
Pagi-pagi Sean dan Jessica berjalan sebentar di sekeliling desa manun. Tidak, lebih tepatnya adalah sebuah kota yang jauh lebih maju dari pada menyebut sebuah desa. Sejak malam kota itu amat ramai, seperti tak ada malam.
Bahkan kota new York tempat tinggal Sean pun tak pernah seramai di desa manun ini. Harus Sean akui bahwa orang-orang di kota ini memang kuno, namun unik. Mereka berpakaian tradisional dari bulu domba dan sebagainya. Selera mereka dalam berpakaian terbilang baik.
Bahkan, yang unik adalah perlengkapan yang di jual beragam dan terlihat kuno.
Mereka berjalan di sekeliling pasar, banyak orang hilir mudik di tempat ramai ini.
Suara berisik orang-orang menjajakan barang dagangannya. Mereka pergi tidak bersama Driyad, Jessica memintanya. Dia hanya ingin pergi berdua bersama Sean seorang diri tanpa makhluk itu.
"Sean!" Jessica menarik lengannya. "Lihat itu, sangat cantik." Gadis ini membawa Sean ke toko yang menjual perhiasan indah. "Aku menyukainya," kata Jessica terpesona.
"Sungguh?" Sean meliriknya. Mereka berdiri di depan toko kuno. Di sisi kanan kirinya terdapat penjual gerabah dan keramik.
"Iya," Jessica mengangguk. "Aku sangat menyukainya."
Baju besi yang Sean kenakan menyenggol beberapa manik-manik yang tergantung di depan toko. "Sangat menggangu," dia berkata ketus. Baju besinya agak membuat dia berjalan kaku bagai robot. Dan sering menyinggung gerabah yang tergantung di toko sebelahnya.
"Ho-ho-ho," pemilik toko tertawa lepas khas dirinya yang bertubuh besar berkumis tebal. Dia menyambut kedatangan kedua pelanggannya sepagi ini. "Silahkan pilih anak-anak, kalian pasti akan menyukainya." Suaranya bulat, senada dengan perut buncitnya. Dia bertopi cokelat ala koki di rumah makan. "Kau sangat cantik, pasti kau akan bertambah cantik jika mengenakan pernak-pernik dari toko ku ini," dia bicara menggoda Jessica.
"Dia memuji ku Sean. Aku cantik," Jessica membisik sambil tersipu.
"Dia hanya berkata memuji mu, agar kau membeli manik-manik di tokonya," Sean berkata berlawanan.
Jessica menyunggingkan bibirnya, dia sedikit ketus. "Kau tidak pernah memuji ku sekalipun."
Siapa peduli, Sean selalu berkata jujur.
Jessica membeli sebuah manik-manik yang terlihat cantik. Penjual pernik-pernik itu menyebutnya manik-manik penangkap mimpi. Pernak-pernik yang berasal dari kota yang mereka sebut kota jauh, di buat khusus oleh suku ojibwe chippewa. Sean tak mengerti apa yang di maksud oleh penjual toko itu.
Suara beratnya membuat gendang telinga Sean sedikit gatal. Bahkan suara bulat itu amat mengganggu bagi Sean.
Jessica salah satu orang yang masuk dalam perangkap kiasan mulut manis seorang penjual. Sean sedikit ngeri saat dirinya ditawarkan memiliki satu manik-manik penangkap mimpi oleh Jessica.
"Lelucon," kata Sean menolaknya.
"Tidak menyukainya tidak mengapa! Aku tidak memaksanya," Jessica bersikap apatis. "Lagi pula kalung penangkap mimpi ini tak akan cocok pada seorang kesatria macam anda," Jessica menyindir.
Sean mendesis. "Seharusnya begitu."
__ADS_1
Mereka sudah membeli dan mampir ke toko pernak-pernik ini. Mereka meninggalkan toko ini, dan pergi ke tempat lain. Wanita itu menariknya kesana kemari, hingga kepala Sean terbentur oleh kayu-kayu toko sebagai sebuah tiang penyangga terpal toko mereka.
Tak jarang, daun baju besi Sean, lebih tepatnya bahu baju besi Sean yang besar menyinggung beberapa barang-barang dagangan hingga menjatuhkannya.
Sean hanya bisa berkata 'maaf' lalu tak mengganti kerugian atas kerusakan yang di lakukannya.
Jessica tak peduli, justru dia pura-pura tak melihatnya. Jessica membawanya keluar masuk toko, mengelilingi pasar yang luasnya tak terkira, tanpa akhir.
Sesekali Sean menabrak orang-orang di sekitar pasar, bahkan beberapa anak-anak yang melihatnya, menyebut Sean sebagai jenderal.
Dia lupa namanya, namun yang pastinya saat melihat tubuhnya yang kekar anak-anak kecil itu mengatakan dia jenderal. Dengan baju besinya.
Jenderal... Jenderal.... Entahlah, Sean mengingat kembali siapa nama jenderal yang di maksud, tapi masih saja dia melupakan nama jenderal yang masih terngiang di telinganya.
Jessica menariknya dengan paksa. "Jangan pedulikan mereka," dia berteriak. Mata Jessica sudah tertuju entah kemana. Dia ingin memasuki seluruh toko-toko di tempat yang cantik nan ramah ini dalam sekali perjalanan. Gadis ini beranggapan sedang menikmati destinasi wisata yang indah.
Sebab Jessica belum pernah melihat tempat semacam ini sebelumnya. Emas, ya, semua bangunan di lapisi emas. Setidaknya tempat ini menggantikan wisata Jessica yang hilang bersama sang ayah.
Sean. Aku menyukai yang ini. Aku menyukai yang itu. Itu juga bagus Sean. Di sebelah sana tak kalah cantik. Barang-barang di sini sangat indah. Jessica terus saja menariknya pergi kesana sini. Sean sudah merasa lelah mengikuti langkah kaki Jessica.
Kepalanya sudah sedikit pusing menghadapi berbagai benturan. Dia sudah tak tahan harus mengikuti anak itu pergi. Sean mulai kesal pada tingkah polah-nya.
Gadis itu sudah sadar dari tidurnya. Volinia mengenalinya, dia ingat wajah Sean. "Kau Sean," dia menegurnya.
Sean menengok kanan kiri, wanita itu bicara padanya. Mereka sebaya, tak jauh beda usia mereka.
"Ya, aku bicara kada mu!" Kata Volinia.
Sean menunjuk dirinya sendiri. "Bagaimana kau bisa tahu nama ku?" Dia penasaran.
Volinia tersenyum. "Sangat mudah." Dia bicara singkat, sebentar saja sudah tahu nama Sean.
Sean tidak pergi seorang diri, namun bersama Jessica, si gadis tangguh. "Kau Jessica," Volinia menyapa.
Jessica menanggapinya apatis. "Siapa lagi jika bukan aku," dia memulai benderang peperangan.
"Aku Volinia," wanita ini menjulurkan tangan, dia ingin berkenalan dengan Jessica. "Penjaga ruang helian."
Jessica menolak berjabat tangan dengan Volinia. "Aku tahu!" Dia menyingkat setiap perkataan.
__ADS_1
Volinia tahu, mungkin Jessica anti sosial yang tak ingin berkenalan walau hanya sebentar. "Maukah kalian pergi berkeliling pasar dengan ku," Volinia menawarkan mereka berdua, dia melupakan sikap apatis Jessica terhadapnya.
"Tidak perlu. Kami bisa jalan-jalan sendiri," Jessica menyahut, dia menolaknya sepihak.
Sean menyikut anak itu, dia membisik. "Apa yang kau lakukan. Kenapa kau bicara tak sopan padanya."
"Memang ada yang salah dengan gaya bicara ku?" Jessica membantah, menyemprot Sean dengan tatapan ketus. "Bahkan aku tidak mau pergi mengelilingi pasar dengan dia," Jessica membalas berbisik.
Sean tidak suka dengan sikap tak sopan Jessica, dia beralih bicara pada Volinia. "Dengan senang hati aku akan menemanimu mengelilingi pasar ini." Sean sedikit bicara menghormatinya.
"Sean!" Jessica mencubitnya. "Apa yang kau lakukan."
"Tak ada, hanya menemaninya pergi mengelilingi pasar!" Sean menjawab polos. "Kenapa? Ada yang salah?"
"Tidak. Kau hanya terlalu manis untuk di ajak jalan-jalan," Jessica menutupi kekesalannya pada Sean.
"Jika tidak keberatan, aku tidak memaksa kalian untuk pergi bersama ku." Volinia sedikit merasa bersalah, terutama pada Jessica yang berkata sinis padanya.
"Oh... Kau tidak perlu memikirkan kami keberatan atau tidak, yang pasti kami sangat menyukai tawaran ini." Sean tertawa, pura-pura menikmati drama Jessica. Dia kembali menyikut anak itu agar senada dengannya.
"Ya.... Ya... Ya. Aku akan ikut kalian," Jessica mengalah. Sean memaksanya, menyikut lengannya hingga dua kali. "Tapi, ini terpaksa. Aku hanya sedang bosan saja jalan-jalan sendiri," dia berkata amat jujur. Tidak bisa bagi Jessica berkata sedikit bohong.
Sean menyumpal kelakuan Jessica dengan senyum sumringah. Dia pura-pura ceria ulah anak itu. "Jessica sering berkata begitu." Sean bicara pada Volinia. Sean begitu antusias mengaku kebaikan semua yang di miliki oleh Jessica. "Dia kadang-kadang sedang tidak membaik, jangan terlalu pikirkan."
Volinia mengerti. "Kalau begitu, mari kita jalan ke--sebelah sana," Volinia menunjukan jalan, dia berjalan di depan.
Kedua anak itu mengekornya dari belakang. Jessica masih bersikap ketus, dia tidak ingin pergi bersama wanita itu. "Huh.... Jika bukan karena Sean, tak akan aku mengikutinya." Jessica men-decak. "Dia menjengkelkan. Baru pertama melihat Sean, dia sudah berani mengajaknya jalan-jalan."
Dia melihat Sean nampak asik dengan orang yang baru saja ia temui itu, Jessica bertambah sebal melihatnya.
Seharian Jessica mengikuti langkah mereka berdua. Kesal baginya harus berada di belakang Sean dan Volinia seakan Jessica merasa seperti seorang pelayan kelas bawah.
Dia sangat marah pada tingkah Sean yang melupakannya, juga pada Volinia yang monopolis itu.
BERSAMBUNG
**TOLONG DONG DI KASIH RATING BINTANG LIMA. AUTHOR UDAH BERUSAHA MEMPERBAIKI RATING DARI 2.2 NAIK KE BINTANG EMPAT. TAPI TETAP SAJA ADA YANG JULID.
MOHON BANTUANNYA YA KAWAN-KAWAN. AUTHOR BUTUH BANTUAN KALIAN, LIKE, KOMENTAR, RATING KALAU PERLU VOTE. SEBAGAI BENTUK DUKUNGAN KALIAN.
__ADS_1
TERIMA KASIH**