
LAGU : SONG OF DESERT (SKY-ALAN. W)
LATAR. : GURUN
NOTE. Cobalah membaca novel fantasi di sertai mendengarkan lagu dari AW (Sky). Aku sudah mencobanya, dan imajinasi mengenai novel fantasi rasanya makin nyata dan luas. Seakan terbawa dalam suasana novel.
Selamat membaca!!
_____________________________________________
Sean berlari amat kencang. Mungkin sudah puluhan kilo meter dia lalui, bahkan tak sekalipun dia menoleh ke belakang ataupun berhenti.
Sean tidak lelah, rasanya itu aneh. Biasanya manusia yang berlari dalam waktu yang lama pasti akan kehilangan separuh napasnya, dan napas yang di tarik pasti akan melambat. Bisa jadi akan mati kelelahan, akibat berlari sejauh ini.
Namun ini berbeda, Sean tak merasakan napas yang tersengal-sengal. Justru Sean seakan berjalan normal. Tidak memburu napasnya, ataupun hampir kehabisan napas. Walau larinya tergopoh-gopoh, Sean tak peduli.
Sebelumnya Sean melewati gurun pasir yang luas, tak ada celah tempat berteduh di manapun. Sekarang, Sean melewati dua celah jalan lebar—yang biasa di lalui oleh para pejalan.
Sean ingat, Medusa pernah berkata, selama berlari tidak menoleh ke belakang, maka dia akan menemukan celah tebing membentuk lorong yang memanjang. Dan Sean sudah menemukannya, benar apa yang di katakan oleh Medusa. Wanita itu memberitahu kebenaran, bukan sesuatu yang justru membuat Sean bimbang dalam kesesatan.
Sean berlari, menyusuri jalan di depannya. Di sisi kanan dan kiri Sean adalah dua tebing yang menjulang tinggi, persis seperti yang di katakan oleh Medusa. Sinar matahari tidak terlalu menembus kedalaman ruang celah ini, dan Sean agak lega. Dia tak begitu merasakan teriknya mentari.
"Huh!" Sean menyeringai, menyeka keringat kecil-kecil yang keluar dari keringatnya. Sean berhenti sebentar di tempat yang menurut Sean aman. Satu tangannya menyandar di bebatuan, satu tangannya lagi menekuk di lutut. Sean tertunduk, sedikit merasa haus. "Sudah sejauh ini aku berlari. Apakah tidak ada yang mengejar ku saat ini?"
Sean menoleh ke belakang. Dan ini kali pertamanya menengok ke belakang, sejak Sean berlari kencang memasuki gurun ini.
Aman. Sean tak melihat siapapun yang mengejarnya atau mengikutinya. Beruntung, Sean penurut, dia tidak akan menyangkal perintah Medusa. Demi menemui pintu keluar dari gurun ini. Jika Sean berontak, bisa jadi dia tidak akan sampai di tempat ini.
“Medusa bilang, aku harus terus berlari menyusuri celah tebing ini. Di ujung tebing akan ada kuil ular, dan tidak jauh dari sana pintu itu berada. Itu artinya, perjalanan ku masih cukup jauh.”
Seandainya ada jam, mungkin Sean sudah menghitung seberapa lama dia berlari di tempat tandus nan gersang ini.
Beberapa saat setelah Sean beristirahat sejenak, kembali. Kakinya merasa dia harus berjalan cepat menuju ke pintu itu. Sebelum dewa iblis dan yang lainnya menemui dirinya.
“Aku harus pergi dari sini sekarang. Jangan sampai orang-orang itu menemukan aku di sini,” ucap Sean beride.
Sean melanjutkan lagi perjalanannya. Dia ingin secepatnya meninggalkan tempat ini. Tempat yang seharusnya tidak di jamah oleh Sean—bahkan di temui juga di datangi olehnya. Sean mulai beranjak pergi, apapun bentuknya dia harus keluar dari gurun gersang ini.
Namun-
Oh, tidak! Sial, Elius tiba di depannya.
“Kau!!!”
Elius tersenyum kecut ketika melihat Sean ternganga. Sean sudah ada di pandangan Elius, dan ini kesempatan bagus bagi Elius.
"Kau ingin kabur rupanya!" kata Elius sumringah puas.
"Apa masalah mu jika aku ingin pergi. Kau bukan siapa-siapa di sini. Dan kau tak berhak menahan ku!"
Elius terbahak-bahak kala melihat ke-berang-an Sean. Unik rasanya melihat anak itu saat tak bisa menahan amarahnya.
Elius melirik Nekabudzer, dan dengan isyaratnya, dia meminta pria di belakang Elius agar bertindak.
Isyarat itu di tangkap baik oleh Nekabudzer. Dengan cepat, dia langsung bergegas menyerang Sean.
Sean terperangah, lagi-lagi kecepatan bak angin itu yang mengintainya. Nekabudzer berputar, mengelilingi Sean layaknya pusaran tornado. Bahkan menciptakan awan debu dari gurun pasir.
Sean mengikuti arah bayangan yang berputar cepat ini. Pusing, sungguh. Sean merasa kepalanya sakit menyaksikan Nekabudzer berputar dengan bangga dan riang.
“Iblis ini. Dia pasti sengaja mengecoh ku!”
Mata Sean kembali berbinar bercahaya, setiap pergerakan dari iblis ini, Sean perhatikan dengan jelas.
Manik-manik mata Sean menyudutkan setiap pergerakan Nekabudzer. Namun, itu tidak mudah. Faktanya, Sean bahkan tak tahu di mana tubuh makhluk gila itu.
“Hahaha..... Kali ini kau tidak akan bisa lepas dari genggaman ku Lausius. Kau di takdirkan menjadi persembahan kepada Elius. Demi kesempurnaannya, kau akan menjadi santapan para dewa petir kali ini. Hahaha....”
“Jangan harap itu terjadi iblis jelek!” sahut Sean berang. “Akan aku buat kau merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang pecundang.”
Sean lebih dahulu menyerang, karena pusaran angin yang di ciptakan oleh Nekabudzer amat kuat, memaksa Sean harus menebas pedangnya sembarangan.
“Hiya....”
Setiap bayangan hitam dari awan debu yang mengitari Sean ini, dia berharap satu di antaranya mengenai tubuh Nekabudzer.
Namun itu gagal, setiap Sean melakukannya tetap tidak mengenai sasaran. Yang ada hanya pekikan dari tertawa jahat sang Nekabudzer.
__ADS_1
Sayap Sean mengepak, terbang di udara, kemudian mencari lagi sumber suara dewa iblis.
“Sudah berkali-kali aku menyerangnya. Namun tak ada satupun dari bayangan itu mengenainya. Bagaimana aku bisa keluar dari lingkaran ini!”
Sambil berkata pelan, mata yang bercahaya indah itu terus menelisik ke mana tubuh Nekabudzer itu berada. Benar saja, Sean tidak menemukan di mana tubuh Nekabudzer, yang ada hanya tornado besar yang mengitarinya.
“Sial!”
Elius tersenyum puas ketika Sean sudah terperangkap dalam jebakan Nekabudzer. Dan inilah kekuatan dahsyat dari Nekabudzer, yakni menyudutkan lawannya. Bagi Elius, tak ada yang lebih berguna di dunia ini, selain mendapatkan Lausius. Itulah ambisi terbesarnya.
“Bagus Nekabudzer. Kau melakukan yang terbaik. Ehm....”
Sudut bibir Elius tersungging, memaksa dirinya harus berbangga hati —karena ambisi mendapatkan Lausius ada di depan mata. Tak ada yang menghalanginya kali ini, termasuk ketiga makhluk pecundang itu. Elius malas mengakui keberadaan mereka.
“Sebentar lagi keabadian ku akan mencapai puncaknya. Dengan begini, aku akan bisa menguasai istana Shutanhamun bahkan tanah surgawi ini. Hahaha.....”
Jari jemari Elius, dia mainkan dengan licik. Meremas setiap buku-buku jari. Menggenggam erat misi dan ambisinya dalam niat yang sudah menguasai pikirannya. Imajinasi itu di perkuat dengan terperangkapnya Sean. Akan tetapi—
“Jangan puas dahulu Elius!”
Dari belakang Elius berdiri, pusaran tanah tandus tercipta. Elius menoleh cepat, dan dia yakin. Ini bukanlah pusaran angin yang di ciptakan oleh Nekabudzer, tetapi—
“Dewa iblis!” ucap Elius pelan. Matanya jengah melihat kedatangan iblis itu di depan matanya.
“Hahaha.... Kau terlalu berniat, sehingga melupakan aku di sini!”
Dari balik pasir yang berpendar, tubuh api si iblis itu mulai menampakkan dirinya dengan jelas. Elius tahu, si pecundang satu ini pasti akan datang, dan Elius sudah menunggu saat yang tepat ini.
“Ehm.... Kau kira bisa mengatasi ku kali ini!” kata Elius menantang lebih dahulu.
“Kita coba saja!”
Tantangan dari Elius, seakan di remehkan oleh dewa iblis. Seolah dia lupa pada kejadian kekalahannya melawan Elius atau Nekabudzer.
Elius mengeluarkan pedangnya dari balik jemarinya. Hanya dengan satu kali jentikkan tangan, pedang itu sudah nampak di mata.
Elius tersenyum sesaat, kemudian pikiran untuk membunuh dewa iblis itu sudah menggelora. Tak bisa di tawar lagi.
“Tak akan aku biarkan kau mendapatkan mangsa ku kali ini. Kecuali kau mati di tangan ku. Hiya......”
“Maka, akan aku buat kau merasakan akibatnya karena terlalu meremehkan aku.”
Dentingan suara pedang kedua makhluk itu menggema di celah dinding bebatuan yang luas. Bahkan mampu memperluas jaringan pergerakan mereka yang sedang bertempur.
Pedang besar dewa iblis, mendarat sempurna di pedang Elius. Pria itu menahannya, sementara percikan kekuatan keluar dari setiap tajamnya pedang.
Namun, kali ini berbeda. Sialnya bagi Elius, gempuran pedang dari dewa iblis tak mampu hanya di tahan saja. Di luar dugaan, dewa iblis jauh lebih kuat dari dugaannya.
Elius terpental, karena kekuatan dahsyat dari dewa iblis. Punggung Elius menabrak tebing di belakangnya. Hingga menciptakan sedikit keretakan di celah bebatuan yang amat keras.
“Hahaha..... Itulah kenapa aku pura-pura bodoh di hadapan mu wahai Elius. Karena aku hanya menguji kekuatan mu saja.”
Elius menahan sakit di dadanya. Satu tangannya ikut terluka, akibat goresan dari pedangnya sendiri. Sementara wajah menawannya ikut terluka, walau sedikit, namun itu cukup membuat dewa iblis berbangga hati. Bisa meninggalkan jejak di tubuh kebanggan Elius.
Elius menatap sinis wajah dewa iblis. Di udara, dewa iblis yang tengah melahai tertawa terbahak-bahak, makin menambah irama tawanya. Seolah itu adalah ledekan pada Elius. Elius makin gontai berang, dia ingin merobek mulut yang telah menghinanya begitu.
“Dia semakin kuat. Aku yakin, dia pasti sudah menyiapkan semua rencana ini.”
Elius mendengus, senyumnya mulai memaksa melicik ketika dia kalah untuk pertama kalinya di tangan dewa iblis.
Elius mengangkat kembali pedangnya. Menancap di pasir, agar mampu berdiri kokoh.
Akan tetapi, sebelum dia melakukan pembalasan, Nekabudzer menghentikan Elius. Memapahnya, agar berdiri normal.
“Kau jangan gegabah. Kau terluka!” kata Elius memberitahu.
“Uhuk.... Aku tidak peduli. Aku harus membunuhnya sekarang juga, agar tak ada yang menghalangi ku dalam menguasai Lausius ini.”
“Kau saat ini terluka. Bagaimana kau bisa mengatasinya.”
Nekabudzer menyadari perubahan drastis dewa iblis, dia tahu. Nekabudzer menyadarinya ketika dewa iblis memilih kabur setelah dia kalah dalam pertempuran beberapa waktu yang lalu. Nekabudzer bahkan tak bisa memprediksi dengan benar apakah dia mampu mengalahkan dewa iblis kali ini.
Sean yang masih terbang, apalagi Nekabudzer tiba-tiba berhenti menyerangnya, di buat bingung. Terlebih di bawah, Nekabudzer memapah Elius.
Sementara dewa iblis juga ada di udara, tidak jauh dari tempat Sean mengepakkan sayap.
“Dewa iblis itu juga sudah datang. Aku yakin, mereka pasti akan terus memburu ku. Aku harus cepat pergi dari sini, sebelum mereka menangkap ku.”
__ADS_1
Mata Sean melirik ke seluruh tempat. Semua celah Sean perhatikan. Dewa iblis juga sedang berkata meledek pada Elius, dan ini kesempatan.
Sean menanggalkan kembali pedangnya di punggung. Lalu, dari balik saku celananya, dia mengeluarkan benda aneh, semacam bola-bola sihir. Sean pernah menggunakannya, ketika ada perayaan tahun baru di kotanya. Namun kali ini berbeda, tidak tahu apa kegunaan dari benda aneh itu.
Sean masih ingat pada ucapan Medusa. Jika dia terdesak, maka benda bulat di tangannya menjadi opsi sebagai alibi untuk kabur.
“Medusa memberikan aku benda konyol ini kemarin. Seharusnya, jika dia benar bisa membantu ku. Maka aku akan menggunakannya sebagai pertahanan.”
Sean melirik sekali lagi ketiga orang yang ada di hadapannya. Lalu mengganti haluan pandangan itu pada benda padat berbentuk batu di tangannya, dan ide untuk melakukannya sudah terngiang di otak Sean.
“Hahaha.... Kali ini kau, Lausius akan menjadi milik ku!”
Sean melirik dewa iblis. Rupanya dia berkata pada dirinya.
“Tidak peduli. Aku hanya milik Ayah dan Ibu ku. Bukan milik mu!” balas Sean ketus.
Dewa iblis mengacungkan pedangnya yang besar itu, di ikuti suaranya yang menggelegar.
“Mau kau milik siapapun aku tidak peduli Aku tidak ingin bertarung dengan mu kali ini. Sebaiknya kau serahkan hidupmu pada ku. Jangan membuat aku menghamburkan tenaga ku, aku sudah bosan bermain permainan anak kecil seperti ini.”
“Kau mencoba memerintah ku?” balas Sean berteriak.
“Pilihan ada di tangan mu.”
“Baiklah. Jika kau ingin aku mengikuti kemauan mu. Maka, aku tidak akan membantahnya!”
Sean terkecamuk. Senyum di wajahnya terlihat sedikit picik, dan itu pertama kalinya bagi Sean menyungging seperti ini. Sebelumnya, Sean tak pernah meremehkan siapapun. Bahkan semut sekalipun, Sean selalu menghargainya.
Sedangkan wajah dewa iblis, dia terlihat berbangga dan puas. Tergambar jelas, wajah yang angkuh berambisi.
“Akhirnya. Apa yang aku inginkan, kini menjadi milik ku sepenuhnya. Hahaha.....”
“Tetapi, itu hanya angan mu saja dewa jelek!” sahut Sean meledek. “Kau hanya akan bermimpi saja.”
Setelah berkata, dengan bodohnya dewa iblis malah terkecoh. Dewa iblis terkesima, Sean melemparnya dengan benda bulat itu—keluar asap berwarna-warni. Menutupi pandangan dewa iblis.
“Selamat tinggal iblis bodoh. Aku pergi dahulu!” teriak Sean. Dia berlalu, berkat bantuan sayapnya, dia berhasil kabur, meninggalkan ketiganya.
Dewa iblis mengibaskan tangannya, mencoba menghilangkan asap yang telah mengalihkan pandangannya. Perih, sungguh. Asap dari Sean ini mampu membuat mata berair.
“Akh.... Lausius. Kau telah membuat amarah ku memuncak. Kau memancing ku untuk berkecamuk dalam amarah?” teriak dewa iblis berang. Dia sudah tersulut berang, baru kali ini dia di ledek oleh anak-anak.
Sean menoleh ketika suara yang besar itu menggema hingga sampai di anak telinganya. Sesaat setelahnya, Sean tersenyum puas lalu semakin cepat dia mengepakkan sayapnya.
“Jika kita punya kesempatan, kau akan berhasil mendapatkan aku. Tapi tidak saat ini. Selamat tinggal dewa iblis bodoh, kau yang terbaik!”
Teriakan Sean lagi-lagi makin membuat degup jantung dewa iblis berpacu dua kali lebih cepat. Memaksa makhluk itu tertahan dalam emosi.
Sean terbang melewati beberapa terowongan kecil. Sayap ini sangat membantu, dan Sean amat nyaman kala dirinya di bawa terbang oleh sayap bercahaya. Berputar di udara, sungguh sangat mengasikan untuk di nikmati.
Di ujung lorong celah tebing, ada dua cabang yang membentuk huruf Y. Sean memicingkan matanya, dan dia ingat pada ucapan Medusa.
“Aku harus mengambil jalur ke kanan. Benar, aku harus melewatinya,” kata Sean mengambil haluan. Di sana, Sean ingat jelas, jalur itu yang di sebut Medusa.
Sean mengendalikan sayapnya, terbang melalui celah lorong, melewati tebing. Keluar masuk celah, lincahnya, seolah Sean sudah akrab dengan sayap barunya itu.
Di tempat berada tadi, Nekabudzer membawa Elius pergi. Sebelum dewa iblis itu menyerang mereka kembali, Nekabudzer tak mau mengambil resiko besar.
“Kalian ingin pergi. Dasar pecundang!” teriak dewa iblis sumringah. ketika melihat dua musuhnya kabur.
“Lain kali, aku akan memenggal kepala mu. Kau tunggu saja pembalasan ku iblis tak berguna.”
Masih sombong seperti sebelumnya, Elius berkata penuh olokan sebelum dia pergi. Sayangnya, dewa iblis tidak tersikut dalam amarah. Cukup Sean saja yang membuatnya berang kali ini.
Dia tidak mengejar keduanya, justru membiarkan kedua makhluk kecil itu pergi.
“Jika aku tidak bisa mendapatkan Lausius itu lain kali. Maka kalian berdua yang harus membayar atas semua ini.”
Setelah berkata, dewa iblis juga pergi. Dia menghilang di balik pasir, membentuk tornado kecil, dan berakhir. Tempat itu kembali seperti semula, tak ada lagi seorang pun di sana.
******
“Woho.... Sungguh asik terbang seperti ini!”
Di udara, Sean menikmati dirinya yang terbang. Di bawahnya hanya ada hamparan pasir yang luas. Kadang Sean terbang makin tinggi, angin berembus agak kencang. Sean makin menikmati cakrawala terbang di udara.
“Jika begini, seharusnya aku tidak perlu lagi bersusah payah untuk lari.”
__ADS_1
TBC