UNCOMPLETED STORY

UNCOMPLETED STORY
BELI RUMAH JANGAN SEPERTI BELI PISANG GORENG


__ADS_3

DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI


\~\~\~\~\~


“Aku akan panggil mas Suli Bu. Biar ruko cepat bisa digunakan dan aku bisa pindah ke sana,” Wiwien mengambil ponselnya ke kamar.


“Lha kamu enggak jadi beli rumah?” tanya ibu bingung. Mengapa koq sekarang putrinya mau tinggal di rukonya.


“Jadi, tapi untuk awal bikin usaha, biar aku langsung pantau aja, aku tinggal di ruko dulu. Sambil pelan-pelan cari rumah yang sreg dihatiku,” balas Wiwien sambil mencari nomor kontak mas Suli.


“Iyo, nek tuku omah ojo koyo tuku gedang goreng, mesti sabar.” sang ibu setuju pandangan Wiwien soal tidak terburu-buru saat membeli rumah tinggal. [ Iyo, nek tuku omah ojo koyo tuku gedang goreng = iya, kalau membeli rumah itu jangan seperti beli pisang goreng ].


Ternyata Suli baru bisa datang sesudah jam tujuh malam. Wiwien menanyakan besok bisa mulai bekerja tidak karena dia butuh cepat. Mas Suli memang sering diminta Bapak untuk membantu mengecat rumah atau membuat hal-hal yang tak perlu keahlian njelimet seperti bikin kandang ayam atau bahkan membuat meja kompor dari batu. Dia memang all in. Apa saja akan dia kerjakan yang penting mendapat uang halal bagi anak dan istrinya.


“Jadi intinya ngecat luar dalam, bikin pintu penghalang yang kebawah dan yang ke teras atas Mas. Selebihnya nanti buat banyak tambahan titik saklar atau sedikit meninggikan pembatas aliran air biar air buangan mesin cuci bisa langsung keluar,” Wiwien memerinci apa yang harus dikerjakan.


Maka Suli langsung menulis bahan apa yang besok pagi harus ada agar dia bisa langsung bekerja.


***


Tonny berangkat kerja dari rumah sakit, dia tidur di sofa dan nurse yang merawat sang mama dia biarkan tidur dI bed penunggu. Selalu seperti itu, dia menghargai jasa sang perawat yang telah membantu dirinya menjaga sang mama.


Pagi ini jadwalnya rutinnya adalah ke kantor, tanda tangan beberapa berkas lalu langsung ke lapangan. Route hari ini dia akan ke kantor calon mantan istri pak Pangestu dan mantan suami Wiwien karena secara agama mereka sudah bercerai.


Wiwien memberikan bukti rekaman saat Bayu menjatuhkan talak untuknya. Sehabis itu baru Wiwien mencopot semua CCTV yang terpasang. Wiwien bilang rencananya CCTV itu akan dia pasang di ruko tempat usahanya.


Tak ada yang istimewa di kantornya pagi ini, Tonny hanya melakukan kegiatan rutin. Tapi ternyata pagi yang tenang sedikit terusik ketika ponsel pribadinya menerima panggilan telepon dari Novembrian Putra. Tentu saja Tonny mengabaikan panggilan itu.

__ADS_1


Tonny bergegas menuju kantor istri pak Pangestu yang sedang akan digugat cerai oleh suaminya. Bukan karena perempuan itu memiliki lelaki lain. Atau pak Pangestu memiliki perempuan lain, tapi karena penipuan identitas yang sangat menyakitkan hati pak Pangestu. Lelaki itu sangat marah karena merasa ditipu selama delapan tahun.


“Saya bisa bertemu dengan ibu Amalia Witri Hudaya?” tanya Tonny sopan. Dia memang belum membuat janji dengan istri pak Pangestu itu.


“Apa sudah membuat janji Pak? Tanya resepsionis dengan manis.


“Belum, beritahu saja saya Hartono Waluyojati SH, pengacara bapak Pangestu Hudaya ingin bertemu,” Tonny menyerahakan kartu nama miliknya.  Dan sang resepsionis segera menghubungi ruangan ibu Amalia untuk bicara dengan sekretaris petinggi kantor itu.


“Bapak, dipersilakan naik ke lantai enam, nanti disana Bapak akan didata dan diminta meninggalkan tanda pengenal untuk bisa bertemu dengan ibu Amalia,” tanpa kesulitan Tonny bisa mendapat akses bertemu dengan istri kliennya.


Di lantai enam, Tonny menunggu cukup lama untuk bisa mendapat giliran bicara dengan bu Amalia. Perempuan yang masih sangat cantik dan modis.


***


Tonny menghela napas panjang. Dia tahu akan berat persoalan kasus pak Hudaya. Walau keduanya masih saling mencintai, tapi suatu kebohongan yang dibuat dengan alasan sangat mencintai ternyata tak membuat pak Pangestu bisa menerimanya. Dia malah terluka dan sakit hati karena masalah prinsipil seperti itu dia tidak diberitahu dan dibohongi selama delapan tahun lebih.


Tonny menjalankan mobilnya menuju kantor sebuah tabloid besar dimana Bayu bekerja. Dia juga belum membuat janji. Tapi dia memang ingin membuat langkah yang berbeda. Dikantor Bayu nanti dia tak akan mencari Bayu secara langsung, tapi hendak menikamnya lebih dulu melalui atasannya langsung.


“Saya dari kantor pengacara, saya ingin berkonsultasi dengan manager produksi untuk klien saya,” Tonny memberikan kartu nama pada resepsionis yang mengenakan pakaian kekurangan size. Mungkin perempuan ini mengembang tiba-tiba sehingga baju kekecilan dia pakai karena tak sempat membeli baju yang pas dengan ukuran badannya.


“Baik Pak, saya tanya pak Herman Firmansyah, apakah beliau mempunyai waktu luang hari ini untuk bicara dengan Bapak,” sahut sang resepsionis yang Tonny pikir dia juga kena penyakit. Karena matanya selalu berkedip tanpa henti.


“Silakan saja sekarang, saya ada waktu lima puluh menit sebelum keluar kantor untuk meeting dengan rekanan,” Herman menjawab pertanyaan resepsionis.


“Bapak silakan ke lantai tiga, nanti Bapak tanya ruangan pak Herman. Beliau punya waktu lima puluh menit sebelum pergi meeting dengan rekanan,” sang resepsionis memberitahu agar Tonny naik ke lantai tiga.


Tonny tanpa membuang waktu segera menuju lift, waktunya sangat sedikit, tapi setidaknya dia bisa janjian lagi untuk pertemuan berikutnya.

__ADS_1


***


“Maaf Pak, sebenarnya tujuan saya kesini berkaitan dengan klien saya. Dia mengalami masalah besar dengan karyawan Bapak,” Tonny masuk ke poko persoalan setelah mereka berdua berkenalan.


“Apa maksud anda?” Herman malah bingung. Dia kira tadi masalah yang akan dibicarakan adalah soal pekerjaan, bukan masalah pribadi.


“Saya ingin memberikan surat pemanggilan karyawan Bapak ke pengadilan karena di telah berzina dengan pembantunya dan membuat anak kandungnya sebagai korban karena diberi obat tidur. Ini alasan saya datang menemui Bapak, karena saya sebagai kuasa hukum mantan istrinya sudah melaporkan bila karyawan Bapak mendekati klien saya dan anaknya dengan diameter 50 meter, maka itu akan langsung dikategotikan tindakan tidak menyenangkan akrena membuat klien saya ketakutan akibat trauma yang dideritanya,” panjang kali lebar Tonny menerangkan alasan kedatanganya.


“Sebutkan siapa karyawan yaang anda maksudkan,” Herman langsung bertanya untuk mempersingkat waktu.


Tonny menyerahkan surat pemanggilan Bayu untuk sidang cerainya. Dan Tonny memperlihatkan bukti surat laporan kepolisian soal pemberian obat tidur pada Awan baik dari dokter mau pun dari polisi.


Herman tak habis pikir sahabatnya yang polos bisa bertindak seperti itu dengan seorang pembantu yang dari wajah saja jauh levelnya dengan Wiwien. Apalagi dari pendidikan dan kepribadian.


“Saya hanya ingin membuat anda tidak penasaran, apa tuduhan itu benar, ini saya perlihatkan selintas rahasia klien saya,” Tonny membuka selintas video peperangan Ririn dengan Bayu.


\===========================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL  CINTA KECILNYA MAZ YOK!



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya

__ADS_1


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta


__ADS_2