Adventure Of Lord Lausius

Adventure Of Lord Lausius
Episode 23


__ADS_3

KILAUAN EMAS VOL.7


"Baiklah... Anggap saja kau memang benar. Dan kau menang. Kau berhasil membuat ku tak berdaya atas ucapan mu itu!" Tuntut Sean sinis pada ucapan Jessica yang meremehkan kemampuannya menerka kejadian.


Ia memutar balik tubuhnya meninggalkan wanita perusak fantasi ini.


"Aku tak percaya ini, dia telah merusak pikiran ku." Gumam Sean dalam hatinya.


"Aku akan membuangnya bahkan meninggalkannya di Opera house, Sidney jika perlu. Ah tidak! mungkin aku akan membawanya mengunjungi puabla, meksiko


atau aku akan membawanya mengunjungi alps mountain di Austria lalu meninggalkannya sendirian. Dan akhirnya aku tak akan bertemu lagi dengan wanita cerewet ini. Lebih tepatnya dia adalah wanita tua yang lamban!" Sean mengumpat gadis itu dengan ekspresi sebal namun Sean tak lupa menambahkan sedikit tawaan penuh olokan.


"Hei Sean! mau kemana kau?" teriak Jessica pada Sean yang tanpa tanggung jawab meninggalkannya sendirian.


Jessica bukanlah tipe remaja yang akan tinggal diam jika dirinya di tinggal pergi oleh orang lain, justru dirinya mengejar Sean yang begitu saja pergi tanpa dosa.


"Kenapa kau meninggalkan aku sendiri. Apakah kau berniat meninggalkan aku di tempat ini begitu saja." Jessica memulai bicara nya dengan nada sedikit tinggi.


"Ehm.. Aku... Aku tak merasa begitu. Hanya saja sebaiknya kita mencari jalan lain disini."


"Jalan lain! apa kau tak melihat kuil ini. Bahkan kau sendiri juga tahu bahwa tak ada jalan lain disini kecuali lorong gelap itu. Kau selalu saja membual seolah disini juga terdapat pintu rahasia lainnya." Dengan angkuh Jessica bicara meninggikan ego.


Ia bicara mendekat pada Sean yang sempat meninggalkan nya begitu saja.


"Tunggu!!. Tak ada gunanya kita berdebat karena hal kecil ini. Lebih baik kita cari jalan keluar dari tempat ini, atau kita akan terlena oleh tempat ini. Apa kau berharap bahwa kita tak akan keluar dari sini untuk waktu yang lama." Ucap Sean menyeringai perdebatan kecil yang akan di timbulkan oleh Jessica.


Sean melakukannya, mengalah tanpa alasan yang logis.


"Oke oke oke baiklah aku akan mengalah pada mu! mari kita mulai mencari pintu itu, aku pun tak sabar ingin meninggalkan tempat yang begitu cantik ini namun penuh kutukan." Balas Jessica sedikit merendahkan egonya.


Jessica juga mulai mengalah, karena ia merasa dirinya terlalu berlebihan menanggapi apa yang Sean perbuat.


Mereka mulai memeriksa kembali tempat itu seperti sebelumnya.


Tentu banyak sekali barang berharga yang bisa mereka curi dari tempat ini. Mereka bisa membawanya pulang sebagai buah tangan bahkan jika mereka bisa mengambil semua barang berharga ini dengan menggunakan truk-truk besar lalu membawanya ke daratan negeri Paman Sam itu, bisa jadi keduanya di nobatkan sebagai orang terkaya sedunia mengalahkan Bill gates atau Bos Amazon bahkan bisa mengalahkan Mark Zuckerberg.


Namun keduanya tak bisa serakah hanya karena benda berharga ini. Keduanya akan merasa di kutuk oleh dewa jika Sampai melakukan pencurian di kuil emas ini.


Apalagi kuil ini tertata sangat cantik, begitu sangat di sayangkan jika harus membawa pulang sesuatu dari dalam tempat ini.


"Sean! tidakkah kau merasa kuil ini adalah kuil appolo di Yunani yang hilang itu? maksudku bukankah seperti di film-film Amerika, dimana aktor utamanya mencari kuil itu bertahun-tahun dan akhirnya mereka menemukan kuil itu." Jessica bicara dengan nada kasual di ikuti dengan sedikit bahasa godaan.


Jessica mulai bicara hal-hal yang tak penting agar keluar dari area keheningan mereka.


"Maksud mu kita seorang publik figur begitu?" Sean menjawab dengan bahasa sengit.


Jessica menggelengkan kepalanya tanda bahwa dia kontra pada Sean tapi sebenarnya dia juga setuju pada kata-kata anak itu. Jessica sedikit tersenyum palsu saat Sean menatapnya curiga.

__ADS_1


"Kau pikir kuil appolo di Yunani bisa berpindah tempat dengan sendirinya. Bahkan tak ada kekuatan magis manapun yang bisa memindahkan bangunan besar itu. Lelucon yang absurd." Sean mengumpat Jessica secara nyata tepat di hadapannya.


"Niat ku hanya ingin memecahkan kebuntuan dan keheningan ini, tapi mengapa bicaranya selalu saja membuat ku ingin memakannya!" Jessica dalam hati menahan rasa jengkelnya terhadap remaja yang berbahasa sadis ini. Dia sangat sebal mendengar kata-kata Sean ini.


"Ini bukan kuil appolo yang kau maksud, tapi aku rasa bahwa tempat ini lebih mirip dengan peradaban suku astek, suku Maya, atau mungkin suku Indian, di Meksiko."


Sean mendeskripsikan tempat ini dengan cermat sambil mengamati dan mencari rahasia lain tentang tempat ini.


"Benarkah Sean? padahal sebelumnya aku ingin mengatakan itu. Tapi kau telah mengatakannya lebih dahulu. Itu artinya dugaan ku benar jika kita sekarang berada di Meksiko."


Jessica menyambar ucapan Sean dengan cepat dan responsif. Jessica memang pandai dalam mencampur pikiran dan emosi.


Dia sangat terlatih bersandiwara.


Hanya saja ia salah arti atas ucapan Sean.


"Kau pikir kita sekarang dalam petualangan Time travel seperti di film-film yang pernah kau tonton. Aku hanya mengatakan lebih mirip, bukan mengatakan bahwa kita sedang berada di Meksiko." Dengan senyum sinisnya Sean membuat rona wajah Jessica memerah karena malu.


"Ya ya ya, rupanya aku salah arti atas ucapan mu!" Timpal Jessica sebal.


"Lain kali hentikan tontonan Avengers mu itu. Karena apa? Karena kau akan menjadi wanita idiot yang tak akan paham sejarah."


Lanjut Sean bicara diikuti sedikit Quotes yang lebih tepat sebuah sindiran untuk Jessica yang malang.


"Lagi-lagi kau selalu mengatakan hal yang sama sepanjang waktu!" Jessica menambahkan kekesalannya pada Sean.


Ia membalasnya sedikit congkak saat itu terlebih pada kata-kata sarkasme Sean.


Sedangkan Jessica hanya berdiri melihat kegiatan Sean dengan menyilang kedua tangannya di dada seraya membuang muka tanda ia sedang kesal. Jessica bertindak seolah dia seperti seorang mandor proyek bangunan.


Bejana, cangkir perunggu hingga tempat lilin (candler) emas semuanya Sean periksa.


Sudut-sudut kuil bahkan pojok tempat tikus pun tak luput dari perhatian Sean.


Tungku api yang juga terbuat dari emas, Sean koyak-koyak. Tungku yang di gunakan oleh para pendeta untuk memuja ini sudah lama di tinggalkan.


"Aku benar-benar heran pada tempat ini. Mereka membangun kuil ini di dalam goa yang jauh dari pemukiman penduduk. Apakah ada maksud lain Sean? Apakah ini semuanya hanya kebetulan saja untuk menyembah sebagai bentuk penghormatan kepada kepercayaan mereka.


Aku penasaran dewa apa yang mereka sembah. Apakah ketiga patung dewa di sebelah sana itu yang mereka sembah." Jessica membicarakan kejanggalan ini pada Sean seraya jarinya menunjuk ke arah patung emas yang berdiri kokoh.


"Patung!" Sean mengulangi ucapan Jessica.


Dalam ekspresinya, ia sedikit kaget saat mendengar ucapan yang keluar dari mulut Jessica.


Seperti ada sebuah rahasia yang mulai Sean pahami dari patung itu, yang terlintas begitu saja seperti angin yang berhembus.


Sean mulai sadar bahwa ia telah menemukan jawaban dari apa yang ia cari.

__ADS_1


"Ya patung itulah sumber misteri ini!"


Seru Sean bahagia sebab mendapatkan ide cemerlang ini.


"Mengapa aku tak memperhatikan patung itu dari tadi!"


gairah Sean makin menggila seperti sebuah arwah memasuki tubuhnya lalu membuka jalan mengungkapkan sebuah misteri.


"Hei Sean? Apa yang kau maksud. Aku tahu jika aku telah mengatakan kebenaran tentang patung itu. Tapi setidaknya hentikan imajinasi liar mu itu." Jessica menyela ucapan Sean yang berkali-kali membuatnya tak pernah paham pada rencana pria angkuh itu, dengan nada congkak membanggakan dirinya sendiri.


Ekspresi Jessica memang tak bisa membuatnya berhenti cemas pada Sean.


Terlalu banyak hal yang harus Jessica pahami dari sebuah Sean.


"Tidak. Kali ini patung itu ada sebuah misteri di dalamnya." Balas Sean simpel.


Kakinya melangkah mendekati patung-patung emas yang berdiri kokoh.


Wajah sumringahnya dengan sedikit senyum licik terlintas melewati ekspresi wajah yang girang itu.


"Tidak kah kau lihat? Patung ini memang janggal."


"Janggal seperti apa yang kau maksud Sean?"


Tanya Jessica seraya memotong cepat pada ucapan Sean.


"Orang-orang suku Aztec, suku indian, suku inca dan suku Maya adalah suku-suku yang maju peradabannya di zamannya masing-masing.


Mereka adalah suku-suku yang gemar membangun sebuah bangunan yang penuh rahasia. Seperti kota hilang Machu Picchu di Peru yang di bangun oleh suku inca. Dimana kota itu sebelum di hancurkan oleh bangsa spanyol, didalamnya ada sebuah penyembahan semacam ini.


Namun bukan menyembah pada dewa atau pun Dewi tapi mereka menyembah pada nenek moyang mereka. Mereka melakukannya dengan harapan leluhur mereka memberikan mereka keselamatan.


Mereka sengaja membangun sebuah peradaban yang penuh tanda tanya sehingga kelak jika bangunan yang mereka bangun di rusak oleh para pendatang maka rahasia di dalamnya tak akan terkubur bersama dengan runtuhnya peradaban tergantung bagaimana generasi selanjutnya mengungkapkan misteri yang ditinggalkan!"




Sean mencoba bicara mendetail pada Jessica, dengan begini ia berharap Jessica paham pada ucapan dan tindakannya.


BERSAMBUNG.


**


**


**

__ADS_1


**


SARANJANA EPISODE 23


__ADS_2