
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
“Are you oke?” Tonny yang baru saja berpisah dengan kliennya dan hendak pulang melihat Wiwien yang terisak, dia segera mendekati dan memeluk pundaknya.
“Maaf, bukan maksud kami mengingatkan lukamu,” Joko jadi bingung sendiri karena istrinya juga ikut terisak mengingat Awan cucu mereka dirusak oleh Ririn karena ingin aman bermain dengan Bayu.
Iis sangat merasa bersalah karena dia lah yang membawa masuk Ririn kedalam rumah tangga putranya itu.
Tonny membawa Wiwien menjauh dari Joko dan Iis. Dia tetap memeluk perempuan yang sedang terpuruk itu. Joko juga membiarkan Wiwien dibantu Tonny karena dirinya sibuk menangani iis istrinya.
Tanpa sadar Wiwien ikut kembali masuk ke mobil Tonny. Tonny memberikan tissue untuk Wiwien.
‘Mau diantar kemana perempuan ini? Apa dibawa makan siang aja ya? Masa harus hubungi Slamet dulu nanya alamatnya?’ Tonny akhirnya menunggu dengan sabar hingga Wiwien bisa diajak bicara.
Akhirnya Tonny membawa Wiwien ke sebuah cafe yang sepi. Dia ingin membuat perempuan itu agak tenang dan juga dia butuh makan siang. Saat ini sudah pukul 13.20.
“Kita makan dulu ya, kamu siap turun kan?” akhirnya Tonny mengajak Wiwien bicara dan mengajak perempuan itu turun.
Wiwien baru sadar mereka telah berada di parkiran sebuah cafe.
“Lho, Kakak enggak kerja? Saya ganggu waktu kerja Kakak?”
“Enggak ganggu, saya memang mau makan siang sehabis bertemu klien tadi. Kamu enggak ganggu. Ayok kita turun. Kamu ganggu saya kalau kamu enggak ikut makan siang,” Tonny membuka seat beltnya dan bersiap turun dari mobil.
Wiwien pun ikut keluar mobil dan bersiap ikut makan siang dengan Tonny.
__ADS_1
“Maaf ya Kak, tadi jadi lihat kejadian itu,” Wiwien tak enak hati dibantu Tonny. Mereka telah menulis pesanan menu yang akan mereka makan siang ini.
“Saya enggak lihat apa pun, jadi kamu tenang saja. Kecuali memang kamu mau bercerita. Nanti ceritamu itu akan memperjelas apa yang saya ‘lihat’ tadi,” kalimat jawaban Tonny malah membuat Wiwien ingin memberitahu mengapa tadi dia menangis kesal
“Saya tadi terpancing emosi ketika mertua bertanya apa saya pernah bertemu dengan mantan suami. Saya jawab kalau saya Alhamdulillah enggak pernah bertemua, dan enggak pengen ketemu lagi. Dua bulan saya bersabar melihat kelakuan mereka hampir setiap hari.Mereka libur berzina kalau saya tidak kerja atau pas pembantu menstrua-si. Kurang sabar apa saya?” cerita Wiwien lirih.
“Rupanya Ayah mertua bertanya karena ingin menanyakan apa mantan sudah membagi uang penjualan mobil. Karena ada uang saya disana. Saya jawab kalau saya tak pernah minta harta gono gini. Saya hanya ingin cerai dan hak asuh mutlak milik saya. Karena Bayu sangat jahat membuat anak saya jadi tumbal perbuatan mereka. Awan dibuat tertidur pulas agar tidak mengganggu kegiatan be-jad ayahnya dengan pela-cur itu,” Wiwien menjelaskan mengapa dia mulai menangis.
“Saya langsung sedih dan terluka bila sudah bicara tentang Awan putra saya.”
“Besok saya akan ke kantor mantan suamimu. Saya akan perjuangkan agar dia tak bisa lagi mengunjungi Awan. Dia hanya bisa melihat dari jauh saja,” jawab Tonny.
“Sekarang kamu mau kemana?” Tonny bertanya karena mereka telah selesai makan.
“Pulang Kak, saya tinggal di jalan Garharu 1, dari sini dekat, bisa naik ojek online atau bajaj kalau taksi enggak ada didepan cafe,” sahut Wiwien.
“Bareng aja, saya juga ada jadwal dengan klien tapi anaknya sakit, saya nanti ke rumah sakit Fatmawati, jadi kita satu jalur,” sahut Tonny yang mau bertemu dengan pak Pangestu yang anaknya sakit. Tonny kasihan bila klien harus datang ke kantornya, maka dia mengalah. Dia yang akan mendatangi sang klien.
“Enggak perlu, saya belok sedikit enggak apa-apa. Lalu bisa keluar ke jalan Pangeran Antasari lalu ke rumah sakit,” sahut Tonny sambil memberikan uang cash pada server yang tadi dia panggil untuk meminta bill.
“Maaf, saya terima telepon dulu ya,” ada panggilan dari nomor telepon rumah di ponsel pribadinya bukan telepon kantor.
“Seperti biasa, langsung bawa ke rumah sakit, kita ketemu disana. Sekarang saya on the way,” sahut Tonny. Dia langsung menghubungi telepon kantor.
“Pending semua telepon, karena telepon kantor saya matikan. Saya ke rumah sakit karena ibu saya anfal. Dan katakan pada pak Pangestu saya tetap akan datang hanya setelah urusan ibu saya selesai!” Tonny memberi perintah pada staffnya di kantor untuk tidak menghubunginya karena dia akan mematikan ponselnya.
“Sudah Kak, saya disini saja. Nanti saya naik taksi gampang koq,” Wiwien sadar diri Tonny sedang kalut.
__ADS_1
“Kamu bisa temani saya ke rumah sakit ?” Tonny entah mengapa butuh teman. Dia sudah sering mengalami kejadian seperti ini. Tetapi entah mengapa dia butuh teman.
“Bisa Kak. Kalau tidak mengganggu, saya bisa koq nemani,” sahut Wiwien cepat. Dia berpikir saat ini Tonny butuh teman.
‘Mungkin kalau kak Tonny tidak malu, dia akan mengatakan dia butuh bahu untuk bersandar,’ batin Wiwien.
‘Sebenarnya ibunya sakit apa ya? Tapi enggak etis aku tanya,’ Wiwien ragu mau tanya. Tapi dia penasaran. Dia akan menunggu Tonny bercerita saja atau dia nanti lihat kondisi di rumah sakit.
“Ayah saya sudah meninggal dua tahun lalu. Saya punya satu kakak perempuan yang tinggal di Kuala Lumpur karena suaminya bertugas di KBRI sebagai dokter disana. Kakak yang juga seorang dokter gigi juga ikut pindah walau bukan sebagai dokter yang ditugaskan,” tak disangka Tonny membuka jati dirinya.
“Mama kena stroke ringan dan guncangan jiwa satu tahun lalu. Sejak itu mama seperti mayat hidup. Dia tak pernah bicara pada siap pun. Tak pernah senyum dan memandang mata siapa pun. Tatapannya kosong,” Tonny menjelaskan kondisi mamanya.
“Tadi tetiba tekanan darahnya naik dan dia pingsan, maka suster yang merawatnya langsung membawa ke rumah sakit. Dia langsung melapor ke dokter yang memang merawat mama sejak awal,” dengan berat Tonny menarik napas panjang. Dia belum berani mengabari kakaknya bila belum melihat langsung kondisi terkini sang mama.
“Semoga kondisinya tidak mengkhawatirkan,” Wiwien hanya bisa berkomentar seperti itu. Dia berharap mamanya Tonny kuat menghadapi serangan sakit kali ini.
“Aamiiiin. Semoga saja dia tidak kena serangan stroke ulangan. Sebab menurut pengalaman, serangan stroke kedua itu lebih berbahaya,” sahut Tonny. Dia juga berharap sang mama selalu kuat. Tonny jadi ingat perkataannya kemarin, akan segera menikah bila sang mama kembali sehat.
\==========================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA MILIK YANKTIE DENGAN JUDUL NOVEL WANT TO MARRY YOU YOK!
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
__ADS_1
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta