Adventure Of Lord Lausius

Adventure Of Lord Lausius
Episode 100


__ADS_3

Sekonyong-konyongnya mereka mengenang, tiba-tiba para gort datang bergerombolan.


Ah, suara-suara menyeramkan itu lagi-lagi yang mengejutkan Sean dan yang lainnya.


ROARK! Suara itu muncul dari balik semak-semak di atas gundukan tanah. Di ujung jalan itu, mereka memasuki jalan yang masih tertata sempurna.


"Jangan takut, mereka hanya makhluk lemah tak berguna," kata Gordon santai. Dia berdiri, Godam besar di pundaknya menyambut kedatangan para gort. "Hal ini lazim terjadi. Sudah makanan ku setiap malam menumpas-kan mereka!" ujar Gordon memberitahu.


Gordon bak pahlawan pemberani, siap menjamu tantangan si Gort. Menyebalkan bagi Gordon saat Godam besarnya itu harus lagi-lagi kotor karena darah para makhluk menjijikan itu. Padahal sebelumnya dia sudah membersihkan setiap jeruji besi Godam-nya itu.


"Apakah kau perlu bantuan?" Jessica menawarkan. "Aku siap membantu menumpas-kan mereka dengan panah ku ini," ucapnya dengan berani.


Gordon melirik gadis penantang ini. Dia memeriksa seluruh bagian tubuh anak itu dengan seksama. "Kau tidak bisa di remehkan walau aku meragukan mu," katanya agak apatis. Tubuh ramping Jessica memang tidak meyakinkan untuk bertarung, tapi keberaniannya patut di uji.


"Itu artinya aku boleh bergabung?" Jessica memastikan dengan benar.


Gordon mendongak dagu Jessica, sepasang mata itu amat meyakinkan untuk bertarung. "Aku yakin, kau pasti gadis yang tangguh. Walau kau sempat aku ragukan," ungkap Gordon.


"Kau tak perlu meragukan ku. Jangankan satu Gort, bahkan ratusan Gort bisa aku musnahkan dengan panah ku ingin!"


"Aku percaya itu nak. Mari keluarkan seluruh amarah mu malam ini," katanya memancing semangat yang membara.


Sean tak ingin ketinggalan, dia juga ingin menikmati pertempuran ini. "Jangan lupakan aku!" ujar Sean mengingatkan. "Pedang pemberian wanita itu cukup ampuh melunakkan tulang-tulang siluman menjijikan itu."


Gordon mengelus rambut hitam Sean. Dia menundukkan kepalanya di hadapan anak itu. Ya, Sean yang tinggi untuk ukuran remaja pun, masih terlihat kecil di hadapannya. Gordon melihat sepasang bola mata hitam itu. "Aku juga yakin, Lausius yang terakhir pasti lebih tangguh dari saudara-saudara Lausius lainnya. Apalagi pedang merah dari Marmaida, kau pasti memiliki keberanian di balik tubuh kurus mu itu."


Jari-jari tangannya yang besar menjengkelkan bagi Sean. Dia merusak tatanan rambutnya yang indah itu. "Bisakah kita maju sekarang!" tegur Sean mengingatkan.


Si kasur lupa kalau ada makhluk menjijikan itu di belakang mereka.


"Ayolah anak-anak, kalian membuat ku semangat dalam bertarung." Si gemuk obesity ini memang tak gentar. Seakan ratusan para Gort yang sudah mendekatinya, di anggap seperti pohon-pohon yang siap di tebas.


Gordon maju ke depan. Dia sungguh patut di acungi jempol. "Sebelum bertarung, jangan lupa, lakukan pemanasan. Mereka makhluk yang pantas di kasihani."


Sean dan Jessica yang sudah siap dengan senjata masing-masing, mendadak saling lempar pandangan. Gordon yang ada di tengah mereka bertingkah tak biasa. Dia meregangkan seluruh badannya, seperti orang-orang yang sedang ingin senam. Dia pun melakukan pemanasan.


Kadang memutar lehernya ke kanan, ke kiri, atas dan bawah. Pergelangan tangan pun tak lupa dia lemas-kan.


"Apa dia mencoba menjadi instruktur senam?" ucap Jessica pelan.


Sean mengangkat kedua bahunya. "Mungkin ketika dia pensiun menjadi prajurit tempur, bisa jadi beralih menjadi seorang instruktur senam," singgung Sean dengan bualan kekonyolan itu.


Uh, sama saja pikir Jessica. Dua orang itu sama-sama suka berkata konyol di saat situasi menegangkan seperti ini.


Dan saat para Gort sudah ada di depan mata, dua jenis mereka sangat mengerikan. Si kerbau dan si serigala itu makin buas tiap kali di lihat. Moncong-moncong dan cakar si siluman serigala itu kian hari makin garang. Apalagi si kerbau bertanduk itu, entah dari mana hasil genetika itu, mereka bisa berbadan kekar.


ROAR!! Para Gort saling meloncat ke udara. Saat raungan itu mencoba menerkam, dengan santainya Gordon menebasnya dengan Godam besarnya.


BRUK!! PRAK!! Satu Gort berhasil dia lumpuhkan. "Begitulah cara mengalahkan mereka, anak-anak!" katanya sambil tersenyum puas.


Kata-kata itu makin membuat anak-anak semakin semangat. Pedang Sean menghunus seluruh Gort yang menyerang. Suara raungan itu cukup asik di dengar walau mengerikan.


ZRET!! ZRET!! Sean menyayat tubuh siluman itu. Hingga mereka mengeluarkan darah di sekujur tubuh. Darah berwarna hijau itu mengepul. Puluhan Gort berhasil di tumpaskan.


"Wohooo! Mengasyikan bukan?" teriak si beruang kegirangan. Sambil bertarung, si badan besar itu sempat-sempatnya membual. Bahkan adu pedang antara gort dan Godam Gordon tak begitu dia hiraukan. Seakan suara itu seperti sebuah suara pecahan piring.


Jessica mengangguk saat dia berkata kegirangan. "Sangat mengasyikan. Aku merasa mereka memang pantas di musnahkan," sahut Jessica setuju pada Gordon.


"Awas di belakang mu nak!" teriak Gordon pada Sean. Di belakang anak itu, Gordon menyerangnya dari belakang.


Sean berputar secepat kilat, mengibaskan pedangnya, hingga kepala Gort di belakangnya terputus menjadi dua bagian.

__ADS_1


"Kerja bagus Nak. Kau hebat," ujarnya memuji. Mengacungkan jempolnya yang besar pada Sean...


"Terima kasih," ucap Sean. "Kau pahlawan di sini," balas Sean memuji.


"Kau hanya perlu berhati-hati, mereka ada dari segala arah."


Seakan seperti bukan pertempuran, pria berbadan besar itu sangat santai dalam bertarung. Jalannya yang meng—egang itu benar-benar sudah menjadi ciri khasnya.


Dari ujung ke ujung jalan. Dari semak-semak, para gort keluar secara acak. Mereka menyerang sedemikian rupa, namun, bukan si kasur berjalan namanya jika dia gentar. Mungkin sudah puluhan Gort yang sudah terkapar di tangannya. Berkat bantuan Godam besar nan beratnya itu, si janggut berantakan ini berhasil mengalahkan para gort.


"Hei bocah manis," tegurnya pada Jessica yang membara dalam membidik. "Apa kau butuh bantuan?"


Jessica sedang asik bermain, mana mungkin dia butuh bantuan Gordon. "Tenang saja, aku bisa mengatasinya," kata Jessica yang berani.


Gordon tahu itu, si bocah manis Jessica pasti bisa mengatasi para makhluk mengerikan ini. Mereka bukan siluman, tidak tahu asal mereka dari mana. Yang jelas, mereka benar-benar buas dan rakus.


Kelincahan tubuh Jessica membuat si gemuk terpana. Karena asik menyaksikan si Jessica, dia hampir melupakan kalau dia sedang bertarung. Alhasil, Godam besarnya yang di gunakan sebagai penangkis serangan pedang besar salah satu Gort, terpental lumayan jauh.


TRANG!! Gordon benar-benar jengkel, senjata andalannya terpental ulah si bertanduk.


Saat si Gort kerbau kembali melayangkan pedangnya, Gordon tak memiliki apapun sebagai pelindung. Kecuali..... Di pergelangan tangannya ada semacam gelang yang terbalut dari besi.


Beruntung, dia berhasil menangkisnya menggunakan tangan yang di lindungi besi baja itu. "Kau sudah mengusik kemarahan si benteng perkasa. Maka kau harus menerima ganjarannya!" kata Gordon mulai berang sejadi-jadinya.


Tangan-tangan kekar itu tanpa perasaan langsung menarik kedua tanduk panjang milik gort hingga tanduk tajam itu patah.


Patahan tanduk itu membuat si siluman kerbau meraung-raung kesakitan. Hingga tubuhnya sempoyongan, dia menahan sakit yang tak terelakan.


Kaki besar Gort dengan kejamnya menginjak kepala si bertanduk. Sampai kepala itu penyok tak berbentuk. Rarrr, Gordon meraung-raung. Kali ini, dia benar-benar ganas. "Jangan pernah bermain-main dengan Gordon si benteng perkasa. Atau kalian akan mati."


Kata-kata itu cukup sangar. Di ambilnya kembali Godam besarnya. Kali ini si gemuk beruang makin bringas. "Gra.... Kalian memancing ku."


Oh, si Gordon mengamuk. Sekali pukul puluhan Gort yang berbadan besar melayang di udara. BRAK! BRUK! Dia mengganas tak karuan.


Pertarungan berhenti setelah beberapa gort tak mampu lagi menyerang. Dan sebagian lagi yang baru saja muncul dari semak-semak di gundukan tanah itu memilih kabur. Jessica ingin mengejarnya, namun Gordon menahan.


"Tidak perlu di kejar," tahan Gordon. "Besok malam mereka akan kembali, biarkan mereka pulang dengan kekalahan besar."


Jessica menurutinya, tapi dia menyesalkan tindakan Gordon menghentikannya. Dia masih ingin bertarung sampai si siluman itu benar-benar habis.


Gordon kembali ke tempat semula. Di dekat api, dia duduk menyantai-kan badannya. "Mereka akan kembali besok malam. Tidak perlu kalian mengejarnya," katanya lagi mengulangi perkataan.


"Apakah mereka ke sini setiap malam?" Jessica ingin tahu.


Gordon mengangguk. "Mereka akan membawa pasukan yang lebih banyak lagi setiap malamnya."


Nampaknya sudah menjadi kebiasaan mereka menyisakan beberapa kawanan. Sebagai pertanda bahwa mereka pulang dalam keadaan kekalahan. Jessica paham sekarang, itulah kenapa beberapa di antaranya lebih memilih kembali dan tak mau menyerang.


Sean duduk terpaku diantara keduanya. Terlihat jelas, dia seperti memikirkan sesuatu dalam benaknya. "Apa yang kau pikirkan Sean?" tanya Jessica seraya menegur.


"Aku memikirkan ide keluar dari tempat ini," jawab Sean.


"Hei, nak," Gordon yang membersihkan karang giginya menyela. "Aku sudah lama di sini. Hingga saat ini aku tidak menemukan jalan keluar sama sekali. Pintu di depan sudah hilang saat kalian masuk di sini. Kita sudah di takdir-kan tinggal di sini selama-lamanya," ucapnya santai. Seolah dia menyerah mencari ide jalan keluar, yang ada hanyalah pasrah. Ya, dia memilih pasrah dari pada keluar dari tempat ini.


Bukan Sean namanya kalau dia bersikap bersebrangan dengan orang-orang yang tak sepemikiran dengannya. Sean kontra pada pemikiran si Gordon. "Kita belum mencoba. Sebaiknya kita cari dahulu jalan keluar, setelah itu baru berpikir bagaimana bisa menemukan pintu yang akan mengantarkan kita meninggalkan tempat ini."


"Ehm, aku setuju dengan mu Sean," sahut Jessica senada. "Tidak ada salahnya kalau mencoba. Bukankah ada baiknya gagal sejak awal dari pada tidak mencoba sama sekali?"


Pria berjanggut panjang itu mengelus jenggotnya yang panjang. Kadang merapikan kumisnya, mendongak kepalanya ke atas, seakan dia juga sedang memikirkan hal yang sama seperti yang Sean dan Jessica pikirkan. "Baiklah. Jika kalian sudah memutuskan ini secara bulat, maka aku akan mendukung kalian mencari jalan keluar ini!" ujarnya tak berdaya. Anak-anak itu sangat bersikeras, dia tak mampu menahan keinginan mereka.


"Tapi bagaimana cara kita menemukan jalan keluar dari sini Sean?" Jessica kali ini memulai perkataannya. "Bukankah jalan masuk kesini sudah hilang?"

__ADS_1


Sean sudah memikirkan hal ini sejak tadi. Namun Sean tidak lupa pada perkataan empat roh di dalam kuil yang mereka temui sesaat yang lalu. Dia memberitahu ke Utara. "Apa kau ingat pada ucapan ke empat roh yang meminta kita pergi ke Utara beberapa saat yang lalu?" Sean mengingatkan Jessica.


"Ya, aku ingat," jawab Jessica. "Pergi ke Utara."


"Itu kemungkinan jalan keluarnya!"


"Apa kau yakin, Sean?" Jessica agak meragukan.


"Bukankah tadi kau yang mengajak ku mengikuti instruksi mereka?"


"Tidak," Jessica menggeleng. "Aku tidak pernah mengatakan apapun pada mu sejak kau meninggalkan ku di hutan itu tadi," kata Jessica berkata sejujurnya.


Oh, iya. Sean ingat. Tadi itu bukan Jessica yang berkata padanya, tapi si penyihir buta. Sean termangu sejenak, si buta itu benar-benar menipunya.


"Kenapa kau terpaku, Sean?" tanya Jessica. "Apa kau sudah menemukan ide?"


"Sebaiknya kita ke Utara, bisa jadi para roh itu tadi berkata benar." Sean berkeyakinan penuh, walau tadi si penyihir buta sempat ingin menipunya, tapi dia percaya tak percaya. Mungkin benar, kalau jalan keluar dari tempat ini adalah jalan setapak di samping kuil tadi.


Gordon yang melihat percakapan kedua anak itu, tiba-tiba menarik kerah belakang leher kedua anak itu. Mengangkat kedua tubuh kecil keduanya itu dan membawanya meninggalkan kedai bobrok beserta api yang tengah menyala.


"Kalian terlalu lamban dalam berpikir. Kita pikirkan ide lainnya sambil berjalan," katanya yang tak sabaran.


"Oke, kita menuju ke arah Utara. Aku kali ini percaya pada mu, Sean," Jessica melimpahkan semua ini pada Sean. Anak itu ahli dalam menemukan dan memecahkan sebuah misteri.


Mereka menuju ke kuil tempat Sean dan Jessica bertemu empat arwah itu tadi. Bukan masuk ke kuil itu lagi, tapi mengambil jalan setapak di samping bangunan di pojok hutan itu. Saat menyusuri jalan tanah itu, mereka melewati sebuah air terjun yang tingginya mencapai beberapa meter saja.


Tepat di pinggir air terjun ada sebuah sumur, dan di sebelahnya lagi ada batu. Di atas batu itu ada mayat yang tergeletak di sana.


"Uh, baunya menyengat," keluh Jessica sambil menutup hidungnya.


"Mereka adalah prajurit di kota. Mereka meninggal beberapa hari yang lalu," sambar Gordon memberitahu.


"Oh, pantas saja baunya masih menyengat."


Sean hanya melihat sekilas. Begitu banyaknya lalat yang mengerumuni bangkai itu. Dan di dalam sumur sekilas juga ada beberapa mayat. Di mana-mana mayat pikir Sean.


"Kenapa hanya kau sendiri yang masih bertahan di sini juga hanya kau sendirian yang masih selamat? Bukankah kau juga prajurit dari kota?" Singgung Sean yang ragu pada pria gemuk ini.


"Hei, nak," pria itu berjalan meninggikan dagunya. Seperti jalan orang-orang angkuh. "Aku si benteng perkasa, tidak mudah di tumpas-kan. Kau pikir aku akan semudah itu mati di tangan para makhluk-makhkuk jelek seperti mereka."


Ada benarnya juga. Sean sudah melihat kehebatan si kasur berjalan ini dalam bertarung.


"Nanti aku jelaskan lebih lanjut kenapa aku bisa selamat. Kalian temukan dahulu jalan keluar, baru kita bincang-kan lagi masalah ini."


"Benar, Sean," timpal Jessica. "Temukan dahulu jalan keluar dari sini. Baru kita pikirkan hal-hal lainnya."


Jalan mereka sudah melewati pertengahan hutan. Ada dua jalan yang membentuk persimpangan. Jalan pertama adalah jalan yang lurus, sesuai dengan jalan yang hendak Sean ambil menuju ke Utara. Lalu ada jalan lain yang menyimpang ke kanan.


"Lurus, atau berbelok?" Sean meminta pendapat kedua orang itu.


"Lurus saja. Bukankah kita ingin ke Utara," Jessica menjawab lebih dahulu.


"Mau lurus atau belok ke kanan, sama saja," Gordon ikut berkata. "Kedua-duanya menuju ke Utara."


"Kita pilih jalan lurus dahulu. Jika ini jalan buntu, maka kita kembali lagi ke jalan ini," Sean setuju pada Jessica. Dan si gemuk hanya bisa mengikuti langkah kedua anak itu.


Berjalan terus menuju ke jalan lurus di depan mereka. Selama melewati jalan di tengah hutan ini, ada telaga kecil yang mereka lalui. Lalu ada rumah yang terbakar. Nampaknya baru kemarin rumah itu terbakar. Sebab asal masih tersisa dari kayu-kayu yang di lahap si jago merah. Dan di sebelah rumah terbakar itu ada lagi jalan setapak. Jalan itu menanjak, karena ada gundukan tanah. Tidak jauh dari rumah yang sudah hangus ini, ada lagi rumah. Mungkin itu akhir dari rumah perkampungan penduduk.


Mereka bertiga tidak menghampiri rumah terbakar itu. Mereka tak begitu memperdulikan apa yang baru saja mereka lihat. Sekian berjalan, mereka menaiki jalan agak menanjak sedikit. Tapi, di atas gundukan tanah berumput itu, ada lagi batu besar yang sama seperti yang terlihat di pintu masuk ke perkampungan.


Batu itu sama, terukir sebuah gambar abstrak. Batu itu berada di sisi kiri jalan setapak, dan di sebelah kanan ada dua pohon. Di sana juga Sean melihat ada batu kecil yang di bentuk rapi seperti kotak. Walau Sean melihat sekilas, tapi dia tak begitu tertarik ingin melihat. Namun jelas, di sana juga terukir sebuah gambar, tapi berbeda dengan gambar yang ada di atas batu. Kali ini gambar di bawah pohon itu menampilkan seperti...... Gambar, yang sulit di tebak.

__ADS_1


"Sama dengan batu yang ada di luar kampung," kata Sean menyamakan.


BERSAMBUNG


__ADS_2