
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
“Tidak ada tambahan obat ya Nurse?” tanya Tonny pada sang perawat.
“Enggak Tuan, dokter siang tadi bilang, kalau tensi ibu stabil sampai besok pagi, besok siang boleh pulang,” sahut sang perawat.
“Nah Mama dengar kan? Semangat ya Ma, biar cepat pulang,” Tonny berkata lembut pada ibunya. Dia masih tak percaya mendengar percakapan yang dia dengar tadi.
Selain ponsel yang memang ada di tas Wiwien, Tonny mendengar langsung percakapan ibunya dengan Wiwien karena ponsel Wiwien tersambung pembicaraan dengan ponsel dirinya dan sengaja juga dia sambungkan ke ponsel Sashi. Tonny juga merekam pembicaraan dari ponselnya agar bisa punya back up bila rekaman dari ponsel di tas Wiwien tak berhasil.
“Tante Wien pamit dulu ya. Nanti kapan-kapan Wien akan main ke rumah tante dengan ditemani kakak ipar Wien kalau dia pas libur,” Wiwien pamit pada Seroja. Dia salim pada perempuan itu sambil menyerahkan sepotong kertas berisi nomor telepon miliknya.
Seroja merasakan ada kertas dalam telapak tangannya. Dia segera genggam kertas itu.
“Cepat sembuh ya Tante,” Wiwien mencium pipi perempuan cantik itu.
“Mari kak Tonny, saya pamit,” Wiwien dengan sopan pamit pada Tonny.
“Terima kasih atas kunjungannya,” Tonny menjawab formal.
“Mari Bu, saya pamit,” Wiwien pun pamit pada perawat yang menjaga bu Seroja.
“Iya Mbak, hati-hati,” sang perawat pun menjawab dengan sopan juga. Wiwien keluar dari ruangan itu.
Telepon di saku Tonny berbunyi. “Sebentar ya Ma, aku angkat telepon dulu.”
Tak berapa lama Tonny masuk kembali. “Nurse, saya keluar sebentar, klien yang di paviliun Teratai minta bertemu,” Tonny meminta sang perawat memberikan sang mama makan malam karena jatah makan malam sudah diantar petugas dapur.
“Ma, Onny ke paviliun Teratai sebentar ya,” Tonny pamit pada sang mama. Dia segera menuju cafetaria di depan rumah sakit. Ada yang menunggunya disana.
***
__ADS_1
“Ini ponselnya Kak,” Wiwien menyerahkan ponsel milik Tonny. Memang Wiwien yang menunggu Tonny di cafe ini. Tadi sebelum Wiwien masuk ke ruang rawat sang mama, Tonny sudah menyuruh Wiwien langsung menghubunginya setelah dia pamit pulang. Agar bisa bicara pada dokter jiwa yang janjian dengannya saat ini.
“Ayok kita ke ruang dokter Abadi Firdaus yang menangani mama selama ini,” ajak Tonny. Kemarin Tonny memang sudah minta waktu konsultasi pada sang dokter dan diberi waktu saat ini. Itu sebabnya Tonny mengatur kedatangan Wiwien agar dia tak perlu bolak balik datang ke rumah sakit. Karena dokter Abadi juga ingin bicara dengan Wiwien.
“Sus, saya ada janji dengan dokter Abadi dan diminta datang saat ini,” Tonny memberitahu suster didepan ruang konsul dokter spesialis jiwa itu.
“Atas nama siapa Pak?” tanya sang suster sambil melihat daftar nama yang akan konsul sore ini.
“Atas nama Hartono Waluyojati,” jawab Tonny cepat.
‘Namanya Jawa tulen, harusnya aku manggilnya jangan KAK melainkan MAS ya,’ tercetus pikiran dalam benak Wiwien untuk mengubah panggilan sesuai suku asli Tonny.
“Baik, nama Anda ada terdata disini. Bapak bisa masuk setelah pasien yang di dalam keluar ya Pak,” suster bagian pendaftaran memberitahu Tonny sebentar lagi gilirannya.
***
Dokter Abadi Firdaus mendengar dengan saksama rekaman yang Wiwien buat. Dia tak percaya pasiennya bisa memendam rasa terluka sepanjang satu tahun. Padahal selama ini dia beberapa kali melakukan hypnotherapy. Tapi bu Seroja bisa memanage keinginannya dengan sangat baik. Dia mau bercerita saat dibawah sadar. Tapi begitu sadar dia tetap membisu.
“Saya bisa minta bantuan anda?” tanya dokter Abadi pada Wiwien.
“Beliau sudah mempunyai nomor ponsel anda. Bila dia menghubungi secara sembunyi, anda langsung rekam semua pembicaraan. Dan saya akan berikan daftar pertanyaan atau persoalan yang sebisa mungkin anda berikan padanya agar dia mau berbagi cerita itu,” sahut dokter Abadi.
“Kalau itu Insya Allah saya bisa Dok,” sahut Wiwien. Toch dia tidak harus mengunjungi kediaman Tonny atau bu Seroja tak datang ke rumah orang tuanya. Dia mau berhubungan dengan bu Seroja bila dia telah pindah tempat tinggal saja.
Dokter Abadi memberi catatan pertanyaan atau persoalan yang ingin dia dengar dari mulut Seroja.
“Kamu bisa menambahkan poin yang ingin kamu tahu Ton,” sang dokter berkata pada Tonny.
“Dan tidak usah diburu-buru. Satu kali pembicaraan mungkin hanya satu persoalan tidak apa-apa,” dokter Abadi kembali memberitahu Wiwien.
“Baik Dok, akan saya lakukan semaksimal mungkin,” janji Wiwien. Dia juga ingin membantu agar bu Seroja bisa kembali hidup normal.
***
__ADS_1
“Terima kasih ya kamu banyak sekali membantu saya.” Tonny mengantar Wiwien ke lobby rumah sakit. Perempuan itu bersikeras tak mau diantar pulang. Wiwien ingat tatapan tajam ibunya.
“Iya Kak. Kalau Kakak butuh saya datang ke rumah, minta tolong pada mas Slamet saja. Kalau ditemani mas Slamet, saya akan upayakan datang. Saya menghindari omongan orang agar semua tak dirugikan. Kalau saya pribadi tak jadi masalah. Tapi keluarga besar saya terutama ibu sangat terpengaruh oleh omongan orang sekitar,” Wiwien memberitahu kondisinya.
“Kecuali nanti setelah saya tinggal sendiri di ruko. Ruang lingkup saya tidak langsung dengan ibu. Itu saya sedikit bebas menentukan langkah,” lanjut Wiwien.
“Baik. Sekali lagi terima kasih. Saya pasti butuh kamu datang ke rumah. Saya akan koordinasikan dengan Slamet untuk ikut serta membantu saya. Sekali lagi terima kasih,” Tonny tak bisa mengatakan bagaimana besarnya rasa terima kasih yang dia rasakan pada Wiwien yang baru kenal malah bisa membantu membuat mamanya berbicara kembali.
“Tak perlu sungkan. Selama bisa dan mampu, semua akan saya lakukan,” sahut Wiwien sambil kembali melihat aplikasi pemesanan taksi online. Mobil sudah mengarah ke rumah sakit Fatmawati sesuai titik pemesanan yang dia lakukan.
“Mari Kak, itu mobilnya sudah datang, Assalamu’laykum,” Wiwien pamit pada Tonny.
“Wa’alaykum salam. Dan sekali lagi terima kasih banyak,” jawab Tonny.
Tonny segera menuju ruang admistrasi pasien. Dia membayar sampai besok siang agar bila dia di kantor, semua sudah beres. Bila ada kekurangan nanti perawat yang dia pekerjaan akan membayarnya dengan uang yang Tonny bekali.
“Nurse, ini kwitansi pembayaran hingga besok siang. Kalau ada kekurangan gunakan uang cash yang biasa ya.” Tonny memberikan kwitansi untuk dipegang oleh perawat itu.
“Baik Tuan,” sahut sang perawat. Satu tahun bekerja pada Tonny, dia hafal kalau tuannya irit bicara.
“Wah ada snack, apa tamu tadi yang bawa?” bertanya Tonny pada perawat saat melihat clapper tart ada dalam kulkas. Dia tak mungkin bertanya pada sang mama yang tak mau menjawab pertanyaannya.
“Iya Tuan, mbak tadi bawa beberapa. Nyonya sudah makan satu dan sepertinya suka.” sang perawat memberitahu. Dia juga sudah mencicipi satu. Rasanya lembut dan sangat enak.
\===========================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA YANKTIE YANG SUDAH TAMAT, DENGAN JUDUL NOVEL TELL LAURA I LOVE HER YOK!
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
__ADS_1
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta