
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
“Assalamu’alaykum,” sapa Wiwien pelan. Dia melihat bu Waode sedang merapikan selimut yang Wiwien tahu itu di bawa dari rumah. Juga ada kasur angin yang masih tergelar. Mungkin bekas tidur Tonny, karena bu Waode tidur di bed penunggu.
Dengan koneksi Rahmad memang bu Seroja bisa dipindah ke ruang rawat VVIP, tidak di ICU. Kalau di ICU tak boleh ada yang menunggu di dalam. Bahkan masuk pun hanya bisa satu orang di jam tertentu saja.
“Wa’alaykum salam Mbak,” bu Waode menjawab salam Wiwien. Tonny baru saja keluar dari kamar mandi. Wajahnya terlihat kuyu walau dia baru selesai mandi.
“Pagi Kak,” sapa Wiwien.
“Bu, ini sarapan,” Wiwien menyerahkan tas makanan yang dia bawa pada bu Waode lalu dia segera mendekati bu Seroja setelah dia meletakkan tas tangannya.
“Assalamu’alaykum Tante. Dari tadi Tante sudah bangun, tapi kenapa enggak buka mata?” Tanya Wiwien ditelinga Seroja. Dia genggam erat tangan kanan Seroja yang bebas dari selang infus.
Tonny yang berdiri disisi kiri bu Seroja melihat kelopak mata mamanya bergerak seakan memberi reaksi atas perkataan Wiwien. Dia segera mengambil ponselnya untuk membuat video.
Tonny menggamit lengan Wiwien. Saat perempuan itu menengoknya dia bicara tanpa suara. Dia ingin Wiwien melihat gerak mulutnya.
“Bicara terus,” Tonny menunjukkan ponsel memberitahu Wiwien dia akan merekam. Wiwien mengangguk tanda mengerti dan Tonny mengarahkan kamera ponselnya dengan meng-close up wajah mamanya.
“Tante enggak pengen kita makan bareng lagi tiap hari Sabtu? Tante enggak pengen kita masak lagi bertiga ama kak Tonny?” bisik Wiwien selanjutnya.
Tonny men-zoom sudut mata Seroja yang mengeluarkan setitik air.
“Tante semangat ya. Wien tahu Tante pasti pengen sembuh kan? Wien akan nunggu Tante bangun buat masak bareng ya. Sekarang Wien mau sarapan dulu. Wien pengen sarapan bareng lagi ama Tante,” Wiwien mencium pipi Seroja dan kelopak mata Seroja kembali terlihat bergerak-gerak.
Wiwien mengambil ponselnya. Dia mengetik sesuatu lalu memperlihatkannya pada Tonny.
‘Hati-hati bicara di ruangan ini. Tante mendengar semua pembicaraan.’
‘Iya, aku baru sadar sekarang,’ Tonny menulis dibawah tulisan Wiwien. Pesan itu memang bukan untuk dikirim, hanya untuk salin baca saja.
“Kak Tonny kerja?” tanya Wiwien.
“Hari ini belum. Aku masih kerja jarak jauh saja,” jawab Tonny. Mereka bicara yang standard saja jangan yang berhubungan dengan bu Seroja.
__ADS_1
“Bu Waode, ayo kita makan bareng. Tadi Wien bawa tiga koq,” Wiwien mengeluarkan tiga sterofoam dan tupperware berisi peyek teri.
“Makan dulu Kak,” Wiwien membuka satu sterofoan dan dia letakkan di meja depan Tonny.
“Bu Waode, aku enggak bawa sambal atau saos cabe karena masih pagi. Aku bawakan acar aja,” Wiwien membuka sterofoam miliknya.
“Iya Mbak, makasih banget,” bu Waode pun segera ikut makan.
“Kenapa harus repot-repot masak sih?” Tonny tentu tak enak merepotkan Wiwien.
“Enggak repot Kak. Kan tiap subuh aku memang masak sarapan buat aku, simbok, Awan dan kadang juga buat mbak Ira. Karena mau kesini cuma ditambah dua porsi aja. Jadi bukan masak karena mau kesini,” sahut Wiwien.
“Kalau dibilang ngerepotin, besok-besok aku enggak mau kesini lagi,” bisik Wiwien. Dia tak ingin kata-kata enggak mau datang lagi membuat bu Seroja terluka.
Tonny reflect meraih jemari Wiwien. Dia tentu tak ingin Wiwien tak datang karena ibunya sangat menyukai kehadiran Wiwien. Bahkan saat Sashi berbisik saja Seroja tak merespon seperti dia merespon Wiwien.
“Jangan pernah berkata seperti itu,” ancam Tonny dengan berdesis.
“Perkataan yang sama untukmu Kak. Jangan pernah berkata seperti tadi!” Wiwien pun balik mengancam Tonny.
“Enak banget nasi gorengnya mbak Wien,” bu Waode memuji masakan Wiwien.
“Eh peyeknya juga simbok lho yang bikin. Saya paling malas bikin peyek, tapi enggak bisa brenti makan kalau sudah mateng,” Wiwien kembali mengambil peyek teri. Dia menyodorkan tempat peyek pada Tonny.
“Ini peyek kesukaan mama. Sama peyek rebon,” Tonny berkomentar sambil mengambil peyek yang disodorkan Wiwien.
“Nanti kalau tante sembuh aku akan minta mbok bikinkan dua jenis peyek itu buat tante,” sahut Wiwien.
“Aku yakin nasi goreng ini masakanmu ‘kan?” Tonny bertanya untuk memastikan tebakannya.
“Iya, aku masak nasi goreng, simbok bikin acar. Kalau peyek sudah bikin dari kemarin pagi,” sahut Wiwien yang sudah selesai makan.
“Mbak Sashi jam berapa kesini?” tanya Wiwien.
“Sekitar jam sembilan jam sepuluh mungkin,” sahut Tonny yang juga selesai makan.
“Aku enggak nunggu dia ya. Nanti sore aku kesini lagi,” Wiwien bersiap pamit.
__ADS_1
“Ya tunggu makananmu turun dulu lah. Masa baru selesai makan mau langsung pulang?” cegah Tonny.
“Bukannya Kakak yang ajarin SMP ( sudah makan pulang )?” goda Wiwien.
“Aku kan ada janji dengan klien,” Tonny tak mau disalahkan. Entah disadari atau tidak, sejak tadi mereka sudah ber aku~kamu. Dari yang biasanya menggunakan saya.
“Bisa aja kan kalau nge-les. Udah ah. Sore aku kesini biar bisa ketemu mbak Sashi. Kemarin salamku dia sampaikan enggak ke tante?’ tanya Wiwien.
“Disampaikan lah. Kan pengen mengajuk mama. Tapi ya no respon. Enggak seperti waktu kamu bicara tadi,” sahut Tonny.
***
“Tante, Wien pamit dulu ya. Nanti sore Wien balik lagi. Wien kan harus urus Awan. Tante sehat terus ya. Wien tunggu Tante bangun dan kita bisa sarapan bareng lagi. Kembali Wiwien mencium pipi Seroja dengan lembut.
“Assalamu’alaykum Tante,” Wiwien mengecup punggung tangan Seroja.
“Bu, pamit dulu ya?” Wiwien pamit pada bu Waode. Dan Tonny mengiringi Wiwien hingga keluar kamar rawat.
“Terima kasih ya. Peluk cium untuk Awan,” Tonny mengucapkan terima kasih atas kehadiran Wiwien.
***
Jam sembilan pagi Wiwien telah tiba di rumah. Selisih beberapa menit dari mbak Ira. Mbak Ira sering menyisihkan sarapannya untuk dia makan siang, dan jatah lauk makan siang dia bawa pulang untuk anak-anaknya. Wiwien tak mempermasalahkan hal itu. Yang penting karyawannya bekerja tidak lemas karena tak dia sediakan makan.
“Mbak, itu tadi aku bikin nasi goreng. Di makan ya. Nanti habis ngurusi Awan aku baru akan masak buat kita makan siang,” Wiwien segera keatas untuk kembali membersihkan diri dan ganti dengan baby doll. Yaitu atasan dan celana panjang dari bahan kaos. Pakaian yang dia suka kenakan bila sedang dirumah.
“Iya Bu,” sahut Ira sambil mulai mencuci. Dia masukkan pakaian sesuai warna dan jenis bahan kedalam tiga mesin berbeda. Lalu dia operasikan secara bersamaan. Nanti setelah pakaian kering, pakaian akan dipilah berdasarkan pemiliknya. Jadi menyetrika sudah per pemilik, tidak dicampur seperti saat mencuci.
\===========================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL UNREQUITED LOVE YOK!
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.
__ADS_1
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta