UNCOMPLETED STORY

UNCOMPLETED STORY
ORA KAPOK PO?


__ADS_3

DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA


\~\~\~\~\~


“Jangan pernah dilepas ya Sweet heart,” Tonny memasukkan cincin yang mereka beli tadi ke jari manis tangan kiri Wiwien. Dia kecup jemari yang telah dia sematkan cincin.


“Insya Allah,” jawab Wiwien. Dia menerima kotak yang masih ada satu cincin berukuran jemari Tonny.


“Bismillah ya Mas,” Wiwien memasukkan cincin di jari manis kiri Tonny.


“Iya Yank. Bismillah. Semoga jalan kita lancar,” sahut Tonny.


“Mas bersiap menghadapi wajah ketus ibu walau kata-katanya lembut ya,” Wiwien mewanti-wanti Tonny.


“Iya. Dan seperti janji kita. Kita akan selalu jujur dalam hal apa pun kan?” Tonny memastikan kesepakatan mereka saat awal akan berkomitmen.


“Iya Mas. Walau kita tunangan bukan secara seremonial. Tapi Mas tau traumaku atas ketidak jujuran dan perselingkuhan. Satu kali saja Mas terindikasi selingkuh, aku langsung pergi jauh dan tak akan pernah mau kembali,” Wiwien jujur masih ragu untuk berkomitmen. Tapi rasa cinta Tonny memang bisa meluruhkan rasa tak percaya diri yang dia miliki.


Walau belum sembuh 100%, tapi dia sudah mulai berani melangkah agar bisa kembali menapaki kehidupan dengan langkah pasti. Eyank jadi ingat lagu lawas ‘aku melangkah lagi.’


Aku melangkah lagi, lewat jalanan sepi


Perlahan tapi pasti, mengikuti ayun melodi


Langkah silih berganti


Melalui hari yang sunyi


Aku melangkah lagi dengan pasti


Tonny ingat cerita bu Waode, kalau Wiwien mengaku pada mamanya  luka bagian dalam hatinya masih basah, walau bagian luar sudah terlihat mengering dan sembuh. Dia sadar Wiwien sangat trauma. Tonny berjanji akan selalu setia pada perempuan yang dia cintai sepenuh hati ini.


“Mas akan berupaya selalu setia. Semoga kita bisa selalu berdampingan dengan ketulusan cinta kita ya Sweet heart,” Tonny memeluk kekasihnya. Dia kecup kening Wiwien dengan lembut.


‘Mas pulang ya, kamu besok masih ujian semester?” tanya Tonny.


“Iya, besok hari terakhir. Aku pengen cepet wisuda,” jawab Wiwien. Dia masih harus menempuh satu semester lagi bila hasil semester ini bagus semua.


***


Dua bulan sudah Wiwien dan Tonny ‘bertunangan’. Seroja mulai bisa lepas alat bantu jalan. Dia sudah seperti semula. Cerewet pada kedua anaknya, menantu dan dua cucunya. Tentu saja Sashi dan Tonny sangat bahagia.

__ADS_1


Hari ini Wiwien dan Tonny bersama Awan datang ke rumah Asih. Hari ini Henny akan kedua Asih berulang tahun yang ke empat.


“Sayang enggak lari-lari,” Wiwien menangkap Awan yang semakin lincah diusianya yang sudah satu setengah tahun. Bicara anak itu pun semakin lancar.


“Ayah, gendong Dede dulu deh. Aku mau turunin roti dan kado,” Wiwien memberikan Awan pada Tonny yang baru bersiap turun dari mobil.


“Bunda enggak apa-apa bawa kue bolak balik? Bukannya lebih baik Bunda gendong Dede dulu. Begitu Ayah selesai turunin semua baru Ayah gendng Dede?” tanya Tonny.


“Owh boleh,” jawab Wiwien. Dia setuju usul tunangannya itu.


“Assalamu’alaykum,” Wiwien mengucap salam. Dia memberi salam pada kedua orang tuanya lalu juga pada mas Slamet dan mbak Asih.


“Mbak Henny, selamat ulang tahun ya sayang,” Wiwien memberi salam pada keponakanya.


“Ayahhhh …,” Awan teriak minta gendong Tonny saat dia lihat lelaki itu membawa dua tas plastik besar roti.


Indarwati atau iin kaget cucunya memanggil ayah pada Tonny.


“Sebentar sayang. Ayah taruh ini dulu dibelakang ya. Habis itu gendong kamu,” tanpa sadar Tonny juga menjawab rengekan anaknya dengan kata AYAH, seperti kebiasaan mereka sehari-hari.


Tonnya meletakkan dua tas plastik besar itu di meja makan. Lalu dia menghampiri Wiwien untuk mengambil Awan. Masih ada satu tas besar lagi. Tapi dia bisa bawa walau sambil menggendong.


Tonny kembali ke mobil untuk mengambil tas besar ketiga dan mengunci mobil lalu membawa roti kedalam rumah.


“Asslamu’alaykum Tante, Om,” dengan sopan Tonny menyapa kedua orang tua Wiwien.


“Koq gitu. Jagoan masa malu?” bisik Tonny lembut.


“Ndak au,” jawab Awang sambil menggeleng.


“Sudah lama Bro?” Slamet menyapa Tonny dengan ramah.


“Baru Mas,” sahut Tonny sambil bersalaman gaya mereka dengan akrab.


Teguh -bapaknya Wiwien- hanya memperhatikan saja. Dia lelaki yang tak banyak mulut. Teguh yakin Wiwien tak akan mau jatuh lagi. Jadi pasti dalam menentuka langkah tak akan sembarangan.


“De, itu anak-anak mau nyanyi lho. Kita kedepan yok,” Wiwien datang mengajak Awan. Asih mengundang teman-teman TK nya Henny.


“Nda auh,” jawab Awan.


“Ya sudah sama Ayah kedepannya?” tanya Tonny.


“Iyaaah,” jawab Awan.

__ADS_1


“Maaf Tante, Om saya kedepan dulu,” Tonny pamit. Dia membawa Awan kedepan karena anak-anak akan mulai bernyanyi.


“Kowe pacaran sama dia?” tanya Iin tanpa menunda waktu.


“Kami sedang penjajag-an Bu. Bukan pacaran seperti anak muda,” jawab Wiwien dengan pelan.


“Ora kapok po?” desak ibu Wiwien.


“Siapa yang mau jatuh dua kali Bu? Kalau saya diam aja salah. Saya dekat dengan orang Ibu ngendiko seperti itu. Lalu saya harus bagaimana?” tanya Wiwien didepan Arno, Slamet dan Teguh. [ ngendiko = berkata-kata, kosa kata yang digunakan untuk orang tua pada anaknya. Anak tak bisa kita katakan ngendiko ke orang tua. Kalau anak bicara ke orang tua sebutannya matur. ]


Iin diam. Itulah Iin. Dia lebih suka pendapat orang luar. Hanya Wiwien yang sejak kecil berani membantah bila kata-kata Iin salah. Itu sebabnya sejak kecil Iin sering jengkel pada Wiwien.


Wiwien tak bisa bayangkan bagaimana murkanya Iin bila tahu Wiwien dan Tonny sudah terikat ‘pertunangan’.


“Kapan sih mbak Wiwien itu bener didepan Ibu?” Arno kali ini bicara. Dia lalu pergi kedepan. Dia sudah pada ambang batas kesabaran menghadapi Iin. Slamet pun juga kedepan dengan alasan akan membuat foto pesta ulang tahun Henny.


***


“Koq cemberut aja sih?” Tonny memeluk Wiwien. Sejak di rumah Slamet, Tonny merasa Wiwien berwajah sedih.


“Tadi Wien sedikit keras ke ibu Mas,” cerita Wiwien,


“Keras gimana?” pancing Tonny.


“Tadi ibu tanya aku  pacaran sama Mas? Lalu Wien jawab : Kami sedang penjajag-an Bu. Bukan pacaran seperti anak muda,” Wiwien bercerita pelan.


“Ibu malah ngejek : Ora kapok po? Aku keqi Mas digituin.”


“Aku langsung jawab : Siapa yang mau jatuh dua kali Bu? Kalau saya diam aja salah. Saya dekat dengan orang Ibu ngendiko seperti itu. Lalu saya harus bagaimana? Terus ibu enggak jawab lagi,” Wiwien bercerita semuanya.


‘Pantas sejak dulu Wiwien paling tak mau kalau aku ajak ke rumah orang tuanya. Sekarang penyebabnya makin jelas,’ batin Tonny.


\===========================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL THE BLESSING OF PICKPOCKETING  YOK!


DAN SEKALI LAGI YANKTIE INGETINI JANGAN LUPA SUBSCRIBE CERITA DENGAN JUDUL   THE BLESSING OF PICKPOCKETING   ITU YA.



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.

__ADS_1


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta


__ADS_2