Adventure Of Lord Lausius

Adventure Of Lord Lausius
Episode 175


__ADS_3

Langit malam itu makin menghitam dan gelap. Pusat kota, bahkan istana awan Metis pun tak luput dari kejadian ini.


Lord Shutanhamun berdiri di puncak istana. Melipat satu tangannya di punggung, perhatiannya fokus pada pusat kota yang biasanya terang benderang—kini gelap gulita.


“Belum pernah terjadi hal seperti ini sebelumnya. Takdir itu benar-benar telah mengubah segalanya. Lagi-lagi, Lausius akan hancur.”


Dewi Heksodus berdiri di sebelah pria tua ini, dia memperhatikan, sedikit terenyuh.


“Apakah takdir dari para petinggi langit tak bisa di ubah? Bukankah kau bisa meminta mereka mengubahnya ya Lord!” kata Heksodus menyinggung.


Pria tua itu menggeleng, seraya mengurut Surai jenggotnya. “Ini tidak semudah yang kau bayangkan. Membujuk para penguasa langit agar memahami keinginan para pemuja dan pelayannya, sama saja seperti menenggelamkan aspirasi. Para penguasa langit memiliki takdir mereka sendiri terhadap Lausius.”


“Tetapi ini tidak adil!” ucap Heksodus bertolak. “Pangeran Lausius ini seharusnya pengecualian. Lalu, untuk apa mereka menciptakan Lausius terakhir jika pada akhirnya dia akan berkahir pada sebuah kematian.”


“Ini bukan urusan kita," jawab Lord Shutanhamun. “Yang menjadi tanggung jawab kita adalah, bagaimana kita tetap terus memahami kehendak langit!”


††††


Patriak Zhu tersenyum miring saat melihat Sean kembali terpuruk usai menumpas Nekabudzer. Melirik Zurry, idenya sudah memulai sebuah serangan.


“Ini saatnya bagi kita Zurry,” kata Patriak Zhu. “Kesempatan kita sudah ada di depan mata. Malam ini adalah kemenangan kita!”


Mengepakkan sayapnya, dia pelan-pelan terbang merendah menuju ke titik pertempuran. Zurry mengikuti langkah pimpinannya.


“Haha ..., akhirnya apa yang aku inginkan terjadi.”


Handita membesarkan matanya ketika melihat Patriak Zhu dan Zurry mendekati mereka.


“Patriak Zhu ...,” sebut Handita terperangah.


Patriak Zhu tersenyum melicik. “Handita. Masih mengingatku rupanya!”


“Selamanya kami tidak akan pernah melupakan wajah licikmu, Patriak Zhu!” sahut Pharos berang.


Dia mengangkat pedangnya, siap menyerang wanita itu. Namun, Patriak Zhu cepat-cepat mengeluarkan sihirnya. Dia mengikat kaki Pharos dengan kekuatannya. Sehingga Pharos tak bisa bergerak dari posisinya.


“Kau ....”


Patriak Zhu melirik Pharos. “Kalian lupa. Kalau aku adalah salah satu musuh terbesar Lausius. Dengan kekuatan tak sebanding, apakah kalian mampu mengalahkan aku?”


“Omong kosong!” pekik Handita. Dia mencabut pedangnya, ingin membalas Patriak Zhu dengan sebuah serangan.


Tapi, Zurry menghalaunya. Dia membalas serangan Handita. Dengan buku-buku es, dia menyerang Handita.


“Hadapi aku sebelum melawan Patriak Zhu!” ucapnya menantang.


Handita menghindar dari serangan Zurry, dia sedikit terlatih dalam hal pertempuran. Setiap serangan Zurry, berhasil Handita taklukan. Es-es setajam belati itu begitu banyak jumlahnya. Membuat Handita harus cepat menahan setiap tombak es yang menyergap.


Handita menyerang Zurry dengan pedang, Zurry juga mampu menahan gempuran kekuatan pedang wanita itu.


Sementara itu, Sean memeluk Jessica, dia masih menangisi gadis itu. Sedangkan, Patriak Zhu makin merasa di atas angin. Dia mengangkat tangannya, dengan sihirnya dia menghipnotis sisa-sisa pasukan Elius.


Mengambil alih pikiran mereka, Patriak Zhu memerintahkan seluruh prajurit tangguh itu kembali menyerang pasukan Sean.


“Bunuh siapa saja yang berani mengusik Patriak Zhu!” tukas wanita ini memerintah.


Pasukan Elius mematuhi perintah Patriak Zhu, mereka kembali menggelora dalam mengacaukan suasana di Medan perang.


Suara gemuruh kembali terjadi. Suara gaduh dalam peperangan. Gordon dan yang lainnya kembali mengangkat pedang masing-masing. Membalas semua serangan yang mengarah pada mereka. Suara teriakan Gordon mengganas, pria itu begitu bergairah dalam menumpas para Gort buruk rupa.


Patriak Zhu kembali tersenyum. Lalu menunduk di dekat Sean yang sedang mengiba.


“Lausius ku. Tak ada yang perlu kau sesali. Semuanya sudah terjadi, takdir yang telah mengubah segalanya!” ucapnya membisik pelan.


Sean acuh, dia masih fokus pada Jessica yang sudah putih memucat. Bahkan rambut pirangnya ikut memutih, seputih sutra—akibat darah yang tak lagi mengalir di urat-uratnya.


Kuku tajam dan panjang Patriak Zhu menepi di leher Sean. Menggores sedikit, kulit putih dan bersih anak itu robek. Keluar darah merah yang segar, Patriak Zhu langsung menjilatinya—saat melihat darah itu.


“Sangat segar!” ucapnya sumringah. “Mari ikut denganku. Kau sudah menjadi milikku saat ini. Kau ditakdirkan hanya untukku!”


Kembali wanita itu membisik di telinga Sean. Sesekali Sean menyeka air matanya. Sesaat kemudian, di tengah air mata yang berlinang itu. Sean menoleh ke belakang, menyoroti tajam wajah Patriak Zhu.


Sean kemudian berdiri. Pedangnya yang tertancap menjauh dari dirinya, Sean tarik dengan kekuatan.

__ADS_1


“Jika takdirku harus mati dan kembali menjadi cahaya. Maka aku tak akan mengizinkan siapapun mendapatkan jiwa cahaya itu. Aku sudah mengabdikan jiwa ini hanya untuk dewa Opis—sang juru keabadian.”


Patriak Zhu terbahak. “Sebegitu yakinkah kau, kalau dewa Opis akan mengambil kembali jiwa yang telah dia buang!”


“Apa maksudmu?” tanya Sean bimbang.


Patriak Zhu lagi-lagi tersenyum miring. Dia berjalan mendekati Sean, melenggak-lenggok kan pinggulnya, lalu mengitari anak itu. Tak lupa, sesekali dia menggoda Sean dengan menjilati kulit leher anak itu.


“Dewa Opis telah membuangmu. Sejak kau terlahir ke dunia ini, tak sekalipun kau di anggap sebagai putra cahaya. Kau hanya makhluk ciptaan dewa Opis yang gagal. Itulah kenapa, nasibmu begitu buruk sayangku!”


“Tidak!” bantah Sean. “Kau tak tahu apapun mengenai jalan hidup para Lausius. Kau hanya mencoba membuatku tersulut akan bujuk rayumu!”


“Haha ..., dasar bodoh!” ledek Patriak Zhu. “Kau kira aku tak tahu apapun. Coba tanyakan pada dirimu. Apakah dewa Opis sudah berlaku adil padamu selama ini? Apakah kau sudah merasakan kehidupan yang indah darinya? Itulah kenapa, kau begitu bodoh Lausius muda. Haha ....”


Sean terdiam. Dia mencoba memahami maksud ucapan Patriak Zhu. Wanita itu terus mengitarinya, membuat mata Sean terus melirik langkah tubuh menggoda itu.


Di sekitar Sean, para pasukannya bertempur mati-matian. Handita, bahkan dia harus bersusah payah mengalahkan Zurry. Pharos dan yang lainnya juga sedang berjuang. Semua itu di lakukan demi kedamaian.


Patriak Zhu kembali berkata, usai dia menggoda Sean tadi.


“Kau lihat. Begitu banyak pasukan istana yang telah gugur demi membela kedamaian dan menegakkan keadilan. Apakah kau tega melihat para penduduk tanah ini kehilangan hidup mereka yang berharga, hanya karena satu masalah. Aku tawarkan, ikutlah denganku, maka semua permasalahan ini bisa selesai secepatnya!”


Sean menarik napas dalam. Mengedarkan pandangannya, benar saja. Memang sudah banyak yang tumbang dari dua pasukan ini.


Namun ....


“Aku tidak akan menuruti kemauanmu. Aku akan tetap percaya pada dewa Opis, dia pasti melakukan yang terbaik demi pemujanya!”


Sean mengangkat pedang besarnya yang sempat tertancap di tanah. Kali ini, Sean datang dengan keberanian yang tak bisa di ragukan lagi.


Patriak Zhu lagi-lagi tersenyum miring, dia tetap santai di situasi seperti ini.


“Baiklah. Jika itu kemauanmu. Maka, aku akan menurutinya. Membuatmu menyesal atas apa yang telah kau putuskan!”


Patriak Zhu mengeluarkan pedangnya. Sayapnya juga terbuka. Sayap burung perak, sayap yang diketahui sayap langka.


“Ayo. Kita akhiri permainan malam ini dengan bersenang-senang!”


Patriak Zhu menyerang lebih dahulu. Dengan kekuatannya, dia ingin menghantam tubuh Sean. Sean menahan kekuatan Patriak Zhu dengan balasan kekuatan.


Terbang rendah, kedua sayap langka itu saling banting membanting. Seakan sayap Phoenix emas Sean dan sayap silver milik Patriak Zhu saling menunjukan esensinya. Siapa yang paling kuat.


Gordon dan yang lainnya sudah menumpas para raksasa Gort, membalaskan kematian para prajurit awan Metis yang telah tumbang.


Handita dan Pharos menyerang Zurry, pria itu masih tangguh. Namun, kali ini tak berlaku kala kaki Pharos mampu menerjangnya.


Dia terjatuh, sambil menahan dada. Tapi itu sesaat, karena pria itu kembali melebarkan sayapnya. Dia tak akan mudah dikalahkan oleh dua wanita itu.


“Dua wanita tak berguna. Kalian mencoba untuk mengalahkan aku. Maka, itu sama saja seperti kalian mencari mati!” ucap Zurry berang.


Pharos tersenyum meledek. “Kau kira, kau bisa apa. Bersembunyi di balik wajah Patriak Zhu. Kau hanya seekor tikus tak berguna!” balas Pharos meledek.


“Kau ....”


Sialnya, ledekan itu begitu menyakitkan untuk di dengar. Terbang kembali, Zurry menyerang kedua wanita itu.


Kecepatannya, dalam sekejap dia sudah ada di hadapan Handita. Menebas kepala wanita itu—nyaris Handita mati. Namun itu tak terjadi, dia mampu menghindarinya dengan kayang. Lalu berputar ke belakang Zurry, Handita menerjang punggung pria itu.


Zurry lagi-lagi terdorong, kini berada tepat di hadapan Pharos. Di sana, pedang Pharos sudah menebasnya. Tapi, Zurry juga bisa menghindar dari kilatan cahaya pedang Pharos.


Menunduk menghindari pedang Pharos, Zurry lalu meninju perut wanita itu dengan keras. Membuat Pharos terpental. Menyadari akan hal itu, Handita langsung hilang secepat angin. Lalu tiba-tiba muncul di hadapan Pharos. Menangkap tubuh Pharos, Handita berhasil menyelamatkannya. Tapi, Pharos memuntahkan sedikit darah. Pukulan Zurry begitu kuat.


“Kau tak mengapa bukan?” tanya Handita.


Pharos mengangguk. “Aku tak mengapa. Hanya kurang waspada!”


Zurry, dia makin sumringah. Kembali terbang, dia mencoba kelancaran serangannya pada dua wanita itu. Handita, dia dengan cepat melindungi diri dengan gelembung sihir.


Membuat pedang Zurry tak bisa menembus dimensi kekuatan itu.


Zurry tak menyerah. Dengan kekuatan dahsyatnya, dia ingin memecahkan gelembung kekuatan pelindung milik Handita. Sekaligus menumpas dua wanita itu dalam sekali serangan.


“Kali ini, kalian akan berakhir. Katakan selamat tinggal untuk tanah surga kalian!”

__ADS_1


Zurry menghantam pedang yang di ikuti kilatan cahaya. Gelembung itu nyaris pecah, tapi ....


“Itu tidak akan terjadi kawan!” sahut seseorang dari bawah.


Belum sampai Zurry memecahkan gelembung kekuatan Handita, dia tiba-tiba terjatuh ke tanah. Tersungkur. Sebuah anak panah tepat menusuk jantungnya dari belakang punggung. Membuat pria itu tak berdaya.


“Hei kawan. Kau berhasil membunuhnya!” ucap Yudhar berbangga.


Menepuk pundak Edward, Yudhar sangat antusias melihat kematian Zurry. Edward tersenyum sombong, mencoba melebihkan dirinya.


“Dia hanya pecundang tiada guna. Hanya seekor semut, dia pantas mati!” katanya angkuh.


Yudhar menyikut bahu Edward. “Kau benar-benar ksatria tanah surga. Aku tebak, Lord Shutanhamun pasti akan menjadikanmu panglima tempur paling hebat!”


“Hei. Kau terlalu melebih-lebihkan. Aku tak sehebat dirimu. Kau lah kstaria sesungguhnya!" balas Edward menyikut Yudhar.


Ketika sedang memuji Edward, Yudhar dibuat kaget. Dua wanita yang ada di atas tiba-tiba terjatuh. Dengan cepat Yudhar terbang, menangkap kedua tubuh itu. Yudhar memapah keduanya, pelan-pelan menapakkan kakinya di tanah.


“Kalian berdua terluka, akibat serangan Zurry.”


Handita mengangguk. “Kekuatan bumi. Dia nyaris menghujani kami dengan kematian.”


“Ayolah. Tapi kalian tidak mati bukan?"


Pharos memukul kasar tengkuk kepala Yudhar, dia sedikit geram. “Kau ingin menyumpahiku dengan kematian?” ucapnya sebal.


Yudhar terkekeh. Sedikit salah tingkah, sambil menahan rasa malu. “Maafkan aku. Kau tahu, aku adalah anak-anak yang suka jahil ....”


“Tapi itulah kenyataan!” sahut Edward menimpali.


Yudhar menggaruk kepalanya, lagi-lagi dia di buat malu. “Ups. Kau membuka aibku!”


Ketika sedang berbincang, tiba-tiba Edward berteriak.


“Hei, di belakang kalian!” pekiknya memburu.


Pharos, Handita dan Yudhar berbalik menoleh kebelakang. Edward melepaskan anak panahnya.


Menusuk kepala Moore, wanita itu tewas ketika hendak menusuk ketiga orang yang tak sadar akan kehadirannya itu.


“Untung, kita selamat!” ucap Yudhar mengelus dada.


Berbalik lagi, kini memandangi Edward. Handita dan kedua orang itu berhasil di selamatkan oleh Edward. Tapi ....


“Eed ...,” teriak Yudhar histeris.


Di belakang Edward, Uli berdiri. Dia tersenyum miring di belakang Edward sambil menatap dendam Handita dan yang lainnya. Sesaat kemudian, busur panah Jessica yang ada di tangan Edward terjatuh, di ikuti tubuh Edward yang sudah sempoyongan. Tak lama kemudian, Edward tumbang. Menutup matanya, anak itu mati di tangan Uli.


Darah segar melumuri dan membasahi belati yang ada di genggaman Uli.


“Haha .... Semudah ini aku membunuhnya. Satu persatu, aku akan membunuh kalian semua. Sama seperti anak tak berguna ini!”


Handita berang ketika mendengar ucapan dari mulut Uli. Dari tangannya, dia mengeluarkan senjata rahasia. Sebuah jarum mematikan, tanpa di sadari oleh Uli, Handita telah menyangsangnya dengan benda kecil itu.


Seketika ....


“Kau ....”


“Dia patut mati!” ujar Handita kala wanita itu menunjuknya.


Uli gontai, sedetik kemudian dia terhuyung lalu tersungkur. Tubuhnya menghitam, darah segar keluar dari dadanya.


“Dia mati? Secepat ini?” gumam Yudhar pelan.


“Setidaknya, itulah yang terjadi!” tukas Pharos—lalu menyusul Handita menuju ke tubuh Edward.


Handita mencoba mengobati luka Edward, atau mencoba menghentikan rohnya yang akan berpisah dari badan. Dengan telepasi kekuatan, Handita berusaha membangunkan Edward dari Kematian. Tapi ....


“Dia sudah mati!” ucapnya menyerah.


“Kau yakin dia tak bernyawa lagi?” tanya Yudhar ingin tahu.


Handita mengangguk. “Dia tak akan hidup lagi. Takdirnya sudah berakhir.”

__ADS_1


“Eed!”


__ADS_2