
Suara erangan Sean begitu keras. Anak itu benar-benar bertarung dalam emosinya. Suara pedang Sean menghantam tubuh Patriak Zhu. Wanita itu terus menerus mampu menghalau serangan Sean.
Beberap kali Patriak Zhu membalas Sean dengan kekuatan. Tidak sedikit, Sean selalu terkena serangan itu. Pasalnya, Patriak Zhu adalah salah satu pemilik kekuatan dahsyat.
Menjelajahi jiwa abadi adalah keinginannya. Itulah kenapa, begitu mampu mengalahkan Sean dia memiliki tingkat percaya diri yang tinggi.
Pedang Sean terjatuh, saat menghantam pedang Patriak Zhu. Menancap di tanah, pedang itu sulit Sean raih.
Patriak Zhu tersenyum miring, sebab Sean tak lagi memiliki senjata di tangannya. Walaupun Sean tak bersenjata, namun Sean tak ingin menyerah begitu saja.
“Tak ada yang akan melindungimu Lausius!”
“Kita lihat saja, siapa yang mampu melakukannya!” balas Sean murka.
Dengan kekuatan secepat angin, Sean tiba-tiba berada di depan Patriak Zhu. Wanita itu tidak menyadari, kalau Sean menyambanginya dengan Bogeman mentah. Belum sempat dia menghindar, dada Patriak Zhu terhantam keras oleh pukulan Sean. Membuatnya terpental cukup jauh, dan memuntahkan darah.
Namun, sayapnya mengepak, sehingga Patriak Zhu tak sampai terjatuh dari udara kala mendapatkan pukulan keras—yang nyaris merontokkan tulang dadanya.
Patriak Zhu menyeringai. “Ternyata, dia memiliki kekuatan dahsyat juga rupanya!” gumam Patriak Zhu pelan.
Kembali tersenyum miring, wanita ini lalu merenggangkan tangannya. Telentang, kedua tangan Patriak Zhu mengeluarkan kekuatan besar. Menatap Sean, wanita ini sungguh sudah di sulut oleh pikiran licik.
“Kau tak akan mampu menghindar dari serangan ku kali ini Lausius. Kau akan berakhir sekarang!”
Dari kedua tangan Patriak Zhu keluar dua buah kekuatan membentuk roh naga. Tangan kanan roh naga es, dan yang kiri adalah roh naga api.
Kedua roh naga itu berputar saling mengitari tubuh roh masing-masing. Menuju ke arah Sean, dalam sekejap mereka mengelilingi anak itu.
Sean terdiam, dia bingung, apa yang harus dia lakukan saat itu. Kecuali, merasakan dirinya dalam ke kosongan yang hampa. Dua roh naga itu bersatu, membentuk tornado besar. Mengelilingi Sean, seolah kedua roh itu siap melahapnya.
Patriak Zhu mendengkus tersenyum. “Inilah yang aku harapkan. Kematian Lausius adalah yang paling di tunggu-tunggu oleh semua pemburu jiwa abadi. Aku adalah pemenangnya.”
Mungkin bagi Patriak Zhu, ini adalah akhir bagi Sean. Namun itu tidak berlaku untuk seorang Lausius. Dia tak akan menyerah, dalam keadaan seperti ini. Tubuh Sean lagi-lagi bercahaya, menandakan Sean tak bisa terkungkung dalam tekanan.
Dua roh naga itu menampakan amarah mereka. Usai mengitari Sean, membuat konsentrasi anak itu buyar. Napas kedua roh naga itu siap menelan Sean.
Tapi ....
“Aku tidak akan membiarkan semua ini terjadi. Aku akan membuat semuanya kembali damai seperti semula!”
Sayap emas burung Phoenix menampakkan cahaya terang. Bahkan cahaya itu menembus pusaran hitam yang mengurung Sean.
Semua orang yang ada di bawah Sean, mereka terhenti sejenak. Melihat fenomena tak biasa ini.
Tak lama kemudian, kedua roh yang siap melahap Sean itu, hancur. Lantaran, kuatnya cahaya itu tak mampu di tembus oleh mulut naga. Patriak Zhu membesarkan matanya, saat melihat perubahan Sean.
“Anak itu ...!”
Sebuah kekuatan besar menggelinjang menyapu awan. Tornado dari roh naga ciptaan Patriak Zhu menghilang tanpa jejak. Sean kini muncul dengan tubuh bercahaya, dan seekor roh ular mengelilingi sayap lebar itu.
“Roh dewa ular. Medusa ternyata ....”
Patriak Zhu makin tertegun. Pantas saja pikirnya, dua roh naganya tak bisa melahap Sean. Ternyata anak itu memiliki jiwa lain dalam dirinya. Jiwa rangkap, dan Sean menunjukkan jiwa itu pada Patriak Zhu.
Dalam sekejap mata, Sean sudah berada di hadapan Patriak Zhu. Sean lalu mencekik wanita itu, hingga dia merasakan kesakitan akibat cengkraman Sean.
“Kau ....”
“Aku akan membuatmu menjadi penghuni neraka paling abadi. Kau akan merasakan apa yang seharusnya tidak pernah kau rasakan sebelumnya!”
Kedua tangan Patriak Zhu menahan begitu sakitnya cekikan Sean. Dia ingin meronta, namun tenaga anak itu sangat kuat. Patriak Zhu tak bisa melepaskan dengan segera cekikan itu.
Walau dia tahu, dirinya sedang dalam ancaman. Namun, Patriak Zhu masih sempat tersenyum. “Kau kira, kau bisa membunuhku secepat ini kah wahai Lausius!”
__ADS_1
Sean makin memperkuat cekikan. Hingga wanita itu terlihat lemas tak bertenaga. Tapi, Patriak Zhu masih saja sombong. Tak sekalipun dia merasakan sakit atas cekikan itu, walau sebenarnya dia nyaris menyerah di tangan Sean.
“Kau akan berakhir. Ucapkan selamat tinggal untuk kaummu!” ucap Sean datar.
Mengangkat tubuh Patriak Zhu ke udara, wanita ini kembali menyeringai.
“Sangat percaya diri mau membunuhku. Kita lihat, seberapa kuatnya kau!”
Kedua tangan Patriak Zhu yang sempat menahan tangan Sean agar tak mencekiknya hingga mati. Kini perlahan dia lepaskan. Dari tangan kanannya keluar pedang besar, tak butuh waktu lama. Patriak Zhu langsung menusuknya tepat di jantung Sean.
Sean sempat bergerak sedikit, saat pedang itu berhasil menembus jantungnya, sampai pedang itu mengoyak bahkan telah menembus punggungnya. Tak lupa, sayap itu juga menerima betapa sakitnya hujaman pedang Patriak Zhu.
“Kau lihat. Kau akan mati kali ini. Haha ...!”
Tertawa Patriak Zhu memang telah membuat Sean makin tersulut dalam amarah. Menoleh ke arah pedang yang menusuknya, darah segar sudah menetes jatuh ke tanah.
“Jika aku mati, kau juga harus mati bersamaku!” ujar Sean berang.
Mengepal keras tangannya, hingga mengeluarkan cahaya terang. Patriak Zhu membesarkan matanya, kali ini dia benar-benar tamat. Pukulan keras dari tinju Sean tepat mengenai dadanya untuk yang kedua kalinya. Patriak Zhu terdorong cukup keras, memuntahkan banyak darah akibat pukulan Sean.
Sean menghilang, kini muncul di belakang Patriak Zhu. Sean kembali menyerangnya dari belakang. Lalu, Sean hilang lagi usai menyerangnya.
Menggunakan teknik cepat, Sean menyerang dari segala arah. Pukulan terakhir dari Sean, yakni dari atas. Pukulan keras, tepat mengenai perut Patriak Zhu. Membuat wanita cantik itu terjatuh cukup keras ke permukaan tanah sekeras batu. Hingga menciptakan sebuah awan debu yang begitu besar.
Bahkan sebuah cekungan pun tercipta, tubuh Patriak Zhu tenggelam di dalam tanah. Seakan seperti meteor yang menghantam, begitulah kerasnya terjangan kekuatan Sean terhadap Patriak Zhu. Juga menciptakan keretakan yang cukup besar di tempatnya terhantam. Patriak Zhu mati, riwayat hidupnya yang panjang sudah berakhir di tangan Sean.
“Pangeran!” teriak Handita.
Usai memberikan pukulan kematian pada Patriak Zhu, napas Sean terengah-engah. Tak lama kemudian, Sean mulai gontai di udara. Matanya perlahan memejam, Sean tak sadarkan diri.
Dia terjatuh ke bawah, dengan pedang besar dan tajam Patriak Zhu yang masih menusuk dirinya. Juga anak panah yang masih bersarang di punggung Sean.
Dewi Handita dan Dewi Pharos mengepakkan sayapnya, menangkap tubuh Sean sebelum jatuh keras ke tanah. Membawa Sean turun perlahan, Sean makin lemah. Namun dia masih sadar, dia masih ingat Jessica dalam pikirannya, juga Edward.
“Lalu, bagaimana ini. Apa yang harus kita lakukan untuk menyelamatkan pangeran?” tanya Pharos yang ikut khawatir.
Handita menggeleng. “Kita tak ada pilihan lain. Kecuali ....”
Dengan wajah kuyu, Handita memandang Sean yang terjatuh di pangkuannya. Sean berdiri tegap, sambil menahan sakit pada tusukan di jantungnya.
Sean terbatuk. “Jessica. Eed,” ujarnya ingin meraih kedua temannya yang sudah tak bernyawa.
“Pangeran jangan melakukan sesuatu yang sulit. Aku akan membantu menyembuhkanmu!”
Handita menahan Sean, namun Sean tak mengindahkannya. Dengan jalan merangkak, Sean menuju ke arah kedua temannya. Memegang tangan Jessica dan Edward, Sean menitikkan air matanya.
“Jessica. Edward. Kalian ..., maafkan aku. Ini semua salahku!”
Crypto dan yang lainnya, melihat Sean tak terbendung dalam tangisan. Anak itu masih memikirkan orang lain, saat dirinya sendiri sedang terluka parah. Pedang dan anak panah, belum juga tercabut dari tubuh Sean.
“Pangeran ....”
Yudhar ikut menitikkan air mata, ketika melihat sahabatnya itu menangisi dua teman terbaiknya.
Pertarungan terhenti, karena pasukan Elius sudah tak ada lagi yang berani memberontak. Banyaknya korban yang berjatuhan, semua itu sudah berakhir.
“Inilah akhir dari segalanya. Pangeran telah memberikan jiwanya pada kita semua,” bisik Driyad pada Amuria.
Pria itu menangis, sebab dia pernah melihat takdir Sean di dalam ruangan manuskrip istana sebelum mereka menuju ke Medan pertempuran.
“Jika ini adalah akhirnya. Aku hanya berharap, para petinggi langit tidak lagi menguji tanah kemakmuran ini dengan banyak rintangan. Biarkan pangeran Lausius tinggal di sisinya. Biarkan dia hidup tentram di surgawi.”
Amuria juga menyeka air matanya. Dia tak mampu menahan Isak tangis.
__ADS_1
Dari udara, sebuah dimensi kekuatan bulat tiba-tiba muncul. Dari lubang dimensi itu muncul Lord Shutanhamun, Heksodus, Edna dan Heyden.
Dengan jalan yang memburu, Ibu Sean berlari menuju ke arah Sean. Dia tiba di tanah ini, di saat terakhir melihat putranya yang sekarat.
“Sean,” teriaknya sambil menangis.
Sean menoleh. “Ibu ....”
Edna makin tak kuasa ketika melihat putranya sudah terluka. Tusukan pedang itu, membuat kaki Edna menjadi lemas. Dia tak sanggup lagi berjalan mendekati putranya. Kecuali tersungkur, harus kehilangan putranya.
Ayah Sean merangkul Ibunya. Wanita itu sudah peluh, histeris melanda dirinya.
“Jika aku tahu takdir ini akan benar-benar terjadi. Maka aku akan memohon pada dewa yang di atas. Ubahlah takdir itu, biarkan aku yang menggantikan takdir ini!”
Heyden mengelus pundak Edna. “Ini sudah kehendaknya. Kita harus kehilangan Sean. Kita harus menerima kehendak para petinggi langit, mereka yang menentukan semua ini.”
“Tetap ini tidak adil. Kenapa harus putraku yang menerima takdir yang buruk ini!”
Edna menyeka air matanya. Sementara Sean, dia beranjak dari tubuh Jessica. Mendekati Edna dan Heyden. Sean mengambil kedua tangan orang tuanya. Lalu Sean berkata pelan.
“Ayah. Ibu. Maafkan aku. Maafkan aku, jika aku telah mengecewakan Ayah dan Ibu. Ibu tidak bisa menyalahkan takdir, semua ini adalah keinginanku.”
Heyden dan Edna tak bisa melepaskan lagi rasa bersalah mereka. Keduanya langsung memeluk Sean, mungkin ini yang terakhir kali untuk kedua orang tua itu.
“Sean. Ibu tahu ini semua ini adalah takdir. Tapi, kenapa takdir ini sangat kejam padamu. Ibu tidak rela melepaskanmu nak!”
Sean, dia tersenyum memandangi Ibunya. “Ibu tidak perlu merasa bersalah atas semua takdir ini. Aku sangat menyayangi Ayah dan Ibu. Maafkan aku. Aku harus pergi.”
“Tidak ..., tidak!”
Edna menarik tangan Sean, saat anak itu berdiri menjauh darinya. Heyden menghalau Edna, ketika wanita itu tidak rela melepaskan kepergian Sean.
Sean berkata untuk terakhir kalinya, sebelum dia benar-benar mengakhiri takdirnya yang singkat.
“Tolong jaga Ibu. Aku menyayangi Ayah dan Ibu, juga teman-temanku. Kalian semua adalah orang-orang yang terbaik. Selamat tinggal!”
“Tidak. Sean!”
Edna ingin meraih Sean lagi, namun Heyden kembali menghalau.
“Edna, putriku. Ketahuilah, bahwa semua ini telah berakhir. Inilah jalan para Lausius. Kembali pada sang pencipta, Dewa Opis. Kau harus merelakan kepergiannya.”
Pria tua itu mencoba menenangkan Edna, namun wanita itu makin histeris.
“Tidak. Sean harus tetap di sini. Sean. Kau tidak boleh pergi. Sean!”
Edna makin berteriak keras, dia ingin meraih Sean. Yang Sean lakukan, hanya memandangi semua orang yang menatap anak itu. Lalu bergumam.
“Jika ini adalah jalan untuk menyelamatkan semua orang. Memberikan sebuah kehidupan yang damai, maka aku rela melakukannya.”
Dunia yang gelap gulita ini menjadi saksi Sean. Crypto, Driyad, Yudhar dan yang lainnya terlihat menangis. Mereka tak akan percaya, bahwa takdir Sean secepat ini. Mereka tak akan rela ini terjadi begitu saja.
Sean mencabut pedang yang menghujam jantungnya. Pelan-pelan, cahaya di tubuh Sean kembali bersinar terang. Usai pedang itu tercabut, anak itu terlihat seperti Sean sebelumnya. Sean yang menawan, Sean yang rupawan.
Namun itu tak bertahan lama. Pelan-pelan dari ujung kuku Sean, tubuhnya hancur. Bagai sebuah debu, tubuh Sean lenyap perlahan, berubah menjadi sebuah bunga lotus biru. Menghujani orang-orang yang mencoba menguatkan diri akan kehilangannya.
Bunga cantik itu menghiasi langit yang gelap. Edna makin terisak, putranya kini hancur menjadi cahaya yang di gantikan oleh indahnya bunga.
Dunia yang gelap, pelan-pelan menjadi terang kembali. Sinar sang Surya muncul di balik awan hitam. Tanah sekeras batu, perlahan namun pasti. Kini berubah menjadi hijau. Istana dan semua bangunan yang sempat luluh lantak, kembali utuh seperti sedia kala. Seakan perang tadi tidak merusak apapun.
Tubuh-tubuh yang sudah tak bernyawa, semuanya terangkat ke udara. Satu persatu mereka hidup kembali. Termasuk Edward dan Jessica. Dua anak itu kembali hidup.
“Selamat tinggal. Inilah akhirnya!”
__ADS_1