UNCOMPLETED STORY

UNCOMPLETED STORY
SASHI MINTA TOLONG


__ADS_3

DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI


\~\~\~\~\~


 Mengingat CCTV membuat Wiwien bad mood. Dia menjadi teringat bagaimana Bayu selalu terlihat buas melahap Ririn. Dia mengingat bagaimana kuatnya Bayu berpacu seakan tak ingin dikalahkan Ririn yang terlihat sangat profesional. Bertolak belakang dengan kesehariannya yang terlihat sangat lugu dan polos.


“Mbok, besok siang saya harus melengkapi berkas ke kampus. Trus malam akan kondangan. Jadi masak nasi besok pagi jangan kebanyakan ya. Cukup untuk simbok dan mbak Ira aja,” Wiwien memberitahu esok dia tak makan malam di rumah. Hanya makan pagi dan siang saja.


“Pengen masak apa buat sarapan dan makan siang Mbak?” tanya simbok.


“Pagi kita bikin nasi goreng aja Mbok. Nasi sisa malam ini cukup kan buat kita berdua sarapan?” tanya Wiwien.


Simbok melihat majic jar sebelum menjawab. “Cukup buat sampai sarapan besok.”


“Ya wis, buat siang bikin karedok aja Mbok. Simbok bikinkan aku peyek teri nasi yo,” Wiwien paling tidak telaten bikin peyek. Bukan tak bisa.


“Jangan lupa beli kerupuk Mbok,” lanjut Wiwien.


***


Sehabis salat Subuh Wiwien membuat nasi goreng seafood karena kebetulan masih ada sedikit udang dan baso ikan. Masih ada kerupuk yang biasa simbok beli di tukang sayur. Selesai sudah menu untuk pagi.


Untuk siang tak perlu masak karena KAREDOK adalah sayuran mentah semua. Tinggal mencairkan bumbu pecel yang beli jadi, dicampur dengan sayuran mentah yang diiris halus, jadilah karedok.


Biasanya sayuran dalam karedok adalah kemangi, kol, kacang panjang, ketimun tanpa bijinya, terong lalap, tauge pendek dan kadang ada yang ditambah daun selada .


Sedang yang bikin peyek adalah simbok. Wiwien pagi ini akan mempersiapkan berkas saja selain masak makanan Awan.


***


“Koq disembur gitu Yank. Enak lho ini,” Wiwien menyuapi juice melon kuning pada Awan.


“Rasa baru, den Awan enggak suka kali Bu,” mbak Ira sudah mulai bekerja karena sekarang sudah jam setengah sepuluh pagi.


“Iya, dia kalau rasa baru gini Mbak. Harus ditelateni. Kalau enggak dia enggak biasa ama jenis rasa baru,” jawab Wiwien.  Dia menyuapi Awan di high chair di ruang depan sambil menemani mbak Ira menyetrika dan tentu saja mesin cuci tetap berputar.


“Assalamu’alaykum,” Wiwien menengok. Dia melihat seorang perempuan manis memberi salam.


“Wa’alaykum salam. Silakan Bu,” Wiwien mengira ibu tersebut mau menggunakan jasa laundry. Dia terus saja menyuapi Awan karena pelang-gan laundry langsung ditangani oleh mbak Ira.

__ADS_1


“Assalamu’alaykum,” sekarang terdengar suara yang Wiwien mulai hafal.


“Wa’alaykum salam. Eh silakan masuk Kak,” Wiwien kaget Tonny datang pagi-pagi saat jam kerja.


“Mbak Ira tolong matikan saklar setrika dan pegang Awan sebentar ya,” Wiwien meminta mbak Ira menyuapi Awan.


“Silakan duduk Kak, Bu. Maaf tempatnya begini,” Wiwien mempersilakan Tonny dan perempuan tadi duduk di kursi yang biasa digunakan pelang-gan laundry duduk.


“Wien, kenalkan. Ini mbak Sashi kakak saya dari Kuala Lumpur. Dia baru datang kemarin,” Sashi mengulurkan tangannya yang disambut dengan hangat oleh Wiwien.


‘Dia sepertinya lembut dan penuh kasih,’ Sashi berupaya menilai sosok perempuan muda dihadapannya.


“Bagaimana kondisi tante Seroja Kak. Maaf saya belum sempat datang lagi,” Wiwien pun bertanya soal mamanya Tonny.


“Kami kesini karena berkaitan dengan kesehatan mama,” Sashi mulai bicara.


“Kemarin sore kami berkonsultasi dengan dokter Abadi. Dan dokter menyarankan kami selalu memberi afirmasi ditelinga mama. Tapi dokter menyarankan kamu sering bicara padanya karena saat ini hanya kamu yang bisa dan mau dia dengar.”


“Kamu kan dengar sendiri dia tak punya muka dengan Onny. Sehingga bila Onny yang bicara dia merasa makin bersalah. Itu akan membuat dia semakin terpuruk jiwanya sehingga akan makin lama sadar.”


“Jadi saya pribadi sebagai sesama perempuan. Dan kami sebagai anak bu Seroja mohon kamu mau membantu kami untuk datang walau hanya sebentar membisikkan kata-kata pembangkit semangat.”


“Waktu saya mau pulang, saya sudah bilang pada kak Tonny, kalau ada yang bisa saya bantu, katakan saja. Bila saya sanggup, saya akan lakukan.”


“Dan sekarang, hanya untuk ke rumah sakit tentu saya sanggup. Tak perlu antar jemput karena hanya dekat dan saya lebih cepat dengan motor saja. Tapi hari ini saya full sampai malam sudah ada janji.”


“Insya Allah besok pagi dan sore saya akan datang untuk bicara dengan tante Seroja,” Wiwien memberi kepastian mau menolong.


‘Aku sudah menduga dia tak mungkin menolak. Aku lihat dia tulus menyukai mama,’ Tonny memperhatikan Wiwien dengan saksama.


“Terima kasih banget ya Wien. Kamu sangat membantu kami,” Sashi sangat bahagia mendengar jawaban Wiwien.


“Mbak boleh minta nomor ponselmu?” tanya Sashi.


Wiwien menyebut nomor ponselnya yang memang dia hafal. Lalu tak lama terdengar nada panggil di ponsel yang terletak di meja belakang.


“Itu nomor Mbak ya Wien,” Sashi memberitahu bahwa dia yang melakukan panggilan barusan.


“Baik nanti saya save Mbak,” sahut Wiwien.

__ADS_1


“Sekali lagi terima kasih ya Wien. Mbak mau ke rumah sakit. Tadi Onny ngejemput Mbak di rumah. Dia tidur di rumah sakit. Jadi hari ini Mbak belum lihat mama,” Sashi pamit pada Wiwien.


“Iya Mbak. Tolong bisiki tante, saya titip salam dan besok pagi-pagi sekali saya akan menengok dia,” jawab Wiwien.


“Akan saya sampaikan,” Sashi menarik tangan Wiwien ketika mereka bersalaman. Dia memeluk tubuh perempuan yang sangat tulus mau menolongnya walau mereka baru kenal.


“Awan, Pakde pulang dulu ya Nak,” Tonny masuk dan mencium kening serta puncak kepala Awan.


“Iya Pakde, hati-hati,” jawab Wiwien mewakili Awan.


“Kak Tonny beneran nginep di rumah sakit? Enggak kerja?” tanya Wiwien.


“Sejak kemarin belum kerja. Nanti kalau sudah kerja ya enggak apa-apa berangkat dari rumaah sakit. Kasihan Nurse bila sepanjang hari sendiri. Lagian seharusnya emang kami yang full jaga mama,” sahut Tonny.


***


Wiwien hanya sebentar di kampus, karena hanya melengkapi berkas. Dia segera kembali ke rumahnya.lebih tepat ke rukonya.


“Koq cepet Bu?” tanya Ira.


“Cuma masukin berkas Mbak. Belum mulai kuliah. Bulan depan baru saya mulai kuliah lagi,” sahut Wiwien.


“Mbok, tadi bikin peyeknya masih ada sisa enggak?” tanya Wiwien.


“Tadi bikin banyak Mbak. Awalnya bikin terlalu kental, pas dibikin agak cair biar pas, eh jadinya banyak banget,” sahut simbok.


“Ya wis Alhamdulillah. Mulai besok pagi saya akan ke rumah sakit untuk nengok bu Seroja di ICU. Niatnya saya akan bawakan sarapan buat bu Waode ( nama nurse bu Seroja ) dan pak Tonny.


\===========================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL  UNREQUITED  LOVE  OK!



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya

__ADS_1


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta


__ADS_2