
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
"Ibu, Ibu nggak apa apa kan aku ngundang Bayu kesini?" Tanya Wiwien yang duduk di kursi. Tonny duduk persis di kaki Wiwien jadi lelaki itu bersandar di kaki istrinya.
"Iya nggak apa-apa kan kemarin Ibu udah bilang nggak apa-apa," Joko dan Tonny hanya menjadi pendengar pembicaraan dua perempuan itu. Ada pisang rebus dan teh hangat di meja. Wiwien mengupas satu pisang, dia suap ke mulut Tonny sebelum dia memakan bekas gigitan suaminya.
"Aku takut Ibu masih marah pada Bayu," Wiwien masih terus berupaya agar Iis dan Joko menerima kembali anak kandung mereka. Dia merasa dirinyalah yang membuat murka kedua orang tua ini pada Bayu.
"Apa kamu sudah tidak marah padanya?" sambar Joko.
"Jujur aku nggak bisa ngilangin marahku terhadap kelakuan buruk itu Ayah," kata Wiwien.
"Aku ngomongnya tuh susah pokoknya di satu pihak aku udah nggak mau, aku nggak mau ingat masalah itu. Ya tetap aku masih marah dengan kelakuannya tapi aku pengen lupain. Sulit ya Yah ngomongnya. Pokoknya gitu deh," Wiwien mencoba menjabarkan pikirannya.
"Wiwien tuh maunya ayah sama ibu maafin Bayu," kata Tonny.
"Iya Bu. Kalau Ibu mau ambil semuanya yang dari warisan juga nggak apa-apa tapi Ibu maafin aja Bayu. Kasihan dia sendirian," kata Wiwien meneteskan air mata.
'*Halusnya perasaanmu. Kamu mencintai semua manusia walau telah menyakitimu*,' Iis membatin mendengar kata-kata permintaan Wiwien untuk Bayu.
"Mungkin buat Ibu sulit tapi lebih sulit aku kan Bu buat maafin dia," cetus Wiwien minta penhertian Iis.
"Enggak gitu juga," Joko menimpali ucapan pitri angkatnya yang mantan menantunya itu.
"Muka kami juga ditaruh di mana dia injek-injek seperti itu?" jawab Joko.
"Udahlah Yah udah lupain aja," pinta Wiwien.
"Biar hidup kita tenang."
'*Hati anak ini dibuat dari apa sih*?' Joko tak habis pikir mendengar pendapat Wiwien.
"Ayah akan berusaha tapi tidak janji secepatnya dan soal harta itu memang bukan rezekinya dia. Biarkan dia cari sendiri," kata Joko.
__ADS_1
"Mungkin nanti ada sisaan serpihan-serpihan akan Ayah berikan tapi untuk saat ini biarkan saja seperti itu," lanjut Joko lagi.
"Ubahlah Yah. Jangan semuanya untuk Awan dan Wiwien ya Ayah. Ayah nanti ubah ya? Biar bagaimana pun dia anak Ayah. Wiwien nggak mau dinilai buruk oleh orang." Desak Wiwien.
'*Orang lain rebutan harta warisan, istriku malah minta jangan dikasih untuk dia*,' Tonny semakin beruntung mendapatkan manusia yang langka ini.
"Yang menilai buruk itu orang yang tidak mengerti. Yang menilai buruk kamu itu orang buta," kata Joko tak peduli pandangan orang lain.
"Tapi nanti ayah rubahlah. Kasihan anaknya dia dari istrinya nanti kalau ayah sama ibu nggak ngasih harta," desak Wiwien tak mau mengalah.
Percakapan berhenti karena Awan pup. Wiwien mengambilkan diapers ganti dan Tonny yang menemani Awan ke toilet. Memang kalau ada Tonny maka Wiwien tak boleh mengurusi Awan. Itu sudah jadi permintaan Tonny sejak mereka belum menikah.
Jam sepuluh Seroja datang pada saat Wiwien sedang memakan harum manis yang disediakan oleh Iis. Seroja membawakan puding dengan irisan nangka.
" Wah enak sekali itu," Wiwien tanpa disuruh mengambil puding yang memang sudah di dalam cup kecil jadi tinggal makan tak perlu dipotong-potong lagi.
Wiwien tak mau menunggu waktu makan siang dia langsung makan pudingnya itu.
"Wa'alaykum salam," Tonny menggendong Awan dan menyambut Bayu. Dia bertindak sebagai tuan rumah karena Iis dan Joko masih kaku menerima anak kandung mereka itu.
"Mas salim dulu," Tonny mengajarkan Awan salim.
"AIM?" Awan memastikan pada Tonny.
"Iya salim sama Om dulu ya," Tonny menjawab pertanyaan putranya dengan senyum dan anggukan.
Awan pun menyodorkan tangannya untuk bersalaman dengan Bayu ayah kandungnya.
"Namanya siapa sayang?" Tanya Bayu.
"Awang," jawab Awan.
"No. Bukan Awang. Tapi Awan. A … Wan!" Tonny mengeja nama putranya.
__ADS_1
'Iyah, A Wang," balas Awan lagi. Tonny dan Bayu pun tertawa mendengar jawaban Awan.
"Ayo masuk kita ke ruang tengah aja," ajak Tonny.
'*Ini rumah gue, tapi gue yang jadi tamu*,' dalam hati Bayu bicara sendiri. Tapi begitu pun dia sudah sangat senang karena sudah diterima di rumah ini lagi.
Bayu menyerahkan ice cream yang dia bawa kepada Awan. tentu saja lelaki kecil itu senang.
"Nanti Ayah tempatin dulu ya Mas mau?" kata Tonny.
"Mau Yah mau," Awan yang sudah diturunkan dari gendongan berjalan dengan berlompat kecil. Dia suka dibawakan ice cream oleh om tamu ayahnya itu.
"Ya ayo kita ambil gelas kecil," Tonny meminta pembantu rumah tangga untuk mengambilkan beberapa gelas.
"*Ueh ndak eyas*," Awan menggeleng tak mau pakai gelas.
Wiwien mengerti apa yang diinginkan putranya. Tapi yang lain tak tahu.
"Apa sih Bun," tanya Tonny bingung.
"Mas Awan nggak mau pakai gelas Yah. Dia maunya pakai kue. Dia bilang cone yang Ayah beli itu kan kue." Jelas Wiwien.
"Wah maaf ya Om nggak tahu," Kata Bayu dengan menyesal. Bayu jadi serba salah.
"Enggak apa apa udah tenang aja," Tonny tahu solusinya.
***Ditunggu komen manisnya ya***.
***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.
***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.
Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul JINGGA DARI TIMUR ya.

__ADS_1
Dan sekali lagi yanktie ingetin jangan lupa subscribe cerita dengan judul JINGGA DARI TIMUR itu ya.