
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
“Tante Wien keluar dulu sebentar ya,” Wiwien keluar ruangan lalu menghubungi Kusumo.
“Hai, Assalamu’alaykum,” Kusumo menghampiri Wiwien yang berdiri didepan ruang rawat Seroja.
“Kak, kenalin dosenku,” Wiwien memperkenalkan Kusumo pada Tonny yang memang belum masuk ruangan.
“Silakan masuk Pak,” Wiwien mengajak Kusumo kedalam ruangan.
“Kak, ayok kita sarapan dulu,” Wiwien menggamit lengan Tonny dan langsung Tonny menangkap jemari Wiwien dan dia genggam ambil masuk kedalam. Seakan Tonny ingin memperlihatkan pada Kusumo bahwa Wiwien adalah miliknya.
“Tante, ini dosen Wien dikampus,” Wiwien memperkenalkan Kusumo pada Seroja. Tapi Seroja sudah kembali diam sejak bu Waode masuk ke ruang rawat.
“Kita sarapan bareng yok Pak,” tapa ragu Wiwien mengajak Kusumo makan. Tadi Kusumo membawakan bingkisan buah sebagai buah tangan menjenguk orang sakit.
“Saya jadi merepotkan,” Kusumo tak enak menerima tawaran itu.
“Wiwien harus segera sarapan karena kami mau segera pergi,” Tonny memberitahu kalau ‘waktu kunjung’ Kusumo hanya sebentar saja.
“Oh, kamu mau pergi Wien?” tanya Kusumo memastikan.
“Sudah Pak. Ayok kita makan saja,” Wiwien membuka sterofoam untuk Tonny. Dia buka plastik potongan cakwe dan kacang kedele. Tak lupa dia beri kuah kari.
“Mau pakai kecap dan sambel?” tanya Wiwien pada Tonny. Dia buka toples isi kerupuk. Dia juga membuka tupperware isi sate usus dan ati rempela.
“Silakan Pak, diracik sendiri buburnya.” Wiwien tak meraciki bubur Kusumo. Dia meracik bubur miliknya yang dia beri tanda di sterofoamnya kalau isi buburnya hanya sedikit.
“Mbak Wiwien selalu aja seperti itu. Jatahnya lebih sedikit,” bu Waode mengambil bubur jatah makan paginya.
“Iya Bu. Tapi habis ini saya ngemil karena kelaparan he he. Saya enggak bisa makan sekaligus banyak Bu,” balas Wiwien santai.
“Maaf, saya angkat telepon dulu,” Wiwien melihat ada panggilan dari mbak Sashi.
“Aku tanya kak Tonny dulu Mbak. Kalau aku habis makan sih berangkat. Enggak tahu kak Tonny. Atau Mbak bicara langsung dengan kak Tonny aja gimana? Aku kasih teleponnya ke kak Tonny,” Wiwien tak bisa menunggu Sashi karena dia memang mengambil kursus menyetir pagi hari agar punya banyak waktu luang dengan Awan.
“Kak, mbak Sashi dan anak-anak mau kesini, tapi dia minta aku suruh nunggu. Aku enggak bisa nunggu. Nanti aku telat. Kakak aja yang janjian dengan mbak Sashi ya,” Wiwien menyerahkan teleponnya pada Tonny.
__ADS_1
“Kamu tu sibuk banget ya Wien,” Kusumo berkomentar melihat kelakuan Wiwien. Tonny sedang menerima telepon dari Sashi di ruang sofa.
“Makanya saya malas menerima teman karena pasti seperti Bapak. Menganggap saya sok sibuk. Saya nyaman tak diganggu orang Pak,” jawab Wiwien.
“Yaaah, koq malah gitu sih. Saya enggak nuduh kamu koq,” Kusumo merasa bersalah karena kata-katanya mengusik Wiwien.
“Sudah Kak?” Wiwien menerima ponsel yang Tonny kembalikan.
“Sudah. Biar saja Mbak Sashi. Kalau mau ketemu harusnya dia janjian sejak semalam. Bukan pagi-pagi gini minta rubah jadwalmu. Jadi kamu tetap sesuai rencana semula aja. Mbak Sashi dan anak-anak ketemu denganmu besok pagi dan aku sudah bilang juga besok waktumu mepet. Kalau dia enggak cepat, ya kamu harus pergi sesuai jadwal,” jawab Tonny sambil kembali menekuni buburnya yang pasti sedikit tak enak karena dia tinggal telepon dulu.
“Sambal dan cakwenya masih ada?” tanya Tonny.
“Sambal masih banyak tapi jangan nambah lah. Tambah sate usus dan cakwe aja ya,” Wiwien sengaja menggeser tempat sambal menjauh dari Tonny.
Akhirnya Kusumo terpaksa pamit setelah selesai makan. Karena dia tahu Wiwien juga hendak pergi. Jadi bukan Wiwien mengusir dirinya.
“Terima kasih kunjungan dan bingkisannya Pak,” Wiwien atas nama bu Seroja menyampaikan ucapan terima kasih. Tentu tak enak dia membuat Kusumo harus terburu-buru karena memang waktunya yang mepet.
“Enggak apa-apa. Besok hari Senin aja kita ngobrol di kampus,” sahut Kusumo dengan tenang. Membuat Tonny geram.
***
“Aku tunggu disini,” seakan mengerti jalan pikiran Wiwien, Tonny memberitahu kalau dia akan menunggu selama Wiwien belajar.
‘Ih bikin bete aja. Beneran enggak bisa kemana pun,’ Wiwien kadi serba salah. Padahal dia ingin mampir ke swalayan.
Wiwien ingin membeli ayam untuk dia rendam dengan bumbu sepanjang malam agar besok rasa bumbu ayam sudah meresap. Besok dia ingin bikin nasi uduk lauk ayam goreng dan ditambah nugget atau sosis untuk dua anak mbak Sashi.
Untuk yang dewasa tentu ada sambal dan lalapannya.
Untuk tepung ayam tentu tak ada di tukang sayur. Itu sebabnya dia ingin mampir beli tepung dan ayamnya.
***
‘Aku masih penasaran apa yang membuat mama sangat membenci Pricilla dan Vita? Kenapa Adon belum juga dapat info tentang keberadaan Pricilla,’ Tonny memang mencari sosok Pricilla setelah dokter Abadi memberitahu mamanya sangat membenci gadis itu.
Karena awalnya mamanya sangat baik pada kekasihnya ketika itu walau mereka beda keyakinan. Sudah hampir sembilan tahun Tonny dan Pricilla berpisah. Sejak mereka kelas dua SMA.
Sambil menunggu Wiwien, Tonny mencari nama Pricilla di sosial media, tapi tak juga dia temukan sosok itu. Karena pemilik nama itu ribuan.
__ADS_1
***
“Mau langsung pulang atau mau mampir kesesuatu tempat?” tanya Tonny saat Wiwien telah duduk kembali di mobilnya.
“Aku mau beli tepung ayam dan ayam untuk besok pagi,” sahut Wiwien
“Mau ke mana?” tanya Tonny.
“Carefour Lebak Bulus aja,” balas Wiwien. Dia ingat juga mau beli beras karena rasanya tempat berasnya mulai kosong.
Maka Tonny pun melajukan mobilnya ke swalayan yang Wiwien sebut. Dia juga ingin mencari car seat untuk Awan. Dia yakin Wiwien berniat membeli mobil maka dia berniat membeli lebih dulu sebelum Wiwien membeli sendiri.
“Aku kesana ya, nanti aku tunggu di kasir,” Tonny tahu Wiwien akan taak enak bila dia membuntutinya berbelanja. Dia berpisah dengan Wiwien saat masuk ke area super market. Tanpa banyak cakap dia membeli car seat ternyaman. Tak peduli harga yang harus dia bayar. Lalu dia mencari Wiwien, agar dia bisa mendekati perempuan itu saat dia akan membayar belanjaan.
Tonny berniat membayari belanjaan Wiwien. Karena setiap pagi Wiwien selalu membawakan dia dan bu Waode juga mamanya sarapan.
***
Setelah tadi sedikit bersitegang karena Tonny ngotot membayar belanjaannya, sekarang Wiwien mangkel karena Tonny membawa kotak car seat yang dia beli buat Awan.
“Buat apa sih Kak? Nanti aku akan beli kalau aku sudah beli mobil,” omel Wiwien.
“Ya buat anakku lah. Aku kan papanya Awan,” sahut Tonny dengan percaya dirinya.
“Aku belum nerima cinta Kakak lho. Dan kalau aku punya pendamping, tentu aku enggak mau panggilannya papa. Njomplang kalau pasangan bunda itu papa,” sahut Wiwien.
\===========================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL UNREQUITED LOVE YOK!
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta
__ADS_1