
Marhaban Ya Ramadhan. Selamat berpuasa. Maaf, jika dalam menulis ada salah ucap atau menyinggung pembaca. Semoga puasanya lancar bagi kalian yang menjalani.
†††††††
“Sean. Di mana kau. Aku merindukan mu.”
Jessica menempelkan tangannya di dada. Wajahnya terlihat sendu, dia berkali-kali menatap jalan yang baru saja mereka lalui. Di atas bukit, mungkin Jessica berharap temannya itu secepatnya tiba di depan matanya.
Selalu, bahkan Jessica tidak bisa melupakan bayang-bayang wajahnya. Sean yang terbaik, tentu Jessica tak rela berpisah dengan teman akrabnya itu.
“Hei. Apa yang kau lakukan di sana Nak?” tegur Gordon. Jessica diam, dia mengalihkan pandangannya pada jalan setapak menurun.
Mereka sedang di atas bukit. Bukan Crypto bilang mereka mereka ada di atas puncak tebing yang tinggi. Di sisi sebelah kanan Jessica adalah jurang dengan hamparan hutan luas yang di tutup kabut. Dan di sisi kiri Jessica sama di seperti di sisi kanannya, hutan yang lebat.
“Sean....”
“Percuma kau menunggunya. Dia kemungkinan tidak bisa kembali. Mungkin kita tidak akan menemukannya.” Gordon memberitahu, berulang kali pada Jessica. Agar gadis itu tak banyak berharap.
Jessica tahu, mereka sudah mengatakannya berulang kali. Selain Medusa, ada Xavier, Elius, dan yang lainnya. Akan sulit untuk Sean lepas dari tangan-tangan pemburu Lausius itu.
“Apakah tak ada cara lain agar aku bisa bertemu Sean lagi?”
“Itu tidak mungkin. Sejauh ini, pangeran pun tak menemukan jejak kita,” Crypto menyahut. Dia ikut berbincang saat melihat Gordon dan Jessica berhenti tepat di atas jalan menanjak.
“Sean. Bahkan aku tidak tahu apa yang terjadi padanya saat ini. Kenapa dia harus tak selamat seperti ini?”
Sungguh, demi apapun. Jessica merasa degup jantungnya amat kencang. Pikirannya selalu terpaku pada Sean, teman yang paling di rindukannya. Jessica sudah gemetar ketika mengingat wajah temannya itu. Hidup atau mati, Jessica ingin sekali melihatnya.
Jessica, mungkin dia tidak bisa berharap banyak, Sean kini tak nampak di pelupuk matanya. Kapan pun.
Selama mengikuti langkah Crypto, Jessica tak pernah fokus pada jalannya. Naik turun bukit, melewati Padang rumput, menyebrangi sungai dan melintasi hutan. Itu tidak cukup membuat Jessica melupakan Sean.
“Ayo kita lanjutkan perjalanan ini. Hari makin menggelap, aku takut akan banyak halangan dan rintangan yang datang jika sudah malam seperti ini.”
Crypto kembali mengajak keduanya melanjutkan jalan. Sekali lagi Jessica menoleh ke belakang, melihat apakah ada bayangan Sean datang mengikutinya.
Namun, nihil. Seandainya saja Sean tiba di dekatnya, Mungkin, Jessica akan memeluknya penuh kehangatan. Jika itu terjadi.
“Ayo,” Ajak Jessica. Kini wajahnya pasrah. Bayangkan saja, di tempat asing, tak ada seorang pun yang di kenal. Melintasi tempat baru, melalui hal-hal baru, walau asik, namun tak seasik jika ada Sean dan Eed. Yudhar termasuk.
“Mereka sahabat berdebat ku. Mereka sahabat yang membuat aku selalu marah. Walau begitu, mereka tetap perhatian pada ku. Seandainya kita bertemu, aku berjanji. Aku tidak akan bersikap kekanakan lagi.”
“Hei. Kau masih memikirkannya nak?” singgung Gordon.
Melihat Jessica berjalan seperti tak ada upaya dan tenaga, pria gemuk itu tertarik menginterogasinya. Dia sengaja berjalan di sisi Jessica, agar bisa menghibur gadis yang gundah itu.
“Selain kehilangan Sean, makhluk itu juga pergi.”
“Maksud mu Ligong?”
Jessica mengangguk. “Dia menghilang. Itu artinya aku dan Sean tidak akan pernah bisa bertemu kembali. Kapan pun.”
Crypto yang berjalan beriringan dengan keduanya, men-decak. Dia mendengar ucapan Jessica. Ucapan seseorang yang putus asa.
“Kita lihat saja nanti. Aku yakin, pangeran akan baik-baik saja.” Crypto ikut membalas ucapan Jessica, gadis itu masih tak berhenti memikirkan Sean.
“Kau tidak bisa memprediksi dengan benar. Untuk apa kau berkata seperti itu!”
Tunggu, Jessica terlihat berang. Crypto mengerjapkan matanya, melihat tingkah Jessica sudah berbeda dari sebelumnya.
“Apakah kau sedang marah?” tanya Crypto.
Jessica melirik sinis pria menawan itu, setidaknya Jessica sebal padanya. Dia terlalu lemah untuk melindungi Sean. Jessica tak menjawab pertanyaan Crypto, yang ada dia hanya mempercepat langkahnya, meninggalkan Crypto.
“Kau jangan terpancing. Dia benar-benar berbeda saat ini.” Gordon menepuk sebelah bahu Crypto, sementara Jessica sudah berlalu. Langkahnya amat cepat, meninggalkan Crypto dan Gordon.
Prajurit di depan sana pun tak menghalau langkah Jessica. Gordon setelah berkata, dia langsung mempercepat langkah kakinya. Mengejar Jessica. Gordon menggerutu, sebal rasanya kalau di salahkan sepihak.
“Apakah aku yang harus menjadi semua limpahan kesalahan pangeran. Ckckck, malangnya aku.”
Di depan sana, jalan setapak sudah dekat dengan jalan yang terbuat dari beton-beton. Ada ribuan anak tangga, di mana mereka berdiri bukan di tanah, namun mengapung di udara.
__ADS_1
Ada banyak ukiran di sepanjang jalan beton klasik itu. Di sisi pinggir kanan dan kiri pembatas anak tangga, ada lukisan yang di tempel dan terbuat dari kaca.
Di penuh warna, lukisan indah yang menampilkan seperti..... Kisah perang, kehidupan penduduk, lalu ada... sedikit gambar bunga-bunga misterius. Entah, siapa saja yang melihatnya pasti akan bingung.
Jessica belum sampai sana, namun Crypto memahami keadaan.
“Hati-hati. Perhatikan pijakan kalian!”
††††††
“Ow....” Sean ternganga. Di depan jalan yang di laluinya kini menampilkan sebuah bangunan kuno yang berdiri di atas lereng bukit. Ada dua tebing yang terpisah, di satukan oleh sebuah jembatan.
Di sisi sebelum memasuki jembatan, ada dua buah patung besar. Seperti patung seseorang berjubah, dengan membawa kitab di tangan masing-masing patung. Kepala di tutupi burka, lalu di sepanjang kabut awan menutupi tempat seindah ini. Mereka saling terhubung, bebatuan terapung di udara, sebagai penyangga jalanan.
Perhatian Sean masih tertuju pada dua patung besar di sana. Sean begitu tak bisa mengatakan dengan cukup hanya memuji.
“Astaga. Seberapa tingginya patung ini kawan?”
Sean takjub, dia berlari kecil mendekati patung besar. Diikuti oleh Ligong, macan hitam itu bak anak kucing. Dia seperti ikut girang, sesekali lidah macan hitam itu mencecap wajah Sean.
“Hei kawan. Kau membasahi wajah ku,” ucap Sean geli.
Ligong salah tingkah saat Sean memanjakannya. Dia meloncat-loncat kesana kemari, benar-benar seperti anak kucing pikir Sean.
“Kau begitu bahagia. Apakah kau sedang mengisyaratkan sesuatu?” tanya Sean. Sambil satu tangannya mengelus lembut kepala Ligong, macan itu mengangguk beberapa kali. Menandakan kemungkinan, iya. Dia sedang berisyarat.
“Baiklah. Kalau begitu, tunjukan jalannya. Aku akan mengikuti mu,” kata Sean lagi. Kali ini Sean menyerahkan sepenuhnya pada Ligong—sebagai penuntun jalan.
Ligong menggigit jubah yang Sean kenakan. Jubah yang Sean dapatkan dari telaga sebelumnya. Menarik Sean antusias, menyusuri jalan yang mengambang di udara.
Ligong membawa Sean, langsung melintasi jembatan yang ada dua patung di dua sisi tebing. Ada beberapa bangunan kuno, membuat Sean kagum ketika melihatnya.
Mirip game temple run, Sean seakan di tuntun oleh Ligong menuju ke dunia fantasinya.
“Apakah hewan ini sedang menunjukan sesuatu pada ku?”
Entah, Sean tak paham. Yang pasti, makhluk itu membawanya naik turun anak tangga di jalan yang mengapung ini. Bebatuan terhampar di mana-mana. Ada kabut menutupi hutan di bawah jalan yang Sean lalui. Sungguh, unik.
“Pelan-pelan kawan. Kau tak perlu terburu-buru.”
“Hei. Ayolah kawan. Kau Sepertinya sudah kembali menemukan rumah mu. Apakah itu benar?”
Ligong masih mengangguk. Dan Sean yakin, si macan hitam sudah menemukan jalan pulang.
“Baiklah. Kita langsung menuju ke rumah mu. Kau pasti amat merindukannya.”
††††
Dalam pangkuan Moore, wanita telaga yang sudah membunuh ratusan para pejalan yang mampir ke telaganya ini, kini terkulai lesu. Tak mampu lagi dia bangkit seperti sebelumnya.
“Kau.... Harus pergi. Tinggalkan aku sendiri. Kau jangan hiraukan aku. Kau harus.... Mendapatkan Lausius itu.”
“Tidak. Kau belum melihat kejayaan kaum Manun. Kenapa kau berkata seperti itu. Kau tidak boleh mati.”
Moore terlihat menangis, satu tangan sahabatnya sesama penyihir menyeka air mata yang tengah berguguran itu.
Si wanita pembunuh di telaga ini tersenyum, dari sudut bibirnya keluar darah segar.
“Jika kau tidak pergi. Siapa yang akan membawa kejayaan kaum Manun. Kau yang bisa aku andalkan saat ini. Semua keberuntungan mendapatkan Lausius itu, aku serahkan pada mu.”
“Tidak, tidak, tidak. Kau jangan berkata seperti itu. Kau pasti selamat, kau bisa kembali pulih. Kita harus bersama-sama mendapatkan Lausius itu. Kau tidak boleh menyerah Seperti ini.”
Moore memeluk erat sahabatnya itu, dia merasa kehilangan di saat seperti ini. Akan tetapi, ini bukanlah pilihan. Dia tidak sanggup harus merelakan teman seperjuangannya itu berakhir tragis.
“Moore. Aku percaya, kau pasti......” Dalam beberapa kali berkata, rekan Moore terbatuk-batuk. Darah segar terus keluar dari mulutnya. Moore masih sesenggukan, air matanya berjatuhan di pipi wanita sekarat ini. “Kau pasti bisa mendapatkan Lausius itu. Kau..... Kau harus berjanji. Kau tidak boleh terus berada di bawah tekanan Elius. Kau....”
“Aku kenapa?”
Moore mengguncang tubuh rekannya, dia makin lemah. Tak di sangka, pedang merah Sean membuat rekan Moore tak berdaya.
“Kau.... Harus.... Bisa, bangkit!”
__ADS_1
“Yore..... Yore.... Yore. Kau kenapa.”
Setelah berkata pelan tadi, wanita telah itu mengembuskan napas terakhirnya.
Sayang, dia meregangkan nyawanya secara tak terhormat. Moore tak paham, dia harus bagaimana membuat rekannya itu kembali.
Denyut nadi dari lehernya tak lagi berdenyut, dan inilah akhir dari hidup wanita telaga ini.
“Yore. Kau tak bisa seperti ini. Kau.... Akh....”
Semua sudah terjadi. Malam itu Moore kehilangan sahabat terbaiknya. Mata wanita penyihir itu sembap, menangis tak karuan.
Wajah buruk rupa yang sebelumnya jijik untuk di lihat. Kini kembali menjadi semual, seperti sebelumnya. Moore terlihat secantik dirinya sebelum dia terkena kutukan.
Moore menjerit histeris, menyebut nama sahabatnya yang telah mati. Membuat telaga yang sensitif pada suara ini mengiang.
“Yore........”
†††††
Jessica menoleh ketika dia hampir terjatuh. Beruntung Crypto dengan cepat langsung menarik lengan gadis itu. Jika tidak, dia akan terjatuh ke bawah.
“Kau harus berhati-hati,” kata Crypto memperingati. Tangannya menarik Jessica, sementara gadis itu sedikit kaget mendadak.
“Terima kasih,” balas Jessica kikuk.
Jessica tak melihat, bahwa sebenarnya dia hampir terjatuh sebab tak melihat titian jembatan.
Padahal jelas di depannya adalah jembatan, namun Jessica tak begitu memperhatikannya.
“Ayo kita lanjutkan perjalanan. Tapi ingat, kalian harus memperhatikan langkah kalian.”
Crypto memberitahu para pengawalnya. Mereka agak ceroboh. Sebenarnya pijakan beton yang mengambang di atas awan ini, di mana di bawahnya adalah kabut menutupi hutan—tidak berbahaya. Hanya kurang hati-hati saja—membuat siapa saja bisa celaka.
Banyak bangunan keren di sini. Semuanya berdiri di udara, dan Jessica yakin. Tak ada gaya gravitasi di sini, sehingga bangunan bergaya klasik nan kuno bisa berdiri kokoh.
Tapi, aneh. Jika tak ada gravitasi bumi, bisa saja manusia tak bisa bernapas. Namun tidak di sini, dia bisa bernapas lega, walau ada perbedaan gaya.
“Hei. Apakah tempat ini sebuah negeri dongeng?” Jessica membisik, bertanya pada Gordon.
“Bisa di katakan begitu.”
Jessica dan Gordon jalan sejajar, Crypto dan pengawalnya memimpin perjalanan. Mereka sudah melintasi jalan bak menuju ke surga ini.
Jessica men-decak kagum. Apalagi jalan di udara ini di penuhi pemandangan indah. Sesekali ada kanebo yang menjadi pembatas setiap jalan di atas awan ini.
Ada beberapa pilar penanda jalan, ada istana kecil, ada kolam, bunga-bunga cantik. Semua itu ada di atas udara, mengambang. Jessica tak heran, memang sejak awal tempat ini sangat menakjubkan.
“Patung apa itu?”
Saat Jessica membesarkan matanya, gadis itu melihat tiga buah patung besar. Tingginya bahkan tak terhingga, mereka berada di atas bukit. Menembus awan.
“Itu patung petinggi langit. Para dewa Otis, pemberi berkah pada awan Metis. Di balik sungai emas Mosapus, tanah yang makmur ini sangat di cintai oleh dewa-dewa di atas. Tempat ini penuh keajaiban bagi kau yang belum pernah datang kemari.”
“Di sini ada dewa?”
Gordon mengangguk. “Jika tak ada dewa. Lalu bagaimana semua makhluk di Saranjana ini bisa lahir.”
“Oh. Benar.”
Ya, Jessica lupa. Jika tak ada sang pencipta, mana mungkin semua makhluk di sini bisa hadir. Jessica tak menyangka, ternyata ada semacam dewa di sini.
“Sudahlah. Jangan banyak tanya lagi. Kita hampir sampai di kota Saranjana. Aku harap kau jangan terkejut, di sana lebih indah dari tempat manapun.”
“Maksud mu?”
Jessica masih banyak pertanyaan. Gordon sudah memperingati dirinya tadi. Memang, semua peradaban, bangunan yang Jessica lihat sangat maju. Walau kini, tak menutup diri Jessica untuk mengagumi tempat ini. Semua nampak ajaib, siapa saja yang melihatnya tak percaya jika hal semacam ini ada.
“Kau lihat saja nanti. Kau akan mendapatkan jawabannya.”
Oke, Jessica mencoba memahami situasi. Dia tidak akan bertanya apapun. Dia akan menikmati tempat ini kemudian.
__ADS_1
“Kau benar. Aku seharusnya tak kaget.”
TBC