,” Tonny memberitahu kalau dia akan menjemput Wwien sejak pagi.


“Tapi kita berangkat sesiapnya ya Mas. Aku mau bawa tumis kembang pepaya yang pedes buat mama,” Wiwien memang berniat membawa makanan ke pertemuan esok.


“Iya sayank. Sesiapnya kamu aja,” Tonny memeluk bahu Wiwien. Mereka berjalan bersisian.


“Besok mau sarapan apa?” tanya Wiwien.


“Bubur ayam bisa?” tanya Tonny.


“Bisa, kita sekalian beli cakwe didepan situ,” Wiwien merasa semua bahan untuk bikin bubur ayam ready kecuali cakwe.


Wiwien membuka pintu ruko yang dia bawa kuncinya agar tak mengganggu bila simbok sudah tidur di lantai atas. Dia letakkan cakwe dan empek-empek mentah yang dia beli tadi.

__ADS_1


“Mas langsung pulang aja ya Sweet heart,” Tonny mengikuti Wiwien ke ruang belakang. Dia peluk erat tubuh kekasihnya dari belakang.


“Iya hati-hati, jangan ngebut atau ngelamun ya,” pesan Wiwien, dia miringkan kepalanya karena tahu Tonny pasti ingin menciumnya.


Setelah cukup lama saling *******, Tonny melepas pelukannya. “I love you sweet heart.’


“Love you more Mas,” balas Wiwien mengeratkan pelukannya karena sekarang mereka berpeluk berhadapan.


“By the way, kiriman bunga masih lancar?” goda Tonny.


“Ha ha ha, sudah aku minta stop. Dia sekarang kalau datang bawa makanan. Karena aku juga minta dia jangan belikan Awan mainan lagi. Enggak mendidik,” Wiwien menjawab dengan terkekeh. Dia sedang mengantar Tonny keluar ruko.


Wiwien ingat saat pertama kali Tonny lihat buket bunga kiriman Herman. Tonny tanya dari siapa, dan Wiwien cerita. Sejak itu mereka sepakat akan memberitahu apa pun agar tidak saling curiga dan salah paham. Bahkan tadi Herman datang makan siang pun Wiwien memberitahu pada Tonny.


***


Sesuai permintaan Tonny, sarapan pagi ini bubur ayam. Simbok sudah membuat sambal kacang untuk teman makan bubur. Wiwien yang bikin bubur dan kuah karinya. Wiwien melebihkan bubur yang dia buat untuk Ira bawa pulang. Dia tahu pegawainya itu senang bila dia suruh bawa makanan.


Tonny sampai di ruko jam setengah tuju saat Awan baru akan mandi. “Sebentar ya, aku mandikan Awan dulu,” Wiwien yang sudah selesai bikin sarapan pamit pada Tonny.


“Mbok aku ninggal kompor lagi rebus kembang pepaya ya,” Wiwien juga pamit pada simbok yang sedang menyapu belakang. Dia takut masakannya hangus.


Wiwien juga sedang memanggang ikan untuk campuran kembang pepaya. Semua bumbu sudah dia siapkan nanti simbok.


“Wah anak Ayah sudah harum ya?” Tonny menerima Awan dari gendongan Wiwien. Lelaki kecil dengan pipi bakpaow itu dia ciumi dengan gemas.


“Taruh di kursi aja Yah, dia mau ma’em,” Wiwien membawa mangkok bubur ayam Awan.


Simbok sedang mengatur sarapan dimeja lesehan yang ada di ruang belakang.


“Ayah mau sarapan duluan?” Wiwien menawarkan Tonny makan lebih dulu.


“Nanti aja barengan lah,” sahut Tonny sambil sekilas mengecup pipi Wiwien yaang tak bisa berontak karena sedang menyuapi Awan.


“Awas nanti buburnya Dede tumpah Yah,” Wiwien kesal karena Tonny memang usil menggoda dirinya.


“Ayah kan enggak nyenggol mangkok bubur? Bukan salah Ayah kalau buburnya tumpah,” elak Tonny.


Awan sudah selesai makan. Wiwien memberinya sepotong cakwe untuk anaknya kunyah-kunyah. Dia mengajak simbok makan bareng bersama dia dan Tonny.


“Cakwenya beda ya Mbok, yang ini lebih lembut daripada yang biasa kita beli di tukang sayur,” Wiwien merasakan ada yang beda dengan cakwenya.


“Iya, mungkin karena dia mangkal. Jadi harus lebih enak,” sahut simbok.

__ADS_1


“Besok-besok lagi kalau mau buat bubur ayam, malamnya beli cakwe di tukang gorengan seberang wae Mbok,” Wiwien jadi lebih memilih cakwe yang semalam dia dan Tonny beli.


“Mau nambah Mas?” tanya Wiwien.


“Cukup. Ini sambelnya lebih pedes dari biasa Mbok. Enak banget,” Tonny memuji sambal kacang untuk bubur ayam buatan simbok.


***


Jam sepuluh Tonny membawa Wiwien dan Awan berangkat ke Prapanca ke rumah Sashi. Tak terlalu jauh dari ruko Wiwien.


“Assalamu’alaykum Tante. Apa khabar. Sedah makin sehat kan?” tanya Wiwien saat memberi salim pada Seroja.


“Wa’alaykum salam. Sehat Wien. Kamu sehat?” tanya Seroja. Tentu saja Sashi, Rahmad dan Waode tahu perbedaan kalimat Seroja untuk Wiwien dengan untuk orang lain. Bahkan untuk cucunya sendiri.


“Wien kangen masak bareng Tante. Nanti kapan-kapan kita masak barenga ya?” ajak Wiwien.


“Mas, Awan belum salim ke Eyang lho,” Wiwien menegur Tonny yang langsung mengajak Awan bermain dengan kedua keponakkannya.


“Eh … maaf, ayo sayang, kita salim Eyang dulu,” Tonny membopong Awan dan berjalan menghampiri mamanya.


Seroja memperhatikan interaksi Wiwien dan Tonny. Dia melihat ada binar bahagia di wajah putra bungsunya.


“Mbak, aku enggak bawa apa-apa. Tadi cuma sempat bikin tumis bunga pepaya aja. Kalai ini clappertart kesukaan Mas Tonny dan tante aku bikin kemarin siang,” Wiwien menyerahkan bawaannya pada Sashi.


Penasaran ama clappertartnya Wiiwien? Eyank kirim gambarnya ya



\===========================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL   THE BLESSING OF PICKPOCKETING  YOK!


DAN SEKALI LAGI YANKTIE INGETIN JANGAN LUPA SUBSCRIBE CERITA DENGAN JUDUL   THE BLESSING OF PICKPOCKETING ITU YA.



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta

__ADS_1


__ADS_2