UNCOMPLETED STORY

UNCOMPLETED STORY
MENCARI YAYAH


__ADS_3

“Mama ingin kita datang bersama Wiwien juga. Dan ingat, kamu tak boleh satu kali pun bertemu Pricilla atau Bachtiar tanpa Mama. Karena Mama enggak akan bela kamu depan Wiwien bila terjadi suatu hal yang membuat Wiwien kembali marah besar,” sahut Seroja.


“Baik, besok Onny akan bicara dengan Wiwien. Karena sejak kemarin kami bikin kesepakatan Onny akan cerita apa pun sebelum Wiwien tahu dari orang luar yang kemungkinan dia akan beri bumbu agar Wiwien jauh denganku,” Tonny tak ingin ada salah paham lagi. Cukup sudah penderitaannya selama satu bulan tanpa khabar apa pun dari Wiwien.


***


‘Mas enggak sarapan situ ya? Mau bobo dulu,’ Tonny memberitahu Wiwien saat selesai salat Subuh.


Wiwien langsung menghubungi dengan video call. Tentu Tonny senang. Tapi dia kaget ketika melihat Awan yang matanya sudah bengkak karena menangis. “Yayaaaaaaah,” panggil lelaki kecil itu.


Tanpa buang waktu Tonny mengambil tas dan baju ganti untuknya siang ini juga mungkin untuk sampai hari Senin berangkat kerja. “Jangan nangis. Ayah kesitu sekarang ya. Diam sayang. Sebentar Ayah siap-siap.”

__ADS_1


“Ma pamit, Awan nangis sejak tadi sampai tersengal dan matanya bengkak karena nyari Onny,” Tonny hanya salim pada Seroja tanpa minum kopi apalagi sarapan. Padahal niatnya tadi dia ingin tidur lagi sehabis salat Subuh.


***


“Mana Awan Mbok?” tanya Tonny yang masuk secara tergesa pada mbok Ipah.


“Masih rewel di atas Mas,” jawab mbok Ipah. Dia memang beda dengan mbok Ranti yang menyebut Mas pada Tonny, beda dengan mbok Ranti yang memanggil Tonny dengan sebutan Pak.


Tonny langsung ke ruang atas. Dia buka pintu pelan setelah mengetuk agar yang didalam antisipasi bila sedang tak siap dilihat lelaki.


“Yayaaaaah,” Awan menyodorkan dua tangannya pada Tonny. Dan lelaki itu langsung menyambutnya dan menggendong erat dalam da-danya

__ADS_1


“Jangan suka nangis gini. Kan bisa telepon Ayah kalau kamu pengen ketemu,” bisik Tonny. Wiwien sudah turun. Tak enak dia terlalu lama di atas. Lagi dia belum menyiapkan sarapan.


“Udah tinggal aja enggak apa-apa Mbak. Saya bikin pecel pakai sayuran yang kita bawa kemaren dari kampung. Saya bikin peyek juga,” mbok Ranti tahu bagaimana juragan kecilnya histeris mencari Tonny sejak sebelum salat subuh tadi.


“Saya mau bikin bubur buat Awan dulu Mbok. Habis ini dia biar tidur lagi,” Wiwien langsung mengolah nasi ditambah ikan fillet dan aneka sayuran llau dia buat menjadi bubur.


Membuat bubur dengan bahan dasar nasi tentu tak membutuhkan waktu lama. Setelah matang Wiwien membawa bubur Awan dan secangkir air putih ke kamar atas.


“Mas, suapin dulu biar dia minum obat yang dari dokter di Magelang lalu tidur lagi,” Wiwien meminta Tonny menyuapi Awan.


“Sini, kita maem dulu di gendong Ayah ya. Tolong kursinya Bun,” Tonny meminta kursi untuk duduk di teras lalu dia segera menyuapi Awan yang masih dipangkuannya. Tak pakai lama satu mangkok bubur habis. Dan Tonny tak menjeda. Dia langsung meminumkan obat untuk Awan agar lelaki kecil itu bisa dia keloni untuk tidur bersamanya.

__ADS_1


“Udah maem. Kita bobo berdua yok,” Tonny membaringkan Awan di kasur lantai dan dia tepuk-tepuk pelan paha atasnya.


Mungkin karena lelah dan bangun sejak tadi maka Awan langsung tertidur lagi.


__ADS_2