UNCOMPLETED STORY

UNCOMPLETED STORY
TAK PUNYA MUKA LAGI


__ADS_3

DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI


\~\~\~\~\~


 “Iya Kak. Sekali lagi terima kasih banyak nyempetin hadir di acara ini,” jawab Wiwien.


“Mas, aku pamit yo,” Tonny pamit pada Slamet. Seniornya di karate dulu.


“Yups. Hati-hati yok. Nanti kapan-kapan ta’ main ke rumahmu,” Slamet mengantar Tonny kedepan.


Akhirnya satu persatu tamu pulang. Yang paling dulu adalah perawat Seroja yang pamit. Dia memikirkan kalau sang majikan harus istirahat. Mbok Ranti langsung memberikan box ayam ingkung untuk dibawa oleh perawat bu Seroja.


Bu Iis, bu Iin, mbak Asih semua dibekali oleh-oleh ayam ingkung utuh oleh Wiwien. Termasuk mbak Ira dan mas Bangun yang pulang belakangan karena mereka harus merapikan lagi letak meja penerimaan pakaian, rak, meja setrika dan juga tiga mesin cuci yang ada.


“Mbak Ira, besok kita sudah bisa kerja. Hari ini ada tiga konsumen yang taruh baju,” Wiwien memberitahu Ira soal tiga orang yang tadi menaruh baju kotor mereka.


“Mbak Ira, kita libur hari Senin ya. Karena hari Sabtu dan hari Minggu banyak konsumen yang datang saat mereka libur kerja. Kalau hanya naruh seperti tiga konsumen tadi saya bisa terima. Tapi untuk pencucian dan seterika libur. Maaf enggak bisa libur di hari Sabtu dan Minggu,” lanjut Wiwien.


“Alhamdulillah. Kirain belum ada yang datang Bu.” sahut Ira.”Dan kalau soal libur kan Ibu sudah bilang sejak saya minta kerja disini.”


“Ada tadi. Sudah saya langsung beri label nama agar tidak tertukar. Besok aja kita bahasnya. Sekarang bereskan makanan. Nasi dan lauk yang masih banyak bawa aja Mbak. Sayang kalau disini enggak kemakan.” Wiwien meminta Ira membawa nasi.


“Alhamdulillah nasi enggak banyak sisa Bu. Cukup untuk kita makan berdua dan dibawa pulang mas Bangun dan mas Suli. Kan memang kita pikir jangan sampai kekurangan lauk. Karena nasi mudah nyari atau masak nasi putih dadakan,” mbok Ranti memberitahu sisa nasi.


“Alhamdulillah kalau memang enggak banyak sisa. Jadi enggak mubazir,” Wiwien senang.


“Lauk juga bawakan Mbok,” Wiwien meminta simbok juga membawakan lauk untuk Suli dan Bangun.


“Bu, maaf. Nasi sisa yang dipiring-piring tadi saya kumpulkan mau buat makan ayam,” Bangun memberitahu kalau dia juga membawa nasi sisa.


“Alhamdulillaaaaaah kalau masih bisa berguna mas Bangun. Saya justru berterima kasih bila tak ada makanan terbuang,” sahut Wiwien. Jangan sepelekan makanan sisa, disana masih ada berkah. Oleh karena itu sebaiknya mengambil makan jangan pernah berlebih.


***

__ADS_1


Hari selanjutnya usaha laundry Wiwien mulai berjalan sesuai harapan. Dan hari Sabtu ini Seroja kembali datang diantar oleh Tonny tanpa perawat. Semalam Seroja mengirim pesan meminta agar Wiwien mengatakan pada Tonny dia tak usah ditemani oleh perawat setiap hari Sabtu.


‘Kak, kalau antar Tante ke ruko enggak usah ajak nurse. Percuma Tante kesini kalau sama nurse ya enggak bakal ngobrol,’ itu pesan yang Wiwien kirim pada Tonny.


‘Oke,’ hanya jawaban singkat itu yang Wiwien terima.


***


“Sarapan dulu sebelum berangkat Kak,” Wiwien mengajak Tonny sarapan. Lelaki itu baru tiba mengantar mamanya.


“Kamu jadi repot ya kalau saya datang,” protes Tonny.


“Ya enggak lah. Kan memang saya juga harus masak buat semua. Termasuk mbak Ira yang makan siang disini,” sahut Wiwien.


“Tante, sarapan kita seperti yang dijual keliling ya. Lontong sayur labu siam cuma biar enggak kebuang aku pakai telur burung puyuh bukan telur ayam rebus,” Wiwien menyendoki lontong dan memberi sayur labu siam pada piring untuk Seroja.


“Ini kerupuknya Tante,” Wiwien memberikan satu buah kerupuk bulat uang dia beli di tukang sayur.


“Kurang pedas enggak Kak? Ini ada sambal bila suka pedas,” Wiwien segera menyodorkan tempat sambel pada Tonny. Lalu dia menciduk lontong untuk dirinya sendiri. Awan sedang di jemur dihalaman belakang oleh mbok Ranti.


Tonny mengambil telur burung puyuh dan menaruh di piring mamanya. “Mama sangat suka telur burung puyuh.”


“Wah kalau begitu kapan-kapan akan aku buatkan rendang telur burung puyuh atau balado telur burung puyuh,” sahut Wiwien.


“Woow, aku belum pernah makan telur burung puyuh dimasak rendang atau balado. Paling dimasak soup aja,” sahut Tonny sambil mengambil tissue. Dia sudah selesai sarapannya.


“Aku SMP ya. Sudah Makan Pulang he he. Aku takut terlambat. Titip mama ya. Nanti siang aku jemput lagi,” Tonny pamit pada Wiwien.


“Terima kasih sarapannya.”


“Ma, Onny kerja dulu ya Ma. Mama disini dengan Wiwien. Asslamu’alaykum Ma,” Tonny mencium tangan dan pipi Seroja.


“Kak, kalau enggak merepotkan aku titip rambutan ya. Tadi pagi mau beli lupa,” tanpa malu Wiwien titip buah rambutan. Dia ingin membuat asinan. Di kulkas masih banyak jeruk nipis dan cabe rawit merah segar.

__ADS_1


“Iya, aku sering lihat sepanjang jalan. Lagi musim koq. Nanti aku belikan,” jawab Tonny.


***


“Mbak Ira, aku buat lontong sayur, sarapan dulu,” Wiwien menawarkan pegawainya untuk sarapan.


“Saya sudah sarapan Bu,” sahut Ira. Dia sudah datang sepuluh menit lalu.


“Kalau begitu saya masukin freezer ya, nanti pulang dibawa,” Wiwien mengambil satu mika untuk sayur dan memisahkan lontong yang belum dipotongi untuk Ira. Biasanya pegawainya memang membawa pulang banyak lauk.


Wiwien lalu menggendong Awan dan bermain dengan jagoan kecilnya bersama bu Seroja. Mereka bercerita apa pun tanpa gangguan. Wiwien pun tak malu memberi ASI didepan bu Seroja di ruang belakang.


“Tante, Wien boleh tanya sesuatu yang mungkin tante enggak suka?” tanya Wiwien. Dia tak ingin bu Seroja terluka.


“Apa Wien?” tanya Seroja. Dia tak pernah ingin menutupi apa pun dari perempuan tangguh ini.


“Mengapa Tante tak mau bicara selain dengan Wien?” tanya Wiwien.


“Tante merasa sangat malu dan merasa bersalah pada Onny. Karena tante dan Om memaksa Onny agar tak pacaran dengan teman SMA-nya karena beda agama. Lalu sebelum meninggal Om meminta agar Onny segera menikah. Tapi Onny menolak dan hanya sempat bertunangan untuk membuat papanya tenang.”


“Rasa bersalah Tante meminta dia menikah walau akhirnya hanya bertunangan dengan Vita anak sahabat tante itu membuat Tante tak punya muka lagi bertemu dan bicara dengan Tonny. Akhirnya Tante pun tak mau hanya Tonny yang tidak Tante acuhkan. Tapi semua.” terjawab sudah alasan Seroja tak mau bicara dengan siapa pun.


“Apa permintaan maaf tak bisa dilakukan? Bukankah kak Tonny tidak marah pada Tante akan hal itu?” tanya Wiwien penasaran.


\===========================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL  UNREQUITED LOVE  YOK!



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.

__ADS_1


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta


__ADS_2