UNCOMPLETED STORY

UNCOMPLETED STORY
BERTEMU LALAT IJO


__ADS_3

DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI


\~\~\~\~\~


 “Aamiiin,” jawab Wiwien.


‘Andai Tonny dan kamu berjodoh. Aku sangat setuju,’ batin Sashi.


“Udah cukup sore, aku pamit ya Mbak. Besok pagi insya Allah aku datang menyapa tante,” Wiwien berdiri dan pamit pada Sashi.


“Maaf Kak, aku enggak masuk lagi. Pamitkan saja pada kak Tonny. Assalamu’alaykum,” Sashi memeluk Wwien dengan rasa terima kasih.


“Terima kasih ya Wien,” ucap Sashi.


“Apa sih Mbak, enggak usah sungkan gitu ah. Aku malah jadi enggak enak bila Mbak anggap aku orang jauh,” balas Wiwien tulus.


***


“Bund …,” Wiwien merasa familiar dengan panggilan dan suara itu. Suara yang enam tahun menghiasi hari-harinya walau mereka hanya menikah tak sampai dua tahun.


Wiwien tak mau menoleh. Dia melanjutkan langkahnya. Bahkan mempercepat ayunan kakinya. Dia sangat tak ingin bertemu dengan lalat ijo yang menji-jikkan itu.


“Bund …, please beri kesempatan ayah bicara dulu,” Bayu memegang pergelangan tangan Wiwien.


“Lepas atau saya berteriak kalau anda melecehkan saya,” desis Wiwien. Dia tak ingin jadi tontonan orang dirumah sakit ini. Jaman sekarang semua kejadian bisa viral di dunia maya.


“Ayah akan lepas, tapi ayok kita bicara dulu,” pinta Bayu.


“Kalau mau bicara dengan Wiwien, bisa lewat saya sebagai pengacaranya,” suara bariton dibelakang mereka menyela pembicaraan pasangan mantan suami istri itu.


Wiwien merasa tertolong mendengar suara Tonny. Sedang Bayu tentu kesal. Dia tahu siapa Tonny karena setiap sidang memang hanya Tonny yang datang.


“Anda lupa, bila mendekati Wiwien atau anaknya, kami akan melaporkan anda pada pihak berwajib?” tanya Tonny. Dia mengingatkan materi sidang yang memang dijelaskan kalau Wiwien akan memperkarakan bila Bayu mendekati dirinya atau Awan.


Bayu tak berkutik. Dia lepas cekalannya dipergelangan tangan mantan istrinya itu.

__ADS_1


“Ayok aku antar kamu ke motormu. Aku mau beli obat suntik diseberang rumah sakit,” Tonny mengajak Wiwien meninggalkan Bayu. Dia memang baru dapat resep obat suntik untuk mamanya.


“Terima kasih Kak,” Tonny mendengar nada suara Wiwien bergetar. Dia merasa sedikit terluka mengetahui hal itu. Rasanya dia ingin memeluk perempuan rapuh disebelahnya. Tapi dia tahu Wiwin pasti keberatan.


“Sama-sama. Kebetulan aku harus ke apotik menebus resep yang baru buat mama saat aku melihat kalian,” Tonny memperlihatkan resep yang baru saja dia terima. Dia tak ingin Wiwien menduga kalau Tonny membututinya.


***


Sesuai rencana kemarin, maka pagi ini Wiwien mengolah bihun goreng. Dia menggunakan bihun jagung bukan bihun dari tepung beras. Bihun jagung lebih kenyal dan tak mudah hancur.


Wiwien menumis filet ayam yang dia iris tipis agar matang lebih dulu. Rempela ayam juga sudah dia iris dan rebus lebih dulu agar empuk.


Baru dia campur irisan fillet ayam, rebusan rempela, ati ayam dan baso kedalam tumisan bumbu dan kocokan telur sawi hijau serta kol.


Terakhir Wiwien masukkan bihun yang sudah dia rendam. Dia tambah garam, merica bubuk dan kecap.


“Yeeeaaay, mateng Mbok. Seperti kemarin ya Mbok. Tiga sterofoam. Dikasih sendok dan acar dalam plastik kip. Aku mau mandi,” Wiwien menyerahkan bagian packing pada simbok agar tidak membuang waktu.


***


Siang nanti dia harus menangani kasus Pangestu Hudaya vs Amalia Witri Hudaya. Kasus cukup pelik. Tak ada orang ketiga atau perebutan harta atau anak. Hanya kasus merasa terhina karena cintanya tak dipercaya. Merasa terhina karena dibohongi selama tujuh tahun.


“Assalamu’laykum,” Wiwien memberi sapaan. Dia melihat bu Waode sedang menyatukan semua baju kotor yang kemungkinan akan dibawa pulang oleh driver atau Sashi. Dan Tonny sedang duduk dengan menatap berkas ditemani satu cangkir kopi panas yang masih utuh.


“Wa’alaykum salam,” jawab Tonny sambil mengangkat wajahnya dari berkas.


“Bu, sarapan dulu. Biar saya sapa tante Seroja. Tolong minta baju bersih tante dan diapers serta wash lap dan air ya,” Wiwien memberikan tas makanan yang dia bawa.


“Assalamu’alaykum Tante cantik. Apa khabar pagi dingin ini? Di luar gerimis sehabis hujan sepanjang malam. Semoga banjir di Jakarta kali ini enggak parah ya Tante,” sapa Wiwien. Dan Tonny langsung mendekat pada mamanya begitu dia melihat Wiwien mendekati brankar mamanya.


“Kapan Tante ngobrol lagi? Wien kangen. Wien pengen kita sarapan bersama. Pagi ini Wien masak bihun jagung goreng lho. Tante bilang suka bihun jagung kan sejak nyoba di rumah Wiwien,” kembali Tonny selalu tak habis pikir. Mamanya selalu bereaksi bila Wiwien ajak bicara.


“Nanti kalau Tante sudah bangun, Wien akan suapi Tante ya. Sekarang Wien cuma bisa lap badan tante aja karena Tante enggak makan. Kita mulai bersih-bersih ya biar Tante lebih fresh,” Wiwien menutup tirai dan dia membasuh tubuh bu Seroja bahkan tanpa risih menggantikan diapersnya.


“Nah sekarang Tante sudah fresh. Wien sarapan dulu ya. Tante istirahat. Ingat, enggak perlu pikirin para sampah. Kita bukan sekelas mereka,” Wiwien terus saja bicara seakan bu Seroja mendengar kata-katanya.

__ADS_1


Wiwien mencuci tangannya dengan sabun beberapa kali, lalu dia ke meja makan. “Ayok Bu sarapan dulu,” ajaknya pada bu Waode. Dia melihat Tonny masih sibuk dengan berkas kerjaannya.


“Iya Mbak,” sahut bu Waode yang baru selesai membereskan baju kotor bu Seroja serta wash lap dan baskom yang digunakan membasuh badan. Bu Waode juga memasukkan diapers kotor dalam tas kresek agar tak menimbulkan bau di ruang rawat.


“Wah bikin bihun goreng Mbak?” bu Waode membuka sterofoam jatah sarapannya.


“Iya, seadanya bahan di rumah aja. Kalau pagi saya bikin yang enggak ribet,” sahut Wiwien sambil mulai menyuap bihunnya.


“Kamu enggak ajak aku sarapan bareng?” protes Tonny. Dia duduk didepan Wiwien dan membuka satu sterofoam tersisa.


“Aku takut ganggu. Kakak kan lagi serius,” jawab Wiwien. Sebenarnya bisa saja Wiwien tak makan bersama disana. Tapi kalau itu dia lakukan, pasti Tonny dan bu Waode akan rikuh makan kalau dia masih ada di ruangan itu.


Itu sebabnya Wiwien memutuskan makan bersama saja.


“Wah yang sekarang bukan seafood ya?” komentar Tonny.


“Lebih suka mana antara yang ayam dengan seafood?” tanya Wiwien.


“Aku suka semua asalkan mateng ha ha ha,” Tonny menyuap bihun gorengnya.


“Ini bihunnya beda ya Wien. Enggak seperti yang dari bahan beras. Tadi aku dengar kamu bilang ke mama masak bihun jagung,” selalu aja lelaki ini paling perhatian terhadap jenis bahan dasar masakan.


\===========================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL UNREUITED  LOVE  YOK!



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta

__ADS_1


__ADS_2