
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
"Sudah lengkap? Ayo kita mulai," Joko meminta acara segera dimulai.
Pak penghulu bicara dengan Syamsul dibantu Murniati. Dengan isyarat Syamsul memberikan mandat pada pak penghulu untuk menjadi wakilnya menikahkan keponakan kandungnya.
Bayu mengambil bingkisan mahar dan memindahkah ke meja untuk akad.
Lalu Bayu duduk depan penghulu.
Syamsul dibantu perawat berbaring dengan posisi agak tinggi kepalanya. Tangannya dipegang Bayu tapi tetap yang bicara Pak penghulu karena Syamsulnya sulit bicara.
"Saya terima nikahnya Khairunnisa binti Ahmad Subari dengan mas kawin seperangkat alat salat dan Alquran juga uang cash sejumlah Rp 25 juta dibayar tunai," kata Bayu.
Nisa tentu kaget dengan tambahan uang cash yang disiapkan Bayu. Dia tak menyangka ada uang sejumlah itu. Mereka pun memasang cincin. Dan melakukan sungkeman terhadap kedua orang tua mereka.
Para hadirin bisa tahu kalau cincin sederhana itu harganya sangat mahal.
Setelah selesai semuanya ngajak semuanya Seroja memimpin acara potong tumpeng.
"Mbak Nisa, potong ujung tumpeng ini, berikan pada suami ya. Mas Bayu juga potong tumpeng satunya berikan pada istri tercinta. Ingat, jangan terlalu besar karena tumpeng harus dihabiskan. Jangan tersisa dan terbuang. Mubazir."
Lalu kedua mempelai memotong tumpeng bersamaan. Kemudian mereka bertukar piring tumpeng. Semua diatur fotografer untuk diabadikan
"Bapak ibu ini tinggal di lingkungannya Nisa?" tanya Tonny.
"Benar Pak," sahut seorang ibu cepat.
"Mohon Bapak Ibu disebarkan ya pernikahannya Nisa. Ini dibuat dadakan karena kondisi Pak Syamsul seperti ini," kata Tonny.
"Saya pengacaranya pak Bayu," Tonny sengaja menyebut profesinya. Dia ingin melindungi nama baik Nisa.
"Oh iya iya," jawab para tetangga itu. Akhirnya semua orang siapa Bayu. Mereka pikir bukan orang sembarangan yang nikah saja bawa pengacara. Tonny sangat membantu menjelaskan Bayu tak bisa disepelekan.
"Kami belum bisa menggelar resepsi dalam waktu dekat," kata Bu Iis lagi menambahkan keterangan Tonny.
"Kemarin neneknya Nisa baru meninggal sekarang kondisi ayahnya seperti ini. Belum bisa menggelar resepsi bukan tidak mau bikin resepsi ya Bu, Pak," lanjut Iis.
"Kami mengerti kok," kata bu RT.
"Ya kan namanya mulut kan kadang sering tak seperti itu Bu," kata Bu Iis.
"Iya nanti akan saya sampaikan kok ke para tetangga." Jelas bu RT.
Tonny meminta para tetangga membuat foto dengan pengantin yang memperlihatkan buku nikah dengan ponsel mereka masing-masing. Itu penting untuk bukti pernikahan Bayu dan Nisa. Kalau menunggu foto yang dari kamera fotografer akan memerlukan waktu.
"Selamat ya Nis, Yu," kata Herman.
"Iya Pak terima kasih berkenan hadir."
"Wah jadian nih," kata bu Kusrini.
"Nggak tahu jodoh Bu," balas Nisa.
__ADS_1
"Nisa yang langgeng ya Nis," ucap Steven.
"Iya Pak. Insya Allah," kata Nisa.
"Selamat ya," kata Arnold. Lelaki muda itu tentu sedih. Dia kalah sebelum berperang.
"Makasih ya," jawab Nisa.
Fotografer sejak akad nikah, menyematkan cincin, sungkeman, potong tumpeng, semua ada dokumentasinya. Dia bekerja sangat cermat.
Pak Joko sudah menyiapkan itu semua untuk putranya.
"Wiwien, apa kabar?" Sapa Herman.
"Alhamdulillah baik," sahit Wiwien ramah.
"Kirain enggak datang," kata Herman.
"Nggak datang gimana tho pak Herman? Wong yang ngatur semuanya ini Mbak Wiwien," kata Nisa jujur.
"Yang bener?" tanya Herman tak percaya.
"Iyalah Mbak Wiwien semua yang atur kok," kata Nisa. Herman makin kagum pada Wiwien.
"Cuma urus pesan-pesan aja koq Nis. Kalau enggak lagi hamil mungkin aku bisa masakin sendiri," Wiwien masih aja merendah.
"Kamu udah maem *Sweetheart*?" Tonny mendekat istrinya dan bertanya pelan.
"Aku nge gadoin perkedel dan ayam serta peyek aja. Enggak pengen nasi. Mas udah maem?" Balas Wiwien juga pelan. Tak ingin jadi perhatian orang. Tapi Herman dan Nisa jelas mendengar semua itu.
Untuk bayar penghulu dan semuanya pasti Pak Joko lah udah membereskan semuanya itu.
"Bagaimana Ton?" Tanya pak Joko.
"Udah Pak. Besok saya langsung samperin Pak Ahmad. Saya juga bikin foto-fotonya," kata Tonny.
"Baguslah kalau udah siap. Ayah nggak kepengen semuanya jadi masalah." Joko plong karena ada Bayu.
"Ayah tenang aja besok sudah dieksekusi."
"Kami pulang dulu ya," kata Tonny.
"Terima kasih banget Mbak Wiwien. Terima kasih banget," kata Nisa. Nisa tak menyangka sosok yang sudah disakiti Bayu masih mau mengurusi pernikahannya.
"Iya sama-sama yang langgeng ya," sahut Wiwien.
"Insya Allah," kata Nisa dan Bayu bersamaan.
"Makasih ya Wien," kata Bayu. Bayu tak menyangka perempuan yang dia sangat cintai malah mengucapkan selamat atas pernikahannya dengan wanita lain.
"Sama-sama," kata Wiwien.
Wiwien dan Tonny keluar bareng bu Seroja.
"Itu serius mantan istrimu?" tanya Bu Murni.
__ADS_1
"Betul Bu, itu mantan istrinya Mas Bayu." Ucap Nisa membenarkan.
"Dia orang sangat baik," kata Bu Murniati.
"Itulah Bu saya nggak ngerti kok bisa selingkuh dari orang secantik dan sebaik dia," jawab Bayu.
"Namanya ilmu tak kasat mata, hal itu ya bisa aja." Jawab Iis.
"Terus suaminya itu?" Murni masih tak percaya.
"Iya itu bujangan Bu. Dia pengacaranya saat urus perceraian dengan saya. Tonny berjuang penuh air mata baru dapat cinta Wiwien. Bukan langsung diterima walau dia mapan dan bujangan. Satu tahun dia ngerengek-rengek baru Wiwien menerima." Kata Iis.
"Saya pamit dulu," kata Iis selanjutnya.
"Iya Bu terima kasih banyak," jawab Murniati yang baru kenal besannya.
"Mohon maaf jadi seperti ini pernikahan anak kita," kata Bu Murnianti.
"Nggak apa-apa yang penting semuanya lancar," kata Pak Joko.
"Semuanya harus sabar," ujar Pak Joko lagi.
"Iya terima kasih Pak," Joko dan Iis pun pamit pulang pada besannya
Tinggallah di sana Bayu dan Nisa serta Murniati.
"Bu kami ganti baju dulu ya," kata Bayu.
"Silakan nak Bayu," Bayu pun ganti baju, di toilet lalu gantian dengan Nisa.
Saat Nisa di kamar mandi Bayu mencari iklan rumah di kontrakan yang dekat dengan kantor mereka. dia melihat-lihat mana yanh sesuai keinginannya. Lalu iklan yang sekiranya cocok dia buat capture an mana yang akan dia lihat.
"Ibu kalau kami keluar gimana?"
"Enggak apa apa kan biasa siang memang ibu yang nungguin ayah," kata Murniati.
"Kami mau cari rumah kontrakan. kami kan nggak mungkin tinggal di Panti Asuhan. Kamar kost saya kecil Bu." Jelas Bayu.
"Saya ngerti nak Bayu. Namanya mendadak nggak apa apa cari aja. Enggak keburu-buru juga enggak apa apa bila kalian tinggal di panti atau dikamar kos nak Bayu."
Pada saat itulah Nisa keluar dari kamar mandi sudah berganti pakaian.
"Cari rumah kontrakan dulu yuk? Nanti sore balik lagi gantian sama ibu," kata Bayu pada Nisa.
Lalu mereka pun keluar dari rumah sakit untuk mencari rumah kontrakan.
***Ditunggu komen manisnya ya***.
***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.
***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.
Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul WANT TO MARRY YOU ya.

Dan sekali lagi yanktie ingetin jangan lupa subscribe cerita dengan judul WANT TO MARRY YOU itu ya.
__ADS_1