UNCOMPLETED STORY

UNCOMPLETED STORY
BERBURU RUMAH KONTRAKAN


__ADS_3

Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA




"Mas sudah ada tujuan rumah yang ingin dikontrak?" Tanya Nisa pada suaminya. Mereka baru saja keluar dari ruang rawat pak Syamsul.



"Tadi saat kamu ganti baju aku coba liat iklan rumah yang dikontrakan yang dekat kantor. Biar kita enggka terlalu lama dijalan saat berangkat atau pulang kerja." Bayu mengirim lima gambar rumah dan alamat yang dia buat capture tadi ke ponsel Nisa.



"Kita lihat dulu kelimanya. Kalau sudah kita bandingkan baru kita tentukan pilihan. Jadi bukan lihat satu, dua langsung tentukan. Harus semua baru kita tentukan," ucap Bayu.



"Iya Mas," Nisa manut.


\*\*\*



"Gimana?" Tanya Bayu. Mereka sedang istirahat makan siang. Sudah enam rumah yang mereka lihat. Tadi di rumah ke empat ada satu rumah di seberangnya yang juga di kontrakan. 



"Aku sih lebih suka di rumah yang enggak ada di data, dan rumah kedua."



"Rumah yang enggak ada di data lebih siap huni karena baru rampung renov. Cat baru semua, kloset siap pakai lebih bersih."



"Rumah kedua suasananya lebih nyaman, hanya kurang pagar aja. Bisa bikin pagar bambu agar lebih nyaman. Biar bagaimana pun kalau enggak ada pagar serasa orang bisa langsung ketok pintu. Kalau ada pagar kan mereka ketahan bila pagar kita gembok," Nisa memberi argumentasi dengan akurat.



"Ya sudah. Kita ambil rumah yang selesai renovasi aja. Habis makan kita balik kesana. Besok habis pulang kerja kita hunting barang primer dulu agar bisa segera pindah. Malam ini kita kan tidur di rumah sakit," jawab Bayu. Dia segera menghubungi pemilik rumah pilihan untuk bertemu kembali.


\*\*\*



"Koq cepat?" Kata bu Murniati melihat anak dan menantunya telah tiba kembali di rumah sakit.



"Sudah dapat koq Bu. Sudah dibayar sama mas Bayu." Nisa meletakkan cemilan yang Bayu beli untuk teman kerja nanti malam. Bayu tadi minta Herman mengirim kerjaan lewat email.



Sebelum kembali ke rumah sakit Bayu mampir pulang ke kamar kostnya untuk ambil baju ganti sehingga besok pagi siap berangkat kerja dari rumah sakit.



Bayu juga mengambil laptop. Malam ini dia akan kerja aja. Bayu berjanji dalam hati tidak akan menyentuh Nisa bila belum ada FEEL. 


\*\*\*



"Kamu kalau mau tidur silakan. Saya mau buka email dari Herman. Nanti saya tidur di sofa,"  Sehabis makan malam Bayu mulai bersiap kerja.



"Iya Mas. Sebaiknya jangan formal. Walau masih kaku kita harus berupaya jangan gunakan 'saya', ganti dengan sebutan Mas, atau aku," Nisa mencoba menegur suaminya. 



"Akan aku upayakan," jawab Bayu. Lelaki itu mulai menyalakan ponselnya. 



'*Benarkah aku sudah menikah kembali? Rasanya baru kemarin rumah tanggaku berantakan*!' batin Bayu memandang cincin baru di jari manis kanannya.



Bayu ingat awal kehancuran rumah tangganya saat dia pulang ambil berkas.



Dimulai dari Wiwien yang habis masa cuti melahirkannya. Wiwien minta ibu Bayu mencarikan pembantu rumah tangga karena tak mau Awan anak mereka dirawat baby sitter.



Di rumah sudah ada mbok Ranti, seorang asisten rumah tangga yang sudah cukup umur. Mbok Ranti ikut mertua Bayu sejak Wiwien SMA. Dan sejak mereka pindah ke rumah ini dia memang ikut Wiwien. 



Tapi Wiwien tak tega bila mbok Ranti menjaga Awan. Dia ingin ada tenaga lain yang menjaga anak mereka itu. 



Akhirnya ibu Bayu mendapat seorang gadis polos dari desa yang terpaksa berhenti sekolah karena tak ada biaya. Dia baru naik kelas dua SMK atau baru selesai kelas sepuluh saja. Naik kelas sebelas tapi berhenti.  



Dua minggu ibu mertua Wiwien melatih Ririn -nama gadis itu menggunakan alat rumah tangga seperti mesin cuci dan majic jar serta setrika. Ibu Iis melatih Ririn menyetrika baju, mengepel dengan alat pel yang bukan sekedar lap pel biasa. Setelah siap baru Ririn diantar ke rumah Bayu. 

__ADS_1



Satu minggu ibu Iis menginap di rumah Bayu melatih Ririn merawat Awan.  Ibu Iis tak ingin langsung meninggalkan Ririn mengasuh Awan. Tentu dia tak ingin cucu pertamanya salah penanganan.


\*\*\*



Suatu hari ada berkas yang Bayu lupa bawa ke kantor. Bayu mengambilnya dan dia lihat ternyata Ririn punya ponsel yang cukup bagus. 



‘*Kalau dia tak ada biaya untuk sekolah, mengapa dia punya ponsel bagus*?’ batin Bayu. Saat itu Ririn sudah satu bulan mengasuh Awan.



Akhirnya tanpa sadar Bayu memperhatikan pakaiannya. Bukan baju pudar yang jelek. Pakaian yang dia pakai cukup bagus dan modis untuk anak seusianya. Bukan seperti pakaian orang desa yang kekurangan uang. 



“Kamu sedang melihat apa?” tanya Bayu penasaran.



“Eh Bapak. Koq pulang?” tanyanya berdiri dari sofa ruang tamu. 



Bayu tak menjawab dan memperhatikan apa yang terlihat diponselnya. Pembantunya sedang *search* toko pakaian online yang cukup terkenal. 



‘*Anak desa belanja online? Berarti dia pakai mBanking atau bayar COD*,' pikir Bayu. 



Bayu mengambil berkasnya dikamar dan duduk di sofa. “Kamu mengapa berhenti sekolah?” tanya Bayu penasaran. Saat ini Bayu hanya penasaran saja karena selama Ririn bekerja di rumahnya, dia belum pernah mengajaknya bicara. 



“Orang tua saya enggak ada biaya Pak,” sahutnya sambil ikut duduk disebelah Bayu tanpa ragu. Saat itu Ririn menggunakan baju terusan selutut yang tersingkap saat dia tiba-tiba duduk. Dan dia tak segera membenarkan roknya ketika tahu Bayu melihat paha mulusnya. 



Seharusnya saat Ririn duduk di sebelahnya bukan di seberang kursinya Bayu harus waspada!



Bodohnya Bayu menganggap Ririn duduk disebelahnya adalah hal wajar. 



“Saya koq ragu. Kalau tak ada biaya, bagaimana kamu bisa beli baju online dan punya ponsel sebagus itu?” tanya Bayu curiga.




“Katakan sejujurnya,” jawab Bayu sambil memberi usapan di paha Ririn agar gadis itu merasa nyaman. 



Bayu menyesalkan hal itu. Serius sumpah demi apa pun, saat itu Bayu tak ada pikiran kotor untuk menggodanya atau mengambil keuntungan. 



Bayu hanya ingin Ririn menjawab pertanyaannya tanpa merasa bersalah. Bayu tak bermaksud buruk. Hanya ingin Ririn nyaman bercerita saja. Bayu menganggap Ririn anak kecil.



Tapi Bayu malah mendapat respon tak terduga! Tangan Ririn menggenggam tangannya. Bukan untuk menghentikan perlakuan Bayu. Ririn malah meremas jemari Bayu. Itulah awal bencana yang merusak rumah tangganya.



Betapa bodohnya Bayu mau terjebak wajah polos Ririn. Ririn berani meremas tangannya dan mahir membalas ciuman Bayu!



Dan siang itu pertama kalinya Bayu merasakan bibir hangat selain bibir Wiwien istrinya. 



Dan saat mereka berciuman Ririn lebih dulu menggoda. Tangannya lebih dulu meraba dan meremas senjata tempur Bayu. Beginikah yang dikira anak desa polos? Dia bahkan lebih mengerti dan lebih pandai dari Wiwien soal mempermainkan senjata tempur dengan tangan.



Bayu segera kembali ke kantor. Bayu takut kebablasan. Saat itu Bayu masih ingin rumah tangganya aman tanpa perselingkuhan.



Di kantor tak bisa Bayu kembali fokus pada pekerjaan. \*\*\*\*\*\*\* Ririn selalu terngiang. Berkali-kali Bayu ke toilet membasuh kepalanya. 



Bayu kesal ingat itu semua. Dia ingat Esoknya dia berupaya tak mendekati Awan ketika dia hanya berdua dengan Ririn. 



Bayu menggoda Awan ketika anaknya digendong mbok Ranti atau Wiwien.  Bayu berupaya meminimalisir kedekatannya dengan Ririn. Bayu ingin tetap setia pada Wiwien istri tercintanya. 



Tapi rupanya Bayu memang harus terperosok ketika mbok Ranti dipinjam ibu mertuanya membantu karena ibu mertua ada arisan. Bayu berdua Ririn di rumah karena istrinya harus lembur di hari Sabtu.

__ADS_1



Terpaksa Bayu berdua Ririn di rumah. Awan yang memang kalau malam tidur dengannya sudah selesai dimandikan oleh Wiwien sebelum istrinya berangkat lembur. Awan juga sudah kenyang minum ASI langsung dari Wiwien. Saat ini bayi gembul itu sedang tidur nyenyak.



Bayu sarapan sendirian. Bayu lihat Ririn menggunakan kaos biasa tidak ketat dan celana kain dibawah lutut atau biasa disebut celana tujuh perdelapan. Tak ada kesengajaan menarik minat Bayu untuk tergoda dari pakaiannya. 



Bayu mendengar Awan menangis dan Ririn langsung mengambil botol ASIP. Dia memanaskan ASI agar bisa diminum oleh Awan. 



Bayu yang tidak tega mendengar tangisan bayinya langsung menuju kamar untuk menggendongnya. 



Bayu membawa Awan ke ruang tamu dan duduk di sofa menunggu Ririn membawakan botol susuu untuk Awan. Ririn memberikan botol dan duduk mepet disebelahnya.



Bayu tak bisa bergeser karena duduk dipinggiran kursi yang ada pembatasnya untuk dudukan tangan. 



“Ade haus ya sayang,” Ririn menggoda Awan. Tangan kirinya memegang paha Bayu dan tangan kanannya mengelus pipi Awan. Pipinya hanya berjarak sangat dekat dengan bibir Bayu. Ririn menyibakkan rambutnya dan Bayu leluasa menghirup bau shampoonya. 



“Sini ikut Embak aja,” Ririn mengambil Awan dengan menekankan sikut kirinya dipaha Bayu. Dia pangku Awan tapi bahunya bersandar di bahu Bayu. 



Bayu terpojok tak bisa bangkit. Dilihatnya leher jenjang Ririn berada sangat dekat dengan bibirnya. 



Rejeki tak mungkin Bayu tolak. Leher Ririn yang sangat dekat dengan bibirnya langsung dilahap. Ririn mendesah membuat Bayu tambah ingin melakukan hal yang lebih.



“Aaah …,” Bayu dengar desah Ririn saat Bayu memegang kedua gunung kembarnya dari belakang sambil mencecap leher bagian belakangnya. Banyak kiss mark Bayu buat, sambil tanganku memilin dua puncak merbabu milik Ririn. Bayu memegangnya langsung karena tangannya masuk kedalam penutup gunung. Bukan dari luar kaos.



Satu tangan Bayu turun memegang gundukan yang tertutup segitiga dari bahan kaos milik Ririn. Dia usap lembut rumput dibalik bahan kaos itu dengan sesekali jemarinya menusuk lubang semut milik Ririn yang masih belum Bayu buka. 



Bayu mengambil Awan dan membaringkan putranya di sofa. Dan sekarang Bayu leluasa menciumi bibir tebal Ririn. Tak lupa satu tangannya  dia masukkan kedalam lapangan rumput Ririn. Diusap rumput halus di sana sambil menciumi Ririn. Lalu bibir Bayu berpindah ke leher bagian depannya yang sejak tadi belum diberi kiss mark.



“Bagian depan jangan dimerahin,” bisik Ririn sambil tangannya mengelus senjata tajam Bayu.



Bayu pun patuh. Leher depan Ririn hanya dikecupi, kadang digigit pelan tanpa dihisap. 



Dan jemari Ririn ternyata sudah memegang dan meremas meriam Bayu secara langsung tanpa perantara kain celana lagi. 



Tak sabar Bayu membuka pertahanan terakhir Ririn dengan mudah. Dia tetap duduk disofa dan Bayu berjongkok di depannya bermain dengan miliknya.  Hingga berkali-kali Ririn merasakan pelepasan. 



Akhirnya Bayu pun membungkam lubang semut dengan senjata tajamnya. Dia hujam berkali-kali hingga Bayu pun mendapat pelepasan. Tak cukup satu kali. Bayu melakukan serangan ulang. Mereka melakukannya di sofa. 



Sejak hari itu, tiap ada kesempatan Bayu menyempatkan diri menghujam Ririn.  Beberapa kali dia berikan uang jajan yang cukup lumayan secara cash. Karena laporan mBankingnya bisa dilihat Wiwien. Kalau ada bonus harian Bayu ambil sedikit untuk Ririn. 



Bayu tak berani mendatangi kamar Ririn saat malam. Bayu hanya kencan dengan Ririn di rumah saat pagi atau siang. Saat itu sengaja Bayu menyuruh mbok Ranti membeli sesuatu. 



Bila malam sesekali Ririn menyatakan kangen akan hujamannya dan Bayu janjikan besok siang akan diobati kangennya.


\*\*\*


***Ditunggu komen manisnya ya***.


***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.


***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.



Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR ya.



![](contribute/fiction/6030990/markdown/10636434/1677123990786.jpg)



Dan sekali lagi yanktie ingetin jangan lupa subscribe cerita dengan judul KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR itu ya.

__ADS_1


__ADS_2