Adventure Of Lord Lausius

Adventure Of Lord Lausius
Episode 57


__ADS_3

Perjalanan makin ke sana makin panjang saja di rasakan oleh Sean.


Pencarian temannya yang hilang, si Edward hingga saat ini belum menemukan titik terang.


Langkah kaki yang mereka tuju membawa mereka entah kemana tanpa kepastian.


Karena perkataan Dewi Handita yang mengatakan tidak akan lama lagi ia berjumpa dengan bocah itu serta tuntunan perjalan oleh Driyad, memaksa Sean harus mengikuti langkah kaki makhluk ini.


Walau sempat bertemu dengan banyak macam mara bahaya dan halangan beserta rintangan yang tiada akhir, Sean tidak pernah mundur untuk menemukan sahabatnya si Edward. Anak itu tidak pernah berpikir untuk menyerah untuk membawa Eed kembali pulang ke kota new York. Sebab dari awal Nyonya Lopez sudah memberikan kepercayaan penuh padanya.


Bagaimana dia akan bertanggung jawab atas kembalinya dia ke kota kelahirannya tanpa membawa Edward. Perjalanan ini pikir Sean sangat melelahkan.


Beristirahat sebentar di lereng bukit tuksila di rasa cukup. Kini langkah kaki Sean dan teman-temannya membawa mereka ke sebuah ladang buah raksasa.


Seperti kata Driyad, bahwa tempat ini akan di penuhi dengan segala sesuatu yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya. Semua buah-buahan yang pernah mereka jumpai adalah buah-buahan raksasa berukuran tak biasa.


Ladang labu. Buah raksasa ini tumbuh merambat dimana-mana. Ukuran mereka tidak bisa di bayangkan seperti apa. Jauh lebih besar dari pada mobil bus sekolah yang sering Sean tumpangi di kota new York.


Dua kali lebih besar dari apa yang ia lihat saat itu. Labu berwarna kuning ini biasanya di gunakan untuk acara Halloween. Tetapi jika sudah sebesar seperti itu? Tak tahu bagaimana dia akan mengubahnya menjadi sebuah mahakarya yang luar biasa.


Daunnya saja dua kali lebih besar dari tubuhnya. Sehingga mereka nampak seperti liliput saat berada di ladang labu ini. Tidak heran kenapa kota ini di sebut kota berimajinasi tinggi, karena semuanya yang terlihat tak ada ubahnya.


"Mungkin aku akan bosan pada tempat ini. Sepanjang jalur yang kita lalui adalah segala sesuatu yang tak masuk akal." Jessica mulai berhenti takjub. Bosan rasanya bagi anak itu menyaksikan keajaiban di berbagai tempat yang mereka lalui walau nyata adanya.


Mungkin bagi Jessica ini terlihat sudah biasa dan tak ada takjub lagi bagi anak itu. Namun bagi Sean dia masih takjub sama seperti sebelumnya. Sean menyukai tempat ini beserta keindahan yang di milikinya.


Driyad memahami bahwa anak-anak sudah hafal apa yang akan mereka temui sebelumnya. Tetapi sebisa mungkin dia mencoba mengajak mereka melalui jalan-jalan yang ajaib saat mereka melihatnya.


Hingga siang itu di ladang labu raksasa yang menjalar tak karuan seekor Monster terbang dengan paruh yang tajam. Dia nampak bergigi, bersayap hitam dan bercakar kuat.


Sean dan para sahabatnya bisa melihat makhluk itu terbang dari kejauhan. Dia nampak seperti sedang mengejar mangsanya. Di ikuti dengan suara hewan yang familiar di dengar. Gajah, Nampaknya monster bermoncong tajam ini sedang mengincar gajah liar di dekat ladang labu ini.


"Hewan apa itu Driyad?" Tanya Sean. Rupanya saja amat menyeramkan sampai-sampai Sean agak merinding melihatnya.


"Dia mosarus. Burung berbahaya dari selatan. Kita harus berhati-hati saat bertemu dengan mereka." Balas Driyad memberitahu.

__ADS_1


Makhluk ini amat buas, suaranya nyaring menggelar dan ukurannya sedikit lebih kecil dari labu-labu raksasa di sekitar Sean.


"Kenapa? Apakah mereka terlalu bahaya?" Sean bertanya berulang.


"Ya. Mereka monster mengerikan yang pernah ada di kota ini. Insting mereka sangat buas. Kita harus menghindar." Driyad berkata sambil memperingati anak-anak.


Awalnya Sean berpikir makhluk itu hanya satu. Tetapi kali ini dia salah. Suara gemuruh makin ramai menghiasi langit siang itu bahkan nampak seperti mendung hampir hujan.


Langit bagian Utara mulai menghitam dan diikuti suara makhluk menyeramkan.


"Hei..." Jessica berteriak keras. Dia mengagetkan para sahabatnya.


Lalu dia melanjutkan kembali ucapannya. "Lihat langit itu. Makhluk itu bertambah makin banyak!" Seru Jessica dengan kejelian mata yang tak di ragukan lagi. Anak itu bicara sedikit panik.


Driyad menyipitkan matanya, dia ingin melihat langit dari sudut pandang yang jauh lebih luas. Matanya menangkap bayangan langit yang menggelap.


Dia mulai menebak memang benar bahwa itu mosarus yang sedang mencari mangsa.


Terlebih satu mosarus di hadapan mereka berhasil menangkap seekor gajah lalu membawanya terbang ke udara. Tanpa ragu makhluk itu menyantapnya rakus. Bukan hanya satu mosarus yang menyantapnya, tetapi mosarus lainnya juga datang lalu saling memperebutkan daging gajah itu.


"Anak-anak lari sekarang!" Teriak Driyad bersuara mengeras. Sambil berbicara dia memerintah paksa anak-anak itu menyingkir dari hadapan mosarus.


Mosarus makhluk buas yang gemar memakan berbagai jenis daging. Daging apapun itu baik bernyawa atau sudah mati asal nampak di matanya, maka tanpa ragu dia akan melumpuhkan mangsanya.


Di udara, darah gajah yang menjadi santapan mereka berkucuran menetes ke atas labu. Sean melihatnya, bahkan dia sudah bergidik ngeri.


Apa yang Sean dan lainnya lihat menandakan bahwa mereka sangat buas dan rakus dalam memakan mangsanya.


Insting berburu mereka kuat, sehingga makhluk apapun yang ada di bawahnya mudah ia kenali.


Kejelian mata mosarus tak bisa di ragukan. Sekali lihat mereka langsung menghampiri makhluk kecil di bawahnya.


Driyad yang bertubuh besar, tidak jauh dari jangkauan mata segerombolan mosarus nampak jelas di mata makhluk ini.


Mangsa empuk di depan mata, mereka tidak akan melepaskan makanan lezat semacam Driyad ini.

__ADS_1


Sadar bahwa mosarus mengetahui keberadaan mereka, Driyad mencoba melindungi anak-anak.


"Kemana kita akan berlari." Jessica berteriak tak karuan. Dia mulai panik dan tidak bisa mengontrol dirinya.


Jalan buntu. Yang terlihat hanyalah ladang buah raksasa. Tidak ada jalan lain untuk bersembunyi. Sementara mata Driyad yang kesana kemari mencari jalan untuk bersembunyi, di belakang mereka terdapat tebing tinggi.


Driyad bisa memastikan ada goa di sekitar sana. Keadaan semakin mencekam, para mosarus yang terbang bergerombol terlihat semakin mendekat.


Kejelian mata Driyad membuahkan hasil. Dia menemukan sebuah goa, tetapi sedikit tertutup oleh besarnya labu. Sampai-sampai labu itu menutup hampir seluruh pintu masuk goa.


"Lari ke sana anak-anak!" Teriak Driyad menunjukan jalan goa.


Tanpa pikir panjang di tambah keadaan makin mencekam membuat Sean, Yudhar dan Jessica langsung menuju ke pintu goa.


Sulit untuk masuk kedalam sana karena labu besar menghalangi jalan mereka.


"Dorong yang kuat...... Akh...... Lebih keras....." Mereka bersemangat ingin memindahkan labu yang menggangu ini.


Sedangkan Driyad menghalau serangan para mosarus yang sudah menancapkan cakar ke arah anak-anak.


Cukup kuat bagi Driyad menampik hewan itu dan melempar bagian tubuh mereka yang sempat mendekati anak-anak. Hingga dua sampai tiga mosarus ia serang dengan kekuatan penuh.


Serangan Driyad berhasil, beberapa moncong mosarus yang sedikit tajam menusuk labu-labu. Cukup sulit bagi mosarus untuk melepaskan moncong yang tertancap di labu. Cakar-cakar mosarus yang tajam berusaha mengeluarkan moncongnya hingga labu-labu itu terluka akibat tercakar.


Namun Driyad tidak bisa melawan semua mosarus yang terbilang cukup banyak tak bisa di hitung jumlah mereka. Dia bisa menghalau beberapa saja, tetapi serangan yang mosarus lakukan lebih besar dari kekuatan otot Driyad.


Sambil menghalau, Driyad menengok ke arah ketiga anak itu berharap mereka bisa membuka labu penghalang pintu itu.


Tak bisa di pungkiri bahwa beratnya labu tak sebanding dengan kekuatan ketiga manusia yang lemah itu.


Kemungkinan berat total labu besar itu hingga puluhan ton atau lebih. Anak-anak itu sedikit demi sedikit bisa menggeser labu itu dari posisi semula.


"Sedikit...... La.... Gi.... Ki... Ta.... Bisa.... Menggeser...... La....... Bu...... I...ni...." Sean tanpa menyerah sambil menyemangati kedua temannya mendorong labu itu agar terbuka sempurna.


Kata-kata yang ia lontarkan sebagai penyemangat sedikit terbata-bata karena nafasnya sudah tersengal-sengal.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2