
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
“Ada apa Kak?” tanya Wiwien yang datang bersama Slamet. Tadi Slamet memang menghubungi Tonny bilang ingin mengantar Wiwien mengunjungi Seroja.
“Bawa pakai mobilku. Kamu dibelakang sama mamamu,” Slamet langsung mengarahkan Tonny membawa Seroja dengan mobilnya. Wiwien duduk di depan disebelah Slamet.
Nurse pergi dengan driver membawa dompet dan ponsel milik Tonny yang tadi tergeletak di meja teras.
“Apa yang terjadi Bro?” tanya Slamet hati-hati.
“Barusan mantan tunanganku datang. Dia yang membuat mamaku sakit satu tahun lalu. Dan barusan dia membuat mama geram. Mama yang telah satu tahun tak pernah mau bicara, barusan berteriak geram dan langsung jatuh dari kursi roda dengan dahi menyentuh lantai lebih dulu,” sahut Tonny. Dia bercerita garis besar kejadiannya pada Slamet yang saat ini menolongnya.
“Pak, ini ponsel dan dompet Bapak,” begitu tiba di rumah sakit perawat memberikan dompet pada Tonny karena itu pasti diperlukan untuk mengurus administrasi rumah sakit.
Bu Seroja sudah ditangani dokter di IGD. Slamet memberikan satu buah cup kopi pada Tonny. Dia tahu ju-niornya di karate itu sedang sangat sedih.
‘Apa yang akan aku katakan pada mbak Sashi dan mas Rahmad ? Mereka pasti menyalahkanku mengapa Vita bisa dilihat mama lagi. Padahal Vita penyebab mama stroke dulu,’ Tonny benar-benar bingung.
“Minum dulu Bro,” Slamet menyerahkan kopinya yang sejak tadi belum diterima oleh lelaki itu karena dia masih melamun.
“Eh iya. Makasih Mas,” Tonny menerima cup kopi yang disodorkan Slamet. Dia mencecap sedikit kopi panas itu.
“Keluarga ibu Seroja,” panggil seorang suster.
“Iya Sus, saya putranya,” Tonny berlari mendekat.
“Kondisi ibu tidak baik-baik saja. Tensinya terlalu tinggi. Sementara ini kami tak bisa pindahkan beliau ke ruang rawat. Kami akan tempatkan beliau di ICU. Sebentar lagi kita akan ST Scan dan EEG ya Pak,” demikian keterangan perawat pada Tonny.
“Baik Sus,” sahut Tonny lemas. Dia kembali mendekat pada Slamet.
__ADS_1
“Hubungi mas Rahmad dulu,” Slamet memberitahu Tonny. Dia memang kenal Rahmad kakak ipar Tonny. Walau Rahmad lebih tua dua tahun dari Slamet, tapi senioritas mereka di karate sama.
Sebelum menghubungi kakaknya Tonny lebih dulu meminta perawatnya kembali ke rumah. Minta diambilkan semua kebutuhan sang ibu. Dia juga meminta sang perawat bersiap baju ganti untuk dirinya sendiri karena sang perawat seperti biasa akan menunggu mamanya di rumah sakit.
Tanpa banyak cakap Tonny pun menjalankan saran Slamet. Dia menghubungi nomor mbak Sashi. Tapi yang mengangkat mas Rahmad.
“Mbak Sashi ada Mas?” tanya Tonny lirih.
“Sebentar, dia lagi pipis. Barusan dia bilang suruh angkat dulu,” sahut Rahmad. Dia curiga ada hal buruk yang terjadi pada mertuanya karena intonasi Tonny sangat berbeda.
“Mbak …,” Tonny terhenti di satu kata itu. Rasanya dia tak sanggup memberitahu khabar tak baik ini bagi kakaknya.
“Mama di ICU, dia histeris dan menjerit melihat Vita datang ke rumah,” Tonny berkata lirih agar Sashi tabah menerima berita yang dia sampaikan. Tadi dia meminta mas Rahmad menjaga mbak Sashi. Dia takut khabar yang akan dia beritahu membuat kakaknya sedih.
“Histeris bagaimana? Kan selama ini selain dengan Wiwien mama enggak pernah bicara?” tanya Sashi. Tonny memang selalu melaporkan semua perkembangan mama mereka pada Sashi.
“Benar Mbak. Barusan mama teriak marah pada Vita. Lalu dia terjatuh dari kursi dengan dahi menyentuh lantai lebih dulu,” sahut Tonny.
Sashi akan mengalah tak ikut serah terima. Biar suaminya yang mengurus semuanya. Dia akan beres-beres dan mencari tiket secepatnya untuk dirinya dan kedua putrinya. Dia tak ingin terlambat. Karena sekarang mamanya masuk ICU.
***
Sore Slamet pamit pulang pada Tonny. Dia tak enak meninggalkan Tonny sendirian. Tapi Asih sejak tadi meminta dia pulang karena mereka berjanji pada anak-anak akan jalan-jalan.
“Pamit pulang ya Kak. Kalau ada yang perlu Wien bantu, kasih khabar aja. Insya Allah kalau bisa, akan Wien lakukan. Semoga tante cepat sembuh,” Wiwien pun pamit.
“Terima kasih ya. Doakan mamaku bisa segera sembuh,” sahut Tonny pelan.
“Sabar yo Bro,” Slamet memberi tepukan pelan dibahu adik tingkatnya itu. Dia tak menyangka niatnya untuk menghibur bu Seroja dengan mengantar Wiwien malah tak terlaksana karena bu Seroja anfal.
***
__ADS_1
Hari Senin, hari libur laundry. Hari ini Wiwien bersiap untuk ke kampusnya. Dia ingin melanjutkan kuliah. Tak ada satu orang pun yang dia beritahu tentang hal ini.
“Bunda pergi dulu ya sayank. Jangan rewel sama simbah. Bunda mau daftar kuliah lagi biar jadi orang pintar.” Walau punya usaha sendiri dan tak butuh ijazah. Tapi Wiwien tetap bersikeras ingin maju. Siapa tahu suatu saat dia bisa mewujudkan cita-citanya menjadi dosen paruh waktu.
“Semua sudah aku siapkan ya Mbok. Aku enggak sampai sore sih. Cuma ke kampus dan belanja beberapa bahan yang perlu. Kalau hanya pesan dan diantar terus kadang jadi enggak tahu perkembangan usaha,” Wiwien pamit pada mbok Ranti.
Wiwien sudah menyiapkan makan siang untuk simbok juga makan Awan sampai malam nanti. Dia tak ingin saat dia pergi mbok Ranti harus repot masak.
“Iya Mbak, berangkat aja,” sahut Ranti.
“Bobo’ di bawah aja Mbok, enggak perlu ke atas,” Wiwien sudah membeli kasur busa tebal ukuran 120 cm. Jadi tak perlu lagi menurunkan kasur busa king size yang digunakan dilantai atas.
Mbok Ranti pun mengerti, kalau sedang tak dipakai kasur busa itu memang hanya disandarkan di tembok dan diganjal meja agar tidak jatuh.
***
Siang ini Sashi dan kedua putrinya telah tiba di Jakarta. Mereka langsung ke rumah Tonny di jemput oleh driver. Adzkia atau Kia sekarang berusia tujuh tahun lewat. Sudah kelas tiga SD. Dan adiknya Maheswari yang biasa dipanggil Esra telah berusia hampir tiga tahun.
“Mbak, Ibu mau ke rumah sakit untuk jenguk eyang ya. Nanti kamu jaga adik Esra. Kalian tahu kan peraturan rumah sakit? Terlebih eyang di ICU,” sebagai anak dokter hal tentang rumah sakit bukan hal baru bagi Kia. Dia mengerti anak usia dibawah dua belas tahun dilarang masuk untuk mengunjungi pasien.
\===========================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL UNREQUITED LOVE YOK!
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
__ADS_1
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta