
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
“Justru karena dia tidak marah Tante semakin terluka. Tonny anak yang sangat baik. Dia tak pernah membantah Tante dan Om. Apa pun yang kami larang dia pasti akan menerimanya. Tante merasa sangat bersalah padanya,” sahut Seroja.
Wiwien merasa topik ini harus dihentikan. Dia tak ingin Seroja tambah sakit mengingat ‘kesalahan’ yang dia akui hasil tindakannya.
“Apa Tante suka clapper tart minggu lalu?” tanya Wiwien mengubah topik.
“Suka. Koq bisa lembut gitu ya Wien. Padahal resep dan cara buatnya sama ama yang selama ini tante lakukan lho,” cetus Seroja.
Akhirnya mereka diskusi resep itu dan mengetahui dimana letak perbedaan cara membuat yang dilakukan Wiwien dan Seroja.
Awan tidur, saatnya Wiwien masak untuk makan siang.
“Kamu mau masak apa?” tanya Seroja.
“Tante bantu memisahkan daun kelor ini ya. Kita berdua akan masak sayur bening daun kelor,” Wiwien meminta Seroja ikut aktiv membantunya. Dia tahu Seroja bisa melakukan hal sepele ini.
Wiwien memblender cabe, bawang merah, bawang putih dan kemiri. Dia ingin membuat ayam bakar pedas bumbu kemiri.
Setelah bumbu halus Wiwien langsung menuang ke wajan besar, dia masukan potongan ayam, ditambah sereh dan daun salam, garam, gula merah agak banyak agar rasa ayam nanti pedas manis. Dan terakhir dia masukkan santan kental.
“Mbok seperti biasa dibuat sampai hampir habis air nya ya. Nanti kita bakar saat mau makan. Jangan lupa pisahkan dulu bumbunya dengan ayam. Nanti bumbu dituang saat ayam sudah dibakar,” Wiwien meminta mbok Ranti melanjutkan.
***
“Kak, ini sayur bening dibantu Tante Seroja lho ngebuatnya. Tante yang pisahin daun kelor dari batangnya,” Wiwien melaporkan kegiatan mereka hari ini pada Tonny di meja makan.
Tonny melihat menu sederhana. Hanya ada ayam bakar dan sayur bening kelor ditambah kerupuk. Tidak ribet dan membuat bingung mau makan dengan apa. Sangat simple. Satu lauk dan satu sayur.
__ADS_1
“Mama emang hebat,” jawab Tonny. Dia sedih mengetahui alasan mengapa mamanya tak mau bicara lagi. Besok hari Senin dia ingin konsultasi kembali dengan dokter yang menangani mamanya. Dia juga akan berdiskusi dengan kakaknya.
“Ayam bakarnya enak Wien. Bumbunya ngeresap banget. Rasa pedes manisnya juga enak. Mama pasti suka yang seperti ini. Ini seleranya Mama banget,” Tonny memuji masakan Wiwien mewakili Seroja. Dia tahu sang mama akan memuji tapi tak diucapkan karena ada dirinya.
Tonny tak mencampur makan ayam bakar dengan sayur bening. Sayur bening dia makan sesudah nasinya habis. “Aku bisa buncit kalau makan enak seperti ini terus. Ini sayur beningnya seger bangeeeet,” puji Tonny dengan jujur.
Memang jarang orang masak daun kelor. Entah percaya mistis atau memang tak suka. Tapi sekarang terbukti daun kelor kaya manfaat. Banyak teh kelor dijual dipasaran.
***
“Mbak Ira berhenti dulu. Makan bareng mbok Ranti. Jangan lupa matikan saklar setrikaan,” Wiwien meminta Ira makan siang dulu agar meja makan lesehan mereka bisa segera bersih. Saat Wiwien makan dia menyuruh Mbok Ranti mengupasi rambutan yang Tonny bawa.
Mbak Ira tak mau membantah. Karena tiap siang selalu seperti itu. Biasanya kalau tak ada tamu mereka akan makan bertiga. Itulah keseharian Wiwien. Sederhana dan selalu ramah pada siapa pun. Ada tamu pun dia tak membuat masakan heboh. Tetap seperti biasa saja. Satu lauk dan satu sayur.
“Kak, pulangnya habis selesai aku bikin asinan rambutan ya? Nanti dibawa pulang untuk makan dirumah bila sudah agak dingin, biar segar,” pinta Wiwien. Dia sedang melarutkan gula pasir dengan air panas.
“Tante kita bertiga bikin asinan rambutan ya. Tante duduk aja lihat. Aku dan kak Tonny yang akan bikinin buat tante,” sekali lagi Wiwien mengajak Seroja berinteraksi dengan Tonny.
“Kak, ini rambutan di potongi jadi kecil seperti ini. Dengan tangan aja biar cepat,” Wiwien memberi contoh Tonny meracik rambutan.
Wiwien sendiri mengiris cabe rawit halus menyerong panjang dan memisahkan bijinya. Rambutan yang sudah disuir, dia taburi sedikit saja garam dan cabe rawit iris, lalu diberi air perasan jeruk nipis yang sangat banyak dan diberi air gula oleh Wiwien.
Dia aduk lalu dia ambil satu sendok.
“Tante ini rasa pedasnya belum terlalu terasa. Apalagi meresap ke buah rambutannya. Tapi Tante bisa cobain seperti apa rasa asinan kita siang ini,” Wiwien menyuapi Seroja.
“Ini Kak, cicipi deh,” Wiwien memberi satu sendok kosong pada Tonny untuk mencicipi hasil karya mereka. Tentu pada Tonny dia tak menyuapi.
“Wah segar. Enak Wien. Aku bisa ngebayangin nanti sehabis dingin pasti lebih enak ya,” Tonny merasakan sensasi asin manis asam yang pas dilidahnya.
“Kakak bisa ambil di mangkok sekarang kalau mau,” jawab Wiwien. Dia sedang memasukkan asinan ke dalam tupperware untuk Seroja bawa.
__ADS_1
“Cukup. Aku masih kenyang walau ingin sih makan asinan ini,” jawab Tonny sambil meletakkan sendok bekas mulutnya di meja.
Tak lama kemudian Tonny dan Seroja pulang membawa tupperware besar berisi asinan rambutan.
“Terima kasih Tante. Jangan kapok ya. Wien tunggu kedatangannya hari Sabtu depan,” Wiwien mengecup pipi Seroja yang duduk diam di kursi rodanya.
***
Sesampai di rumah Tonny mendapat kejutan. “Pak, baru saja mbak Vita pulang. Dia sejak pagi disini, kami sudah tak membolehkannya masuk seperti yang Bapak suruh, tapi dia duduk diteras,” seorang pembantu rumah tangga melaporkan apa yang terjadi tadi pagi.
“Mulai hari ini pintu pagar gembok. Tamu hanya bisa di luar pagar sehingga tak bisa menunggu di teras,” Tonny membuat peraturan baru. Dia tak ingin mamanya kembali terluka.
‘Mau apa lagi dia? Kemarin juga Bian mencoba menghubungiku,’ Tonny tak bisa menduga apa niat mereka berdua. Dia sudah tak ingin mengetahui apa pun tentang sepasang manusia itu. Karena mamanya wanti-wanti melarangnya. Entah apa alasan Seroja.
Bahkan Seroja sang mama juga tak mau lagi berhubungan dengan Tria Aryani mamanya Vita. Tonny berpikir besok hari Minggu kemungkinan Vita akan kembali datang karena tahu dirinya libur dan ada di rumah.
‘Besok harus aku hadapi apa pun yang akan mereka katakan. Aku tak bisa menghindar terus,’ Tonny bertekad tak akan menghindar.
***
Peraturan baru sudah diberitahu pada semua pekerja di rumah ini. Sekarang mereka terpaksa agak ribet bila ingin keluar rumah. Tapi daripada nyonya Seroja kembali terusik lebih baik mengikuti ketentuan yang majikan mereka berikan.
\===========================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL WANT TO MARRY YOU YOK!
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.
__ADS_1
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta