UNCOMPLETED STORY

UNCOMPLETED STORY
NDAK OYEH OMON?


__ADS_3

Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA




"Janjian jam berapa sama Pak Victor?" tanya Wiwien saat mereka akan sarapan. 



"Tadi sih dia bilang jam 01.00. Biasa habis waktu Dzuhur mungkin kita makan siang bareng kali," jawab Tonny sambil menyesap kopi buatan istrinya tercinta.



Tonny memperhatikan Awan yang sedang sibuk dengan bubur sereal bercampur buah dan susuu. 



"Pelan, jangan banyak tumpah," Tonny memberi semangat untuk putranya. 



"Ndah tumpah," jawab Awan dengan mulut penuh makanan.



"Kalau mulutnya penuh gini jangan ngomong," protes Tonny.



"*Ndak oyeh omon*?" Awan bertanya masih dengan mulut yang menggembung. 



"Sudah Yah, Ayah juga udah tau dimulutnya lagi penuh diajak ngomong," Wiwien pun sekarang protes ada  Tonny.



Mereka akhirnya makan sambil memperhatikan Awan makan.


\*\*\*



"Hati-hati ya Mas," pesan Wiwien saat mengantar suaminya ke mobil.



Wiwien memberi salim pada suaminya. Dia pun mengajarkan Awan salim pada ayahnya. 



"Insya Allah sayang," jawab Tonny.



"Hari ini kamu mau ke mana?"



"Aku masih ingin di rumah. Capek. Pengen bongkar kado dan beresin itu, biar enggak berantakan di kamar kita," jawab  Wiwien yang memang masih malas keluar rumah. 



Masih ada orang yang memberi kado saat resepsi pernikahan mereka kemarin. 



"Enggak ke kios?" Tonny merasa aneh aja istrinya ingin di rumah.



"Enggak ah capek!"


\*\*\*


__ADS_1


Hari ini memang rencananya Tonny akan bertemu dengan Victor Simanjuntak. 



"Ada apa sih Pak sebenarnya?" tanya Tonny di pertemuan siang ini. 



Ada lima orang di ruang itu termasuk Tonny. 



"Kami menemukan pergerakan baru," kata pak August bagian intel.



"Kami sedang selidiki yang mana "jalur" yang dia gunakan sekarang karena ini berkaitan denganperlintasan pisang atau buah lain dari Sumatera," kata Victor.



"Jadi modusnya sekarang lewat darat Pak?" Tanya pak Ikhsan dari bagian yang khusus menangani residivis atau penjahat kambuhan.



"Iya lewat truk pembawa pisang atau kelapa atau barang-barang lain dari Sumatera."



"Bapak punya dugaan jalur lama yang digunakan atau jalur baru?" tanya Tonny.



"Awalnya kami menduga dia pakai ekspedisi milik seorang pengusaha yang beberapa waktu lalu ibu pengusaha itu dekat dengan ibu Novembrian. Ternyata bukan. Sepertinya sekarang mereka tak dekat lagi."



"Maksud Bapak?" tanya Tonny.



"Tadinya kami melihat Vita dekat dengan ibu seorang pengusaha muda itu. Kami duga mereka akan dijodohkan. Pengusaha itu seorang duda beranak satu."




"Pangestu Hudaya!"



"Bapak-bapak ini hebat sudah mengendus perjodohan itu, sedangkan saya belum tahu apa-apa," kata Tonny.



"Semua pergerakan Vita sudah dipantau. Siapa pun yang ada dengan dia dengan ibunya selalu dipantau tak mungkin kami lepaskan."



"Setahu saya pak Hudaya sudah enggak ada kaitan. Malah pak Hudaya malah tahu dari saya tentang Vita. Dia klien saya lalu saya beritahu siapa sosok yang akan dijodohkan dengannya. Tentu saja pak Hudaya langsung mundur. Karena dia tidak tahu bahwa akan dijebak dan dimanfaatkan oleh bu Tria dan Vita."



"Jadi sekarang kita cari  benang merahnya ya," papar Tonny.



"Iya itu tugas kita sekarang," jawab Victor.



"Sesungguhnya kita harus jebak dia cepat. Tapi dia sangat licin," Victor tak mau main tangkap tanpa barang bukti kuat. 



"Oke saya tunggu hasilnya," Tonny memang tidak ikut penyelidikan itu dia kan memang bukan penyidik.



"Titip ini untuk nyonya. Ternyata anak buah yang menerima undangan sakit dan dia meletakkan undangan di meja saya. Esoknya sekretaris membereskan meja tak memperhatikan ada undanganmu," Victor memberi amplop tipis pada Tonny. 

__ADS_1



"Baik Pak, saya mohon pamit, terima kasih untuk bingkisannya.



"Oke Yang penting kamu udah tahu bahwa ada pergerakan baru, mungkin jalur baru" balas Vicktor menyambut jabat tangan dari Tonny.



"Baik Pak nanti saya juga akan pantau terus dan saya akan beritahu pada Hudaya bahwa dia sudah masuk di daftar Bapak.


\*\*\*.



"Ya hallo pak Tonny," sapa Pangestu Hudaya yang di kalangan umum lebih terkenal dengan nama pak Hudaya.



"Saya mau ucapin selamat nih ke pak Pangestu," goda Tonny.



"Wah ada apa ya?" Pangestu malah bingung.



Tonny bercerita bahwa nama Pangestu dan keluarganya sudah ada di daftar polisi. Terutama nama sang ibu. Karena yang selama ini dekat dengan bu Tria adalah ibunya pak Pangestu. 



Pulang dari pertemuan dengan Polisi Tonny memang langsung menghubungi Pangestu Hudaya.



"Jadi sekarang terserah.  Bapak hati-hati aja. Kalau Bapak salah langkah dalam hal apa pun, Bapak akan ditangkap karena memang seperti itulah kenyataannya."



"Sungguh Pak saya itu nggak tahu kalau saya dijadikan target oleh Vita," keluh Pangestu pada Tonny.



"Sebenarnya yang bahaya itu dekat dengan ibu Tria. Dan ibu anda terseret karena akrab dengan ibu Tria!"



"Itulah mengapa saya memberitahu Pak Pangestu."



"Iya Pak Tonny,  terima kasih. Saya akan ceritakan pada Mama soal ini jangan sampai keluarga kami nanti terbawa-bawa lagi dalam hal lain," Pangestu akan bergerak cepat menghubungi sang mama.



"Beritahu semuanya karena anda sudah masuk di daftar polisi jadi selama enam bulan ini semua tingkah laku anda dan mama anda tetap kena pantau terus."


\*\*\*



***Ditunggu komen manisnya ya***.


***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.


***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.



Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita BARU karya yanktie dengan judul JINGGA DARI TIMUR ya.



![](contribute/fiction/6030990/markdown/10636434/1675486464401.jpg)



Dan sekali lagi yanktie ingetin jangan lupa subscribe cerita dengan judul JINGGA DARI TIMUR itu ya.

__ADS_1


__ADS_2