
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
“Astagfirullaaaaaah,” tanpa sadar Herman menutup matanya dengan kedua tangannya.
”Jadi itu saja pesan saya. Tolong beritahu pegawai Bapak untuk tidak pernah lagi mendekati mantan istrinya juga anaknya. Kalau dia melanggar, maka istrinya akan memperkarakan dia agar dia membusuk dipenjara karena telah bersekongkol dengan selingkuhannya itu,” Tonny memberi penekanan larangan untuk Bayu mendekati Awan lagi.
Toh selama ini Bayu tak terlalu care dan cinta pada anak kandungnya itu. Dia hanya senang punya anak, tapi tak terlihat cinta berlebihan seperti seorang ayah pada umumnya. Itu yang Wiwien bisa simpulkan melihat sikap Bayu untuk Awan.
“Reschedule jadwal meeting saya. Saya pening,” Herman langsung memberitahu sekretarisnya. Dia langsung mendatangi ruangan Bayu.
“Ada apa Pak?” tanya Bayu heran melihat Herman yang masuk ruangannya tapi hanya diam.
“Gue enggak tau mau ngomong apa ke elo. Gue pengen mukul elo, tapi rasanya percuma karena enggak akan ngebalikin elo jadi waras. Gue cuma nyesel pernah deket ama elo. Bapak yang tega bikin anaknya dikasih obat tidur biar pembantu lo bisa puas maen ama elo,” Herman geram mengatakan semua itu.
“Maksud lo apa?” tanya Bayu. Yang dia tanya sebenarnya dari mana Herman bisa tahu detil kelakuan kotornya dengan Ririn.
“Gue baru tahu, tiap siang elo pulang naik ojek cuma buat maen ama sampah, saat bini lo kerja. Itu kan yang elo lakuin sampe kerjaan di kantor juga keteteran? Elo gi-la Yu. Enggak waras. Gue enggak ngerti di mana otak lo sampe bisa berbuat hal ko-tor kayak gitu?” rasanya Herman masih tak percaya Bayu yang terkenal sholeh berbuat hal demikian nista.
Herman mengetahui beberapa waktu lalu setiap istirahat Bayu sudah pergi dari kantor dengan ojek online. Ternyata itu yang dia lakukan. Mencuri waktu saat istrinya tak ada di rumah.
“Asal elo tahu, sejak saat ini elo enggak boleh deket ama Wiwien dan anak lho karena Wiwien trauma dan udah ngelaporin elo ke polisi. Sekali aja elo ngedeketin dia, elo bisa diciduk dan akan dipenjara. Inget itu!” dengan geram Herman meletakkan surat panggilan sidang perceraian untuk Bayu.
Pandangan Bayu nanar melihat amplop yang Herman tinggalkan di meja kerjanya. Terlihat kop suratnya adalah Pengadilaan Agama Jakarta Selatan.
‘Bertemu ayah dan ibu saja aku belum bisa, sekarang malah aku harus menjauh dari Wiwien. Bagaimana aku bisa meminta kesempatan kalau aku malah tak boleh berada di dekatnya sama sekali?’ pikir Bayu dengan pedenya kalau dia bisa mendapatkan kesempatan kedua.
__ADS_1
‘Mengapa aku bisa terjerumus oleh godaan Ririn? Padahal dia juga tidak lebih cantik dari Wiwien. Dia tidak lebih legit dari Wiwien yang bahkan sudah melahirkan Awan tapi lebih keset milik Wiwien. Mengapa aku sangat bo-doh terjatuh dalam kubangan lumpur?’ Bayu mencoba membandingkan Ririn dan Wiwien.
‘Rumah tanggaku hancur, hubungan dengan orang tuaku juga tak termaafkan karena aku telah berzina. Sekarang apa yang bisa aku lakukan untuk memperbaiki?’ Bayu berpikir keras bagaimana dia bisa kembali normal. Saat ini dia hidup sebatang kara karena kedua orang tuanya tak mau lagi mengakuinya.
Benar dia sudah dewasa, tapi restu kedua orang tua, terutama ibu pasti akan berpengaruh terhadap langkah hidup selanjutnya. Sedang ibunya lah yang pertama tak mau mengakui dirinya sebagai anak.
‘Apa habis ini karierku juga akan hancur?’ pikir Bayu. Dia yakin itu bisa terjadi jika dia lengah dan tak fokus bekerja. Dia harus mencegah kariernya hancur setelah rumah tangga dan hubungan dengan kedua orang tuanya hancur.
‘Bagaimana Wiwien sekarang? Aku teramat kehilangan sosoknya. Sosok yang lembut dan bersahaja. Smart dan cemerlang. Ayah kangen kamu Bund,’ bisik Bayu dalam hatinya sambil membuka surat panggilan sidang perceraiannya.
***
‘Kamu sudah di rumah? Dua jam lagi aku jemput bisa?’ pesan dari Tonny masuk ke ponsel Wiwien dan langsung dia baca. Dia baru saja memasukkan clapper tart kedalam oven. Dia ingin membawa kue ini bagi tante Seroja, mamanya Tonny.
‘Iya Kak, sejak tadi sudah di rumah koq, dua jam lagi saya siap,’ balas Wiwien. Dia segera mencuci perabot kotor yang dia gunakan membuat cemilan siang ini. Untuk bu Seroja tentu kuenya tak perlu terlalu banyak, tapi dia membuat super banyak karena semua suka dengan kue ini, dan dia ingin mengirimnya untuk anak-anak mbak Asih menggunakan ojek online seperti biasa.
‘Noted, nanti aku cari,’ jawaban Tonny saat diberi share lock. Wiwien segera meletakkan ponselnya. Dia tinggal menunggu alarm saja untuk mematikan kompor dan menunggu kue dingin.
Wiwien langsung mengambil Awan dan bermain dengan bocah gembul itu. “Anak Bunda udah bangun ya. Nanti sebentar lagi kita makan buah ya. Eh minum juice, karena kamu enggak ngunyah, jadi belum bisa dibilang makan ya Nak,” Wiwien sudah menyiapkan buah naga untuk menu siang menjelang sore kali ini.
***
“Bu, ini teman mas Slamet yang jadi pengacara perceraianku,” Wiwien memperkenalkan Tonny pada ibunya.
“Assalamu’alaykum Bu,” Tonny memberi salam pada ibunda Wiwien.
“Ini anak saya Awan,” Wiwien masih menggendong Awan walau dia sudah siap untuk pergi.
__ADS_1
“Chubby ya. Pipinya gembul,” Tonny mencubit pelan pipi bakpao milik Awan. Dan bayi kecil itu menyemburkan ludahnya. Dia sedang gatal gusinya sehingga sering main ludah. Itu sebabnya Wiwien memasang celemek di dadanya agak da-da Awan tidak dingin karena bajunya basah oleh air liur.
Wiwien langsung ke dalam, memberikan Awan pada mbok Ranti. Dia juga mengambil sling bag untuk sore ini. Serta tak lupa dia bawa beberapa kotak clapper tart yang sengaja dia kemas dalam alumunium foil kotak kecil bertutup. Pas untuk satu orang makan dan bersih karena ada tutupnya.
“Pamit njih Bu,” Wiwien salim pada ibunya.
“Hati-hati Nduk,” balas sang ibu. Sengaja Iin tak keluar lagi. Dia tak enak melihat Wiwien pergi dengan lelaki lain sebelum resmi berpisah dengan suaminya.
Soal seperti ini yang membuat Wiwien ingin segera keluar dari rumah orang tuanya. Dia sudah terbiasa hidup mandiri sebagai perempuan dewasa. Lalu kembali ke rumah orang tua dan semua hal kembali diatur oleh sang ibu. Tentu soal ini membuatnya risih. Dia tentu tahu batasan.
Sang ibu pun tak salah, karena dia tak ingin putrinya jadi bahan gunjingan tetangga. Ibunya masih perempuan kuno yang sangat peduli dengan gosip tetangga.
“Pamit ke ibu dulu,” Tonny tentu saja tak enak bila pergi tanpa pamit pada pemilik rumah.
“Sudah aku pamitkan Kak. Ibu sedang di kamar mandi,” jawab Wiwien. Dia sadar ibunya menghindar dari Tonny.
\===========================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL BETWEEN QATAR AND JOGJAYOK!
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
__ADS_1
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta