UNCOMPLETED STORY

UNCOMPLETED STORY
PERTEMUAN TAK SENGAJA


__ADS_3

DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA


\~\~\~\~\~


‘Kami tinggal satu kota, tak aneh kalau sesekali bertemu. Tak mungkin hal itu bisa dihindari,’ itu yang dipikirkan Wiwien saat ini.


Herman dan Bayu yang melihat dari jauh menyangka kalau hubungan Nanda dan Wiwien sudah sangat dekat karena mereka begitu mesra.


Sementara Wiwien berupaya bersikap biasa saja. Dia pesan ikan bakar dan lalapan. Lalu makan sambil bercerita santai dengaan Nanda.


“Kamu masih suka ikut kegiataan pecinta alam?” tanya Nanda.


“Enggak lah Kak. Sejak punya anak, mana punya waktu bebas lagi. Aku lebih suka di rumah bareng anakku aja,” jawab Wiwien jujur.


“Ha ha pastinya ya. Kakakku juga begitu punya anak dia kayak induk ayam. Siapa aja akan dia labrak akalu bikin anaknya nangis. Padahal semua sering nyiumin pipi anaknya sampai tu anak nangis karena risih,” Nanda pun cerita tentang kakak perempuannya.


Mereka lalu tertawa bersama. Saat itu Herman dan Bayu menghampiri meja mereka untuk pamit. “Asyik banget. Ketawa enggak ngajak-ngajak,” canda Herman.


“Bahkan aku nangis juga enggak ngajak-ngajak koq,” Wiwien langsung menjawab candaan Herman dengan tajam.


Herman yang tahu ada bara panas tak ingin meneruskan candannya. “Nda, gue pamit duluan ya. Jam istirahat kantor udah mau habis.”


“Siap Bro,” balas Nanda. Tentu semua tak bisa bersalaman karena Wiwien dan Nanda makan dengan tangan tanpa sendok.


“Wien duluan ya,” pamit Herman dengan getir. Dengannya Wiwien tak pernah tertawa bebas seperti dengan Nanda.


“Silakan pak Heman,” jawab Wiwien.


“Mari saya duluan,” tanpa menyebut nama, Bayu pamit pada Nanda dan Wiwien.


***

__ADS_1


Wiwien tak mau diantar Nanda pulang. Dia ingin cuci otak. Dia minta di drop di mall saja. Walau tak ada yang dia ingin beli.  Setidaknya nanti Wiwien akan bisa mendapat ide atau apa dari sesuatu yang dia lihat.


Kadang Wiwien melihat pakaian anak, kadang buku pelajaran anak. Tak ada yang dia lihat untuk dirinya sendiri. Apa pun sekarang hanya tentang Awan, Awan dan Awan. Tapi tidak mau Wiwien membeli mainan.


“Wien,” sapa seseorang.


“Mama,” Wiwien menghampiri Seroja yang sudah berjalan dengan cukup baik.


“Mama sama siapa?” tanya Wiwien karena tak melihat seseorang yang menemani Seroja.


“Sama Sashi, dia lagi lihat pakaian. Mama lihat kamu jadi mama hampiri,” jawab Seroja.


“Duduk situ yok Ma,” Wiwien mengajak calon mertuanya itu duduk. Dia tak mau Seroja terlalu lelah.


“Dalam rangka apa mbak Sashi belanja? Biasanya hari gini kan dia sibuk?” tanya Wiwien. Mereka duduk di food court depan gerai pakaian di mall itu.


“Besok dia harus temani Rahmad ke kedutaan. Ada acara pesta apa gitu. Jadi dia ingin cari baju baru,” sahut Seroja. Wanita ini tak menyangka bisa bertemu Wiwien disini.


“Kami di food court depan butik yang kamu masuki tadi,” sahut Seroja.


“Kami? Mama sama siapa?”


“Wiwien,” Seroja langsung mematikan sambungan pembicaraannya.


Sashi melihat mamanya dan Wiwien dari jauh.dia bikin foto dengan zoom lalu dia kirim ke ponsel Tonny tanpa caption apa pun.


“Dimana?” tanya Tonny yang langsung menghubungi Sashi begitu menerima foto itu.


“Di mall taman Anggrek,” jawab Sashi.


“Tahan disitu. Aku on the way,” tak mau membuang kesempatan Tonny langsung minta bantuan kakaknya agar bisa bicara dengan Wiwien. Tonny yakin kalau di depan Seroja Wiwien tak akan ketus karena takut Seroja sakit lagi.


“Hallo Wien. Kamu sama siapa?” tanya Sashi menghampiri Seroja dan Wiwien.

__ADS_1


“Sendiri Mbak, baru pulang cari data buat skripi. Bete pengen refreshing. Aku baru datang koq,” jawab Wiwien sambil mencium pipi Sashi.


“Tolong temani mama sebentar ya. Aku cari baju dulu. Aku jadi agak tenang kalau mama ada teman ngobrol,” pinta Sashi.


“Iya, ni kami juga baru aja pesan dim sum buat nunggu nyonya yang lagi belanja,” goda Wiwien.


Seroja tahu ada salah paham akibat kebohongan yang Tonny buat. Dia tak ingin bertanya karena takut Wiwien malah marah padanya.


“Besok mama ke rukomu ya Wien,” Seroja sengaja memancing Wiwien.


“Iya Ma. Wien tunggu. Kemarin Wien dua minggu enggak di ruko karena nginap di ruma mantan mertua. Ayah sakit dan kangen Awan,” Wiwien memberi alasan logis untuk Seroja.


“Ma, tadi Wien bikin soto mie Bogor. Enak lho Ma. Mama mau besok sarapan itu? Atau mama pengen makan yang lain?” tanya Wiwien.


“Mama sih mau banget. Tapi mama juga kangen lontong opor dan pengen tumis kembang pepaya juga,” sahut Seroja.


“Ha ha ha, jadi bingung atur menunya. Ya udah pagi soto mie Bogor, siang lontong opor. Kalau kembang pepayanya ada, Wiwen belikan aja biar mama yang masak di rumah,” Wiwien memang sengaja agar Seroja masak di rumahnya. Bukan tak mau memasakkan.


\===========================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL THE BLESSING OF PICKPOCKETING YOK!


DAN SEKALI LAGI YANKTIE INGETIN JANGAN LUPA SUBSCRIBE CERITA DENGAN JUDUL THE BLESSING OF PICKPOCKETING ITU YA.



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta

__ADS_1


__ADS_2