
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
“Babe, besok jangan batal lagi ya, aku udah beli tiketnya lho,” rengek Vita bila dia ingin ditemani nonton.
“Babe besok aku libur, masa aku jalan ama bang Bian lagi?” keluh Vita saat lainnya.
“Babe, tunanganku itu kamu lho, bukan bang Bian!” Vita kembali mengeluh karena harus kembali ditemani oleh Novembrian Putra sang kakak. Sedang nama lengkap Vita adalah Novita Putri. Ulang tahun Vita dan Bian selisih dua hari saja. Bian ulang tahun tanggal 6 November sedang Vita tanggal 8 November. Selisih usia mereka empat tahun.
Dulu memang Tonny sibuk kerja tak ingat waktu. Bahkan hari Sabtu dan hari Minggu sekali pun dia tetap bekerja. Dan jam kerjanya adalah 24 jam. Jam berapa pun ada klien menghubungi, dia akan layani.
Semua berubah semenjak sang mama Seroja Murniati mengalami goncangan jiwa dan stroke ringan. Tonny merubah semuanya. Dia kerja hanya eight to five di hari Senin hingga hari Jumat. Dan hari Sabtu dia bekerja jam sembilan hingga ke jam dua belas saja
Tonny melanjutkan salat Isya ketika terdengar adzan berkumandang. Sesudah itu dia membawa sang mama ke meja makan. Walau disuapi, tapi setidaknya mereka makan berdua bersama-sama.
Papa Tonny telah meninggal dua tahun lalu. Satu tahun sebelum sang mama sakit. Kakak sulungnya tinggal di Kuala Lumpur karena suaminya bertugas disana. Tonny mempunyai dua keponakan perempuan yang sudah berumur tujuh tahun dan dua tahun.
***
“Selamat pagi, saya Wienarti ada janji dengan bapak Hartono Waluyojati jam sembilan,” Wiwien memberitahu PR yang bertugas pagi ini dikantor Tonny.
“Baik Ibu, nama Ibu memang sudah ada di data. Sebentar lagi ibu bisa masuk bila tamu sebelum Ibu sudah selesai,” PR yang bertugas sangat ramah dan penuh senyum.
“Ibu Wienarti, silakan ikuti saya,” seorang petugas mendekati Wiwien dan mengajaknya masuk.
Petugas itu mengetuk pintu dan terdengar jawaban dari dalam. “Masuk.”
“Silakan Ibu,” petugas itu membukakan pintu dan menutupnya kembali saat Wiwien sudah masuk ke ruangan itu.
“Assalamu’alaykum,” Wiwien memberi salam.
“Silakan duduk Wien, mau minum panas?” tanya Tonny ramah.
“Enggak Kak. Terima kasih,” jawab Wiwien.
“Ini berkasnya, kamu baca kalau takut salah lalu tanda tangani diatas semua yang tertulis ada namamu,” Tonny menyodorkan satu berkas dalam map biru lembaga hukum yang dia pimpin.
“Oke, sudah selesai semua. Jadi serius enggak pengen ketemu sama mantan suami buat negosiasi? Dan serius itu file bukti bakal kamu relain dilihat hakim?” Tonny kembali menguji ketetapan hati Wiwien. Karena banyak yang setelah tanda tangan berkas lalu ingin merubahnya. Klien seperti itu membuat pekerjaan menjadi ribet. Maka sebelum maju perang Tonny kembali mencari kepastian.
__ADS_1
“Enggak ada yang akan berubah Kak. Tetap seperti tujuan awal,” Wiwien memastikan dia tak tergoyahkan.
“Baiklah. Besok saya sendiri yang akan memberikan surat panggilan buat mantan suamimu,” Tonny memang paling kesal terhadap kasus perceraian yang disebabkan oelh perselingkuhan. Dia akan geram dan berupaya turun sendiri agar lebih puas menanganinya.
Kalau alasan perceraian bukan karena perselingkuhan biasanya dia biarkan staffnya yang menangani.
“Sekarang mau kemana lagi?” tanya Tonny. Dia ada niat keluar mengerjakan kasus lainnya.
“Mau ke Bank di jalan Sangaji Kak. Ada perlu dengan mantan mertua,” sahut Wiwien.
“Saya juga mau ke ABC Bank di jalan Sangaji,” jawab Tonny.
“Kamu bawa kendaraan?” lanjut Tonny lagi.
“Enggak. Tadi pas mau berangkat ban motor kempes, jadi tadi naik taksi,” jawab Wiwien. Dia tak bisa ikut bapak atau Arno karena kedua lelaki itu berangkat pukul 06.30 dan dia baru akan berangkat tadi pukul 08.15.
“Ya sudah bareng saya aja, nanti kamu bisa pulang sendiri atau dengan mertuamu bila tak ingin saya antar,” lanjut Tonny sambil berdiri. Dia mmegang dua map yang sudah ditandatangani oleh dua tamunya pagi ini.
“Ini langsung proses hari ini, besok saya sudah bisa datangi mereka. Jadi jangan sampai hari ini tidak dapat surat panggilannya,” Tonny meletakkan dua map di meja staffnya yang berada tepat dipintu keluar ruangannya.
“Baik Pak,” sang staff pun mengambil map tersebut lalu mulai memproses untuk dibawa kurir langsung ke Pengadilan Agama.
“Enggak apa-apa koq Kak,” jawab Wiwien.
Wiwien baru saja menutup pintu mobil ketika poselnya berbunyi. “Maaf, saya angkat telepon dulu Kak.”
“Assalamu’alaykum Bu,” Wiwien menyapa dengan sopan.
“Kamu sudah berangkat?” tanya Iswarni.
“Sudah Bu, ini sudah di jalan,” jawab Wiwien.
“Ya sudah, Ibu tunggu ya. Kami sudah sampai,” balas Iswarni.
“Iya Bu.”
“Mertuamu?” tanya Tonny.
“Mantan mertua,” balas Wiwien datar.
__ADS_1
“Ha ha ha, iya ya. Sudah mantan walau belum resmi secara negara,” balas Tonny.
***
“Ibu, Ayah kenalkan ini pak Hartono, pengacara perceraian Wiwien,” dengan resmi Wiwien memperkenalkan Tonny pada pasangan mertuanya.
“Jadi sudah didaftarkan Wien?” Joko Susetyo mantan ayah mertuanya memastikan.
“Sejak hari Senin kami sudah ada nomor surat pengajuan. Besok surat panggilan akan diserahkan ketangan pak Bayu, Pak,” Tonny yang menjawab pertanyaan pak Joko.
Iswarni dan Joko terdiam. Ada kesedihan karena nasib pernikahan putra tunggal mereka harus terpuruk seperti itu. Tapi mereka juga malu akan kelakuan Bayu. Jadi tak bisa membela lagi.
“Itu yang akan membeli rumah mu Wien, ayok kita temui,” Iswarni menggamit lengan Wiwien untuk bertemu dengan kawannya.
“Kalau begitu saya pamit bu Wien. Saya menunggu klien disini,” Tonny yang sedang janjian pamit memisahkan diri dari Wiwien.
Wiwien, Iswarni dan pembeli duduk di meja dekat dengan CS. Mereka melakukan transaksi pembayaran via mBanking, setelah uang jelas masuk, Wiwien menyerahkan kwitansi yang telah dia tanda tangani dan Iswarni menyerahkan SHM rumah yang memang dia belikan untuk Wiwien.
“Sejak kejadian itu, kamu pernah bertemu Bayu?” tanya Joko pada Wiwien setelah mereka berpisah dengan pasangan pembeli rumah Wiwien.
“Alhamdulillah enggak Yah, dan maaf, enggak pengen ketemu lagi. Dua bulan saya bersabar melihat kelakuan mereka hampir setiap hari,” jawab Wiwien dengan mimik sangat marah bercampur ji-jik.
“Mereka libur berzina kalau saya tidak kerja atau pas Ririn menstrua-si, kurang sabar apa saya?” bisik Wiwien lirih.
“Maaf, Ayah bertanya karena ingin menanyakan apa dia sudah membagi uang penjualan mobil. Karena ada uangmu disana,” Joko menjelaskan mengapa dia bertanya tentang Bayu.
“Saya tak pernah minta harta gono gini. Bahkan bila Ayah dan Ibu mau, saya akan kembalikan sekarang juga uang penjualan rumah barusan. Saya hanya ingin cerai dan hak asuh mutlak milik saya. Karena Bayu sangat jahat membuat anak saya jadi tumbal perbuatan mereka. Awan dibuat tertidur pulas agar tidak mengganggu kegiatan ayahnya dengan pela-cur itu,” Wiwien mulai terisak kalau sudah bicara tentang Awan.
\==========================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA MILIK YANKTIE DENGAN JUDUL NOVEL BETWEEN QATAR AND JOGJA YOK!
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
__ADS_1
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta