
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
“Kalau begitu ini Wien singkirkan lalu Tante minum obat ya,” Wiwien pun segera membereskan makanan, dia taruh di meja dapur dan ditutupi tudung saji karena simbok mungkin malu makan bersama tamunya.
Wiwien memberikan obat yang tadi Tonny siapkan. Dia berikan satu gelas air putih. Setelah selesai dia mengambi Awan.
“Tante pangku Awan sebentar ya.” Wiwien menaruh Awan dipangkuan Seroja.
“Senyum Tan, aku mau bikin foto Tante berdua Awan,” pinta Wiwien,
“Sayank, liat tangan Bunda,” Wiwien meminta Awan memandang kamera. Dia bunyikan jarinya agar pandangan Awan kearah jemarinya.
“Tante senyum satu … dua …,” cekrek, Wiwien langsung membuat potret. Terlihat Seroja senyum manis dan Awan memandang kamera. Ada yang Seroja mencium Awan. Ada yang tangan Awan dihidung Seroja membuat perempuan itu tertawa.
Wiwien menyiapkaan potongan buah pepaya yang dia taburi gula pasir lalu disiram air jeruk nipis. “Tante makan buah ya, Wien mau nyuapi Awan biar dia segera tidur. Jadi Wien bisa masak buat makan siang.”
“Mbok, tolong ikan goreng setengah matang lalu disuir ya, dan bumbu ini uleg halus nanti saya tinggal matengin.” Wiwien memerintah simbok Yang telah selesai makan.
“Ayok sayank, kita ma’em,” Wiwien menaruh Awan di high chair, dan bersiap menyuapi putranya itu. Kali ini dia tidak memasangkan celemek dileher putranya karena habis makan Awan akan dibasuh badannya untuk bersiap tidur siang.
“Kita makan sayuran udang dan sedikit tepung beras ya sayank. Semoga kamu emang enggak alergi,” Wiwien bicara pada Awan seakan bayinya itu mengerti. Ini hari kedua dia memberikan udang di menu makan putranya. Awal makan Wiwien memberi kentang dan salmon.
Setelah jeda nanti, dia akan memberi Awan protein nabati dalam campuran makannya.
‘Bahkan hanya pepaya saja bisa jadi lebih segar ketika Wiwien memberikan irisan jeruk nipis,’ batin Seroja sambil asyik memakan irisan buah pepaya.
Tadi pagi simbok mengiris pepaya memanjang lalu dia cetak dengan alat cetakan kue kering berbentuk bintang. Sisanya yang tidak berbentuk bagus dipisahkan untuk dibuat juice. Yang berbentuk bagus dihidangkan untuk tamu.
“Assalamu’alaykum,” sapa Tonny dari luar.
“Wa’alaykum salam. Masuk saja Kak. Saya sedang tanggung menyuapi Awan,” tanpa menghampiri keluar, Wiwien mempersilakan Tonny masuk.
“Katanya pertemuan hingga jam sebelas. Mengapa sekarang sudah disini?” tanya Wiwien.
__ADS_1
“Klien yang kedua membatalkan janji hari ini. Dia kram perut,” sahut Tonny sambil menyalami Seroja.
“Ini ada buah pepaya Kak, silakan dicicipi,” Wiwien memberikan satu piring kecil pepaya pada Tonny. Dia juga memberikan air mineral kemasan botol super kecil. Setara dengan ukuran gelas,
“Yeeeeaay. Anak ganteng Bunda sudah selesai makan. Sekarang lap badan dengan simbok dan bersiap bobo ya. Bunda mau masak,” Wiwien membuka baju Awan dan memberikan pada mbok Ranti yang telah selesai menyuir ikan tongkol goreng dan cuci tangan dengan sabun.
“Maaf ya Kak disambi sebentar,” Wiwien langsung membawa peralatan makan Awan, dia cuci semua lalu langsung memasak tumis kembang pepayanya. Dia berniat membawakan masakan ini bila Tonny akan segera pulang.
Tonny dan Seroja melihat Wiwien masak dengan cepat tanpa terlihat kaku. Terlihat kalau Wiwien memang jago masak. Dan sebentar saja tumisan kembang pepaya sudah matang.
“Kak, keburu-buru enggak?” tanya Wiwien pada Tonny. Dia sengaja belum masak nasi. Kalau tak ada yang makan sayang sisa nasi walau ada dalam majic jar sekali pun.
“Kenapa? Kamu mau pergi?” tanya Tonny.
“Ha ha ha, enggak. Kalau masih lama, aku akan masak nasi buat kita makan siang. Kalau enggak, nanti nasi sisa sayang. Biar di majic jar, kalau enggak langsung habis kan bisa kering dan rasanya berubah. Tidak seperti nasi baru masak,” jawab Wiwien.
‘Perempuan ini bicara tanpa perlu malu. Dia bicara apa adanya,’ batin Seroja.
“Apa aku enggak ganggu kalau sampai makan siang disini?” tanya Tonny.
“Ha ha ha, aku terserah mama saja, dia belum tidur siang. Habis makan aku akan ganti diapers mama dan akan aku ajak ke ruang atas buat istirahat ya. Nanti makan malam disini tapi aku beli mateng aja gimana? Habis makan malam baru aku pulang,” sahut Tonny.
“Baik. Makan malam lauknya aja yang beli ya. Nasinya biar aku masak aja. Gimana?” tanya Wiwien.
“Oke. Boleh juga gitu,” sahut Tonny.
“Mama pindah kesana ya, biar bisa bersandar,” Tonny membawa mamanya besandar pada tembok. Dia letakkan bantal di punggung perempuan itu. Dan dia berikan remote televisi agar mamanya pencet-pencet sesuka hatinya.
“Kamu mau masak apa lagi? Bukankan tadi sudah masak tumis bunga pepaya?” Tonny memperhatikan Wiwien memotong sawi hijau dan kol. Setelah perempuan itu memasak nasi dengan majic jar.
“Aku bikin menu tambahan kwetiauw seafood goreng. Siapa tahu Tante enggak suka tumis kembang pepaya.” sahur Wiwien sambil mengiris tipis bawang putih.
“Ha ha ha, aku suka tumis itu kan karena mama sering memasaknya,” sahut Tonny.
“Ada yang bisa aku bantu?” tanya Tonny menawarkan bantuan.
__ADS_1
“Enggak perlu Kak. Aku lebih senang masak sendirian,” sahut Wiwien sambil mulai menumis bawang putih. Lalu dia masukkan udang dan baso ikan yang sudah dia iris juga cumi yang sudah dia rebus sebentar.
Setelah itu kedua sayuran Wiwien masukkan di susul dengan kwetiauw. Barulah Wiwien memasukkan merica halus, garam dan kecap.
Kali ini Wiwien tidak menambahkan telur pada kwetiauw gorengnya karena sea food yang dia gunakan sudah cukup banyak.
“Selesai!” Wiwien langsung mematikan kompor dan melakukan platting.
“Kamu masak se simple itu?” tanya Tonny yang melihat Wiwien sangat cepat memasak.
“Aku mengerjakan dengan senang. Jadi semua ya simple dan cepat.
“Kamu bahkan enggak nyicipi sama sekali,” rupanya Tonny memperhatikan semua yang Wiwien lakukan.
“Just feeling. Jarang saya masak dicicpi dulu. Pakai ilmu kiralogi ( ilmu kira-kira made in Wiwien ) aja Kak,” sahut Wiwien. Saat itu simbok turun dan dia mencuci semua peralatan yang sudah Wiwien gunakan.
Semua komunikasi itu diperhatikan dengan sudut mata Seroja.
Makan siang kali ini berempat karena mbok Ranti ikut makan bersama. Menunya tumis bunga pepaya, kwetiauw goreng, sisa opor tadi pagi serta kerupuk matang bulat yang ada ditukang sayur. Biasa disediakan di kaleng krupuk tukang baso.
“Maaf ya Tante, menunya cuma kayak gini. Beda ya ama di rumah Tante,” Wiwien menyendoki Seroja makanan dan dia arahkan tangan kanan Seroja ke sendok.
\===========================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL TELL LAURA I LOVE HER YOK!
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta
__ADS_1