Adventure Of Lord Lausius

Adventure Of Lord Lausius
Episode 86


__ADS_3

"Ooou....." Mulut Jessica ternganga saat melihat hamparan bunga cantik di Padang rumput yang hijau ini.


Sejauh matanya memandang, yang terlihat adalah bunga-bunga cantik. Warnanya yang indah bak ribuan warna membuat seluruh tanah seakan adalah sebuah lantai yang di cat.


Bunga-bunga cantik nan segar itu, di penuhi ribuan kupu-kupu yang besarnya seukuran telapak tangan orang dewasa. Jessica tertawa kegirangan saat kupu-kupu cantik bersayap emas mampir di hidungnya.


Mungkin menjilat kulit Jessica, walau tak terasa sama sekali dia meninggalkan jejak di hidungnya. Tapi, mata Jessica fokus melihat lidahnya yang panjang menjulur.


Karena kegirangan, Jessica melompat kesana kemari, tertawa bahagia, mengejar-ngejar burung-burung Kolibri yang sedang menghisap nektar. Lalu tertidur, guling-guling menggelinding di tanah. Merangkak-rangkak, mengendap-endap pelan, mengamati hewan-hewan yang di jumpanya di pelupuk mata.


Bunglon hijau, kura-kura daratan, belalang penghisap, landak berjalan hingga semut yang sedang baris berbaris pun ia amati. Kadang mengintip kupu-kupu yang sedang menghisap madu, kadang juga tangan jahilnya menjulur ke kupu-kupu agar hinggap di jari-jari yang gemulai itu.


Setelah itu, dia kembali berguling-guling di pinggir bukit bunga. Tidak curam, namun cukup untuk bersenang-senang.


Bersih, seakan Jessica sedang berguling di lantai rumah. Jelas tidak akan kotor, mereka seperti ada di surga. "Aku mencintai tempat ini!" Jessica berteriak lantang.


Tidur di rumput yang hijau, enak rasanya. Sean melihat tingkah kegirangan Jessica, hanya menggeleng. Walau diam-diam dia juga tertarik ingin menggulingkan badan.


Menjaga tingkah, mungkin begitu. Bisa jadi Sean malu mengakui bahwa dia ingin bertingkah kekanakan sama halnya seperti yang di lakukan Jessica. Atau dia akan ketularan tingkah manja Eed. Bisa jadi juga datang dari Yudhar.


Akh, semua sama saja. Sean pusing memikirkan siapa diantara mereka yang paling kekanakan.


"Sean. Dari pada merengek di sana, lebih baik kau tidur sejenak di sini," Jessica menawarkan. Di tepuk-tepupnya rerumputan penuh bunga itu, seakan meminta Sean tidur di kasur.


"Kau merusak bunga," Sean berkata manipulatif. Sesungguhnya dia ingin menikmati tidur di atas bunga-bunga itu, tidak takut merusak keindahan alam ini.


Jessica mengulangi lagi tingkahnya. "Tidur saja dulu. Kau akan melihat sisi lain dari tempat ini."


Sean mengernyitkan dahinya. "Sisi lain?" ucapnya pelan. "Memangnya apa yang ingin kau sampaikan?"


"Kau lihat, di langit ini ada hal-hal aneh yang akan membuat mu merasa ada di seluruh tata Surya."


Bingung, pikir Sean, Jessica mulai melantur. Bicaranya asal-asalan. "Tata Surya?"


"Kau lihat saja, langit itu indah, di siang hari seperti ini." Jessica menunjukkan jarinya ke langit.


Sean menoleh, mengikuti jari yang terangkat ke atas itu.


Saat melihat langit, Sean agak tertegun. Di siang hari ada planet-planet dan juga tata Surya terlihat jelas. Seakan mereka sangat dekat, ukuran mereka sangat besar.


"Apa ini mimpi?" Sean bertanya pada diri sendiri. Di kucek matanya itu, berharap bahwa itu ilusi. Namun tak ada ubahnya, saat Sean kembali melihat ke atas, langit masih seperti sedia kala.


Tiba-tiba, saat melihat tata Surya itu. Mata Sean terasa seperti bersinar terang. Ada kekuatan yang menariknya, membawanya entah kemana. Tak lama setelah itu, Sean mendadak terjatuh tak sadarkan diri di hadapan Jessica.

__ADS_1


Bruk!! Suara hentakan badannya terdengar amat keras.


Cahaya-cahaya yang ada di mata Sean, membuatnya terbuai dalam sebuah lorong aneh. Cahaya sinar terang lebih dari matahari ini, membawa Sean menuju ke dimensi lain. Sean terbangun dari pingsan yang membawanya ke tempat tak tahu apa itu, tapi bukan Jessica yang dia temui.


Hanya pria tua berambut putih. Surai rambutnya terikat dengan rapi. Berjubah emas, jenggotnya panjang memenuhi dagu.


Sesekali dia tersenyum tipis, mengurut jenggot putih itu, dan tangan satunya lagi.... Di lipat di belakang punggung. Pria tua ini, sering sekali mirip seseorang yang pernah Sean kenal. Tapi siapa? Dimana? Kapan? Sean bahkan tidak tahu apapun.


"Ini dimana?" Tanya Sean.


Dia menelisik seluruh tempat, semuanya putih bersih. Seperti di atas awan, tak ada yang terlihat kecuali bangunan megah dan indah. Ada enam pilar mengelilingi tempat yang berbentuk bundar sempurna. Lantainya terbuat dari bata yang tersusun nyaris tanpa celah. Kabut asap mengepul. Saat Sean berkata, suaranya menggema. Seperti ada di dalam gua besar beroktan tinggi.


Sean memeriksa bagian tubuhnya, takut sesuatu ada yang hilang. "Aku masih hidup?" ujarnya yang masih belum yakin.


"Nebula!" Kemudian pria tua yang berdiri di depannya itu berkata. "Kau ada di Nebula."


"Nebula?"


"Istana Shutanhamun," katanya lagi.


"S-siapa kau? D-dan apa yang kau lakukan di sini?" Sean berkata agak gugup. Tidak biasa bagi Sean seperti ini, saat melihatnya, dia merasa takut dan cemas.


Pria itu tersenyum ramah, bagian tubuhnya memancarkan seperti kabut asap tapi putih bersih. Tak ada kaki, yang terlihat hanya badan setengah berkabut. "Aku yang maha agung, Lord Shutanhamun."


"Lord Shutanhamun?" Sean memicingkan matanya, mengintip dengan jelas wajah keriput itu. "Siapa? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"


"Kau tidak bermimpi," ucapnya. "Hanya masuk kedalam dunia ilusi ku saja."


Sean berdiri, lalu menatapinya Yang bicara wibawa itu. "Siapa Shutanhamun? Dan kenapa aku ada di sini?" ucapnya lagi. Sean hanya bingung, mungkin karena sebelumnya dia tidak pernah berada di tempat yang di penuhi oleh kabut asap. Bukan kabut asap, hanya awan-awan yang berpendar.


Pria tua yang sempat menyepikan tangannya di punggung belakang, mendadak bisa terbang. Kakinya tak terlihat, hanya ada asap yang entah dari mana keluarnya. "Kau sudah datang ke sini. Maka aku akan menyambut kedatangan mu."


"Tidak perlu?!" Sambar Sean cepat. "Aku hanya ingin kembali, cepat antarkan aku menemui teman-teman ku!"


Pria tua kembali tersenyum, wajahnya agak ria. "Kau akan kembali menemui teman-teman mu," ucapnya agak santai. "Tapi ada satu hal yang harus kau tahu."


"Tentang apa?" respon Sean cepat.


Pria tua ini lalu mendekatinya, menepuk pundak Sean. Lalu menjulurkan tangannya, kemudian entah sinar apa yang ada di tangannya.


Sinar itu keluar secara misterius, bahkan Sean yang melihatnya saja sudah merinding.


"Aku akan memberkati mu dalam menemui ku." Dia berkata singkat, walau Sean tak paham, setidaknya mulut yang di gelayuti oleh kumis tebal panjang nan beruban itu mengucapkan kata-kata menggantung.

__ADS_1


Sean tak begitu peduli dia berkata apa. Memperhatikan pria tua ini dengan sihir-sihirnya yang aneh, hanya itu yang Sean lakukan. Pikir Sean dia ingin menunjukkan sesuatu kepadanya, namun sayang, sihir pria tua itu di tujukan padanya, bukan menunjukkan kelebihan yang di miliki oleh si tua.


Pria itu mengeluarkan tongkat kecil yang ada di dadanya. Dulu pernah menghilang, di kira Sean dia lenyap. Ternyata dia bersemayam di dadanya, sewaktu-waktu dia bersinar.


Ajaib, hanya Sean yang mampu melihatnya, tak ada orang lain. Jessica, Driyad, keduanya tak tahu jika ada semacam sinar terang di tubuh Sean. Bahkan Yudhar maupun Eed, keduanya sama saja, Payah.


Saat pria itu mengeluarkan semacam tongkat sihir itu, Sean tak merasakan apapun. Utamanya saat sakit, tapi kali ini sakit itu menghilang. Sean sudah bebas dari rasa sesak di dadanya itu. Sebelumnya, rasa itu sangat sakit jika dia bersinar terang.


"Tongkat kecil ini adalah pelindung untuk mu. Aku sudah memberikan sihir ku pada tongkat ini agar kau bisa selamat di manapun berada sampai kau benar-benar menemui ku."


Sean mendengus saat mendengar kekonyolan pria tua ini dalam berkata. "Itu hanya sumpit biasa. Mana mungkin jadi pelindung ku. Lagi pula kau bisa mendapatkannya di seluruh toko jika kau mampu membeli, tidak perlu berimajinasi ingin melindungi ku dari benda tidak masuk akal itu."


Sean benar-benar meledeknya. Walau begitu, pria tua ini tetap berwibawa, dia tidak tersinggung saat Sean mengejeknya dengan perkataan gurau. "Kau belum memahami apa yang nyata dan apa yang ilusi. Kau akan tahu, seberapa pentingnya diri mu. Kau anak yang aku tunggu-tunggu."


"Dasar pembual!" Sean berkata pelan. Sebenarnya malas bagi Sean menghadapi orang-orang gila. Tapi tidak juga bisa di hindari. "Kenapa aku harus bertemu dengan orang-orang aneh di sini. Buang-buang waktu saja."


"Bukan aneh," sambar pria tua. Dia tahu apa yang Sean katakan, walau pelan. "Kau akan tahu siapa dirimu. Datanglah ke kuil teratai di kota saranjana. Maka kau akan dapatkan jawaban siapa dirimu."


Seringnya dia mendengar nama kota ini, Sean sampai bosan atau mungkin penasaran seperti apa kota itu. Megah? Makmur? Atau memang penuh misteri.


"Jika aku ada kesempatan, aku akan ke kuil teratai. Jika tidak, maaf, nampaknya aku tidak berjodoh dengan tempat itu."


Pria tua ini menggelengkan kepalanya. Sean benar-benar berbeda dari seluruh lausius lainnya. Dia keras kepala, walau jenius. Karena Sean selalu menyombong di depan pria ini, dia memakluminya.


Tidak marah, karena pria tua ini tahu bahwa lausius ke sembilan puluh sembilan ini berbeda dari lausius lainnya. Pria tua ini kemudian mengembalikan lagi tongkat sihir yang di keluarkan dari dada Sean ke asalnya semula.


Karena Sean butuh perlindungan darinya. Mengingat jalan-jalan yang akan di tempuh oleh Sean sangatlah panjang dan berbahaya. "Aku harap kau bisa secepatnya menghentikan peperangan tiga ribu tahun ini. Kau satu-satunya harapan terakhir tanah saranjana ini."


Dia berkata sambil memasukan tongkat sihir itu kedalam tubuh Sean. Sinar terang itu membuat Sean kembali mengerang kesakitan. Argh!!! Sean sama sekali tidak bisa menahan rasa sakit yang kali ini timbul.


"Hentikan!" teriak Sean sembari meronta-ronta. "Aku tak..... Bisa .... Menahannya!!!"


Tidak peduli Sean meringis, pria itu tetap melakukannya.


Dunia rasanya berputar, Sean seperti di tarik oleh sebuah lorong sihir, menembus dimensi lain.


Hingga sinar terang itu menghilang, di ikuti kembalinya Sean ke raganya yang asli.


Tak ada yang hal lain yang terlihat dalam dimensi itu, hanya sebuah kehampaan dan kesunyian. Sean seakan terjatuh dari langit, kecepatan jatuhnya melebih kecepatan angin.


"Kau adalah harapan semua orang di kota saranjana."


BERSAMBUNG

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like dan komentar yah. Sekalian jangan iseng beri rating bintang satu. Sedih, sudah sepi, nggak di hargai pula. Author ingin menangis dan mencabik-cabik rasanya.


Tetap setia menunggu kelanjutan novel ini yah, semoga makin suka dengan petualangan Sean dan Jessica.


__ADS_2