UNCOMPLETED STORY

UNCOMPLETED STORY
HUDAYA MENGEMIS BERTEMU


__ADS_3

Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA




" Selamat pagi Pak Tonny," pagi ini Tonny menerima telepon dari  Pangestu Hudaya.



"Hai selamat pagi Pak Pangestu," jawab Tonny yang sedang bermain dengan Awan.  Wiwien sedang menyiapkan sarapan. 



Wiwien memang tak suka bila sarapan untuk anak dan suaminya disiapkan oleh pembantu. Walau malas karena hamil, dia tetap berupaya kalau untuk sarapan. Walau sekarang tak sepenuhnya dia tangani sendiri. 



"Ada yang bisa saya bantu Pak?" tanya Tonny pada Pangestu Hudaya.



"Pak Tonny, tolong saya minta waktu untuk berkonsultasi,"  Pak Pangestu memohon pada Tonny.



"Wah saya tidak bisa Pak. Hari ini saya sibuk sampai sore. Bapak silakan bikin janji aja dengan sekretaris saya di kantor." Tonny memberi saran pada Pangestu.



Tonny bukan mau menghindar tapi memang hari ini jadwalnya padat.



"Tolong saya lah Pak. Kasih saya waktu sebentar," kata Pangestu menghiba-hiba. 



"Maaf Pak. Bukan saya menolak bertemu. Bapak itu klien istimewa.  Tak mungkin saya menolak kehadiran anda tapi memang saya sedang sibuk," jawab Tonny.



"Bagaimana saat jam istirahat?" sahut Hudaya terus mendesak. 



"Mepet Pak, jam istirahat  untuk mobile pindah tempat," jawab Tonny lagi.



"Kalau anda di depan saya saya akan berlutut Pak Tonny agar anda bisa menerima saya," jawab Pangestu Hudaya lagi.



"Ha ha ha, anda nggak usah berlutut pasti saya terima kok kalau saya ada waktu. Begini saja Pak. Kalau mau, Bapak bisa temui saya hari Sabtu siang di rumah ibu saya."



"Hari Sabtu siang berarti lusa dong Pak," kata Hudaya.



"Iya saya ada jam kosong hari itu sebentar di rumah ibu saya ketika anak dan istri saya bercengkrama dengan eyangnya."



"Saya bisa nerima Bapak untuk satu jam lah," kata Tonny. 



"Setiap hari Minggu saya nggak bisa. Karena hari Minggu saya nggak pernah mau diganggu oleh siapa pun. Waktu saya untuk anak dan istri," jelas Tonny.



"Baik Pak, hari Sabtu siang saya akan menemui anda di rumah bu Seroja. Saya akan datang jam 01.00 sesudah makan siang agar tidak mengganggu." Akhirnya Pangestu Hudaya pasrah dengan waktu yang Tonny tentukan.



Daripada dia minta waktu di kantor Tonny malah bisa minggu lusa baru bisa diberi waktu bertemu. Dia sudah pengalaman. Meminta waktu bertemu dengan Tonny sangat lama baru akan terjadwal karena Tonny memang super sibuk.



"Oke nggak apa apa saya tunggu," jawab Tonny.


\*\*\*



"*Sweet heart*. Maaf ya," pagi ini Tonny dan Wiwien akan ke rumah Bu Seroja.



"Maaf kenapa Mas?" tanya Wiwien. Dia bingung aja Tonny minta maaf.



"Nanti obrolan kita akan keganggu sebentar," kata Tonny.



"Pangestu Hudaya mau ke rumah mama. Dia ndesak banget," Tonny mengusap kepala Awan dengan gemas. Lelaki kecil itu selalu bikin dia ingin segera bertemu dan bermain.



"Kok tumben terima tamu hari Sabtu Mas? Kan Mas yang atur jadwal agar hari Sabtu dan Minggu nggak terima tamu," tentu Wiwien bingung. Wiwien yakin bukan masalah bayaran yang membuat Tonny mau mengubah kebijakannya sendiri.



Wiwien sih enggak masalah karena dari dulu sebelum mereka menikah juga hari Sabtu Tonny masih kerja setengah hari.



"Kalau Mas duga itu mungkin berkaitan dengan ditangkapnya om nya Pangestu yang bernama William Hudaya oleh Pak Victor kemarin."



"William Hudaya itu pacarnya Vita atau lebih tepatnya sugar daddynya Vita. Maka William menjadi termasuk dalam kategori gembong. Mungkin dia juga yang memodali usaha mama Vita." Tonny membelokan mobilnya masuk kawasan perumahan Seroja.



"Mas belum cerita kalau Omnya Pangestu ketangkep. Mas cuma bilang siapa sebenarnya belut," protest Wiwien.



"Mas lupa *sweetheart*. Kamu tahu kan saat itu Mas pulang capek, lalu langsung tidur," Tonny memang lupa tak cerita sepenuhnya. Tonny cuma bilang ke Wiwien kalau Ibu Tria Aryani sudah ketangkap. Bahkan Tonny lupa belum cerita ke Bu Seroja bahwa selama ini ternyata Tria Aryani itu bandar narkoba internasional.



"Ya udah kalau Mas udah terima dia ya nggak apa apa kan aku bisa ngobrol sama Mama."



"Santai aja," jawab Wiwien sambil membuka pintu mobil. Awan sudah ingin berlari untuk bertemu dengan eyangnya.

__ADS_1



"Mas juga sudah bilang sih waktunya hanya Mas kasih dia satu jam tapi ya nggak mungkin satu jam sih. Setidaknya kan aku nggak pergi kemana-mana," kata Tonny.



"Aku nggak apa-apa Mas" Wiwien menatap suaminya dengan penuh cinta.



"Tapi kan aku harus ngomong jangan tiba-tiba datang orang kamu baru tahu," Tonny tak mau Wiwien dikalahkan oleh pekerjaan.



" Iya terima kasih ya Mas udah percaya sama aku," jawab Wiwien lalu dia pun turun di rumah Seroja.


\*\*\*



"Den Tonny, ada tamu. Katanya sudah janji," pembantu rumah tangga Seroja melapor pada Tonny ada orang mencarinya.



"Berapa orang?" Tonny mengira Pangestu akan datang berdua mamanya.



"Tiga orang. Dua perempuan dan satu laki-laki namanya pak Hudaya," Seroja memang meminta semua pegawainya menanyakan nama tamu yang mencarinya.



Tonny nggak menyangka kalau Hudaya datang bertiga. Tonny belum tahu siapa dua orang yang bersamanya karena dia belum keluar.



"Maaf ya Ma kami ngobrol kerjaan dulu," kata Tonny pada Seroja.



"Silakan," jawab Seroja



Sejak dulu kalau ada hal penting memang Tonny kadang menerima tamu di rumahnya. 



"Ma aku salaman dulu ya. Nanti aku masuk lagi," Wiwien pamit pada Seroja.



"Kita keluar berdua lah Wien nggak pantes Mama sebagai tuan rumah nggak keluar." Seroja juga hanya akan salaman lalu masuk lagi.



Mereka sedang di ruang tengah kali ini Seroja bikin puding lumut untuk Wiwien. Dia tahu sekarang Wiwien males masak.



"Ayo Ma kita ke depan. Sebentar aku mau bilang pembantu dulu suruh bikin minum ya Ma," kata Wiwien.



Wiwien pun ke belakang menyuruh pembantu Seroja untuk membuat minum bagi para tamunya Tonny.  



"Ayo Ma," Wiwien mengajak Seroja kedepan bersama.




"Maaf ya saya nggak nemani. Silakan saja," kata Wiwien.



"Silakan lo," Wiwien pamit sesudah bersalaman. Demikian pula Seroja.



"Lagi hamil istrinya Pak?" tantenya Pangestu yang bernama Irene bertanya alda Tonny.



"Iya. Alhamdulillah dia sedang hamil. Ada yang bisa saya bantu?"  kata Tonny.



"Ini Pak Tonny. Ini Tante saya awalnya tidak percaya ketika saya mengirimkan video yang Bapak kirim."



"Dia bilang itu editan karena saat itu suaminya bilang sedang di Singapura Pak.  Sedang meeting dengan klien Singapura. Emang sesekali Tante ikut entah ke Singapura entah ke Thailand atau ke mana. Tante kadang ikut tapi seringnya sih Om sekarang tuh lebih sering pergi sendirian."



"Tapi ketika melihat divideo itu ada saya lihat seorang  petinggi polisi, maka barulah saya mulai kasih tahu tante sosok itu,  bahwa dia itu orang penting."



"Sepertinya yang anda maksud Pak Victor," kata Tonny. Tonny men scroll foto di album ponselnya.



"Inikah?" Tonny memperlihatkan foto Pak Victor dengan dirinya.



"Betul Pak," Pangestu Hudaya membenarkan.



"Bapak hebat ya. Pergaulannya dengan  banyak petinggi negara," Irene memuji Tonny.



"Enggak juga. Itu karena  faktor pekerjaan. Pak Victor ini teman baik sekaligus mentor saya," Tonny 



"Akhirnya Tante saya percaya karena ponselnya Om sejak hari itu juga nggak bisa dihubungi."



Selama ini dia itu sugar daddynya Vita, begitu yang saya dengar dari Pak Victor. Sejak lama Om anda itu target."



"Karena itu waktu itu kan saya bilang hati-hati tapi anda tidak antisipasi Om anda."



"Sudah enam bulan keluarga anda itu menjadi target pengamatan polisi terkait dengan hubungan Om anda dengan Vita." Jelas Tonny.

__ADS_1



"Enam bulan kan sebelum saya akan dijodohkan dengan Vita Pak," Pangestu mencari kebenaran.



"Benar. Target Tria bila anda menikah dengan Vita, William dan Vita lebih mudah bertemu. Anda memang akan dikorbankan menjadi suami Vita. Sebenarnya ya dia lebih senang ke Om Anda wong Om anda royal dan mudah disetir kok."



"Tapi kalau anda gampang kasih duit ya Vita juga tetap layanin anda berdua." Kata Tonny.



"Jadi sejak enam bulan lalu polisi sudah tahu bahwa suami saya berhubungan dengan Vita," Irene tantenya tak percaya dia sudah lama dibohongi suaminya.



"Hubungan mereka itu sudah sembilan bulan Bu. Kita tahu bahwa mereka sudah tiga bulan berhubungan dan tinggal bersama.  Kami punya alamatnya kok Bu."



"Dan om anda lah penyandang dananya."



"Sekarang perusahaan Om anda itu mendanai pergerakan narkoba maka semua keluarga Hudaya itu masuk lingkaran hitam," jawab Tonny.



"Maaf Pak Tonny saya potong," kata Diana ibunya Pangestu.



"Sebenarnya perusahaan yang dipegang adik ipar saya itu itu adalah perusahaan istrinya.  Bisa nggak kita minta supaya jangan disangkut pautkan dengan perusahaan Hudaya?"



"Polisi enggak mau tahu itu perusahaan keluarga bu Irene atau milik keluarga Hudaya.  Yang kita tahu itu apa pemimpinnya,  CEO-nya adalah clan Hudaya."



"Jelas ya di sini atas nama Hudaya atau keluarga Bu Irene semua dipantau. Kita udah punya kok data siapa aja anggota keluarga besar Bu Irene sudah ada semuanya di polisi. Jadi bersiaplah Bu Irene dan keluarga besarnya juga akan hancur  karena kelakuan suami anda."



"Sekarang dua keluarga besar ini tetap akan hancur!" 



"Bagaimana kami membersihkan nama kami?" kata Irene terbata. Dia tak tahu kalau suaminya terjebak cinta sesat. Selingkuh dengan anak bandar narkoba internasional.



"Kalau sudah masuk daftar hitam seperti sekarang itu akan sulit bergerak. Kalian bikin nama perusahaan baru juga sulit. Lebih baik jalankan dulu aja yang sekarang ada. Dan bangun kembali citra positive untuk membuat nilai plus bahwa perusahaan kalian adalah baik dan benar."



"Sejak dulu Pak Pangestu sudah saya ingetkan.  Anda bergerak salah sedikit pasti semua kena."



"Iya Pak saya ingat," kata Pangestu.



"Tapi sungguh saya kecolongan dengan om saya.  Sepak terjangnya bersih tidak saya tahu." Pangestu sangat menyesal saat dia terlambat kali ini.



"Ya itulah saya nggak bisa bantu karena saya sudah Ingatkan. Kecuali saya belum Ingatkan.  Saya bilang kan,  anda itu klien saya terbaik.  Saya anggap anda tuh saudara maka saya peringatkan. Kalau hanya sekedar klien biasa, maka saya masa bodoh Pak Pangestu." Jawab Tonny.



"Apa saya bisa temui suami saya di penjara?" tanya Irene.



"Anda harus punya surat kuasa  dulu. Dan itu prosesnya pelik. Karena status pak William masih narapidana tersembunyi."



"Bagaimana bila anda ikut saya? Nanti saya kabarin kalau saya mau ke sana. Saya ajak anda satu atau dua orang."



"Saya akan minta izin pada Pak Victor atau Pak Samsul atau Pak Bayu."



"Kalau anda mau bikin sesuai prosedur ya silakan. Karena sampai saat ini status dia kan masih tahanan tersembunyi belum diumumkan. Kita belum expose bahwa mereka tertangkap."



"Kami masih mau ingin menangkap jaringannya lagi."



"Oh gitu ya Pak," Pangestu baru tahu.



"Otaknya memang sudah ditangkap tapi kan kaki tangan masih bebas. Kalau otak ketahuan tertangkap kaki tangan akan bertindak waspada."



"Baik Pak saya tunggu aja kabar kapan kami bisa ikut dengan Bapak," Irene pasrah.



"Saya nggak bisa kasih kabar jauh hari ya paling terpanjang waktunya adalah 24 jam. Bisa aja mendadak berangkat. Tergantung izin pak Victor," jawab Tonny.



"Iya Pak kami siap," kata Irene.


\*\*\*



***Ditunggu komen manisnya ya***.


***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.


***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.



Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul INFIDELITY BEFORE MARRIAGE ya.



![](contribute/fiction/6030990/markdown/10636434/1677320218313.jpg)


__ADS_1


Dan sekali lagi yanktie ingetin jangan lupa subscribe cerita dengan judul INFIDELITY BEFORE MARRIAGE itu ya.


__ADS_2