Adventure Of Lord Lausius

Adventure Of Lord Lausius
Episode 112


__ADS_3

"Pangeran melarikan diri, Dewi!" kata seorang prajurit. Datang tergesa-gesa lalu bersimpuh di hadapan Dewi Pharos. Dia melaporkan kejadian ini pada Pharos.


"Bagaimana dengan gadis itu?" tanya Dewi Pharos.


"Mereka juga tidak ada di tempat. Gordon juga hilang. Sepertinya dia pergi bersama pangeran," katanya menjawab.


Dengan kibasan tangan, Dewi Pharos meminta prajurit yang melapor itu pergi. Lalu Dewi Pharos melirik Crypto.


"Aku akan mencarinya sekarang," ucap Crypto yang paham dengan lirikan Dewi Pharos itu.


"Tidak perlu—" tandas Dewi Pharos.


"Maksud Dewi?"


"Kau akan menemukannya di bukit Pharos. Saat ini mereka masih ada di dalam istana?"


"Itu artinya mereka belum jauh?"


"Iya," jawab Dewi Pharos. "Pangeran muda itu memang sulit di atur. Kemauannya untuk tidak patuh pada ku memang tak bisa di tahan. Lausius yang egois."


Melihat Dewi Pharos menggeleng sebal, Crypto ikut lelah memikirkan Sean. Benar-benar anak itu sulit di atur dan keras kepala, bahkan dia juga tidak peduli pada dirinya sendiri.


Crypto khawatir pada Sean, apalagi kalau Sean nekat meninggalkan lembah Pharos dalam keadaan telanjang dada. Di luar lembah salju turun abadi, tidak akan ada dalam legenda kalau lembah Pharos tidak di turuni salju. Tempat ini setiap saat selalu turun salju, bisa-bisa mati kedinginan Sean jika masih pada egonya.


Crypto ingat. Dia lupa meninggalkan pakaian tadi untuk Sean. Karena tak berniat berdebat dengan Sean, pikirnya meninggalkan Sean bisa membuat anak itu merenungkan kembali sifat keras kepalanya itu. Crypto tak menyangka, Sean benar-benar melakukan tindakan di luar dugaan.


"Anak yang keras kepala itu akan menyusahkan saja!" gumam Crypto pelan.


****


Jalan mengendap-endap, membawa Sean ke sebuah pintu—mungkin pintu keluar. Walau berhasil menghindari para prajurit yang hilir mudik di lorong istana lembah Pharos ini, tapi meninggalkan istana Pharos bukanlah perkara yang mudah.


Rasa takut ketahuan karena ingin kabur, membuat tubuh Sean gugup. Terlebih, cahaya di tubuhnya tak mau menghilang. Tapi beruntung, cahaya di tubuhnya itu tidak mengacau. Atau Sean akan berakhir di ruangan gelap bersama Ligong.


Cahaya itu meredup setelah rasa kesal Sean ingin menghilangkan tanda yang bersinar itu mereda. Sean tak begitu memikirkan bagaimana menghilangkan cahaya itu walau Sean sempat merasa kewalahan. Ajaib, dengan sendirinya, cahaya yang melekat itu di tanda lahir Sean perlahan redup.


Kini Sean berada di depan pintu besar. Sean meraba permukaan pintu, dan yang Sean rasakan adalah batu. Itu artinya tidak semua tempat ini di buat dari baja dan emas. Artinya, batu juga menjadi material pintu yang tertutup rapat ini.


Saat Sean mencoba membuka kait pintu. Seberapa keras Sean menarik dan mendorong daun pintu, tetap saja tidak terbuka.


"Aku rasa pengaman di tempat ini sangat ketat. Sampai-sampai, daun pintu saja sulit di buka." Jessica bergumam pelan di tengah kesibukan Sean membuka pintu.


"Pasti ada...... Di sini pasti ada cara membuka pintu. Sama seperti saat kita masuk. Pasti pintu itu ada kode khusus untuk membukanya." Sean memperhatikan pintu yang terbuat dari batu itu.


Biasanya ada kejutan. Mungkinkah pintu itu menjorok keluar? Atau kedalam? Sean mencoba menebak, kalau pintu itu biasanya berbentuk melipat. Orang-orang zaman dahulu sudah mengenal teknologi modern walau tak secanggih di zaman yang Sean hadapi.


Sean berpikir, mencari ide agar keluar dari tempat itu. Pintu batu itu gelap, tak ada penerangan apapun. Sean melihat sekeliling, oh—Sean menemukannya!


"Aku menemukannya," kata Sean saat melihat-lihat sekeliling. Di dekat pintu, ada sebuah pedal. Sean menarik pedal mirip Knot pesawat itu, dan....... SRUK...... Pintu batu itu terbuka ke atas.

__ADS_1


"Wow!! Kau benar-benar jenius, Sean," puji Jessica.


Sean mendengus, mengoles jempol di hidungnya. "Apakah aku bisa di andalkan sekarang?"


"Sangat bisa!" sahut Gordon. Di mencengkram erat pundak Sean, lalu menjadi yang pertama keluar.


"Kau selain tampan, kejeniusan mu memang tak bisa di ragukan," sikut Jessica memuji. Gadis itu malu-malu kucing, saat berhadapan dengan Sean.


"Cara membuka pintu sangat mudah. Kau tidak perlu mengeluarkan seluruh ide untuk mencari celah pintu itu. Cukup melirik di sekitar, maka..... Kau bisa menemukannya!!" ucap Sean yang sok ahli dalam membuka pintu.


"Anak-anak!! Kalian berniat meninggalkan lembah ini atau kalian masih ingin di dalam!" tegur Gordon dari luar.


Sean mengangguk. "Biarkan aku mengucapkan kata perpisahan untuk tempat neraka ini!" seru Sean dari dalam.


Sean mengkomat-kamitkan mulutnya. Seperti mengucapkan sesuatu, mungkin sihir atau mantra-mantra aneh. Sean hanya sesumbar, dia tidak mengerti caranya mempelajari ritual aneh. Mungkin mulutnya mengumpat tempat ini. Hanya Sean yang tahu apa yang di ucapkan tanpa suara itu.


Setelah dia selesai pada apa yang di ucapkannya.


Sean menyusul Gordon dan Jessica yang sudah berdiri menunggunya di luar. Ligong, macan hitam bertubuh besar itu tak berhenti-henti menempel di tubuh Sean.


Cuaca di luar sama seperti di lembah sebelumnya saat mereka terjatuh di tumpukan salju tebal. Salju tebal masih menutupi tanah bahkan masih turun dari langit.


"Sean, kau tak memakai baju? Apakah kau tak merasa kedinginan!" Jessica memperhatikan. Dia baru sadar, kalau temannya itu tidak lagi mengenakan penutup dada. Seluruh bagian atas tubuh Sean yang terbuka, membuat Jessica tergoda. Sungguh, dalam keadaan telanjang dada, Sean amat menawan.


"Aku tak merasa kedinginan," jawab Sean. "Aku bisa bertahan tanpa pakaian saat ini. Asal kita bisa meninggalkan tempat neraka ini."


"Oh, ini... Aku bahkan tidak tahu kenapa," balas Sean sekenanya. "Dan, ini Ligong. Teman baru ku."


"Li—ligong?"


Sean mengangguk. "Aku mendapatkannya di dalam ruangan gelap tadi. Tidak buruk, dia imut saat menjadi teman baru ku."


Jessica ternganga, jujur, dia tak habis pikir. Sean selalu mendapatkan teman baru di saat-saat tak biasa. "Kau yakin dia akan menjadi teman baru mu?"


"Dia penurut. Jauh lebih jinak dari kucing yang kau pelihara di rumah!" jawab Sean santai.


"Tapi, Sean. Kau lihat! Dia amat menyeramkan!" kata Jessica lagi. Dia takut saat makhluk itu menatapnya seperti tak suka, bahkan menggeram seakan marah.


"Ah, sudahlah. Lupakan. Kita pergi sekarang, atau badai salju akan menerpa." Sean beralih, berlalu meninggalkan pintu yang ternganga lebar.


Sebenarnya, Jessica sedikit meragukan Sean. Tanda di tubuhnya yang bercahaya, dia kuat menahan dinginnya salju. Mampu bertarung di situasi sulit, semua itu membuat Jessica bertanya-tanya. Apakah Sean adalah anak yang di kenalnya atau..... Sean bukanlah remaja yang selama ini berteman dengannya. Bisa jadi, Sean yang ada di hadapan Jessica adalah Sean lain, bukan Sean yang biasanya introver. Jessica berpikir, seperti itulah yang dia hadapi kala melihat keanehan Sean.


Jessica mencubit kulit wajahnya, dia memastikan kalau dia tidak bermimpi. "Nyata. Tapi kenapa Sean selalu aneh? Tanda itu. Warna. Dari mana dia mendapatkannya?"


"Jangan terpaku di sana nak, jika kau tak mau di kurung lagi di ruangan kecil itu." Gordon yang sudah berlalu, berjarak beberapa meter, menegur Jessica yang termangu. Gadis itu belum beranjak dari tempat asalnya.


Setelah berjalan beberapa meter, keraguan Jessica pada Sean, membawa mulutnya memberanikan diri untuk bertanya. "Sean. Sejak kapan kau mendapatkan tanda bercahaya itu?"


Sean menoleh. "Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu?"

__ADS_1


"Aku hanya ingin tahu??"


Hmph..... Sean mencoba mengingat. Dalam ingatannya, tanda itu sudah ada sejak dia kecil. Sejenis tanda lahir itu tidak pernah Sean hebohkan. "Sejak lahir tanda ini sudah ada. Hanya tanda lahir yang bercahaya biasa. Tidak ada yang spesial."


"Apa kau yakin bahwa itu tanda lahir biasa?"


"Tentu," jawab Sean mengangguk. "Mungkin ini ini efek karena aku pernah menyentuh kupu-kupu bercahaya di hutan...... Kau ingat hutan yang bersinar itu? Kemungkinan dari situ aku mendapatkannya." Sean menjelaskan terperinci. Dia mengingat-ingat, terakhir kali itu yang dia rasakan. Mungkin, karena pernah menyentuh kupu-kupu di malam hari itu, yang membuat tanda lahirnya bercahaya.


Mendengar cerita Sean, Jessica melirik si pria Godam hitam itu. Dan, ya. Gordon hanya mengangkat kedua bahunya, tanda bahwa dia tak paham apapun atas pertanyaan dari lirikan gadis itu.


Jessica harap-harap cemas. Dia takut, kalau tanda lahir yang bersinar di tubuh Sean adalah sebuah bencana.


****


Berjalan semalaman, membawa langkah kaki itu ke sebuah bukit, di ujung lembah. Mereka memasuki hutan—yang berbatasan dengan tempat bersalju itu.


"Kita berhenti di pohon besar disana. Sungguh, aku lelah!" seru Jessica yang menahan sakit di lututnya. Kakinya sudah terasa amat berat karena berjalan semalaman.


"Apa kau perlu di papah?" Sean menawarkan jasa. Dia menyiapkan punggungnya untuk Jessica. Isyarat bahwa Sean akan menggendongnya.


"Tidak perlu," balas Jessica. "Aku masih bisa berjalan. Walau kaki ku terasa mau copot."


"Kau yakin?"


Jessica mengangguk, lalu kembali memaksa berjalan menanjaki gundukan bukit.


Sean melihat gadis itu sudah berjalan agak tertatih-tatih di atas salju yang tebal.


Gordon ikut kembali berjalan mengekori Jessica. Tubuhnya terasa hampir membeku semalaman melintasi salju yang turun ini. Dia sempat menepuk pundak Sean, mungkin menyemangati Sean agar tetap melanjutkan perjalanan.


Ligong, macan hitam yang ikut meninggalkan istana Pharos, mengelus kepalanya di punggung Sean. Nampaknya Ligong senada dengan Gordon, inginkan Sean melanjutkan perjalanan.


Sean menengok melihat wajah macan hitam itu, lalu berkata. "Kau lelah juga?"


Ligong terus mengelus kepalanya di punggung Sean. Mungkin dia mengisyaratkan bahwa dia lelah, seperti yang Sean katakan.


"Baiklah!! Baiklah!! Kita lanjutkan lagi perjalanan ke atas. Kau bisa beristirahat nanti," ucap Sean yang memahami bahasa bahasa isyarat Ligong.


Saat tiba di atas bukit, Sean sudah membayangkan ingin beristirahat sejenak. Apalagi matahari agak menghangatkan di tengah dinginnya salju. Pasti rasa lelahnya semalaman bisa hilang jika berbaring di bawah pohon.


Ketika sudah di pucuk bukit, mendadak Sean terkejut. Crypto dan beberapa prajurit sudah ada di depan mereka.


"Kau!" teriak Sean. "Sejak kapan kau tiba di sini?" tanyanya penasaran.


Jessica dan Gordon mengangkat bahu, mereka juga tidak tahu kalau Crypto sudah ada di hadapan mereka.


"Secepat itu dia tiba di hadapan ku." Sean bergumam pelan. Benaknya bertanya-tanya? Bagaimana bisa Crypto bisa tiba di atas bukit lebih cepat dari dirinya.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2