UNCOMPLETED STORY

UNCOMPLETED STORY
WIWIEN MENGHILANG


__ADS_3

DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA


\~\~\~\~\~


‘Satu kali saja Mas terindikasi selingkuh, aku langsung pergi jauh dan tak akan pernah mau kembali.’  Tonny selalu ingat kata-kata Wiwien.


‘Kamu enggak main-main dengan ucapanmu Sweet heart.’ keluh Tonny


Esoknya Tonny menunggu Wiwien di kampusnya. Tapi tak ada mobil tunangannya dikampus itu. Tonny makin putus asa. Dan Seroja mulai dingin padanya. Bicara padanya bila Tonny tanya. Tak lagi seperti biasa akan menyapa Tonny lebih dulu juga menyuruhnya makan atau mengajak salat berjamaah.


‘Aku langsung pergi jauh dan tak akan pernah mau kembali,’ kata- kata ini Tonny tak pernah bisa hilang dari telinga dan otak Tonny.


WIWEN POV


Aku melihat ada yang ditutupi mas Tonny. Dia berbohong dan aku tak mau kembali jatuh. Aku akan mundur. Aku tak tahu apa kebohongannya. Soal perempuan, soal pekerjaan atau soal apa pun, aku belum tahu. YANG AKU TAHU DIA MULAI TAK JUJUR.


‘Tak akan aku maafkan.’


Begitu mama Seroja pamit, aku langsung berkemas. Aku ingin menginap dirumah ibu, walau aku enggak suka dengan mulut ibu. Tapi aku rasa itu lebih baik daripada aku bertemu dengan mas Tonny.


Aku yakin mas Tonny tak akan menghampiri bila aku dirumah ibu. Saat sedang beberes ada panggilan masuk di ponselku.


“Wa’alaykum salam Bu,” kubalas salam yang mantan mertuaku ucapkan.


“Kamu dan Awan sehat?” tanya ibu.


“Alhamdulillah kami sehat Bu. Bagaimana Ibu dan Ayah?” tanyaku.


“Ayah kurang sehat dan dia kangen Awan,” sahut Ibu.


‘Ah, ada jalan lain,’ tanpa sengaja aku berubah pikiran.


“Awan sedang tidur Bu. Wien siap-siap dulu, sebentar lagi kalau Awan bangun Wien kerumah Ibu ya,” aku langsung tahu kemana aku harus sembunyi.

__ADS_1


“Mbok, aku nginep rumah Ibu ya,” aku pamit pada simbok setelah jagoanku bangun. Aku tak bilang rumah bapak, jadi aku enggak bohong kan?


Aku bawa beberapa bajuku untuk kuliah juga buku. Yang pasti baju Awan banyak aku bawakan.


Ibu dan ayah sangat senang melihat kedatanganku dengan Awan. Apalagi tahu kami akan menginap. Sejak selesai menerima telepon dari ibu tadi, ponselku aku matikan. Aku tak ingin dihubungi siapa pun terutama mas Tonny.


Hari Senin aku menitipkan Awan pada ibu. Ada tiga asisten rumah tangga di rumah Ibu, jadi tak akan membuat ibu kewalahan sendiri. Aku bertekan akan menyepi disini beberapa saat.


Aku hanya ikut satu mata kuliah lalu jam selanjutnya aku kabur, aku lari pulang ke ruko. Dan mengajak simbok ikut menginap denganku. Aku akan tenang bila meninggalkan Awan pada orang yang biasa dia kenal.


Aku bawa banyak baju dan buku kuliahku, juga baju Awan. Dua koper besar bawaanku kali ini.


“Mbak Ira, laundry tetap buka seperti biasa ya. Mau masak silakan aja diolah semua yang ada di kulkas enggak perlu ragu. Soal bahan laundry akan selalu saya supply,” aku pasrahkan ruko pada mbak Ira. Tentu lantai atas aku kunci.


Sekarang disinilah kami. Diistana pak Joko Susetyo. Yang tidak semua orang bisa masuk sembarangan.


WIWIEN POV END


Wiwen kuliah hari berikutnya menggunakan mobil bu Iis. Dia tak mau Tonny mencarinya di kampus dan melihat mobilnya lalu bisa menemukannya. Wiwien juga menggunakan kartu baru untuk bisa menghubungi mbak Ira dan simbok serta Sulis. Tentu semua pegawainya itu sudah diancam tidak memberitahu nomor baru ini pada siapa pun termasuk kakak dan adik juga bapak ibunya. Tak boleh ada yang tahu. Karena dari keluarganya itu akan bisa beredar ke orang lain.


Sashi terus menekan Tonny. Dia tak mau ibu mereka kembali sakit.


Pak Joko sudah sehat sejak kedatangan Awan dihari ketiga. Dia sangat senang Wiwien mau menginap dirumahnya walau bukan lagi menjadi menantunya.


“Ayah, Ibu, lusa mungkin Wiwien pulang ya. Enggak enak disini kelamaan,” Wiwien sedang menyiapkan teh sore bagi kedua mantan mertuanya.


“Kapan pun kamu mau pulang, Ayah enggak akan tahan Wien. Asal kamu jangan putuskan tali silaturahmi. Dan sering-sering menginap disini,” Joko menjawab dengan bijak. Sesungguhnya Joko kemarin sakit karena kepikiran. Dia ingin mewariskan semua usahanya untuk Awan.


Joko sudah berkonsultasi pada pengacaranya. Selama Awan belum dewasa maka warisan harus ada penanggung jawabnya. Dan Joko ingin membicarakan hal itu pada Wiwien. Tapi hingga hari kedelapan ini Joko belum berani mengatakan pada Wiwien.


Simbok sudah diberitahu kalau lusa kemungkinan mereka akan kembali ke ruko karena pak Joko sudah mulai sehat. Dan simbok memang tahu alasan Wiwien menginap di rumah ini karena kesehatan pak Joko.


“Wien, besok ada waktu?” tanya pak Joko.


“Ada apa Yah?” tanya Wiwien.

__ADS_1


“Ada yang ingin Ayah bicarakan di kantor ayah,” sahut Joko.


“Besok Wien kuliah sampai jam satu. Jam dua Wien ke kantor Ayah,” Wiwien berjanji untuk memenuhi keinginan Joko.


***


Sepeninggal Wiwien, Joko segera menghubungi pengacaranya dan meminta datang ke kantornya jam dua siang esok hari.


Dan hari ini Wiwien tak bisa meminjam mobil Iis karena sang ibu akan ada keperluan. Sejak semalam Joko sudah menawarkan tiga mobil lainnya, tapi Wiwien memilih menggunakan mobilnya sendiri saja.


Wiwien yakin Tonny sudah bosan mencarinya. Jadi dia yakin sudah aman menggunakan mobilnya sendiri.


Jam satu siang Wiwien keluar dari kampusnya, saat itu tanpa sengaja Tonny melihatnya. Tonny sedang menuju lokasi pertemuan dengan kliennya, dia kebetulan lewat di depan kampusnya Wiwien.


“Tolong suruh Akbar handle pertemuan saya yang jam dua, saya ada keperluan urgent,” Tonny langsung menghubungi sekretarisnya.


“Pak Akbar baru saja pergi untuk menangani kasus PT Sekar. Saat ini ada pak Noldy saja Pak,” sahut sekretarisnya.


“Oke, beritahu Noldy pelajari dulu berkasnya. Sekedar mengisi kekosongan saja agar kita ada wakil,” tanpa menunggu jawaban lagi Tonny memutus sambungan telepon dan dia mengikuiti mobil Wiwien.


Tonny melihat Wiwien masuk ke sebuah rumah tapi ada papan nama sebuah usaha. Dan Tonny melihat ada beberapa mobil dan banyak motor disana. Tonny akan menunggu hingga Wiwien keluar dari gedung itu. Dia parkir ditempat teduh tapi cukup jelas mengamati pintu rumah itu.


***


“Makan dulu ya Wien, Ayah juga telat makan nih,” Joko memberikan Wiwien ansi kotak yang memang dia pesan untuk Wiwien dan team pangacara yang dia undang.


Tanpa menolak atau basa basi, Wiwien langsung menerima nasi kotak dan ikut makan dengan ayah mertuanya dan dua tamu lainnya. Wiwien merasa apa yang akan ayah mertuanya katakan bukan hal sepele maka dia diminta datang ke kantornya.


\===========================================


Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya

__ADS_1


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta


__ADS_2