
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
"Mas itu nggak kerja tapi ngelamun," Nisa menegur Bayu.
"Kerja kok," bantah Bayu yang kaget atas teguran istrinya.
"Kalau kerja, layar laptopmu enggak mati gitu Mas." Nisa membantah argumen Bayu yang ngeyel dia sedang bekerja.
Sejak tadi layar laptop mati. Bayu memang memandangi laptop tapi pikirannya tidak ke situ. Karena tidak dipakai pastilah layar laptop akan otomatis gelap walau pun powernya masih on.
Bayu sadar, dia sejak tadi tidak bekerja. Tak bisa lagi berbohong.
"Bagaimana kalau kita bicara Nis?" kata Bayu.
"Ya Mas, kita perlu bicara. Karena sejak rencana menikah kita belum pernah '*bicara*'," Nisa tentu saja setuju. Mereka perlu membahas banyak hal.
"Kita ulang dari awal lagi ya Nis," kata Bayu.
"Kita nikah ini kan nggak niat tapi, pernikahan ini sama sekali bukan main-main. Bukan nikah kontrak atau nikah pura-pura. Kita nikah karena Allah dan bertanggung jawab terhadap Allah."
"Oleh karena itu kita harus jujur, karena kegagalanku rumah tangga waktu itu adalah ketidak jujuran."
Nisa hanya mengangguk. Belum ingin bicara.
"Mobil sebenarnya sejak dulu kalau aku ingin ganti bisa, sangat bisa, tapi aku tidak ingin ganti Nis."
"Kenapa?"
"Karena mobil itu adalah mobil pertama aku dan Wiwien. Kami kredit dari baru bersama. Seharusnya mobil itu dijual dan jadi harta gono gini."
"Tapi Wiwien tidak mau uangnya, jadi mobil aku tahan. Aku tidak menjualnya itu karena ada kenangan manis bagaimana kami menabung untuk mendapatkan mobil itu. Poinnya seperti itu Nis. Kamu harus tahu mengapa selama ini aku menahan mobil itu. Kenangan bersama Wiwien."
"Iya Mas," Nisa menunggu kelanjutan kata-kata Bayu.
"Sejak nikah tadi pagi aku sudah berkeinginan semua tentang Wiwien itu akan aku kubur. Kamu harus bantu Nis."
"Ini bukan persoalan ringan buatku. Besok kita jual mobil itu. Kita jadikan uang penjualan sebagai muka mobil baru."
"Untuk sisanya kita kredit gimana menurutmu?" Bayu melempar wacana pada Nisa.
"Aku manut Mas," balas Nisa yakin.
"Aku tidak mau manut, manut dan manut Nis. Kita harus diskusi."
"Di dalam hal ini aku manut. Karena aku tahu itu benar," kata Nisa.
"Jadi kamu setuju ya masalah mobil?"
"Ya Mas, aku setuju." Nisa menjawab sambil mengangguk. Sejak selesai salat Isya tadi dia membuka hijabnya. Bayu melihat rambut Nisa sepundak. Hitam tebal.
"Kita masuk masalah kedua yaitu nafkah Nis."
"Kamu bisa cek besar gajiku di finance kantor. Semua itu akan langsung masuk ke rekeningmu. Kamu yang kelola."
"Kamu tahu kita harus nyicil mobil, kita harus mulai menabung untuk membeli rumah karena tadi kita bayar kontrak rumah dua tahun dengan estimasi bahwa dua tahun ke depan kita harus sudah beli rumah dari uang tabungan kita."
"Dari uang gaji itu kamu kasih jatah operasionalku saja. Bisa bulanan bisa mingguan. Terserah kamu.
"Uang operasional itu kalau bensin mungkin bisa tiap hari kamu berikan. Tapi maksudnya bukan itu. Aku juga tidak merokok tapi kan nggak mungkin dompetku kosong sama sekali sebagai manusia."
"Pasti nanti aku butuh apa butuh apa di jalan kalau nggak bareng kamu. Jadi besarnya terserah kamu."
"Uang gaji di pegang kamu itu untuk mencegah lelaki pegang uang. Karena lelaki yang pegang uang sering terpeleset bila digoda."
"Di luar gaji kamu tahu kita sering dapat uang proyek. Nah uang proyek ini yang biasanya aku kelola sendiri Nis."
__ADS_1
"Kalau kamu mau ubah silakan. Kita harus putuskan bersama."
"Biasanya uang proyek aku gunakan entah untuk modiv mobil, renov kecil-kecilan rumah atau untuk beli barang. Kadang untuk tambahan tabunganku."
"Tapi karena sekarang kamu menteri keuangannya, mungkin kamu punya kebijakan lain, aku monggo aja. Itu terserah kamu. Kalau uang proyek mau kamu kelola semua, Mas manut." Bayu benar- benar ingin rumah tangganya berjalan tanpa keributan.
"Enggak Mas. Cukup uang gaji yang aku kelola, itu aja sudah berlebih karena Mas langsung masukkan ke rekeningku. Sedang uang proyek biar Mas aja yang pegang," Nisa tak mau mengikat suaminya ketat. Nisa ingin Bayu punya wibawa karena pegang uang.
"Oke untuk selanjutnya masalah hubungan kita berdua Nis. Aku jujur aja nih. Aku jujur aja sama kamu, aku tidak akan menyentuhmu selama kita belum ada ikatan batin. Kita harus berupaya untuk saling mengenal dulu. Aku bukan orang yang gila \*\*\*\* seperti itu."
"Aku selingkuh Itu di luar kesadaranku. Bukan karena aku gila \*\*\*\*. Aku bukan seperti itu."
"Makanya aku bilang kita harus saling mengenal. Semoga kita cepat bisa adaptasi. Kita tidak boleh pisah kamar, walau rumah yang kita ambil ada dua kamar.,"
"Kalau kita pisah kamar ya kita nggak akan pernah menjadi suami istri sesungguhnya." Jelas Bayu.
"Aku ngerti kok Mas," Nisa memang tahu apa maksud kalimat Bayu itu.
"Karena kita belum saling kenal, kasih tahu Nis kamu sukanya apa aku sukanya apa. Jangan pernah ngomong terserah atau manut seperti tadi. Kita harus sharing apa pun info antar kita."
"Misal kamu suka biru atau suka merah ngomong. Kamu suka pedas, suka asin ngomong. Jadi semua harus kita bicarakan. Aku trauma kegagalan Nis. Jujur kegagalan itu karena kesalahanku. Aku tak ingin lagi gagal. Karena itu mohon bantu aku agar aku bisa menjadi imam yang baik." Bayu menyampaikan visi misinya berumah tangga secara gamblang pada istrinya itu.
"Insya Allah," kata Nisa.
"Sekarang kita ngomong masalah kamu Nis. Bagaimana tentang tanggung jawab panti asuhan itu?" Tanya Bayu.
"Itu yang aku pikir Mas. Emang selama ini keuangan panti aku dukung. Itu sih aku nggak problem karena buatku selama ini selain membiayain panti ayah bisa menabung banyak. Jadi sesungguhnya panti tak akan kekurangan uang."
"Tabungan ayah ternyata habis untuk menebus aku beberapa kali. Jadi kalau keuangan panti tak perlu dirisaukan."
"Sekarang yang jadi pikiran adalah sejak aku menikah itu nanti kita harus cari orang yang buat stand by disana membantu ibu," kata Nisa.
"Iya kita harus cari orang yang bisa kita percaya untuk mengelola panti," Bayu setuju usulan Nisa.
"Ada sih keponakan ibu. Dia janda tanpa anak. Mungkin nanti bisa aku minta teteh itu," Nisa rupanya sudah ada bayangan siapa yang akan dia mintai tolong.
"Iya Mas aku ngerti."
"Oke jadi untuk urusan panti kita akan cari orang buat gantiin kamu tanggung jawab. Kalau keuangan panti kamu bisa atur lah karena gaji kita kan nanti lebih dari cukup. Mungkin alokasi dana ke panti bisa lebih besar Nis. Nanti mungkin uang proyek juga bisa masuk situ sedikit."
"Kita tahu kalau uang proyekan nggak bisa kita andalkan karena tidak rutin. Tapi setidaknya dari gaji Mas kan bisa diambilkan olehmu. Mas ridho karena memang niat Mas itu saat dengar kamu selama ini menyisihkan uang gajimu untuk panti," jelas Bayu.
"Sekarang masalah silaturahmi dengan orang tua. Mas pengen tiap minggu itu kita bertemu dengan orang tua Nis. Bergantian, minggu ini kita ke rumah orang tuaku, minggi depannya kerumah orang tuamu."
"Rupanya itu yang dilakukan oleh Wiwien. Tiap hati Sabtu itu dia bertemu dengan bu Seroja, mamanya pak Tonny."
"Hari Minggu dia khusus untuk mereka bertiga," terang Bayu.
"Kok nggak ada ke rumah orang tuanya Mbak Wiwien, Mas?" Wajar dong Nisa tanya gitu. Mendengar itu Bayu emnarik napas dalam.
"Kamu tahu kan betapa baiknya Wiwien?"
"Aku yang sudah menikamnya aja dia bantu urusin untuk pernikahan. Dia yang minta sama ayah dan ibuku untuk memaafkan aku padahal mereka udah buang aku."
"Hanya karena Wiwien yang sudah terluka minta aku dimaafkan, maka kedua orang tuaku memaafkanku."
"Iya aku tahu itu Mas. Lalu ada apa dengan orang tuanya mbak Wiwien?"
"Sejak SMP ibunya Wiwien tidak suka dengan Wiwien. Bukan tidak sayang hanya tidak suka! Beda ya."
"Sejak SMA Wiwien mulai membantah ibunya. Ibunya bilang dia nggak boleh ikut hiking, Wiwien ikut. Enggak boleh ikut kegitatan drama, Wiwien ikut. Dan banyak kegiatan yng dilarang ibunya Wiwien tetap ikut."
"Wiwien itu aktivis. Dia tak bisa diam. Dia tidak manut seperti kakak perempuanya. Ibunya selalu membandingkan dengan kakaknya."
"Bahkan dia buka usaha pun yang aku tahu kemarin ibunya itu selalu mencibir."
"Wiwien kuliah bayar sendiri. Bukan karena orang tuanya nggak mau dan nggak mampu tapi Wiwien yang tidak mau karena harus menjadi guru seperti kakak perempuannya."
__ADS_1
"Wiwien tidak mau, dia mau ngambil ekonomi manajemen. Akhirnya dia kuliah sendiri, bayar sendiri."
"Waktu itu dia kuliah D3. Lalu dia mulai kerja sejak tingkat satu kalau nggak salah."
"Saat bercerai dari aku, Wiwien melanjutkan S1 nya. Saat itu dia sudah mulai punya usaha laundry. Wiwien itu pengusaha Nis. Dia punya tiga laundry, dua toko roti dan 2 usaha ayam geprek."
"Wow," Nisa kaget ternyata Wiwien bukan perempuan sembarangan.
"Iya dan itu semua dari uangnya sendiri bukan dari uang Tonny. Aku tahu dari cerita ibu kemarin sebelum pernikahan."
"Semua dia biayain sendiri. Dia juga sudah beli rumah yang dia pakai buat usaha laundry. Dan yang aku tahu kemarin dia sudah membayar ruko yang selama ini dipakai buat usaha. Ruko itu sudah dia beli."
"Kembali ke masalah ibunya Wiwien. Karena sudah punya usaha lalu saat Wiwien nerusin S1 ibunya ngomong buat apa dia kuliah Buang-buang duit, buang waktu. Usahanya nggak butuh ijazahnya."
"Makanya Wiwien nggak suka ibunya selalu memandang negatif. Apa yang dia lakukan selalu di cela. Bahkan saat menjadi janda pun ibunya selalu rewel mengekang. Dia nggak boleh keluar rumah lah apalah karena nanti diomongin tetangga."
"Maka Wiwien memilih tinggal di ruko biar bebas dari ibunya."
"Sebaliknya ayahnya itu sangat sayang pada Wiwien. Hubungan mereka sangat dekat. Nah pak Teguh itu kalau pulang kerja sering mampir ke rumah Wiwien sehingga Wiwien nggak perlu datang ke rumah ibu daripada dia sakit hati."
"Bahkan saat menikah pun ibunya tidak diberitahu dalam artian tidak dilibatkan."
"Saat akan langsung menikah Wiwien bikin acara di rumah ibunya dengan alasan hanya lamaran, tapi dibikin pasang tenda besar dan segala macam catering. Ibu Wiwien kaget ketika ada penghulu dan ayahmya siap jadi wali nikah."
"Ibunya tidak dilibatkan begitu pun saat resepsi. Ibunya tidak dilibatkan dalam persiapan ibunya tinggal berdiri di panggung aja mendampingi mempelai."
"Sejak akad nikah sampai resepsi itu yang ngurus adalah ibuku dan mamanya Tonny atau bu Seroja yang tadi pagi datang. Kita harus panggil dia mama karena dia bilang aku adalah anaknya."
"Bayang kan Tonny dan Wiwien itu adalah orang-orang baik. Kamu harus tahu aku memang sangat mencintai Wiwien. Sangat mencintai dia."
"ITU DULU Nis, sekarang aku harus mengubur rasa cinta itu pelan-pelan. Tolong bantu aku. Dia adalah adik atau kakak terserahlah. Pokoknya tak boleh ada cinta dan kamu juga jangan sampai cemburu. Bantu aku," pinta Bayu serius.
"Iya Mas kita akan berupaya bersama. Mohon kalau aku salah juga Mas tegur, karena kita sama-sama baru. Walau Mas pernah berumah tangga tetap aja kita baru kan,"
"Sejak tadi itu aku ngelamunin saat pertama aku bisa kena pengaruh buruk dan berselingkuh. Aku takut itu terulang. Aku enggak ingin gagal lagi," ucap Bayu jujur.
"Udahlah Mas nggak usah diingat-ingat lagi masalah itu." Bujuk Nisa.
"Bagaimana nggak diingat sih? Okelah masalah Wiwien udah berlalu, tapi kenapa aku bisa jatuh pada peremuan seperti itu." Keluh Bayu.
"Itu untuk pelajaran Mas. Jangan sampai kita terjebak lagi," hibur Nisa.
"Sampai sekarang Wiwien itu nggak mau punya pegawai perempuan muda. Entah di laundry-nya, di gerai rotinya atau ditempat ayam penyet nya. Karena dia trauma. Mungkin itu juga pelajaran buat kita nanti."
"Jangan sampai ada orang yang bisa masuk celah. Kalau ambil pengasuh anak atau apa kita harus mikir dulu karena walau aku nggak niat sekali pun buktinya kemarin terjadi kok gitu loh. Bukan aku melakukan pembelaan diri tapi untuk pembelajaran kita," kata Bayu lagi.
"Aku nggak ngerti gimana kalau Wiwien saat itu nggak pasang CCTV. Mungkin sampai sekarang aku masih dengan perempuan itu dan Wiwien sudah mati karena pelan-pelan pasti akan diracuni oleh perempuan busuk itu. Begitu pun dengan awan."
"Untung Awan masih tertolong karena baru dua bulan dia mulai dikasih obat."
"Jahat sekali ya perempuan seperti itu."
"Ya gitu lah. Aku nggak ngerti manut aja."
"Udah lah Mas. Sudah nggak usah dipikirin. Sekarang tidur aja yuk besok kita kerja lo."
"Oke," Bayu mematikan laptopnya dan mereka pun tidur. Nisa tidur di bed untuk penunggu pasien sedang Bayu tidur di sofa.
***Ditunggu komen manisnya ya***.
***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.
***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.
Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul INFIDELITY BEFORE MARRIAGE ya.

Dan sekali lagi yanktie ingetin jangan lupa subscribe cerita dengan judul INFIDELITY BEFORE MARRIAGE itu ya.
__ADS_1